
"Kalau sudah tidak mau berdiri jangan dipaksakan!! Membuat jengkel saja!!"
Luna meraih pakaiannya yang berserakan dilantai. Dengan kesal dia meninggalkan Ken yang berusaha membuat bangun burung Pipitnya. Padahal dia sudah mengoleskan ramuan ajaib yang diberikan oleh ayah mertuanya, tapi tetap saja tidak membantu sama sekali.
Ken mendesah frustasi. Gagal lagi, gagal lagi. Dan untuk kesekian kalinya Luna kesal karena Burung Pipitnya yang tidak mau bangun, faktor usia benar-benar mempengaruhi kerja Burung Pipitnya.
Burung Pipit yang dulu sangat perkasa dan mampu menggoyang ranjang setiap malam, kini malah lemas seperti terong di rebus. Padahal usianya baru 64 tahun. Tapi Ken malah mengalami hal menyebalkan seperti ini.
"Mau kau kocok sampai Burung Pipit itu terluka juga tidak akan bangun," ketus Luna yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Ken merengut. Luna sering uring-uringan karena hal tersebut. Bukan salah Ken, tapi salah Burung Pipitnya yang tidak mau bangun lagi.
"Dan sampai kapan kau akan tel*njang seperti itu?! Memangnya apa yang ingin kau pamerkan padaku? Perut buncitmu, sebaiknya pakai kembali bajumu!!"
"Luna, kenapa kau jadi galak sekali? Dulu kau tidak seperti ini,"
"Jangan terlalu melankolis, minggir aku mau tidur. Malam ini kau tidak boleh tidur di sini, tidur sama dikamar tamu. Dasar menyebalkan!!"
Ken menggigit bantal yang Luna lemparkan padanya. Sambil sesekali menoleh pada Luna, Ken berjalan keluar. Dia memegangi lemah diperutnya yang semakin lama semakin menumpuk.
Sejak usianya tidak muda lagi, dia malas berolah raga apalagi membentuk tubuhnya seperti ketika muda dulu. Dan beginilah akibatnya, tubuhnya sedikit berisi dengan perut membuncit.
-
-
"SETAN!!"
Viona dan Suketi sama-sama jatuh terduduk. Keduanya sama-sama berteriak menyebut kata 'Setan'. Suketi yang muncul tiba-tiba dan Viona yang keluar dari kamar mandi dengan muka putih. Membuat keduanya sama-sama terkejut.
Dengan kesal Viona melempar vas bunga yang ada di atas meja samping dia terduduk pada Suketi. Akibatnya kepala Suketi mendongak kebelakang karena lemparan itu.
"Yakk!! Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba dan mengejutkanku, eo?! Apa kau ingin membuatku mati muda!!" Bentak Viona penuh emosi.
Suketi mempoutkan bibirnya. "Cantik, jangan galak-galak begitu dong. Suketi kan jadi takut. Suketi cuma ingin berteman baik denganmu, sekarang Aster sudah tua dan tidak bisa diajak bercanda lagi." Ujarnya.
__ADS_1
"Itu bukan urusanku. Berhati muncul tiba-tiba dan membuatku hampir terkena serangan jantung!!" Viona bangkit dari posisinya. "Ahh, pinggangku." Dia meringis sambil memegangi pinggangnya yang terasa mau patah.
"Cantik, Suketi lihat di rumah ini ada orang jahat ya. Bagaimana kalau Suketi membantumu mengerjainya?" Usul Suketi dengan mata berbinar-binar.
Viona memicingkan matanya. "Bagaimana kau mau mengerjai mereka, bukankah kau tidak bisa dilihat orang lain?"
"Siapa bilang, Suketi bisa muncul di depan siapa pun. Asal Suketi mau, pasti bisa terlihat oleh mereka. Begini-begini Suketi sangat popular loh, dan menggunakan jasa Suketi juga tidak murah. Kalau Cantik mau, Suketi akan membantu secara cuma-cuma, bagaimana?"
Viona menyeringai. "Kedengarannya menarik. Baiklah, aku setuju."
Sepertinya seru juga membuat Minna dan Amelia jantungan. "Kau bisa melakukannya lain waktu, tidak usah malam ini. Tunggu momen yang tepat. Sebaiknya kau pergi, aku mau tidur."
"Oke, Cantik. Titi pergi dulu. Ayang-ayang Titi sudah menunggu untuk bercocok tanam."
"Dasar hantu Gila!!"
-
-
Sudah hampir 15 menit. Tapi batang hidung pemuda itu belum terlihat juga. Sesekali Viona melihat kearah jalan, namun tetap saja mobil itu tidak terlihat juga.
"Maaf sudah membuatmu menunggu," sampai suara dingin seorang pria masuk dan berkaur ditelinganya. Sontak Viona menoleh, dan sosok yang sedari tadi dia tunggu muncul dari taman belakang halte.
Viona mengamati penampilan Kevin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penampilannya sedikit berbeda dari biasanya. Jeans panjang, singlet putih dan rompi hitam bertudung. Rambutnya bukan lagi berwarna coklat tua, melainkan warna keperakan.
Blussshh...
Rona merah muncul dikedua pipi Viona. Tak mau Kevin sampai melihatnya, dia membuang muka ke arah lain. "Kenapa kau mengajakku bertemu disini? Dan kenapa kau muncul dari taman itu?" Viona menunjuk taman dibelakang mereka dengan jari telunjuknya.
"Aku kemari dengan berjalan kaki. Mobilku aku tinggal diparkiran, cuaca hari ini sangat cerah. Temani aku jalan-jalan."
Viona menoleh dan menatap tangannya yang digenggam oleh Kevin. Lalu pandangannya beralih pada orang yang menggenggam tangannya itu. "Memangnya kita mau kemana?" Tanya Viona penasaran.
"Kau akan tau setelah kita sampai di sana. Dan sebaiknya sekarang kau jangan banyak tanya."
__ADS_1
Viona mendengus. Mulai lagi, apa tidak bisa sekali saja pemuda ini tidak membuatnya kesal karena sikap menyebalkannya. Beruntung satu Minggu paling mengerikan dalam hidupnya telah berakhir.
Viona pikir setelah satu Minggu itu ia dan Kevin tidak akan bertemu lagi. Tapi dia salah, karena Kevin selalu muncul setiap saat diwaktu yang tidak terduga.
.
.
Langit sudah menampakkan pergantian warna jingga dan matahari telah siap untuk istirahat sejenak di peraduannya.
Mobil Kevin melaju diatas aspal yang disisi kirinya adalah hamparan kuning bunga Canola. Sedangkan disisi kanannya adalah hamparan laut lepas yang memantulkan cahaya perak terus saja memikat mata siapa pun yang melihatnya.
Tak lupa angin pantai yang semilir seolah membuai siapa pun untuk terus terhipnotis dalam keindahannya. Deburan ombak yang bertabrakan dengan batu karang sesekali singgah di indera pendengaran, disertai aroma laut yang begitu khas.
Kevin menghentikan mobilnya. Ia dan Viona sama-sama turun dan berjalan menuju hamparan pasir putih yang membentang luas di hadapan mereka. "Ahh, lelahku terbayar lunas." Ucap Viona sambil mengirup napasnya dalam-dalam.
"Ini adalah tempat yang paling tepat untuk melihat matahari terbenam."
"Key, ayo duduk di sana." Viona menunjuk sebuah gubuk kecil yang atapnya terbuat dari jerami. Kevin mengangguk, ia dan Viona kemudian berjalan menuju gubuk tersebut.
Suasana di pantai ini sangat hening. Tak ada orang lain di lantai selain mereka berdua, lokasinya yang lumayan jauh dari keramaian membuat orang enggan untuk mengunjunginya. Dan tempat seperti ini paling tepat untuk menyendiri dan menenangkan pikiran.
"Kenapa kau membawaku kesini?" Viona menoleh, menatap pemuda disampingnya. Mata mereka saling bersirobok selama beberapa detik.
"Apa kau baik-baik saja?" Alih-alih menjawab. Kevin malah balik bertanya. Dari matanya saja, Kevin bisa melihat jika Viona tidak baik-baik saja.
"Ya,"
"Mungkin kau bisa membohongi orang lain, tapi kau tidak akan bisa membohongiku." Kevin kembali mengunci sepasang mata itu.
Viona tersenyum simpul. Kenapa Kevin begitu mudah menebak apa yang dia rasakan saat ini, apa begitu jelas jika ia tidak dalam keadaan baik-baik saja? Dan mungkin hanya pemuda itu satu-satunya yang bisa memahami dirinya.
-
-
__ADS_1
Bersambung.