
"PAPA!! JANGAN MEMAKSAKU UNTUK MENIKAH LAGI!!"
Tuan Valentino terlonjak kaget dan nyaris saja terkena serangan jantung dadakan karena ulah Aiden. Aiden datang membawa toa dan berteriak di dekat telinganya. Dan apa yang Aiden lakukan itu tentu saja memancing emosi Tuan Valentino.
Ayah dua anak itu bangkit dari kursinya lalu memukul Aiden dengan tongkatnya. "Dasar anak durhaka, apa kau sengaja ingin membuat Papamu mati karena serangan jantung, hah!!" amuk Tuan Valentino.
Aiden yang merasa terancam pun segera berlari untuk menyelamatkan diri sebelum terkena amukan sang ayah yang sangat mengerikan itu. Tapi bukan berarti dia menyerah, Aiden masih mengibarkan bendera perangnya.
"Salah Papa sendiri!! Siapa suruh mengatur kencan buta segala untukku? Bagus jika perempuan itu cantik. Aku pikir wanita cantik yang memiliki body mirip gitar Spanyol tapi yang datang malah kuda Nil. Kenapa selera Papa sangat buruk sekali?!"
"Bagus masih ada yang mau denganmu, daripada tidak ada sama sekali. Kau ingin jadi bujang lapuk?! Kemari kau, biarkan Papa menghajarmu!!" Teriak Tuan Nero dan kembali mengejar Aiden yang sudah berlari menjauh.
"Huaaa... Ini namanya kekerasan pada Anak. Papa bisa terkena pidana,"
"Masa bodoh!! Mahalan Papa ingin sekali membunuhmu supaya kau tidak macam-macam lagi!!" Sahut Tuan Nero.
Aiden menjerit histeris. "Huaaa...!! Papa sangat kejam!!"
-
-
"Berapa lama lagi kau mau membuatku menunggu, Luna Zhao!!"
Ken mulai merasa bosan menunggu sang istri tercinta yang sedang berdandan. Mereka hanya pergi untuk makan malam, tapi Luna menghabiskan waktu satu jam untuk berdandan.
Saat ini Ken sedang bersandar pada kusen pintu sambil menatap wanitanya yang sedang memoles wajah cantiknya dengan bedak. Sesekali Luna melirik ke arah Ken yang terus saja berkomat-kamit tidak jelas sambil terkekeh geli. Melihat ekspresi kesal suaminya membuat Luna gemas sendiri.
"Salah sendiri kau memarahiku kemarin siang, maka rasakan pembalasan dariku," ucap Luna membatin.
Sepertinya wanita itu memang sengaja ingin membuat kesal suaminya. Rupanya Luna masih dendam pada Ken karena sudah memarahinya kemarin siang. Dan sepertinya aksi Ken di dalam mobil dan di rumah belum cukup untuk membuat wanita itu puas.
"Luna!!" Geram Ken yang mulai hilang kesabaran.
__ADS_1
"Iya, iya. Kenapa kau berisik sekali sih, Ken. Seperti tidak tau wanita saja. Dimana-mana, wanita itu pasti lama jika berdandan. Jadi jangan banyak mengeluh!"
"Aku tidak mengeluh, hanya saja kau membuatku mulai merasa bosan karena terlalu lama menunggu!!"
"Baiklah, ayo kita berangkat." Luna menghampiri suaminya lalu memeluk lengan yang tersembunyi dibalik kemeja dan jasnya. Rencananya malam ini mereka akan makan malam di luar, itu juga atas usul Luna.
.
.
Mereka tiba disebuah restoran mewah bergaya Eropa. Luna dan Ken berjalan beriringan memasuki restoran yang tak bisa dikunjungi sembarangan orang tersebut. Hanya mereka yang berdompet tebal-lah yang bisa datang ke restoran ini. Karena harga makanannya yang bisa menguras isi dompet perporsinya.
Mereka disambut oleh seorang pelayan. Pelayan itu mengantarkan pasangan suami-istri tersebut ke meja yang sebelumnya telah dipesan oleh Luna. Mereka duduk dimeja dekat jendela karena Luna ingin melihat pemandangan kota yang saat malam hari.
Saat berjalan menuju mejanya. Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan berbagai ekspresi. Beberapa wanita sampai tak berkedip melihat sosok tampan yang berjalan di samping Luna. Ken sendiri juga merasa tidak nyaman melihat beberapa pria menatap Luna dengan tatapan lapar.
"Seharusnya kau tidak perlu berdandan seperti ini, lihatlah mata pria-pria itu yang hampir lepas ketika menatapmu. Mereka membuatku muak!!" Gerutu Ken setengah geram.
Luna terkekeh geli. "Wow, sepertinya ada yang sedang cemburu, eh?! Tenanglah suamiku tercinta. Aku hanya milikmu seorang," ucap Luna membujuk.
Mereka kemudian duduk dimeja yang telah dipesan sebelumnya. Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan Ken dan Luna. Tidak terlalu banyak yang mereka pesan, hanya tiga sampai empat menu saja ditambah dessert dan minuman.
Beberapa saat kemudian, pesanan telah diantarkan, mereka menyantap makan malamnya dengan tenang sambil diiringi obrolan ringan. "Ken, cobalah steak ini. Rasanya sangat enak." Luna memotong steak-nya lalu menyuapkan pada Ken.
"Terlalu manis," komentar Ken lalu meneguk air putihnya.
"Benarkah?! Aku rasa tidak, pas kok. Mungkin karena ditambah madu makanya agak sedikit manis." Jelas Luna.
Pintu restoran kembali terbuka. Seorang pelayan menyambut tamu yang baru saja datang. Tamu itu adalah seorang pria tampan nan gagah. Kedatangannya cukup menarik perhatian para pengunjung wanita, apalagi dia datang seorang diri.
Tiba-tiba pria itu menghentikan langkahnya di dekat meja Luna. Dia menatap Luna dengan intens untuk memastikan apakah perempuan itu orang yang dia kenal atau bukan. "Luna?!" Panggilnya ragu.
Sontak Luna dan Ken menoleh secara bersamaan. Ken menatap pria didepannya itu penuh selidik. Sedangkan Luna langsung mengurai senyum lebar. "Senior?!" Dia berseru kencang kemudian mereka saling berpelukan. Parahnya lagi Luna memeluk pria itu di depan Ken yang sudah berubah suram karena cemburu.
__ADS_1
"Ternyata ini benar-benar dirimu, aku tadi sempat ragu. Kau semakin cantik saja, makanya aku nyaris tidak mengenalimu." Ucapnya.
Luna terkekeh. "Senior bisa saja. Oya, perkenalkan ini adalah Ken Zhao, dia suamiku." Mimik wajah pria itu langsung berubah setelah mendengar kata suami keluar dari bibir Luna. Namun sebisa mungkin dia mencoba untuk menutupinya.
Pria itu tersenyum lalu memperkenalkan dirinya pada Ken. "Aku, Wu-Fan. Senior Luna ketika kuliah dulu. Sepertinya Tuan Zhao adalah orang China?! Ternyata kita satu negara," pria bernama Wu Fan itu tersenyum.
"Jika sudah tau, untuk apa masih bertanya?!" Jawab Ken sedikit sinis.
Luna menatap keduanya yang saling melemparkan tatapan tak bersahabat. Apalagi Ken yang mulai mengeluarkan aura suram, sepertinya keadaan ini sangat tidak baik. Tapi bagus juga, karena jarang-jarang dia melihat suaminya cemburu seperti ini.
"Senior, kau datang dengan siapa?" Tanya Luna mencoba mencairkan suasana yang sedikit menegang.
"Sendiri. Aku ada janji dengan klienku disini, baiklah kalian lanjutkan saja. Aku pergi dulu." Wu Fan tersenyum lalu melenggang pergi.
Luna menatap Ken yang sedang membuang muka dan tersenyum jahil. "Dulu dia adalah orang yang paling baik padaku. Dia sering membantuku saat aku sedang kesulitan. Setelah 15 tahun, akhirnya kami bertemu lagi. Bukankah itu adalah sebuah kebetulan yang luar biasa?!" ujar Luna sedikit memprovokasi.
"Sepertinya kau sangat senang bertemu dengan seniormu itu, apakah dia sehebat itu sampai-sampai kau harus membahasnya?!"
Luna memicingkan matanya. Terlihat jelas jika suaminya ini sedang cemburu berat padanya. Luna tersenyum dalam hati. "Hehehe... Sepertinya ada yang cemburu berat nih," goda Luna.
"Ck, dalam mimpimu!! Sebaiknya cepat habiskan makananmu, aku lelah dan ingin cepat pulang!!"
Lagi-lagi Luna terkekeh. Jadi begini Ken jika sedang cemburu. Memang sangat jarang dia melihat suaminya yang sedang cemburu, tapi lucu juga melihat Ken yang dingin ternyata bisa cemburu juga.
"Baik, Tuan pencemburu!!"
"Luna!!"
"Hahahaha!!! Aku hanya bercanda. Kenapa serius sekali?!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.