
Hari ini adalah hari pertama Luna bekerja di kantor Ken sebagai sekretaris barunya. Wanita itu terlihat cantik dalam balutan blus putih berenda yang dibungkus blazer hitam press body dan celana bahan hitam.
Rambut panjangnya tetap dibiarkan terurai. Wajah cantiknya dipolesi make up tipis, dengan lipstik warna nude yang lembut. Luna datang bersama Ken, dan Ken memperkenalkan Luna pada semua karyawannya jika dia adalah sekretaris barunya.
Status Luna sendiri memang tidak banyak diketahui oleh Karyawan Ken, kecuali mereka yang sudah bekerja lama di perusahaannya.
"Ada apa kau memanggilku kenari?" Luna bertanya tanpa basa-basi.
"Ada beberapa hal yang harus aku beritahukan padamu. Disini status kita hanya sebatas atasan dan bawahan. Karena aku tidak suka mencampurkan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Aku harap kau bisa mengerti apa yang aku katakan ini, dan panggil aku Presdir seperti karyawan yang lain. Kecuali saat jam istirahat,"
Luna berdecak dan menatap Ken sebal. "Aku sudah paham tanpa perlu kau ingatkan lagi!! Dan berhenti memasang muka menyebalkan seperti itu, kau membuatku merinding Tuan Zhao!!" Cibir Luna kesal.
"Bagus kalau kau sudah mengerti. Bawa map merah itu lalu ikut aku ke ruang rapat dalam dua menit," jelasnya singkat sambil berbalik.
Kelopak mata Luna mengatup dan kemudian membuka. Rasanya ia baru saja berkedip dan tuan berambut blonde tadi sudah selesai bicara? Bahkan di kedip kedua, pria itu sudah menghilang dari pandangannya. Apa begini sikap Ken ketika berada di kantor?! Sungguh mengerikan. Batin Luna.
Luna memang belum terbiasa dengan sikap Ken yang seperti ini. Dan Luna tidak tau jika ketika bekerja pria yang selalu memuaskannya di atas ranjang itu akan berubah menjadi seorang Iblis yang sangat mengerikan.
.
.
"Baiklah, rapat cukup sampai di sini. Kedepannya aku harap kalian bisa bekerja lebih baik lagi!!"
Satu persatu meninggalkan ruangan dengan lingkaran meja panjang tepat di tenga ruangannya. Menyusahkan Ken dan Luna yang masih sibuk membereskan berkas-berkas yang berserakan.
Dalam hatinya Luna terus menggerutu. Sebenarnya dia seorang sekretaris atau babu, kenapa harus dia yang membereskan semua dokumen-dokumen itu?!
"Setelah ini siapkan kopi untukku, kepalaku sedikit pening." Ken bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja. Dan tingkat kekesalan Luna semakin bertambah karena sikap menyebalkan pria bermarga Zhao tersebut.
"Ken Zhao, tunggu saja pembalasanku nanti!! Tidak ada jatah selama satu Minggu penuh!!"
__ADS_1
.
.
Luna pergi menyiapkan kopi untuk Ken. Beberapa karyawan menghampirinya dengan tatapan dingin dan tajam. Tapi Luna tak mau ambil pusing apalagi menghiraukan mereka yang jelas-jelas ingin mencari masalah dengannya.
Langkah Luna dihalangi oleh dua dari empat perempuan itu. Luna mendesah berat. "Minggir!!" Pinta Luna dingin.
"Kalau kami tidak mau bagaimana? Kau mau apa?!" Satu dari kedua perempuan itu menjawab dengan angkuh.
Luna menghembuskan napas kasar. Apakah semua karyawan yang bekerja di kantor ini memiliki sikap seperti anjing, suka menindas dan membully karyawan baru. Apa perlu dia membuka identitas aslinya untuk memberi pelajaran pada mereka berempat?! Luna rasa tidak perlu, dia masih bisa mengatasinya.
"Aku tidak ingin membuat keributan dihari pertamaku bekerja. Jadi minggir lah dan jangan memancingku!!"
"Ternyata kau pandai bicara juga ya. Kami adalah senior di sini, dan jangan pikir karena kau adalah sekretaris Bos, maka kau akan diperlakukan seperti ratu di sini. Kami sudah lama sekali mengincar posisi itu, dan saat ada kesempatan tiba-tiba kau datang dan mengambilnya!!"
Luna menyeringai dingin. "Itu artinya kemampuan kalian tidak pernah di akui oleh Presdir!! Daripada kalian sibuk berdandan seperti pelacur hanya untuk menarik simpatik presdir, lebih baik perbaiki kinerja kalian. Kalian terlalu banyak membuang waktuku, minggir!!" Luna menyenggol lengan dua orang yang menghalangi jalannya dan pergi begitu saja.
.
.
Takkk...
"Ini kopi-mu!!" Luna meletakkan cangkir itu dengan sedikit hentakan. Membuat perhatian Ken yang sedang memeriksa dokumennya langsung teralihkan. "Kenapa kau menatapku seperti ingin menerkamku?!"
Ken meletakkan dokumen itu dan menatap Luna dengan serius. "Bukankah aku sudah memberitahumu aturannya?!" Ucap Ken tanpa melepas kontak matanya diantara mereka.
"Aku tau dan aku tidak amnesia. Tapi ada kejadian yang membuat moodku buruk. Jadi jangan menambahi lagi, dan membuat aku semakin kesal!!"
"Apa sesuatu terjadi?" Tanya Ken memastikan.
__ADS_1
Luna mendesah berat. "Ada karyawan-mu yang ingin melakukan pem-bully-an padaku karena aku orang baru disini!!" Ucap Luna menjawab kebingungan pria di depannya itu.
"Aku tidak tau sebelumnya,"
"Itu karena kau terlalu sibuk dengan dokumen-dokumen itu!!" Luna menunjuk tumpukan dokumen dimeja kerja suaminya.
Ken mendengus. Pria itu maju beberapa langkah ke depan. Kedua tangannya menangkup wajah Luna lalu mencium bibirnya dan sedikit mel*matnya. Sepertinya Ken ingin meredakan kekesalan Luna karena ulah karyawannya.
Dan tanpa mereka sadari, ada yang tidak sengaja melihatnya ketika berciuman. Orang itu hendak mengantarkan dokumen pada Ken, tapi hal tersebut ia urungkan saat melihat sebuah live kiss tersebut.
"Kenapa tidak jadi masuk? Bukankah kau ingin agar Presdir menandatangi dokumen itu?" Leon menghampiri pria berkaca mata itu yang urung masuk ke dalam.
"Na..Nanti saja. Sepertinya Presdir sedang sibuk sekarang."
"Aisshh, bagaimana kau ini?! Dia memang selalu sibuk. Tapi dia tidak pernah menolak untuk menandatangi sebuah dokumen. Kalau begitu biar aku saja," Leon mengambil dokumen itu dari tangan pria berkaca mata tersebut.
Pria berkaca mata itu mengulurkan tangannya dan hendak mencegah Leon untuk masuk ke dalam. Tapi terlambat. Akibatnya tubuh Leon pun langsung membatu saat melihat sebuah adegan yang tak seharusnya dia lihat tersebut.
Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dan matanya membelalak melihat tatapan tajam Ken yang sepertinya menyadari keberadaannya. Ken pun bergegas keluar sebelum terkena amukan oleh atasannya tersebut.
"Yakk!! Kenapa kau tidak memberitahuku jika mereka sedang berciuman. Apa kau sengaja ingin melemparkan ku ke dalam lubang buaya?!" Akibatnya pria berkaca mata itu yang kena semprot oleh Leon.
Padahal dia sudah berusaha mencegah Leon untuk masuk. Tapi Leon yang tak mau mendengarkannya. Akibatnya, ya begitulah. Leon pergi sambil berkomat-kamit.
"Begini amat nasib jomblo, selalu saja melihat pasangan lain sedang bermesraan. Kenapa nasibku benar-benar sial. Pacar tidak punya, uang di tabungan habis karena di tipu orang. Belum lagi semalam kepergok ibu sedang menggoda anak tetangga. Aissh, kenapa nasib buruk selalu menimpa hidupku!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1