PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Ayo Bercocok Tanam!!!


__ADS_3

"Mulutmu akan putus jika kau terus tersenyum seperti itu."


"Luna, kau!" belum sempat menjawab, yang disinggung malah dikagetkan oleh butiran-butiran salju putih yang tiba-tiba turun dari atas langit. "Salju!" pekiknya senang tapi juga terkejut.


Sejak kecil, Aiden memang sangat menyukai musim dingin. Karena saat musim dingin tiba, salju juga akan turun menyapa bumi yang dinaungi 4 musim. Beberapa hari ini cuaca memang menjadi lebih dingin, tapi ia tak menyangka salju akan turun di cuaca yang cukup cerah ini.


Aiden menatap ke arah langit. Salju turun mengenai wajah dan tubuhnya di balik pakaian yang dia kenakan. Salju memang membawa kebahagiaan tersendiri dalam hidupnya.


Kemudian Aiden menoleh ke arah Luna yang masih menatap ke arah langit disampingnya, masih lengkap dengan senyuman di bibirnya. Aiden tidak pernah tau jika perempuan ini juga sangat menyukai salju, padahal mereka bersama sedari remaja.


"Tumben kau sendirian di sini? Memang kemana perginya Iblis kutub itu?" Tanya Aiden karena Luna tidak bersama dengan Ken.


"Dia sudah pergi sejak pagi. Aku tidak tau apa yang dia lakukan akhir-akhir ini, Ken menjadi lebih sibuk dari biasanya." Jawab Luna tanpa menatap lawan bicaranya.


"Mungkin saja dia memiliki perempuan lain di luar sana!!" Tebak Aiden asal.


"Sembarangan!!" Alhasil sebuah jitakan keras mendarat mulus pada kepalanya. "Jangan asal bicara jika tidak ingin ku patahkan lehermu!!" Ancam Luna dan pergi begitu saja.


Aiden mempoutkan bibirnya. "Dasar adik durhaka. Tidak suaminya, tidak istrinya, semua sama saja, tidak ada yang bisa dipilih. Sama-sama tidak berhati. Dasar menyebalkan!!" Gerutu Aiden kesal.


Aiden tidak tau, saat mengandung dulu ibunya ngidam apa, sampai-sampai melahirkan anak menyebalkan seperti Luna. Padahal yang Aiden minta adalah adik yang manis, imut dan bisa dia manfaatkan ketika besar. Tapi yang ada malah dia yang sering dimanfaatkan oleh Luna.


-


-


Deru suara mobil yang memasuki halaman menyita perhatian Luna, wanita itu meninggalkan meja riasnya dan berlari menuju balkon.


Dari balkon kamarnya, Luna melihat sebuah mobil berwarna hitam metalik terparkir di samping mobil milik ayahnya. Seorang pria dalam balutan pakaian serba hitam keluar dari mobil tersebut dan melenggang masuk ke dalam.


Luna pun meninggalkan balkon dan bergegas keluar untuk menyambut kedatangan suaminya. "Kau dari mana saja, kenapa jam segini baru pulang?" tanya Luna sambil memeluk leher suaminya.

__ADS_1


"Ada beberapa hal yang harus diselesaikan sebelum kita kembali ke Korea. Kenapa rumah sangat sepi, kemana papa dan yang lain?"


"Papa, dia sedang pergi bermain golf dengan temannya. Daniel sedang keluar bersama kak Devan. Sedangkan kak Aiden, dia sedang uring-uringan di kamarnya." jawab Luna menuturkan.


Ken memicingkan matanya. "Pasti karena ulah lagi, kapan kalian berdua bisa akur dan tidak seperti bocah lagi?!" ujar Ken penuh keheranan.


"Jangan sembarangan, meskipun kami seperti Tom and Jerry, tapi kami berdua saling menyayangi dan mengasihi. Buktinya ketika berjauhan dengan kak Ai, aku selalu rindu menjahilinya!!" tutur Luna.


"Ken mendengus geli. Dengan gemas dia menjitak kepala Luna. Dasar kau ini, pantas saja Aiden selalu terlalu menyebutmu sebagai adik durhaka!!" tutur Ken sambil menjitak kepala Luna. Alih-alih kesal dan marah, Luna malah terkekeh geli.


Luna memeluk lengan Ken. "Kenapa kita jadi membahas kak Ai. Lebih baik kita lakukan hal yang sama-sama menguntungkan. Aku kedinginan, bagaimana kalau kita saling menghangatkan?! Ayo Bercocok tanam," usul Luna yang langsung disambut baik oleh Ken.


"Sepertinya bukan ide buruk," kemudian Ken mengangkat Luna bridal style dan membawanya ke kamar. Hari yang dingin ini akan mereka lewati untuk saling menghangatkan.


-


-


Ken sendiri, dia kini sedang menikmati pemandangan erotis tepat di bawahnya. Napas Luna yang membelai wajahnya begitu memabukkan di tambah rona merah yang menghiasi tiap inci kulit putihnya membuat hasrat Ken kian berdesir. Luna begitu sempurna dimatanya.


Luna mencoba mengalihkan pandangannya, namun arah matanya tertuju pada hal yang salah, karena kini matanya mendapati bahwa tubuh Ken telah sama polosnya dengan dirinya. Namun Luna tak bisa mengalihkan kembali tatapannya, terpaku pada bentuk tubuh sang suami yang begitu sempurna.


Ya, Luna memang selalu terpanah pada bentuk tubuh Ken ketika mereka berhubungan b*dan.


Luna akui bahwa tubuh Ken memang luar biasa, dia berotot di beberapa bagian. Memang tidak terlalu besar, namun otot-ototnya kencang ketika disentuh.


Ken kembali menundukkan wajahnya, menyusuri dagu hingga dada Luna dengan bibir dan lidahnya. Ken begitu memuja kulit putih sang dara yang kini di hiasi oleh bercak merah yang dia ciptakan. Saat Ken menurunkan ciumannya dan m*njilati sekitar pusar Luna, wanita itu mengangkat kepalanya dan mengeram.


"Ahhh... Ken , ini sungguh nikmat."


"Kau menikmatinya, hm?" Luna mengangguk lemah."Kau semakin basah saja, Sayang. Kau membuatku lebih bergairah." Bisik Ken lalu mengecup bibir Luna.

__ADS_1


"Aaahhh..." Luna menjerit ketika benda kebanggan milik Ken kembali menghujam dirinya semakin dalam, hingga menyentuh bibir rah"mnya.


Tubuh wanita itu tersentak-sentak akibat tusukan Ken yang semakin dalam. Luna tak berdaya, tapi dia begitu menikmatinya. Luna memang tidak bisa menolak kenikmatan seperti ini. Ini sangat luar biasa.


"Aaahhh..."


Dan des*han keras Luna sampai ke telinga seseorang yang tidak sengaja lewat di depan pintu kamar yang tertutup rapat itu. Saking Erot*snya, sampai-sampai membuat orang itu terlonjak dan bergidik ngeri.


Alih-alih pergi, orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Aiden malah berdiri di depan pintu kamar yang tertutup itu. Dia merasa penasaran sekaligus ingin tau apa yang akan terjadi lagi setelah ini.


"Ken, aaahhh... Lebih cepat lagi, lebih cepat lagi. Yayaya, begitu.. Ahhh, Ken.."


Darah segar mengucur deras dari hidung Aiden. Ya, dia mimisan karena mendengar suara menyeramkan dari dalam sana. "Astaga, mereka benar-benar ya. Sudah tau ini masih siang, tapi malah perang-perangan. Membuat iri Budi saja."


Tidak ingin otaknya semakin teracuni. Aiden pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. Jika terlalu lama mendengarkan mereka berdua. Bisa-bisa Aiden akan semakin tersiksa, apalagi senjatanya sudah berdiri tegak dan membutuhkan pelepasan sesegera mungkin.


Dan sementara itu...


Luna dan Ken baru saja mencapai puncaknya. Setelah hampir satu jam. Ken akhirnya menumpahkan semua susu kental manisnya di dalam diri Luna. Napas mereka sama-sama naik turun tak beraturan.


"Kau lelah?"


Luna mengangguk. "Sangat, tapi sungguh nikmat."


"Kalau begitu tidurlah, aku mandi dulu." Ken mengecup kening Luna dan pergi begitu saja.


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2