
"Uhh, dingin."
Viona bergumam sambil mengusap lengannya yang hanya tertutup kain tipis lengan dress yang membalut tubuhnya. Dan suaranya sampai ke telinga sosok tampan yang duduk disampingnya.
Kevin mendengus berat. Pemuda itu melepas blazernya lalu menyampirkan pada bahu Hanna, menyusahkan tank top V-Neck hitam pres body. "Sudah tau udara sedang tak bersahabat, masih saja tidak membawa pakaian hangat saat keluar."
Viona mempoutkan bibirnya. "Bukan salahku juga. Tapi salahmu, siapa suruh menyuruhku datang dan hanya memberi waktu 5 menit saja. Kau pikir aku ini gadis yang memiliki kekuatan super?" gerutu Viona.
"Hn,"
Kemudian Nathan bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Viona begitu saja. "Kau ingin tetap disini atau ikut aku?" Pemuda itu menghentikan langkahnya dan melirik Viona dari ekor matanya.
Viona memperhatikan sekelilingnya. Bulu kuduknya langsung berdiri saat melihat tempat itu yang kosong dan gelap. Hanya ada beberapa lampu yang tidak begitu terang. Sangat menyeramkan, pikirnya. Ia pun segera berdiri.
"Ikut!!" Seru Viona dan segera menyusul Kevin. "Yakk!! Jangan tinggalkan aku. Tempat ini sedikit mengerikan, aku takut." Rengek Viona sambil memeluk lengan Kevin. Tanpa sadar lebih tepatnya.
Kevin tak memberikan respon apapun. Dia hanya menatap datar lengannya yang dipeluk oleh Viona. Entah kenapa dia tidak merasa risih sama sekali, padahal biasanya dia selalu menolak ketika ada perempuan yang menyentuhnya.
Viona terus saja memeluk lengan terbuka Kevin sambil memperhatikan sekelilingnya. Taman saat malam hari ternyata begitu mengerikan, karena tak ada seorang pun yang berseliweran di sana. Suasananya sangat berbanding balik dengan saat siang hari.
"Kenapa semakin lama tempat ini semakin menyeramkan saja. Tidak ada hantunya kan?" Ucap Viona sambil memperhatikan sekelilingnya.
Kevin mengangkat bahunya. "Mana aku tau, mungkin saja ada." Ucapnya asal.
"Yaaa...!! Jangan sembarangan bicara, bagaimana kalau benar-benar ada hantu disini? Aku tidak bisa membayangkannya. Lebih baik bertemu preman daripada ketemu setan."
"Menggelikan. Bagaimana bisa gadis bar-bar sepertimu bisa takut pada hantu!!"
"Memangnya cuma gadis lugu dan lemah lembut yang boleh takut hantu?!" Protes Viona.
__ADS_1
Setelah cukup lama berjalan. Mereka tiba disebuah danau. Siapa sangka di tengah kota metropolitan terdapat sebuah danau yang sangat indah dengan sebuah pohon Cherry Blossom yang berada di tepi danau. Menambah keindahan tersendiri bagi danau tersebut.
Danau itu tak banyak di jamah orang karena tersembunyi di balik semak belukar yang tinggi menjulang. Dan Kevin menemukan danau ini tanpa sengaja ketika dia masih berusia 15 tahun. Ternyata setelah 10 tahun, tak ada yang berubah pada danau ini, masih tetap seindah terakhir kali dia melihatnya.
Selain pohon Cherry Blossom, danau itu juga dikelilingi dengan bunga Poppy, Tulip dan Mawar. Dan kehadiran ribuan kunang-kunang menambah keindahan malam ini.
"Ya Tuhan, 23 tahun aku hidup di dunia ini. Tapi baru tau jika ada tempat seindah ini disini." Ucap Viona, rasa takut yang tadi sempat menggerogoti dirinya lenyap begitu saja.
"Tempat ini aku temukan sekitar 10 tahun yang lalu. Dan setelah 10 tahun, ternyata tempat ini masih tetap secantik dulu." Ucap Kevin sambil bersandar pada pohon Cherry Blossom sambil bersidekap dada.
"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" Tanya Viona penasaran.
Kevin mengangkat bahunya. "Aku juga tidak tau, karena aku menemukannya secara tidak sengaja." Jawab Kevin.
"Tapi tempat ini sungguh sangat indah dan juga menenangkan. Tempat ini sunyi dan agak jauh dari kebisingan jalanan kota. Sungguh tempat yang sangat pas untuk menenangkan diri." Ucap Viona.
"Hn,"
Tapi sayangnya ini sudah malam, hanya terlihat pantulan sinar bulan di permukaan danau yang tenang. "Airnya sangat dingin dan sejuk." Viona menyentuh permukaan air ditepian itu dengan telapak tangannya. "Aahh," dan ketika hendak berdiri tiba-tiba Viona terpeleset dan nyaris terjatuh ke danau jika saja tidak ada sebuah lengan yang menangkapnya tepat waktu.
Dan insiden tak terduga itu membuat dua pasang bola mata itu saling bersirobok dan mengunci satu sama lain. Entah kenapa Kevin merasakan debaran tak biasa ketika menatap sepasang Amber jernih itu.
Buru-buru Kevin melepaskan pelukannya pada pinggang Viona dan membantu gadis itu berdiri dengan tegap. "Ceroboh!!" Kevin beranjak dari hadapan Viona dan pergi begitu saja.
"Yakk!! Kenapa aku ditinggal lagi? Kevin Zhao, tunggu aku!!"
-
-
__ADS_1
"PAPA!! JANGAN PAKSA AKU UNTUK MENIKAH LAGI, HUAAA..."
Aiden yang sudah berusia 66 tahun masih tetap menolak untuk menikah. Dia tetap tidak ingin menikah dan membina rumah tangga. Aiden benar-benar sudah menjadi bujang lapuk sekarang. Padahal Luna, adiknya sudah memiliki anak 3 dan mereka telah dewasa tapi Aiden malah memilih mem-bu-di sampai sekarang.
Tuan Valentino memukul kepala Aiden dengan tongkatnya. Pria yang rambutnya telah putih semua itu benar-benar geram pada putra sulungnya itu. Bagaimana bisa Aiden menolak untuk menikah.
"Dasar anak tidak berguna. Harusnya pria seusiamu itu sudah memiliki sedikitnya 4 cucu. Dan kau malah masih melajang. Jika tidak segera menikah, siapa yang mau dengan bujang karatan sepertimu!! Papa semakin tua, ingin memiliki menantu sebelum mati. Tapi kau malah santai-santai saja!!"
"Huhuhu... Pa, mau berapa kali lagi kau membuat kepalaku ini benjol? Aku tidak mau menikah. Aku bisa merawat Papa tanpa menikah dan jika Papa ingin memiliki cucu itu gampang, tinggal numpang nyimpen kecebong di perut wanita, beres kan."
Sekali lagi Tuan Valentino memukul kepala Aiden dengan tongkatnya. "Semakin tua tapi kenapa kau semakin ngelantur saja. Papa tidak mau tau, pokoknya kau harus mau menikah dengan wanita pilihan Papa. Jika kau menolak lagi. Papa akan mengirimmu ke Afrika, supaya kau menjadi santapan hewan-hewan liar di sana!!" Putus tuan Valentino dan pergi begitu saja.
Sontak kedua mata Aiden membelalak. "PAPA! JANGAN!!!"
-
-
Viona turun dari mobilnya lalu menghampiri mobil Kevin yang terparkir tak jauh dari mobilnya berhenti. "Terimakasih sudah mengantarku sampai depan rumah. Padahal aku bisa pulang sendiri."
"Masuklah. Sebaiknya besok tidak usah membawa mobil sendiri. Aku akan menjemputmu."
Viona menggeleng sambil mengibaskan tangannya di depan dada. "Tidak usah, tidak usah. Biar aku berangkat sendiri saja." Ucapnya.
"Jam tujuh, tidak kurang tidak lebih, tunggu aku di depan pagar. Aku pergi dulu." Kevin menghidupkan kembali mesin mobilnya. Dan dalam hitungan detik. Mobil itu sudah melaju kencang meninggalkan Viona yang belum beranjak dari posisinya.
Gadis itu mendengus kasar. Kenapa dia harus bertemu dan berurusan dengan pemuda menyebalkan, keras kepala dan pemaksa seperti Kevin. Tak ingin semakin keras oleh sikap semena-mena pemuda itu. Viona pun kembali ke dalam mobilnya dan segera masuk ke dalam.
-
__ADS_1
-
Bersambung.