
"Nanti aku hubungi lagi,"
Kevin memutuskan sambungan telfonnya saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Viona masuk sambil membawa buah-buahan segar yang Kevin minta. Sebenarnya meminta gadis itu keluar adalah cara agar Kevin bisa lebih leluasa mengobrol dengan orang yang dihubunginya.
Ia sedang menyelidiki tentang pelaku dibalik penyerangannya pagi ini. Karena kemungkinan besar mereka adalah geng Mafia yang dulu pernah terlibat pertikaian dengannya dulu.
Saat masih kuliah. Kevin dan teman-temannya pernah terlibat masalah dengan salah satu kelompok Mafia yang paling ditakuti di kota ini. Masalah itu bermula ketika Kevin menghabisi seorang pemuda yang ternyata adalah adik dari Bos mafia tersebut. Kevin diburu dan diincar oleh mereka.
Di malam bersalju. Kevin dan teman-temannya tiba-tiba didatangi sedikitnya 100 orang dan semua bersenjata. Mereka terlibat perkelahian sengit.
60 berhasil mereka habisi, 30 masuk rumah sakit karena mengalami patah tulang serta terluka parah, dan 10 tersisa berhasil melarikan diri. Termasuk Bos dari kelompok itu. Dia berhasil melarikan diri meskipun dalam keadaan terluka parah.
Malam berdarah itu merubah warna putih salju menjadi lautan merah dengan aroma besi berkarat yang menyengat. Dan kemungkinan besar, pria itu kembali untuk membalas dendam padanya.
"Ini buahnya. Perlu aku kupaskan?" Tanya Viona memberi penawaran.
Kevin menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri." Jawabnya sedikit datar.
Tiba-tiba Viona teringat sesuatu. "Oya, saat aku kemari. Aku melihat beberapa orang mencurigakan berkeliaran disekitar mobilmu yang ada diparkiran rumah sakit. Dan dua diantaranya bahkan berbicara dengan perawat disini, kemudian mereka pergi begitu saja." Ujar Viona menyampaikan apa yang dia lihat tadi pada Kevin.
Mendengar apa yang Viona sampaikan membuat Kevin terdiam. Sepertinya dugaannya benar. Itu adalah perbuatan kelompok mafia yang dulu pernah terlibat masalah dengannya, sepertinya pria itu sudah kembali untuk membalas dendam padanya.
"Sebaiknya kau lebih berhati-hati dan jangan sampai bertemu mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang sangat berbahaya,"
"Hah, bagaimana kau bisa tau jika mereka adalah orang-orang yang berbahaya? Mungkin saja mereka adalah para detektif yang menyelidiki insiden yang kau alami ini,"
Kevin menggeleng. "Aku tidak melibatkan polisi sama sekali apalagi detektif, kemungkinan besar mereka adalah kelompok mafia yang dulu pernah terlibat masalah denganku. Dan sekarang mereka kembali untuk balas dendam," jelas Kevin memaparkan.
"Hm, akan aku usahakan. Tiba-tiba aku mengantuk. Aku tidur dulu, sebaiknya kau juga jangan tidur terlalu malam. Karena bagaimana pun juga kau adalah seorang pasien." Ujar Viona.
__ADS_1
Gadis itu mengeluarkan selimut dan bantal yang ia bawa dari rumah lalu meletakkan disofa. Malam ini Viona akan tidur di sofa, karena tidak mungkin ia tidur di ranjang inap Kevin.
Kevin mendengus geli. Belum juga sepuluh menit. Tapi gadis bermarga Jung itu sudah terlelap. Pemuda itu mencabut infusnya lalu turun dan menghampiri Viona. Sudut bibir Kevin tertarik ke atas, dia mengusap pipi Viona dengan lembut lalu mengibaskan tangannya di depan wajah gadis itu.
Yakin jika Viona sudah tidur pulas. Kemudian Kevin mengangkatnya dan memindahkan gadis itu ke atas tempat tidur. Ranjang rumah sakit terlalu besar untuk dia pakai sendiri, lagipula mana mungkin Kevin membiarkan Viona tidur di sofa. Itu akan membuatnya sakit punggung.
"Gadis bodoh, seharusnya kau tidak menolak saat aku menawarkan untuk berbagi tempat tidur. Toh, aku juga tidak mungkin melakukan sesuatu padamu." Kevin mengecup kening Viona lalu mulai menutup matanya.
Meskipun sudah memprediksikan jika akan terjadi keributan besok pagi, tapi Kevin tetap pada keputusannya. Membiarkan Viona tidur satu ranjang dengannya.
.
.
Sang Dewi malam telah kehabisan tugasnya untuk mendampingi manusia kelelahan. Sang Surya telah muncul di ufuk timur, menandakan jika pagi telah datang.
Sepasang kelopak mata itu terbuka perlahan memperlihatkan dua bola mata berwarna Amber yang indah.
Matanya membelalak. Dia berbalik, wajahnya berhadapan dengan wajah tampan seorang pemuda yang pastinya adalah Kevin dalam jarak yang sangat dekat. Saking dekatnya sampai-sampai Viona bisa merasakan hangatnya napas Kevin yang menerpa wajahnya.
Otaknya mencoba meloading apa yang sebenarnya terjadi. Seingatnya semalam dia berbaring di sofa, lalu kenapa sekarang dia malah satu ranjang dengan Kevin? Viona benar-benar bingung sampai-sampai tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara berat seorang pria yang masuk ke dalam telinganya membawa Viona kembali ke alam nyata.
"Ke..Kenapa aku bisa tidur disini?" Tanya Viona sedikit terbata-bata. Dia menatap Kevin dengan bingung.
"Tidurmu seperti kuda, aku sampai capek mengangkat mu dari lantai. Makanya aku pindahkan kau kesini supaya tidak jatuh lagi," jawab Kevin dengan ekspresi wajah yang sama, datar.
Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa dia tidak ingat jika semalam beberapa kali terjatuh dari sofa, dan perasaan dia kalau tidur tidak pernah buruk apalagi seperti kuda. Mungkin itu hanya akal-akalan Kevin saja.
__ADS_1
"Kau berbohong ya, bilang saja kalau kau sengaja mengambil kesempatan dariku lagi!!"
"Ck, terserah kalau kau tidur percaya. Sebaiknya cepat mandi, lihat bekas iler disudut bibirmu." Viona meninju dada Kevin dengan keras lalu beranjak dari samping nya.
"Dasar menyebalkan!!"
Ponsel milik Kevin yang ada di atas meja tiba-tiba berdering. Pemuda itu bangkit dari berbaringnya untuk menerima panggilan tersebut. Ekspresinya berubah datar dan dingin. "Bagaimana hasil penyelidikan mu?" Tanya Kevin pada orang yang menghubunginya.
"Saya sudah menemukan beberapa bukti jika memang merekalah pelakunya. Pria itu benar-benar sudah kembali, dan sebaiknya Anda lebih berhati-hati."
"Awasi terus pergerakan mereka. Dan laporkan semua informasi yang kau dapatkan padaku,"
"Baik, Tuan."
Kevin memutuskan sambungan telfon itu. Dia tau jika pria itu sangatlah berbahaya. Apalagi dia kembali untuk membalas dendam. Tak hanya membunuh adiknya, Kevin juga membuatnya menjadi orang cacat.
Perhatian Kevin sedikit teralihkan oleh kemunculan Viona. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh dan pakaian berbeda. Sebuah dress hitam membalut tubuh rampingnya.
"Tunggu sebentar, setelah ini kita pulang sama-sama." Ucap Kevin yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.
Tak sampai 10 menit, Kevin keluar dari kamar mandi. Dia memakai kemeja hitam tanpa lengan dan jeans hitam pula.
Perban yang membalut luka-lukanya tampak basah. Dan Viona berinisiatif untuk mengganti perban itu dengan yang baru, tapi Kevin menolaknya. Dia mengatakan nanti saja saat mereka tiba di rumah. Mereka berdua berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit.
Kevin sengaja meninggalkan mobilnya di rumah sakit dan pulang memakai mobil Viona. Gadis itu ada bersamanya, jadi Kevin harus memastikan keselamatannya.
-
-
__ADS_1
Bersambung.