
lDetik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tidak terasa usia si kembar kini sudah 10 tahun. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tampan, cantik dan menggemaskan. .
Marissa mewarisi sifat Ibu dan ayahnya. Menyebalkan seperti Luna, dan dingin seperti Ken, tapi Marcell malah sebaliknya, dia justru mewarisi sifat kedua pamannya, yakni Devan dan Aiden. Penakut dan juga terlewat jahil.
"Riri, berhenti mendebat ku!! Aku yang kakak, dan kau yang adik!!"
"Enak saja, jangan mentang-mentang kau anak laki-laki dan lebih tinggi dariku sedikit. Maka kau bisa menjadi kakak!! Aku yang kakak, karena lahir lebih dulu darimu!!"
"Dasar Marissa bodoh!! Justru karena kau lahir lebih dulu, itu artinya kau itu adik dan aku baru yang kakak!!"
"Tidak bisa!! Pokoknya aku yang kakak dan kau yang adik!!"
Luna yang sedang menyiapkan sarapan di dapur hanya bisa mendengus mendengar perdebatan kedua buah hatinya. Lagi-lagi Marcell dan Marissa memperebutkan posisi kakak dan adik. Mereka sama-sama ingin jadi kakak dan tidak mau jadi adik
Luna tidak tau kapan mereka bisa akur dan tidak bertengkar lagi. Dan hal semacam itu terjadi hampir setiap hari, entah itu pagi, siang atau malam hari.
Ibu dua anak itu meninggalkan dapur dan menghampiri si kembar. Jika tidak dihentikan maka perdebatan mereka bisa berlanjut sampai malam hari, untuk itu Luna harus segera mengambil tindakan cepat.
Namun langkah Luna dihentikan oleh Ken. Pria itu menggeleng. "Tapi, Ken!!"
"Sudah biarkan saja, namanya juga anak-anak. Setelah capek, pasti berhenti sendiri. Bantu aku menyiapkan pakaian kerjaku," pinta ayah dua anak itu pada sang istri tercinta.
Luna menatap si kembar untuk sejenak lalu mengangguk. Dia dan Ken berjalan beriringan menuju kamar utama. Hari ini Ken ada sebuah pertemuan penting dengan kliennya. Itulah yang mengharuskannya datang ke kantor.
"Bukankah masih bisa dikerjakan dari rumah? Tumben hari ini kau pergi ke kantor langsung?" Ucap Luna yang saat ini sedang membantu Ken memasang dasinya.
"Ada pertemuan penting pagi ini, itulah kenapa aku harus datang ke kantor langsung." Jawab Ken.
"Jam berapa hari ini kau pulang? Apa sampai sore?"
Ken menggeleng. "Setelah rapat aku langsung pulang. Bukankah hari ini kita mau membawa anak-anak berkunjung ke rumah kakeknya?" Ucap Ken.
__ADS_1
Luna menggeleng. "Tidak hari ini, tapi akhir pekan saja. Dan sebaiknya kau sarapan dulu sebelum pergi, aku tidak mau sampai kau sakit perut lagi seperti bulan lalu karena telat sarapan!!" Kata Luna mengingatkan.
Ken mengangguk. "Aku paham Ibu dokter!!" Ucapnya lalu mencium bibir Luna.
Bukan ciuman panjang dan memabukkan, hanya ciuman singkat yang tak lebih dari 20 detik. Karena jika diteruskan bisa terjadi fenomena ranjang bergoyang. Karena mereka sama-sama tidak mungkin bisa menahan diri.
-
-
"Cello, Riri, kembalikan buku itu pada, Kakak!!"
Suasana pagi yang awalnya begitu tenang berubah gaduh karena ulah si kembar. Sasarannya sekarang adalah Daniel. Marcell dan Marissa mengambil buku Daniel dengan tiba-tiba.
"Sstt!! Kakak, kau itu jangan pelit. Tunggu sebentar, aku ingin tau buku apa ini. Sepertinya tidak ada hubungannya dengan pelajaran anak SMA. Sepuluh jurus menaklukan hati wanita!!" Dengan lancar Marissa membaca judul buku itu.
Gadis kecil itu mengangkat sebelah alisnya dan menatap sang kakak penuh selidik, begitu pula dengan Marcell. "Ke..Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Daniel mundur beberapa langkah ke belakang.
Daniel menyingkirkan tangan Marcell dari depan mukanya. "Ja..Jangan sembarangan bicara. Memangnya siapa juga yang mau pacaran apalagi mengejar cinta seorang gadis. Buku itu milik teman Kakak yang tidak sengaja terbawa kemarin," ujar Daniel memberikan penjelasan.
"Benarkah? Kenapa aku tidak percaya, Kak Daniel pasti berbohong ya? Kalau begitu cepat telfon teman Kak Daniel biar aku sendiri yang bertanya langsung padanya." Desak Marissa.
"Besok saja kalian tanyakan padanya. Sekarang Kakak sedang tidak ada pulsa untuk menelfon dia." Elaknya.
"Kalau begitu pakai ponselku saja!!" Marcell menyerahkan ponselnya pada Daniel.
"Lihatlah, ponsel Kak Daniel habis batrei." Kemudian Daniel menunjukkan ponselnya yang mati pada si kembar.
Daniel selalu mengalami nasib buruk jika sudah berurusan dengan mereka berdua. Meskipun baru berusia 10 tahun, tapi bisa dibilang mereka sangat jenius dan terlewat pintar. Tak jarang Daniel di bantu mereka jika harus membuat prakarya.
Sementara itu... Luna dan Ken langsung disuguhi sebuah pemandangan yang begitu menggelikan. Dimana Daniel lagi-lagi tersudut dan tak berkutik dalam menghadapi si kembar.
__ADS_1
Dan jika tidak dihentikan, Marissa dan Marcell tidak mungkin mau berhenti. Untuk itu Luna harus turun tangan langsung untuk menghentikan perdebatan konyol mereka.
"Sudah-sudah, jangan berdebat lagi. Kalian bisa terlambat tiba di sekolah. Sebaiknya sekarang kita sarapan!!" Dan setelah pawangnya datang, mereka baru bisa tenang dan tidak ribut lagi.
Ken selaku kepala rumah tangga, Ken hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya. Sebentar lagi anak-anak akan memasuki liburan musim panas, dan Ken berencana untuk membawa mereka untuk mengunjungi kakeknya di Jeju Island.
Selanjutnya sarapan mereka lewati dengan tenang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir mereka, hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling berdentingan.
-
-
Rumah seketika menjadi sepi setalah anak-anak berangkat sekolah. Hanya ada Luna dan beberapa pelayan saja. Saat ini wanita itu sedang berada di taman belakang untuk memetik bunga-bunganya yang mulai bermekaran.
Luna selalu menggunakan mawar sebagai pengharum ruangan, juga untuk mempercantiknya.
Di taman miliknya, bukan hanya mawar merah dan putih saja. Tapi ada juga mawar kuning, pink, orange dan mawar cantik yang memiliki dua warna. Dan ada satu lagi mawar yang sangat special. Yakni mawar berwarna biru yang dia dapatkan ketika berlibur ke Yunani tahun lalu.
"Mita, Nina, cabut pohon-pohonnya yang mulai mengering kemudian ganti dengan yang baru. Jangan lupa beri pupuk dan obat anti hama." Perintah Luna pada dua pelayan yang saat sedang menemaninya di taman.
"Baik, Nyonya." Jawabnya.
Kemudian Luna meninggalkan taman sambil membawa bunga-bunga segar dalam pelukannya. Sedikitnya ada tiga puluh tangkai mawar dalam pelukan Luna.
Rencananya hari ini dia mau mengunjungi Tiffany, sudah lama Luna tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Dan sebagian dari mawar-mawar itu akan dia bawa ke sana sebagai buah tangan. Tiffany juga sangat menyukai mawar sama sepertinya.
-
-
Bersambung.
__ADS_1