PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Nyaris Keguguran


__ADS_3

Masih melajang di usia 42 tahun. Tuan Valentino memiliki kecemasan tersendiri akan nasib putra sulungnya.


Aiden menolak untuk segera menikah dengan berbagai alasan, dia mengatakan masih ingin menikmati masa mudanya dan hidup bebas tanpa beban seperti seekor burung yang terbang bebas di langit luas.


Sebagai seorang ayah, tentu saja Tuan Valentino merasa takut. Dia takut jika Aiden menjadi bujang karatan karena tidak kunjung menikah dan membina rumah tangga. Karena kebanyakan pria seusianya sudah memiliki lebih dari satu anak.


Tapi Aiden?!! Jangankan anak, pasangan hidup saja dia tidak punya. Bahkan dia tidak sedang dekat dengan wanita mana pun.


Sudah banyak gadis dan janda yang coba Tuan Valentino kenalkan padanya, tapi tak seorang pun ada yang Aiden terima. Aiden menolak semua perempuan yang Tuan Valentino kenalkan padanya.


"Pa, aku perhatikan dari pagi kau melamun terus. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Aiden penasaran.


Tuan Valentino mengangkat wajahnya dan menatap sinis putra sulungnya itu. "Masih tanya Papa memikirkan apa?! Dasar anak durhaka, jelas-jelas Papa memikirkan masa depanmu. Kapan kau akan menikah dan melepaskan masa lajang mu, apa kau tidak bosan hidup sebagai bujang karatan?!"


Aiden menggaruk rambutnya frustasi. Dia benar-benar sudah bosan jika ditanya kapan akan menikah. "Pa, berhentilah mendesak ku untuk segera menikah. Aku masih belum bisa melepaskan masa lajang-ku yang indah ini.!!" Ujar Aiden menegaskan.


"Tapi jika Papa ingin cucu dariku, gampang saja, aku akan menanamkan kecebong-ku di rahim perempuan pilihan Papa. Beres kan!!"


Pletakk...


Alhasil sebuah jitakan keras mendarat mulus pada kepala Aiden. Tuan Valentino benar-benar habis kesabaran karena ulah putra sulungnya ini. Bukannya makin waras, sikapnya semakin hari malah semakin menjadi-jadi.


"Pa, kenapa kau malah menjitakku?! Ini sangat menyakitkan!!"


"Bagus Papa hanya menjitak kepalamu, padahal Papa ingin sekali memecahkannya. Papa akan memberimu hukuman, mulai sekarang kau tidak boleh keluar malam apalagi kelayapan tidak jelas. Papa akan menyita semua kunci mobil dan kartu kredit-mu. Kau bisa mendapatkannya kembali setelah membawa seorang calon kehadapan, Papa!!"


"Huaaa.. Papa jahat!!!"


"Masa bodoh!!"


-

__ADS_1


-


Kebahagiaan terlihat jelas di raut wajah Luna. Wanita yang sedang hamil muda itu terus memandangi perutnya yang masih rata sambil mengusapnya perlahan dan penuh kelembutan.


Kehamilannya kali ini sangat berbeda dengan ketika dia hamil si kembar dulu. Mungkin karena hamil yang sekarang ada Ken yang selalu disisinya. Pria yang sudah memberinya dua anak itu selalu mencurahkan kasih sayangnya yang begitu besar.


Meskipun sikapnya terkadang acuh dan menyebalkan, tapi Ken selalu memberikan kehangatan padanya. Karena dingin memang sudah mendarah daging dengan pria bermarga Zhao tersebut.


"Jangan berdiri di luar terlalu lama. Masuklah, aku sudah membuatkan susu untukmu." Suara bariton itu segera menyadarkan Luna dari lamunan panjangnya.


Lantas ia menoleh. Kemudian Luna berbalik dan menghampiri sang suami yang berdiri di ambang pintu sambil memegang segelas susu hangat di tangan kirinya. "Aku sampai lupa dengan susuku. Terimakasih, suamiku. Kau memang yang terbaik." Ucap Luna lalu menerima susu itu dari tangan Ken.


"Segera habiskan. Kau harus menjaga kondisi tubuhmu dan juga dia," ujar Ken memberi nasehat. Jari-jari besarnya mengusap perut rata Luna.


"Aku mengerti."


Lalu pandangan Luna beralih pada pakaian yang melekat di tubuh suaminya. Raut wajahnya berubah murung melihat Ken yang memakai kemeja lengan panjang. Ken mendengus berat. "Setelah ini aku akan menggantinya dengan yang lain." Ucapnya seolah mengerti apa yang Luna pikirkan.


Wanita itu pun langsung tersenyum lebar. Dia berhambur ke-pelukan suaminya. "Kau memang yang terbaik, aku semakin mencintaimu." Luna mengangkat wajahnya dari pelukan Ken. Sebuah benda lunak dan basah menyapu singkat bibirnya.


Baru saja Luna hendak melangkah ke tempat tidurnya. Tiba-tiba dia merasakan pusing yang luar biasa, pandangannya langsung berkunang-kunang, dan apa yang dia lihat berubah menjadi dua. Sebelah tangannya mencengkram perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.


"Aaahhh..." Wanita itu merintih tanpa suara. Dia mengulurkan tangannya pada Ken yang melangkah ke depan sampai akhirnya...


Prakk...


"LUNA!!"


Ken memekik kaget saat dengar suara gelas terjatuh. Dan saat dia menoleh, Ken mendapati Luna yang jatuh tak sadarkan diri di lantai. "Luna, Luna," panggil Ken sambil menepuk pipi Luna. Tapi tidak ada tanggapan. Wanita itu tetap menutup rapat-rapat matanya.


Matanya membelalak melihat cairan merah keluar dari sela-sela kaki Luna. Ken yang panik pun segera melarikan Luna ke rumah sakit, dia takut hal buruk sampai menimpa istrinya dan janin di dalam perutnya.

__ADS_1


-


-


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya dan janin di dalam perutnya?! Apa mereka baik-baik saja!"


Ken menatap dokter itu dengan harap-harap cemas. Dia menantikan kabar baik dari dokter wanita di depannya ini. Dokter itu tersenyum sambil menepuk bahu Ken. "Tenanglah, Tuan Zhao. Ibu dan janinnya baik-baik saja. Untungnya Anda membawanya kemari dengan tepat waktu. Sehingga kami bisa melakukan penanganan dengan cepat." Jawab dokter itu.


Sekarang Ken bisa menghela napas lega setelah mengetahui jika Luna dan janin di dalam perutnya baik-baik saja. "Apa yang sebenarnya terjadi, Dok? Kenapa istri saya bisa sampai pingsan dan mengalami pendarahan?!" Tanya Ken penasaran.


"Keracunan?!"


"Racun?" Dokter itu mengangguk.


"Kami menemukan sisa racun di dalam tubuh istri Anda. Untungnya racun itu tidak terlalu kuat, meskipun begitu tetap bisa menyebabkan keguguran jika tidak mendapatkan penanganan dengan tepat waktu. Kemungkinan racun itu berada dalam makanan atau minuman yang dia konsumsi sebelum jatuh pingsan." Tutur dokter itu memberi penjelasan.


"Susu, sebelumnya dia meminum susu yang disiapkan oleh pembantu. Awalnya dia baik-baik saja. Tapi tiba-tiba jatuh pingsan dan terjadi pendarahan."


"Apa sisa susunya masih ada?! Kami perlu memeriksanya untuk memastikan racun apa yang terdapat dalam susu itu."


Ken menggeleng. "Dia meminumnya sampai habis."


"Baiklah, kami akan memeriksanya lagi melalui Sempel darah. Sebaiknya Anda tenang dan jangan terlalu cemas. Istri Anda dan janin di dalam perutnya baik-baik saja, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Dokter itu, Ken mengangguk.


Gyutt...


Ken mengepalkan kedua tangannya. Iris matanya yang tajam terlihat semakin berbahaya. Ken bersumpah akan menemukan siapa yang berusaha meracuni Luna. Dan dia tidak akan mengampuni orang itu karena berani menempatkan istri dan calon anaknya dalam bahaya.


Ken mengeluarkan benda tipis dari saku celananya lalu menghubungi seseorang. "Dev, periksa semua CCTV yang ada di rumah secara diam-diam. Dan laporkan apapun yang kau temukan padaku secepatnya!!" Pinta Ken lalu memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2