PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Awal Pertemuan 'Season 2'


__ADS_3

Sebuah Bugatti La Voiture Noire terlihat membelah jalanan malam kota Seoul yang legang. Melaju kencang diantara beberapa kendaraan yang tersisa. Menyalip satu persatu kendaraan yang melaju di depannya dengan kecepatan tinggi.


Memacu adrenalin di jalanan kota memang sudah menjadi hobinya.


Balap liar, ugal-ugalan di jalanan sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak masih remaja. Masuk penjara selama dua hari dua malam, hampir kehilangan nyawa karena kecelakaan, tak membuat dia merasa jera apalagi kapok. Dia menyukai tantangan dan suka mencoba hal yang baru yang menantang.


Mobil sport mewah berharga ratusan milyar itu berhenti disebuah parkiran rumah sakit. Seorang pemuda keluar dari balik kemudi lalu melenggang masuk. Wajah tampannya tak menunjukkan ekspresi apapun, datar.


Kedatangannya di rumah sakit menyita perhatian banyak pasang mata. Baik perawat yang masih bekerja maupun keluarga pasien yang sedang berjaga. Mereka tak meloloskan pandanganya sedikit pun dari sang adonis, bahkan ketika langkah kakinya sudah semakin menjauh.


"Dimana dokter Marissa?" Dia menghentikan langkahnya di depan seorang gadis yang baru saja keluar dari toilet.


"Omo!!" Dan kemunculan pemuda itu yang begitu tiba-tiba membuatnya nyaris terkena serangan jantung. "Yakk!! Tidak bisakah kau jangan muncul seperti hantu?! Kau membuatku hampir mati jantungan!!" Teriak gadis itu melayangkan protesnya.


"Ck, mulut wanita memang merepotkan. Cepat katakan dimana ruangan dokter Marissa?" Pemuda itu bertanya sekali lagi.


"Cari saja sendiri!!" Jawab gadis itu dan pergi begitu saja. "Sudah mengejutkan orang, bertanya juga sangat tidak sopan. Dasar pemuda tidak beretika!!" Gerutu gadis itu yang pastinya adalah Viona.


Mulut Viona terus saja berkomat Kamit tidak jelas. Malam-malam ada saja yang membuat buruk moodnya. Dan Viona berdoa supaya ini pertama dan terakhir kalinya dia bertemu dengan pemuda menyebalkan seperti itu.


Pemuda itu mendecih sebal. Kenapa dia malah tertiban sial dengan bertemu gadis menyebalkan seperti itu. Niatnya baik-baik untuk bertanya, malah kena Omelan gadis tidak jelas. Benar-benar malam yang sial.


"Kevin," panggil ragu seseorang.


Merasa namanya dipanggil. Sontak Kevin menoleh dan mendapati orang yang dia cari berjalan menghampirinya. Marissa tersenyum lebar, dia mempercepat langkahnya lalu memeluk adik bungsunya itu penuh rindu.


Sudah lima tahun mereka tidak bertemu, jadi wajar bila Marissa sangat merindukannya. Marissa melepaskan pelukannya lalu menatap Kevin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tak banyak yang berubah dari adiknya ini, selain tambah tampan dan semakin dewasa.


"Aku pikir kau tidak jadi pulang hari ini,"


"Dan membuat Mama terus menunggu!!" Kevin menyela ucapan Marissa. Gadis itu meringis ngilu, ternyata mulut adiknya ini tetap saja setajam dulu.


"Dasar kau ini, apa tidak bisa bicara baik-baik pada Kakakmu sendiri. Ngomong-ngomong untuk apa kau datang malam-malam begini? Bukannya kau baru tiba siang tadi, bukannya istirahat di rumah malah kelayapan."


"Dasar bodoh, aku datang untuk menjemputmu pulang. Kau tidak lihat ini sudah jam berapa. Berhentilah jadi wanita yang gila bekerja, tubuhmu ini bukan robot. Kau seorang dokter, tapi menjaga kesehatan sendiri tidak bisa!!" Omel Kevin menasehati.

__ADS_1


Marissa meringis ngilu. Padahal Marissa ingin memiliki adik yang manis dan menggemaskan. Tapi yang dia dapat malah adik yang mirip setan. Tapi bagaimana pun juga Kevin adalah adik kesayangan Marissa, bagaimana pun sikapnya, Marissa tetap menyayanginya.


"Kakak siap-siap dulu. Kau bisa menunggu di ruangan Kakak."


"Aku menunggumu diparkiran saja." Ucap Kevin dan pergi begitu saja.


"Baiklah, terserah kau saja."


-


-


"VIONA, KEMBALILAH PADAKU!! AKU MASIH SANGAT MENCINTAIMU. VIONA, KAU ADALAH JIWA DAN RAGAKU, TANPA DIRIMU AKU BISA MATI!!"


Viona menyumpal telinganya dengan kapas. Dia tidak tau lagi bagaimana caranya harus mengusir pria brengsek itu supaya dia pergi. Apa dia sudah tidak memiliki otak lagi, berteriak ditengah malam sambil membawa spanduk besar. Benar-benar mempermalukan dirinya.


"Vi, kau tuli ya." Sindir Sonia. Bukan hanya Viona saja yang merasa terganggu oleh ulah pemuda itu, tapi hampir seluruh orang yang ada di rumah sakit termasuk Sonia.


"Terus aku harus bagaimana?! Menerimanya kembali, amit-amit tujuh turunan. Aku ogah diselingkuhi lagi, satu dua sih wajar, lah ini sampai dua lusin kan kurang ajar."


"Sudah capek. Bahkan aku sudah menyiramnya dengan air comberan, memakai dia di depan umum, tapi tetap saja tidak mau pergi. Dan itu membuatku frustasi."


"Kau harus lebih tegas lagi. Misalnya, ancam potong burungnya lalu pecahkan telor puyuhnya. Dia pasti lari terbirit-birit." Sonia mengangguk mantap. Dan ide itu diterima baik oleh Viona.


Tanpa menghiraukan Sonia. Viona pun bergegas keluar. Dia harus mencari gunting pemotong rumput. Kali ini Viona akan membuat mantan kekasihnya yang bangsul itu kapok sehingga tidak berani mengganggunya lagi.


Viona berlari menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Suara peep toe setinggi 8 cm yang bersentuhan dengan ubin lantai menimbulkan suara yang begitu nyaring ditelinga. Viona hendak berbelok namun tiba-tiba...


Bruggg...


Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang dan berakhir dilantai. Viona meringis sambil memegangi pantatnya yang terasa ngilu. "Makanya, kalau jalan pakai mata. Jangan pakai dengkul!!" Maki seorang pemuda yang suaranya terdengar tak asing ditelinga Viona.


Sontak dia mengangkat wajahnya dan membelalak melihat siapa yang berdiri di depannya sambil menatapnya sinis. "Kau!! Sebenarnya kesialan apa yang aku alami malam ini, sampai-sampai bertemu terus dengan pemuda menyebalkan sepertimu!! Lagipula orang berjalan itu pakai kaki, bukan pakai mata. Dasar dungu!!" Gerutu Viona sambil menunjuk Kevin di depan mukanya.


Kevin menyentak tangan Viona dari depan mukanya. Gadis itu mundur beberapa langkah kebelakang melihat Kevin melangkah mendekat hingga punggungnya berbenturan dengan tembok.

__ADS_1


"Ma..Mau apa kau?!" Viona menatap Kevin was-was. "Yakk!! Apa yang kau lihat!!" Teriak Viona sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya yang disilangkan.


Kevin menyeringai. "Memangnya apa yang ingin kau tutupi dariku, bahkan kau tidak memiliki hal menarik untuk dilirik. Gadis dada rata!!" Sontak kedua mata Viona membelalak. Lalu dia menurunkan pandangannya pada dadanya. Memang benar apa yang Kevin katakan.


"Me..Memangnya kenapa kalau dadaku rata. Dasar mesum, minggir. Kau menghalangi jalanku!!" Viona mendorong Kevin menjauh.


Tak ingin semakin kehilangan muka. Ia pun buru-buru pergi. Tapi sialnya Viona malah tersandung kakinya sendiri. Matanya membelalak. Tubuhnya oleng kebelakang. Dan dengan sigap Kevin menahan tubuh gadis itu sebelum berciuman dengan lantai.


Kontak mata diantara mereka pun tidak bisa terhindarkan. Dua pasang mata berbeda warna itu saling mengunci selama beberapa saat. Viona merasakan jantungnya berdebar kencang, bukan karena kontak fisiknya dengan pemuda ini, tapi karena jarak mereka yang terlalu dekat.


Dan sementara itu...


Marissa yang baru saja kembali dari ruangannya terkejut melihat pemandangan yang begitu tak biasa itu. Buru-buru dia memotretnya untuk ditunjukkan pada sang ibu nanti. Marissa tersenyum, dia menghampiri mereka sambil berdehem keras.


"Ekhemm..."


Keduanya pun terkejut. Mereka sama-sama menoleh, dengan cepat Kevin melepaskan pegangannya pada tubuh Viona hingga gadis itu terjatuh dan pantatnya berciuman dengan lantai. Kevin mengabaikan gadis itu lalu menghampiri kakaknya.


"Sudah selesai, ayo pulang." Kevin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan pergi begitu saja.


Sedangkan Marissa buru-buru menghampiri Viona dan membantunya berdiri. "Vi, kau tidak apa-apa?" Tanya Marissa memastikan. Viona menggeleng. Keadaannya tidak separah itu meskipun pantatnya terasa ngilu.


"Kenapa kau masih belum pulang? Ini sudah hampir tengah malam dan bukankah malam ini kau tidak ada jadwal lembur?"


Viona mengangguk. "Sebentar lagi aku pulang. Sonia masih belum menyelesaikan pekerjaannya. Aku tidak tega jika harus membiarkannya sendiri. Aku akan menunggunya sebentar lagi."


"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu." Ucap Marissa yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.


Setelah Marissa pergi, Viona juga pergi. Dia hampir lupa dengan tujuan utamanya. Malam ini juga Viona akan memberi pelajaran berharga pada bajingan seperti Ben. Dia bisa mempermalukannya, lalu kenapa Viona tidak?!


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2