PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Permainan Kakek Dan Cucu


__ADS_3

"CUKUP VIONA, KAKEK TIDAK MAU DENGAR ALASAN APA PUN LAGI! PERGI DARI RUMAH INI, DAN JANGAN COBA-COBA UNTUK KEMBALI!"


Teriakan keras dari lantai dua menyita perhatian Ibu dan anak yang sedang asik menikmati tehnya diruang keluarga. Kedua wanita berbeda usia itu saling bertukar pandang kemudian mendongak, pandangan mereka tertuju pada pintu bercat putih dilantai dua. Asal suara itu berasal


"Ma, bukankah itu suara situa bangka? Sepertinya dia sedang ribut dengan cucu kesayangannya itu. Ma, apa aku salah dengar? Mungkinkah si tua bangka itu mengusir Viona dari rumah ini!" ujar Minna tak percaya.


Amelia menggeleng. "Ibu juga tidak tau!"


Minna menyeringai tipis. "Untuk itu kita harus segera mencari tau!"


Vincent buru-buru masuk kembali kedalam kamar Viona saat melihat mereka berdua beranjak dari duduknya dan menuju lantai dua. Di dalam kamar, terlihat Viona dan Kakek Hilman yang sedang berbincang, saling bertukar pendapat.


"Bagaimana akting kakek? Sudah cukup meyakinkan belum? Apa kakek sudah mirip aktor yang antagonis?" tanya Kakek Hilman memastikan.


Viona berfikir. "Untuk kakek aku akan memberikan nilai 8, karena akting Kakek kurang meyakinkan!" Viona mengangguk, menatap sang kakek penuh sesal


"YAKK, VIONA!"


"Hentikan, kalian berdua apa-apaan, cepat akting lagi. Mereka menuju kemari!"


"Apa?" pekik keduanya nyaris bersamaan.


Vincent menghampiri Viona dan memperhatikan wajahnya. "Yakk, bukankah Kakak bilang kau harus pura-pura bersedih! Tapi kenapa air mata saja tidak ada!" protes Vincent melihat wajah Viona yang tetap kering.


Gadis itu mendengus. "Aku tidak bisa menangis tanpa ada sebab yang jelas, Kakak!" katanya menegaskan.


Vincent menjitak kepala Viona gemas. "Dasar bodoh, kau bisa membuat air mata palsu dan tinggal memasang muka sedih, beres kan!"


Viona tersenyum tiga jari menunjukkan rentetan gigi putihnya. "Kakak benar, tapi dengan apa aku harus membuat air mata palsu?"


"Obat tetes mata!" sahut Kakek Hilman.


Vincent mengambil obat tetes itu dari tangan Kakek Hilman dan membawanya pada Viona."Angkat wajahmu!" Vincent memegang dagu Viona kemudian meneteskan cairan itu diatas kedua mata gadis itu.

__ADS_1


"Aish, kenapa ribet sekali sih?! Kak, bagaimana kalau kau saja yang pura-pura terusir dari rumah ini!"


Vincent menggeleng. "Tidak bisa, rencana ini harus berhasil, Vi. Dan jangan sia-siakan pengorbanan Kakak dan kakek!"


Viona berdecak sebal. "Berkorban apanya? Jelas-jelas aku yang dikorbankan disini, dan masalahnya... setelah aku keluar dari rumah ini, aku harus tinggal dimana? Kakak, kakek, cari cara lain saja ya!" mohon Viona pada kakak dan kakeknya.


"Kau tidak perlu cemas, karena kakak sudah menghubungi seseorang dan orang itu akan segera tiba disini. Mulai malam ini sampai beberapa minggu ke depan, kau akan tinggal bersamanya. Bukankah ini adalah kesempatan untukmu menghindari Kai? Kita harus membuat mereka berada diatas awan sebelum kita benar-benar jatuhkan mereka!" tutur Vincent panjang lebar.


Bukan tanpa alasan. Mereka membuat rencana ini hanya untuk memberi sedikit pelajaran pada Ibu dan anak itu. Kakek Hilman dan Vincent tau jika ibu dan anak itu sangat membenci Viona, mereka selalu merencanakan untuk mendepak dia dari rumahnya sendiri.


Dan hari ini mereka akan mengabulkan keinginan mereka berdua. Mengenai apa rencana mereka, hanya mereka berdualah yang tau. Selain itu, kakek dan cucu itu ingin mendekatkan Viona dengan seseorang dan menghubungkan benang merah yang sempat terputus selama beberapa bulan.


"Kakek, bagaimana jika Kakak saja yang menjalankan rencana ini? Oh atau mungkin kakek saja yang keluar dari rumah ini? Aku tidak mau jika harus tinggal dengan orang asing!"


Viona merajuk dan memohon pada sang kakek. Gadis berparas barbie itu berharap agar Kakek Hilman mengurungkan ide konyolnya untuk pura-pura mendepak dirinya dari rumah hanya untuk mengerjai Minna dan Amelia.


Namun bukan itu alasan utama Jung Hilman, sebenarnya dia ingin agar Viona bisa lebih dekat dengan pemuda yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Konyol memang, namun hanya ini satu-satunya cara membuat mereka semakin dekat.


Langkah kaki menggema hingga masuk ke-dalam indera pendengaran mereka bertiga. Vincent dengan hebohnya berlari kearah pintu untuk memastikan kedatangan mereka berdua, dan ia pun segera memberi kode pada Viona dan Kakek Hilman.


"Menangis, Viona Jung, menangis!! Ayo keluarkan air matamu!" Viona menyentak tangan Kakek Hilman dari wajahnya kemudian menyambar obat tetes yang ada diatas meja kemudian meneteskan pada kelopak matanya seolah-olah Ia sedang menangis.


"Mereka sudah disini!" seru Vincent dengan suara rendah.


"OKE, JIKA KAKEK MEMANG INGIN AKU PERGI. FINE, AKU AKAN PERGI!"


Kali ini giliran Kakak Hilman yang terlonjak kaget karena teriak keras Viona. Kakek Hilman melotot pada Viona yang dibalas juluran lidah oleh gadis itu. Pria beruban itu mengusap dadanya yang berdebar kencang karena ulah cucu bungsunya. Sedangkan Vincent mati-matian menahan diri agar tawanya tidak sampai pecah.


Melihat kemunculan Amelia dan Minna, buru-buru Viona menarik kopernya dan melewati kedua wanita berbeda usia itu. Vincent pun menjalankan perannya, laki-laki itu pura-pura memohon agar sang kakek mau menghentikan Viona.


"Kakek jangan seperti ini. Jika dia keluar dari rumah ini, lalu Viona akan tinggal dimana? Kakek, aku mohon hentikan dia. Dia cucu perempuanmu satu-satunya!" mohon Vincent, sambil sesekali menutup hidung dan mulutnya untuk menahan diri agar tidak tertawa.


Kakek Hilman menyentak tangan Vincent dengan kasar. "BIARKAN SAJA, DIA SENDIRI YANG INGIN PERGI!" kini giliran Vincent yang nyaris saja terkena serangan jantung dadakan karena teriakan kakeknya. Kakek Hilman meringis melihat delikan tajam cucu keduanya.

__ADS_1


Amelia dan Minnq yang menyaksikan insiden tersebut tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya ketika melihat Viona yang akhirnya meninggalkan rumah. Yang artinya mereka tidak perlu bersusah payah untuk menyingkirkan gadis itu.


"Ma, lihat itu. Akhirnya dia angkat kaki juga dari rumah ini!" ucap Minna dengan senyum terkembang.


"Itu artinya, kita akan lebih mudah lagi untuk menguasai rumah ini!" Minna mengangguk membenarkan.


"Haruskah kita merayakannya?" tanya Minna.


Amelia menyeringai tipis. "Tentu saja, hal seindah ini sangat disayangkan jika tidak dirayakan!" balas Amelia.


Kedua wanita itu meninggalkan kamar Viona dengan senyum penuh kemenangan. Sementara itu, Kakek Hilman dan Vincent bergegas menuju balkon untuk melihat bagaimana ekspresi Viona setelah dia tau siapa yang menjemput dirinya.


.


.


"Dasar menyebalkan, bagaimana bisa mereka bersekongkol untuk membuatku keluar dari rumah ini!"


Viona terus mendumal disepanjang langkahnya, gadis itu benar-benar tidak habis pikir dengan kakek dan kakaknya yang mengorbankan dirinya untuk alasan yang sebenarnya menurut Viona sangat tidak masuk akal.


Dengan kesal, Viona menghentakkan kakinya meninggalkan bangunan super megah itu dan menuju gerbang utama. Dari kejauhan ia melihat sebuah mobil sport hitam terparkir didepan pagar rumahnya.


Gadis itu mengerutkan dahinya melihat seorang pemuda dalam balutan jeans hitam, kaos polos berlengan pendek yang dipadukan dengan vest abu-abu gelap duduk dikap depan mobilnya dengan sebatang rokok yang diapit oleh dua jarinya.


Viona seperti mengenali pemuda itu. Model rambut dan postur tubuhnya sangat tidak asing untuk Viona. Namun ia tidak yakin jika orang itu adalah orang yang ada dipikirannya. Karena tidak ada alasan untuk dia mendatangi rumahnya. Dengan ragu, Viona melanjutkan langkahnya dan menghampiri pemuda itu.


"Eemm, apa kau datang kemari untuk menjemputku?"


Merasa ada yang berbicara padanya, pemuda itu membuang putung rokoknya kemudian berbalik badan. Kedua mata Viona terbelalak setelah mengetahui siapa pemuda tersebut.


"KEVIN!!"


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2