
Seperti malam-malam sebelumnya. Ditengah malam, kawasan pinggiran kota selalu menjadi favorit untuk balapan liar. Namun malam ini sedikit berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Yang bisanya beberapa mobil sport dengan modif beragam berjejer rapih.
Tapi tidak untuk malam ini. Hanya ada dua mobil sport saja yang akan bertanding malam ini. Siapa lagi jika bukan Kevin dan Viona.
Viona menerima tantangan Kevin untuk adu kecepatan. Sepertinya pemuda itu tidak merasa puas sama sekali dengan kekalahan yang dia dapatkan siang tadi. Dan malam ini Viona akan membuktikan pada pemuda itu jika dia memang lebih hebat darinya.
Sosok Kevin dengan balutan Leather jaket hitam senada dengan jins nya, serta t-shirt putih polos menjadikan sosok itu sebagai primadona bagi kaum hawa yang ada disana. Ditambah kacamata hitam yang membingkai kedua matanya membuatnya tampak sempurna.
"Kali ini kau akan kalah lagi dariku, Rusa cantik." Ucap Viona penuh percaya diri.
"Heh, kita lihat saja, kau atau aku yang akan menang kali ini!!"
"Huh, kau terlalu percaya diri, Tuan. Tapi lihat saja bagaimana aku akan mengalahkanmu lagi! Dan jika aku sampai kalah dalam pertandingan kali ini, aku akan menjadi babumu selama satu Minggu!! Tapi jika aku yang menang, kau yang akan menjadi babuku!!"
Kevin menyeringai. "Heh, taruhan yang menarik. Baiklah, ayo kita buktikan. Aku tidak butuh babu, tapi seorang asisten yang handal di kantor. Dan kau.. harus menjadi menjadi asisten pribadiku selama satu Minggu tanpa digaji!!"
Viona mengangkat bahunya acuh. "Siapa takut, dan jika kau yang kalah, aku harap kau jangan menangis apalagi memanggil mamamu!!" Cibir Viona dengan seringai meremehkan.
"Heh!! Kita buktikan saja!!"
Keduanya langsung masuk kedalam mobil masing-masing. Viona menoleh ke arah Kevin dan mendapati pria itu menyeringai kearahnya. Tapi Viona tidak peduli. Pandangan gadis itu kembali pada jalanan di depannya.
"Bersedia… READY? GO!"
Keduanya langsung melajukan mobil mereka dengan kecepatan tinggi. Sofia menggigit kuku jarinya saat mobil Viona tidak terlihat olehnya. "Sial, apakah menurutmu Viona akan menang kali ini?" Tanyanya pada sosok pemuda yang berdiri disamping kanannya.
Pemuda itu menggeleng pelan. "Aku sendiri tidak tahu. Apalagi yang Viona hadapi kali ini bukan pria sembarangan!! Dia begitu penuh misteri!" Ujarnya.
"Huft, semoga saja gadis bar-bar itu menang." Dibalik ucapannya. Sebenarnya Sofia adalah sosok yang benar-benar menyayangi Viona. Karena mereka bersahabat sejak duduk di bangku TK. Dia selalu berada disamping Viona saat gadis itu sedang ada masalah.
.
.
__ADS_1
Viona memimpin jalannya pertandingan. Gadis itu memicingkan matanya. Sedikit heran dengan laju mobil Kevin yang tertinggal jauh dibelakangnya. Bukannya pemuda itu sangat percaya diri sekali untuk menang di pertandingan ini?
"Heh, sepertinya sebentar lagi aku akan memiliki seorang kacung yang sangat tampan,"
Sedangkan di mobilnya. Kevin menyeringai saat suara cempreng mirip lumba-lumba itu muncul dari earphone yang digunakannya. Sepertinya gadis itu berada di atas awan. Pikirnya. "Heh, kau terlalu percaya diri, Nona!!"
Viona berdecak sebal di mobilnya. "Sudah hampir kalah saja masih sombong. Dasar pria menyebalkan!!"
"Kau terlalu percaya diri, Nona. Kali ini aku sedikit memberimu kelonggaran, sepertinya kau sedang berada di atas angin, huh!! Dan asal kau tau, aku tidak pernah terkalahkan dimana pun. Dan aku sangat tidak sabar untuk bekerja dengan asisten gratisan sepertimu!!"
Demi apapun ucapan Kevin membuatnya geram. Viona ingin melihat apakah pria itu masih bisa bermulut besar jika dia berhasil mengalahkannya lagi malam ini?! Dia sangat menantikannya ketika Kevin menjadi babunya.
Gadis itu terkesiap saat mobil mewah milik Kevin melaju dengan cepat tinggi melewatinya. Sial. Batinnya.
Viona pun menambah kecepatan pada mobilnya lebih dalam lagi. Kecepatan mobilnya bahkan sudah lebih dari 300 mph. Dia tidak boleh kalah, sepertinya Viona sudah sangat meremehkannya.
Sofia dan Mark sudah menunggu digaris finish. Suara sorak sorai terdengar saat sebuah Reventon melaju di depan Bugatti milik Viona dan ya, Kevin menjuarai battle kali ini.
Kevin menyeringai sinis. "Hei bagian mana aku curang? Aku tidak menyabotase-mu. Tidak juga menabrak mobilmu. Kalau kalah, akui saja kalah. Jangan mencari kesalahan orang lain."
Viona menunjuk Kevin tepat di depan mukanya. "Kau... Menyebalkan!!" Gadis itu kembali ke dalam mobilnya dan sport mewah itu melaju kencang meninggalkan arena balap liar. Dia berani bersumpah jika Kevin sudah berbuat curang makanya dia bisa menang.
Kevin kembali menyeringai. "Sungguh gadis yang menarik!!" Ia juga kembali ke mobilnya lalu Revonten itu meninggalkan area balap liar.
-
-
Kevin tiba di rumahnya pada pukul 23.00. Rumah tampak sepi, mungkin semua orang sudah tidur, pikir Kevin. Namun lampu di ruang utama tiba-tiba menyala. Dan sosok Ken berdiri disamping saklar.
"Pa, kau sudah pulang? Kapan kau datang?" Tanya Kevin seraya menghampiri sang ayah.
"Darimana saja kau?!"
__ADS_1
"Hn, hanya jalan-jalan sebentar cari udara segar." Jawab pemuda itu.
"Cari udara segar, kau tidak lihat ini sudah jam berapa?! Tidak baik kelayapan sampai selarut ini!!"
"Hm, maaf."
"Baik, kali ini Papa maafkan. Kemarilah, biarkan Papa memelukmu sebentar. Anak nakal, Papa sangat merindukanmu." Ucap Ken sambil memeluk Kevin dengan erat.
"Aku juga merindukan, Papa." Jawab Kevin sambil membalas pelukan sang ayah.
Meskipun Ken adalah pria yang dikenal dingin. Tapi dia adalah sosok yang sangat hangat bagi anak-anaknya. Ken selalu memberikan kasih sayang yang berlimpah pada keempat buah hatinya. Tidak ada perbedaan antara Daniel, si kembar dan Kevin. Semua mendapatkan kasih sayang yang sama.
"Ini sudah larut malam. Sebaiknya pergi tidur." Pinta Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Kevin. Pemuda itu beranjak dari hadapan sang ayah dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Sudut bibir Ken tertarik ke atas. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bayi merah yang dulu selalu ada di dalam pelukannya kini telah tumbuh menjadi pemuda yang tampan.
-
-
Berbagai umpatan berkali-kali keluar dari bibir ranum tipis itu. Kesal terlihat jelas dari raut wajah cantiknya yang seperti benang kusut. Viona tidak percaya jika dia bisa kalah dari pemuda sombong dan arogan itu. Padahal dia tadi hampir menang, ternyata pemuda itu memang bukan lawan yang bisa di remehkan.
Gadis itu memukul stir mobilnya sambil terus mengeluarkan umpatan-umpatan tajam. Dan baru kali ini dia dikalahkan oleh seseorang, karena biasanya dia sangat unggul di berbagai jenis bidang, termasuk kebut-kebutan di jalanan.
"Sial, bagaimana bisa rusa jelek itu mengalahkanku?!" Gerutu Viona. Gadis itu menghela napas panjang.
Viona turun dari mobil barunya dan melenggang masuk. Mungkin lebih baik sekarang ia pergi istirahat dari pada harus memikirkan pemuda yang berhasil mengalahkannya itu.
-
-
Bersambung.
__ADS_1