
"Ma, sebaiknya kau cerai saja dari papa, dia itu payah dan tidak bisa menjagamu dengan baik. Mending Mama menikah saja denganku, karena dibandingkan papa aku jauh lebih baik dan lebih tampan kemana-mana!!"
Ken memberikan tatapan membunuhnya pada Daniel yang saat ini sedang meracuni pikiran Luna agar meninggalkan dirinya. Parahnya lagi Daniel mengatakannya secara terang-terangan di depannya tanpa merasa takut sedikit pun.
Daniel tetap mencoba bersikap tenang meskipun dia merasakan ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam dan berbahaya. Dan tatapan itu serasa seperti sebuah anak panah yang menembus punggungnya.
Daniel sadar betul dengan konsekuensi yang harus dia terima karena sudah mengucapkan kata-kata yang membuat ayahnya marah. Dan Daniel sendiri tidak tau hukuman seperti apa yang nantinya akan dia terima dari Ken ketika sang ayah sudah habis kesabaran.
"Oh, no. Kakak, kau dalam masalah besar!!" ucap Marissa memperingatkan.
"Sepertinya sebentar lagi ada orang yang harus menerima hukuman!!" Sahut Marcello menambahkan.
Mendengar ucapan si kembar membuat keringat dingin mengucur deras dari kening Daniel. Pemuda itu melirik dari ekor matanya, susah payah dia menelan saliva saat melihat sorot mata tajam sang ayah yang sedang menatapnya.
"Pa, tidak perlu marah dan diambil hati. Aku mengatakan fakta kok. Dibandingkan dirimu, aku lebih bisa menjaga Mama!! Dan jika dia menikah denganku, pasti hidupnya akan lebih bahagia!!" tuturnya.
"Jangan mengatakan omong kosong lagi, bocah!! Sepertinya kau belum cukup puas menerima hukuman dari Papa kemarin," ucap Ken menyeringai.
Wajah Daniel langsung berubah pucat pasi setelah Ken mengungkit tentang hukuman yang pernah dia berikan padanya. Rasanya Daniel masih sangat trauma dengan hukuman yang pernah Ken berikan padanya.
Ken menyuruhnya tidur di kamar mandi selama satu malam tanpa bantal, selimut apalagi tempat tidur. Dia semalaman di kamar mandi tanpa penghangat apapun, hanya setelan piyama yang melekat di tubuhnya. Akibatnya Daniel mengalami flu berat pagi harinya.
"Hahaha... Kenapa kau serius sekali sih, Pa?! Padahal aku hanya bercanda kok. Memangnya siapa yang ingin merebut Mama darimu. Lagipula aku dan Mama terhalang usia yang jauh berbeda. Dan satu-satunya yang pantas untuk Mama hanyalah Papa, hahaha!!!"
Marissa mendengus geli. Marcello terkekeh geli. Sedangkan Luna hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dan tingkah putra sambungnya yang begitu menggelikan itu.
Sungguh mereka geli sendiri melihat bagaimana menggemaskannya Daniel ketika sedang panik ataupun gugup. Dia mirip seekor kucing yang tertangkap basah baru saja mencuri ikan segar.
Daniel menepuk jidatnya. "Aku lupa, lusa sudah ujian. Aku pergi dulu ya Pa, Ma. Bye-bye semua.. Hahaha..."
"Kekeke, lihatlah tingkahnya. Padahal dia sudah remaja, tapi kelakuannya mirip sekali seperti bocah." Ucap Luna sambil menggelengkan kepala.
Meskipun awalnya ingin merahasiakannya dari Tuan Valentino dan anak-anaknya. Tapi akhirnya Ken memutuskan untuk memberitahu mereka perihal insiden yang nyaris membuat Luna kehilangan nyawa juga janin di dalam rahimnya.
__ADS_1
Tuan Valentino dan anak-anak langsung datang hari itu juga. Saat ini Tuan Valentino dan Aiden sedang tidur di sofa rumah sakit karena terlalu lelah. Pasalnya mereka tiba nyaris tengah malam.
"Kalian berdua pulang bersama Paman Devan dan istirahat di rumah. Besok bisa datang lagi untuk menemani, Mama." ucap Ken pada kedua buah hatinya. Dan mereka berdua mengangguk patuh.
Si kembar juga sebenarnya sudah sangat mengantuk dan juga lelah. Mereka sangat merindukan kasur empuknya di rumah. Tidak hanya si kembar, Ken juga meminta ayah mertua serta kakak iparnya untuk pulang dan beristirahat di rumahnya.
Selepas kepergian mereka semua. Di rumah sakit hanya menyusahkan Ken dan Luna. Pasangan suami-istri itu sama-sama mendesah berat, kemudian tanpa sebab yang jelas Luna terkekeh geli. Dia teringat kembali dengan tingkah Daniel tadi.
"Ken, sungguh terkadang aku tidak habis pikir denganmu dan juga Daniel. Kalian berdua begitu menggelikan apalagi ketika berebut diriku. Ketika dekat kalian selalu saja bertengkar, tapi saat berjauhan kalian sama-sama saling merindukan."
"Itu karena sebenarnya kami saling menyayangi dan peduli." Jawab Ken. Luna mengangguk, memang benar apa yang suaminya ini katakan. "Sudah, jangan banyak bicara lagi. Cepat tidur, ini masih larut malam. Aku juga lelah, Sayang."
"Kalau begitu kita berbagi tempat tidur saja, si utun ingin tidur sambil di peluk Papanya." Rengek Luna sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Ken mengangguk. "Baiklah!!"
-
-
"AAARRKKHHH...."
Ctarrr...
"AAARRKKHHH!!..."
Jerit kes*kitan dan suara keras c*mbuk yang menghantam tubuh yang mulai tampak tak berdaya itu memecah dalam hening-nya suasana di sebuah ruangan bawah tanah yang minim akan penerangan tersebut.
Kedua tangan dan kakinya terikat pada rantai besi. Tubuh itu tidak lagi tegak berdiri melainkan setengah terbaring di lantai, luka memanjang bekas c*mbukan menghiasi hampir di sekujur tubuhnya. Tak ada satu inci pun tubuhnya yang lolos dari cambuk termasuk wajah cantiknya.
Luka-luka itu mengeluarkan darah. 1000 camb*kan yang dia terima, namun baru 400 yang menghantam tubuhnya. Tapi dia sudah mulai tidak kuat lagi. Ya, tubuhnya memang sudah tidak kuat lagi menerimanya. Tapi masih tersisa 600 kali lagi.
"Ke..Kenapa kalian tidak langsung membunuhku saja, hah!!" Jerit wanita itu dengan suara lemah.
__ADS_1
"Itu bukan hak kami, karena semua keputusan ada di tangan Tuan. Dan cukup untuk hari ini!!" Kedua pria itu pun melangkah pergi, meninggalkan ruangan tersebut beserta Metta di dalamnya.
Metta mengepalkan tangannya. Dia bersumpah akan membalas dendam jika memang masih diberikan kesempatan untuk tetap hidup oleh Tuhan. Dia akan mengirim Ken dan seluruh keluarganya ke Neraka.
-
-
"Uugghhh...!! Ken, sakit!!"
Mata Ken terbuka seketika setelah mendengar jerit kesakitan Luna. Wajahnya berubah pucat dan peluh tampak di keningnya. Tak ingin hal buruk menimpa Luna dan janin di perutnya. Ken pun bergegas keluar memanggil dokter.
Dokter dan beberapa perawat datang untuk memeriksa keadaan Luna. Terjadi pendarahan hebat, para medis pun segera mengambil tindakan cepat untuk menyelamatkan ibu dan janinnya. Ken di minta untuk keluar, namun dia menolak dan bersikukuh ingin menemani Luna.
"Do..dokter.. Ji..jika memang tidak ada harapan anak itu bertahan. Ti..Tidak apa-apa, lakukan saja. Aku lebih rela dia kembali kepangkuan Tuhan dari pada harus menderita seperti ini!!" Dengan terbata dan air mata yang mengalir deras di pipinya. Luna mengatakan keputusannya.
"Luna!!"
Wanita itu menggeleng. "Kita tetap akan kalah dengan takdir, Ken. Dia hanya titipan, Tuhan. Memangnya apa lagi yang bisa kita lakukan jika Tuhan ingin mengambilnya kembali. Kita harus bisa melepaskannya. Untuk itu, kau harus mengambil keputusan sekarang!!"
Ken menatap Luna yang juga menatapnya. Wanita itu terlihat begitu tersiksa, wajahnya menunjukkan betapa dia sangat tersiksa saat ini. Ken mengambil napas panjang dan menghelanya.
"Baiklah, Dok. Jika itu memang yang terbaik, maka lakukan saja. Kami sudah ikhlas untuk melepaskannya!!"
"Baiklah, Tuan. Kami akan melakukannya sekarang juga!!"
Baik Luna maupun Ken, mereka sama-sama hancur. Namun ini adalah satu-satunya pilihan yang mereka miliki. Karena harapan janin itu bertahan juga tidak ada, meskipun sebelumnya dokter mengatakan baik-baik saja.
Racun itu ternyata lebih ganas dan lebih berbahaya dari yang diperkirakan sebelumnya. Terjadi pendarahan hebat di dalam rahim Luna. Dan jika tidak mengambil tindakan cepat, maka bisa membahayakan nyawa wanita itu.
Lagipula Luna adalah wanita normal. Jika sering bercocok tanam, suatu hari dia bisa hamil lagi. Namun untuk saat ini, mereka harus merelakannya pergi.
-
__ADS_1
-
Bersambung.