
Langit malam yang sebelumnya terlihat terang tiba-tiba dihiasi kilatan-kilatan putih. Suaranya yang menggelegar serasa memekatkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Awan-awan hitam berarak perlahan, bergerak dan menutupi bulan yang berpendar. Rintik-rintik tanpa warna perlahan jatuh membasahi bumi.
JLEDERRR!!
Petir terus menyambar saling bersahutan. Bukan hanya sekali dua kali tapi berkali-kali membuat malam yang suram kian mencekam.
JLEDERR!!!
"KKYYYAA..."
Ken menoleh setelah mendengar jeritan dari lantai dua rumahnya. Dan suara itu berasal dari kamar yang di tempat oleh Jessline. Tanpa membuang waktu Ken bergegas dan menghampiri wanita itu.
Setibanya di sana, Ken melihat Jessline yang sedang meringkuk ketakutan sambil memeluk lututnya sendiri. Sesekali kedua tangannya berpindah untuk menutupi telinganya.
Dan Jessline langsung berhambur memeluk Ken saat merasakan tepukan pada bahunya dan suara dinginnya memanggil namanya."A-Aku takut," suaranya sedikit tercekat. Ken mengusap punggung Jessline dengan gerakkan naik turun, meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja.
"Jangan takut aku ada di sini." Bisik Ken sambil mengusap punggung Jessline.
"Jangan pergi, aku mohon." Lirih wanita itu memohon.
Ken menggeleng. "Aku tidak akan kemana-mana, dan jangan paksakan dirimu untuk bicara."
Dan pelukan hangat Ken membuat Jessline semakin merasa tenang dan dia tidak setakut sebelumnya. Kemudian Jessline melepaskan pelukannya lalu menatap Ken yang juga menatap padanya. Sudut bibir Ken tertarik ke atas membentuk senyum setipis kertas. Untuk sesaat Jessline terpaku melihat senyum itu, dan selama beberapa hari tinggal bersama Ken, ini pertama kalinya dia melihat pria itu tersenyum.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" Jessline mengangguk. "Sebaiknya kau istirahat, dirimu terlihat tidak dalam keadaan baik. Aku akan menemanimu di sini."
Jessline menatap iris mata Ken tanpa berkedip sedikit pun. Dengan bahasa isyarat dia mulai berbicara. "Tuan Zhao, mungkinkah kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa aku merasa jika kau begitu familiar, aku merasa tidak asing sama sekali dengan sentuhan dan pelukanmu."
"Aku sendiri tidak tau. Dan aku rasa tidak, sudah jangan bicara lagi cepat istirahat." pinta Ken yang lebih seperti sebuah perintah.
Jessline mencerutkan bibirnya. Padahal dia masih belum mengantuk tapi Ken malah memaksanya untuk segera tidur. "Dasar menyebalkan, aku ini bukan anak kecil jadi berhenti memaksaku untuk tidur." Ken mendengus panjang. Dan dengan gemas pria itu menjitak kepala coklat Jessline sedikit keras. "Aww, sakit!"
"Kenapa kau begitu keras kepala, hm? Baiklah terserah kau saja."
-
-
__ADS_1
Jam yang menggantung di dinding baru menunjuk angka 11 siang. Rasa bosan mulai menyerbu perasaan Jessline. Diam seharian tanpa melakukan apa-apa membuatnya merasa sangat bosan.
Wanita itu beranjak dari kamarnya dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar mansion, ada satu tempat di manson ini yang membuat Jessline begitu penasaran dan ingin sekali dia kunjungi.
Pandangan Jessline tertuju pada bangunan megah yang berada di belakang rumah utama. Rumah itu dikelilingi taman bunga yang cantik nan menyejukkan mata. Dan entah kenapa tiba-tiba hati Jessline berdebar kencang melihat bangunan megah yang berdiri kokoh dihadapannya.
Dan lagi-lagi dia merasa Dejavu saat menginjakkan kakinya di halaman bangunan itu yang sebenarnya adalah rumah pribadi milik Ken.
Pijakannya tiba-tiba terhenti saat sekelebat bayangan tiba-tiba melintas di kepalanya. Dalam bayangan itu Jessline melihat dirinya bersama seorang pria yang wajahnya tidak begitu jelas berada di sebuah ruangan yang bentuk dan isi didalamnya sama persis dengan tempat di mana dia berada saat ini.
"Jessline!" Dan nyaris saja wanita itu terjatuh dari posisinya karena merasakan pusing yang luar biasa.
Beruntung seseorang tiba-tiba datang dan menahan tubuhnya sebelum menyentuh tanah."Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat pucat, apa kau sedang sakit?" tanya orang itu memastikan. Lantas Jessline menggeleng dan meyakinkan pada orang itu jika dirinya baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja. Kau, tidak perlu cemas." Jessline berusaha meyakinkan Devan jika dirinya baik-baik saja. Tapi Devan tidak bisa merasa tenang apalagi setelah melihat wajah pucat Jessline.
"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kau tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ayo aku antar kau ke kamarmu dan beristirahatlah. Jangan keras kepala dan membuat orang lain cemas." Jessica mendesah berat. Dengan terpaksa dia menuruti Devan sebelum dia semakin banyak bicara.
"Baiklah."
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tegur seseorang dari arah belakang. Suaranya terdengar begitu dingin dan tidak bersahabat.
Lantas Ken menghampiri mereka berdua dengan tatapan tajam yang begitu berbahaya. Dan meskipun hanya melalui mata kanannya saja tapi hal itu sudah cukup untuk membuat Jessline ketakutan.
"Ken, dengarkan dulu penjelasanku, sebenarnya-"
"Memangnya siapa yang memberimu ijin untuk masuk ke sini apalagi membawa orang asing?" Ken menyela ucapan Devan tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Matanya terus menatap tajam pada Jessline yang tampak ketakutan dan bersembunyi di balik punggung Devan. Hatinya mencelos melihat tatapan Ken yang begitu dingin dan tajam.
Jessline terus menundukkan wajahnya. Bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya yang kemudian berjatuhan dan membasahi wajah cantiknya. "Jangan menyalahkannya karena akulah yang mengajaknya untuk masuk ke dalam. Dan jaga sikapmu itu kau sudah membuatnya sangat ketakutan."
"Kau pikir aku peduli! Aku tidak suka jika area pribadiku dimasuki orang asing!!!"
Jessline terus menundukkan wajahnya. Hatinya terasa begitu sesak melihat tatapan tajam dan kata-kata menusuk yang keluar dari mulut pria itu. "Ma-maaf, Tuan Zhao," lirih Jessline penuh sesal.
"Memangnya kau pikir hanya dengan kata maaf saja aku bisa melupakan kelancanganmu? Jika saja kata maaf cukup, mungkin penjara tidak akan penuh. Kau pikir dengan memasang ekspresi seperti itu aku bisa luluh padamu dan mengijinkanmu untuk berbuat sesuka hati di rumah ini. Ada aturannya, Nona, dan jangan hanya karena wajahmu mirip dengan Luna maka aku akan-"
__ADS_1
"KEN, CUKUP! Apa-apaan kau ini? Kenapa kau malah melimpahkan semua kesalahan padanya? Aku yang salah dan Gege-lah yang mengajaknya masuk ke dalam rumah ini. Seharusnya kau marah padaku bukan padanya!"
"Oh. Begitu? Memangnya sejak kapan kau berani berbicara dengan nada setinggi itu padaku? JANGAN KARENA KAU PIKIR KAU ADALAH KAKAKKU, MAKA AKU AKAN SELALU BERSIKAP LEMBUT PADAMU, DEVAN WU." bentak Ken penuh emosi.
Devan sangat terkejut begitu pula dengan Jessline. Jessline semakin ketakutan dengan sikap Ken. Ini memang bukan pertama kalinya dia melihat Ken marah dan hilang kendali seperti ini. Apa sebesar itu rasa cinta Ken untuk mendiang istrinya. Sampai-sampai dia sangat marah ketika area pribadinya di masuki oleh orang lain.
Ini pertama kali bagi Jessline melihat kemarahan Ken yang sesungguhnya. Jessline menutup rapat-rapat kedua matanya. Dia merasa merinding sendiri melihat tatapan pria itu yang lebih mengerikan dari tatapan Iblis sekali pun.
Kemudian pandangan Ken bergulir pada Devan. Dia yakin jika kakaknya itu tidak sedang mengalami Amnesia sampai-sampai dia melupakan apa yang paling dia benci dan tidak dia sukai.
Ken memang paling tidak suka jika area pribadinya dan Luna sampai di masuki oleh orang lain, dan hari ini Devan seolah telah melupakannya. Dan Devan hanya bisa mendesah berat. Dia paling tau bila Ken sangatlah tempramen sejak kepergian Luna tiga tahun lalu.
Tapi dia tidak menduga bila Ken bisa bersikap sekasar itu pada Jessline yang nyatanya wajahnya sangat mirip dengan Luna.
"Oke, aku memang salah dan Gege minta maaf. Tapi jangan salahkan Jessline karena dia tidak tau apa-apa. Jangan bersikap kasar lagi padanya karena, aku yang bersalah sepenuhnya."
"Terserah." Ucap Ken dan pergi begitu saja.
Devan menjadi sangat tidak enak pada wanita disebelahnya ini. Dia terkena imbas dari kemarahan Ken yang sangat mengerikan itu.
"Jessline, tolong maafkan sikap kasar, Ken, dan jangan di masukkan ke dalam hati ya. Dia memang sangat kasar dan menjadi sangat tempramen sejak kepergian Luna. Kakak, sangat mengenalnya dengan baik. Jika sudah marah dia akan sangat sulit untuk di reda."
"Dulu hanya Luna satu-satunya orang yang bisa mengendalikan emosi, Ken, tapi setelah tragedi malam itu tidak ada satu pun yang bisa mengendalikan apalagi menenangkan emosinya jika sudah meledak." Ujar Devan panjang lebar.
Jessline diam terpaku mendengar penuturan Devan. Dia memiliki feeling yang aneh. Dan menurut Jessline pribadi, Ken adalah sosok pria yang sangat mengerikan. Parasnya yang tampan membuatnya terlihat seperti Iblis dalam bentuk Malaikat.
Tapi di balik semua ini, Jessline melihat ada kesedihan yang begitu dalam yang tidak bisa Ken ungkapkan hanya dengan kata-kata. Dan hatinya terasa gamang setiap kali melihat tatapan tajam Ken.
Semua yang ada dalam diri Ken sangat tidak asing baginya sejak pertama kali mereka bertemu. Tatapannya, sentuhannya semua terasa begitu familiar untuknya. Dan hanya waktu yang bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan serta tekai-teki dalam hati Jessline maupun Ken.
-
🌹Spoiler Bab selanjutnya🌹
"Ya, Tuhan, apa yang sudah aku lakukan padanya selama ini?" gumam Ken menyesali semua sikap kasarnya pada Jessline yang sebenarnya adalah Luna.
-
__ADS_1
Bersambung.