PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Pernikahan Aiden


__ADS_3

Aiden terus menekuk wajahnya, padahal hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dan bersejarah dalam hidupnya. Ya, hari ini dia akan menikah. Setelah perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan, akhirnya Aiden setuju untuk menikah. Meskipun persetujuannya itu hanyalah setengah hati.


Tuan Valentino mengancam akan mengirim Aiden ke Afrika Selatan jika dia sampai menolak lagi perjodohan kali ini.


Diantara semua keluarga yang datang. Tentu saja Tuan Valentino yang paling bahagia. Semua keluarga Zhao hadir di pernikahan Aiden, kecuali Kevin.


Ken dan Luna tidak tau kesibukan apa yang dimiliki putra bungsunya itu sampai-sampai dia tidak ikut menghadiri pesta pernikahan pamannya. Bahkan Daniel dan keluarga ku kecilnya saja menyempatkan diri untuk pulang supaya bisa memberikan selamat pada Paman tercintanya tersebut.


Luna selaku saudara satu-satunya Aiden sampai tidak kuasa menahan air matanya. Dia menangis karena bahagia. Devan juga menangis, tentu bukan karena ikut bahagia tapi karena iri.


Aiden yang tidak ingin menikah malah dikirimkan jodoh oleh Tuhan, sementara dirinya yang ingin sekali menikah malah tidak diberikan jodoh. Devan merasa jika hidup ini tidak adil.


"Kau sangat beruntung, Kawan. Di usiamu yang sudah bau tanah ini kau malah mendapatkan jodoh. Meskipun yang kau nikahi adalah seorang janda berusia 60 tahun, tapi yang penting dia kaya dan masih aduhai bodinya. Selamat untukmu, Kawan."


"Jangan ucapkan selamat untukku, aku justru merasa ini sangat tidak adil. Jika bukan Papa yang memaksaku menikah, aku juga tidak akan menikah. Huhuhu, aku ingin lari dari pernikahan ini!!"


"Kau seharusnya bersyukur. Bukannya mengeluh, ini adalah hari pernikahanmu. Seharusnya kau bahagia dan tersenyum gembira. Sudah ya, aku mau menikmati makanan gratis dulu, selamat bersenang-senang."


Satu persatu keluarga menghampiri Aiden dan mengucapkan selamat padanya. Dan hal itu malah membuat tangis Aiden semakin pecah, yang lain bahagia tapi justru dia yang merasa sedih malam ini. Masa lajangnya telah berakhir, dan ia sekarang milik orang lain.


-


Duaaarrr....


"TUAN!!"


Jonas berteriak histeris saat mansion yang di datangi oleh Kevin tiba-tiba meledak dan terbakar hebat. Membuat malam yang sunyi seketika terasa mencekam. Malam ini Kevin berencana mengakhiri semuanya. Permusuhannya dan Marco hendak dia akhiri malam ini juga.


Kevin yang sudah muak dengan semua yang pria itu lakukan, datang ke markasnya untuk m*nghabisi Marco dan seluruh anak buahnya.


Jonas sendiri selaku orang kepercayaan Kevin tidak tau apa yang sebenarnya direncanakan oleh bosnya tersebut. Dia hanya mengatakan agar bersiap-siap untuk penyerangan besar-besaran.


Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Jonas berlari menerjang api besar yang berkobar di dalam sana. Dia harus segera menemukan Kevin entah dalam keadaan hidup ataupun mati.


"Tuan, Anda dimana? Apa Anda mendengarkan saya? Tuan Kevin, saya mohon berbicaralah." Jonas sangat panik dan cemas, dia bahkan sampai menangis.

__ADS_1


Jonas benar-benar takut jika hal buruk menimpa Bosnya itu. Dia terus berlari menyisir setiap ruangan yang sudah terbakar. Dia menemukan banyak m*yat bergelimpangan dimana-mana, termasuk Marco.


Kedua mata Jonas membelalak saat melihat orang yang terkulai di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri. "Tuan," ia pun segera menghampiri orang itu yang pastinya adalah Kevin. Melihat Kevin masih bernapas, Jonas pun segera membawanya keluar untuk kemudian di larikan ke rumah sakit.


"Tolong... Tolong..."


Baru dua langkah dia berjalan. Terdengar teriakan seseorang meminta tolong, dan itu suara perempuan.


Tak ingin mengambil resiko. Jonas pun membiarkannya. Karena api di kamar itu semakin besar, dia tidak bisa membahayakan nyawa Kevin demi orang lain.


Jonas pun melanjutkan langkahnya meskipun suara meminta tolong itu terus terdengar yang semakin lama semakin terdengar pilu dan menghilang.


Jonas menutup matanya. "Maaf, Helena. Aku tidak bisa menyelamatkanmu dan mengorbankan, Tuanku. Kau memang kakak angkat ku, tapi Tuan Kevin adalah orang yang telah menyelamatkanku ketika kau dan Ibumu mengusirku dulu." Jonas menyeka air matanya yang menetes membasahi wajah tampannya.


"Tuan!!" Seorang anak buah Kevin berteriak dan menghampiri keduanya. Jonas jatuh pingsan setelah ia menyerahkan Kevin pada rekannya itu.


Kevin dan Jonas pun segera di larikan ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan. Apalagi Kevin yang mengalami luka parah.


-


Luna tak henti-hentinya menangis di pelukan Ken. Dia takut hal buruk sampai menimpa putra bungsunya tersebut.


Jonas sudah menceritakan semuanya, dan Ken langsung lemas setelah mendengar penuturan Jonas tentang rahasia besar yang Kevin sembunyikan dari keluarganya selama ini.


Cklekk ..


Pintu ruang operasi terbuka. Sosok Marissa keluar dari dalam sana. Luna pun segera berdiri dan menghampiri putrinya itu. "Riri, bagaimana keadaan adikmu? Apa Kevin baik-baik saja?"


"Ma, tenanglah. Dia memang sempat kritis dan kehilangan banyak darah. Tapi sekarang Kevin sudah baik-baik saja. Ada satu hal yang cukup mengkhawatirkan, Ma. Dia terluka di bagian wajahnya dan kemungkinan bekas lukanya tidak bisa hilang. Aku takut saat bangun nanti dia akan syok dan tidak bisa menerimanya." Jelas Marissa.


Luna pun jatuh lemas. Beruntung Ken dengan sigap menahannya. "Ken, bagaimana ini? Apa Kevin akan menerima ini? Bagaimana jika dia syok dan tidak bisa menerimanya?" Luna mulai terisak.


"Untuk sementara jauhkan cermin darinya. Kita bisa bicara baik-baik padanya. Dan yang Kevin butuhkan saat ini adalah dukungan."


"Papa benar, Ma. Sebaiknya Mama harus kuat, jangan sampai kau menangis ketika di depannya nanti." Cello mencoba menghibur ibunya. Luna mengangguk sembari mengusap wajah putra sulungnya.

__ADS_1


"Apakah Mama bisa melihatnya sekarang?" Marissa mengangguk.


"Setelah dia dipindahkan ke ruang inap. Tapi jangan semua, maksimal dua orang. Ya sudah, aku tinggal dulu. Aku masih harus memeriksa pasien yang lain."


"Baik,Nak."


.


.


Luna menghampiri Kevin yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Matanya tertutup rapat. Perban sudah membalut luka-lukanya, termasuk luka di wajah sebelah kirinya.


Ada perban lain yang membebat dada dan perutnya. Melihat keadaan Kevin saat ini membuat hati Luna seperti dirajam ribuan pedang tajam. Memang ibu mana yang akan kuat melihat keadaan putranya yang tidak baik-baik saja.


Mata Kevin terbuka perlahan dan wajah Luna yang penuh air matalah yang pertama tertangkap oleh netranya. Pemuda itu menatap ibunya dengan sendu.


"Apa yang Mama tangisi? Aku baik-baik saja, Ma. Apa karena sebagian wajahku yang rusak ini? Aku sudah tau, Ma. Bahkan sebelum aku tak sadarkan diri. Ini lebih baik daripada harus nyawaku yang melayang." Kevin menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Luna.


"Anak bodoh!! Bagaimana jika kau tidak mendapatkan jodoh karena jelek, apa kau mau menjadi bujang selamanya?!" Canda Luna.


Kevin tersenyum simpul. "Jika gadis itu benar-benar mencintaiku. Pasti dia akan menerimaku apa adanya. Bahkan dengan bekas luka ini," ucapnya.


Itu bukan luka bakar melainkan luka karena hantaman botol yang telah dipecahkan. Meskipun tak berjejak seperti luka bakar di punggungnya, tapi mungkin akan sedikit menghitam dan berbekas.


"Putramu saja baik-baik saja. Bahkan dia tidak sedih sedikit pun, jadi apa yang kau tangisi? Putra kita itu kuat dan tidak cengeng, bekas luka seperti itu sudah biasa." Ucap Ken yang langsung mendapatkan pukulan dari Luna. Ken dan Kevin tersenyum melihat wanita itu mempoutkan bibirnya.


"Dasar kau ini. Kevin, Mama lega karena kau baik-baik saja. Ya sudah, sebaiknya kau istirahat. Mama dan Papa keluar dulu." Kevin mengangguk.


Selepas kepergian Luna dan Ken. Di dalam ruangan itu hanya menyusahkan Kevin sendiri. Pemuda itu meraba permukaan wajahnya yang tertutup perban dan mendesah berat.


Apakah dia bisa menghadapi Viona dengan keadaannya sekarang? Bisa saja gadis itu akan ketakutan saat melihatnya nanti. Tapi Kevin tidak akan pernah tau jika tidak mencobanya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2