PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
PAPA BUCIN!!!


__ADS_3

Senja selalu menjadi favorit Luna. Langit memancarkan merah api serta violet yang apik, meleburkan pandangannya hingga pelukis dunia manapun akan mengangkat tangan untuk menandingi mahakarya itu di atas kanvas putih.


Terkadang, awannya bukan lagi berwarna putih, melainkan emas yang bercampur dengan oranye cantik. Betapa unik cakrawala saat ini. Memang bukan suatu kesalahan memilih senja sebagai waktu terfavorit.


Banyak yang menyenangkan kala senja tiba. Angin kala sang surya nyaris akan berpulang ke peraduannya itu selalu sejuk, menentramkan penat dan sejenak mampu membuat siapapun tersihir untuk melupakan realitas.


Berbeda dengan terik kala siang yang kadang tetap membawa hawa panas, dan desir angin saat malam yang dinginnya mampu menembus kulit. Senja memang tak bisa ditandingi.


Senja itu unik, apik, serta cantik, kelewat cantik malah. Senja ialah suatu waktu yang memisahkan malam yang keji serta siang yang terik. Mungkin bukan pemisah, karena senja ialah waktu yang mempertemukan keduanya.


Mungkin itu juga yang mendorong Luna menaruh hati pada senja. Dan Luna sendiri tidak tau sejak kapan ia mencintai senja.


Perhatiannya teralihkan oleh derap langkah kaki seseorang yang datang. Tampak seorang pria berwajah tampan namun terlihat dingin berjalan menghampirinya dengan kedua tangannya tersembunyi apik di dalam saku celananya.


Sudut bibir Luna tertarik ke atas, mana kala sosok tampan itu sudah berdiri tepat dihadapannya. "Apa yang kau lakukan disini?" Tanya orang itu yang pastinya adalah Ken.


Luna menggeleng. "Tidak ada hanya ingin menikmati senja." jawab Luna tersenyum.


"Bagaimana apa kau merasa nyaman berada di sini, bagaimanapun juga tempat ini masih sangat asing bagimu?" tanya Ken datar.


Luna mengambil nafas panjang dan menghelanya. "Sedikit, tapi cepat atau lambat aku akan segera menyesuaikan diri." jawab Luna.


Luna mengangkat wajahnya dan menatap Ken yang tiba-tiba diam. Iya tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu, namun mimik wajah dan sorot matanya berubah serius.


"Ada hal penting yang ingin aku bahas denganmu, dan ini mengenai kontrak nikah kita. Luna, bagaimana kalau kita batalkan saja kontrak pernikahan itu dan kita jalani pernikahan yang sebenarnya."


Luna memicingkan matanya. "Maksudmu?"


"Daniel sangat menyukaimu, aku tidak ingin membuat dia kecewa jika suatu saat nanti kita berpisah. Aku ingin kau tetap berada di sisinya, aku tidak akan memaksamu, aku akan memberimu sedikit waktu untuk berpikir. Jadi pikirkan baik-baik penawaran ku."


Luna menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa memutuskan sekarang, ini terlalu tiba-tiba. Dan apakah pernikahan tanpa cinta, bisa berjalan dengan baik. Sebaiknya kita jalani saja pernikahan ini seperti air mengalir. Dan biarkan waktu yang menjawab segalanya."

__ADS_1


"Aku mengerti, aku tidak akan memaksa mengambil keputusan apapun untuk saat ini." ujar Ken.


"Ahhh." luna memakai kencang saat tiba dipakai menarik pinggangnya, hingga ia jatuh kedalam pelukannya. "Ken, apa yang kau lakukan?!" kaget Luna.


Ken menyeringai. "Tentu saja mengambil makan malam pembuka ku," jawabnya lalu membenamkan bibirnya pada bibir Luna.


Dan selanjutnya yang Luna rasakan adalah pagutan dan *****@n pada bibir atas dan bawahnya secara bergantian. Sebelah tangan kiri menekan tengkuknya dan memperdalam ciuman itu. Meskipun awalnya terkejut, nama akhirnya Luna membalas ciuman Ken.


Gadis itu mengangkat kedua tangannya untuk memeluk leher Ken. Luna membuka sedikit mulutnya, dan menyambut lidah Ken.


Lidah Ken mulai mengobrak-abrik isi dalam mulutnya. Menyapu dinding-dinding rongga mulutnya, serta mengabsen satu persatu deretan gigi putihnya yang rapi.


Tak ingin kalah dari Ken, luna mencoba mengimbangi ciuman itu dan mengambil alih nya. Tapi sayangnya tak diizinkan oleh Ken, karena Ken paling tidak suka didominasi. Dan akhirnya Luna pun mengalah, membiarkan Ken menginvasi bibirnya.


"Pa, kakak cantik apa yang sedang kalian lakukan?!"


Sontak saja kedua mata Luna membelalak saking kagetnya. Buru-buru Luna mendorong tubuh Ken menjauh lalu ia menghampiri Daniel, yang sedang menatap keduanya dengan tatapan polosnya. Ken mendecih sebal, dia merutuki kedatangan Daniel di saat yang tidak tepat.


"Tapi kenapa bibir kakak cantik dan Papa saling menempel begitu jika kalian hanya sedang mengobrol?! Atau jangan-jangan Kalian sedang berbagi permen ya? Papa berusaha menyuapi Kakak cantik, biar lebih romantis seperti di film-film." ujar Daniel dengan polosnya.


"Sebenarnya itu~"


"Daniel, sebenarnya Apa yang sedang kau lakukan disini?" Ken menyela ucapan Luna.


"Daniel mencari Kakak cantik dan ingin mengajaknya bermain. Papa sebaiknya mengalah dulu ya. Hari ini kakak Cantik milik, Daniel."


"Tidak bisa!! Dia adalah istri Papa, dan Papa yang lebih berhak atas Kakak Cantikmu ini!!" tegas Ken.


Daniel menggeleng. Bocah laki-laki itu menarik lengan Luna lalu membawanya menjauh dari Ken. "Tidak bisa, Papa itu lebih dewasa dariku dan seharusnya mengalah padaku." Teriak Daniel.


"Papa bisa mengalah dalam hal apapun padamu, tapi tidak untuk yang satu ini!! Papa tidak ingin berbagi Luna dengan siapa pun termasuk dirimu!!" Tegas Ken.

__ADS_1


"PAPA MENYEBALKAN, DASAR BUCIN!!" teriak Daniel dan kemudian berlari meninggalkan mereka berdua.


"YAKK!! BOCAH, DARI MANA KAU BELAJAR KALIMAT MENGGELIKAN ITU?!" teriak Ken namun dihiraukan oleh Daniel.


Luna mengambil nafas panjang dan menghilangnya. "Ada apa denganmu, Ken?! Kenapa kau malas berdebat dengan anakmu sendiri, bahkan kau tidak mau mengalah padanya!!"


Ken menatap Luna dengan serius."Dengar, Luna. Aku bisa berbagi apapun dengan bocah itu. Tapi tidak untuk dirimu, karena kau hanya milikku!!!" tegas Ken.


Luna memutar jengah matanya. "Dasar kekanakan!!" ia mencibir Ken dan pergi begitu saja. Luna menyusul Daniel ke kamarnya, mungkin saja bocah laki-laki itu kesal atas ucapan ayahnya.


Dan Ken hanya bisa menatap kepergian Luna dengan kesal, pria itu mendecih sebal. Kenapa daniel harus begitu menyebalkan, lalu kenapa Luna malah lebih memilih dia dibanding dirinya yang jelas-jelas adalah suaminya.


.


Tok.. Tokk... Tok...


"Daniel Boleh Kakak cantik masuk?" bocah laki-laki itu menoleh lalu mengangguk."Jangan memasang wajah cemberut seperti ini, Sayang. Kau terlihat jelek."


"Papa menyebalkan, kenapa Papa tidak mau mengalah pada Danie? Dan malah berebut Kakak cantik dengan Daniel!!"


"Papamu itu, dia itu kan memang sangat menyebalkan. Daniel tidak usah marah lagi ya, Kakak cantik akan menemanimu di sini." ucap Luna. Daniel mengangguk dan berhambur kedalam pelukan Luna.


Dangat bahagia saat mengetahui jika Luna kini menjadi ibu tirinya. Daniel sangat menyayanginya, dan sudah sejak lama dia ingin Luna menjadi ibunya. Dan keinginannya itu akhirnya menjadi kenyataan.


Dan sementara itu...


Ken yang sejak beberapa saat lalu berdiri diambang pintu kamar Daniel tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Melihat kedekatan Luna dan Daniel membuat hatinya menghangat.


Sepertinya pertemuannya dengan Luna malam itu bukan hanya sebuah kebetulan saja. Tapi adalah sebuah takdir yang telah ditentukan oleh Tuhan.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2