PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Tidak Bisa Berjalan!!


__ADS_3

"KEN ZHAO, KAU SANGAT KETERLALUAN!!"


Luna merasa frustasi sendiri karena ulah suami tampannya. Bagaimana tidak, semalam Ken menghajarnya habis-habisan di atas ranjang dan membuatnya tidak bisa berjalan pagi ini. Jangankan untuk berjalan, menggerakkan kakinya saja ia kesulitan karena rasa sakit dan nyeri di paha dalamnya.


Sedangkan sang tersangka utama hanya menyeringai di dalam kamar mandi. Saat ini Ken sedang membersihkan tubuhnya yang berkeringat akibat pertarungan panjangnya dengan Luna semalam.


"Siapa suruh kau berani memprovokasi diriku apalagi sampai membuatku cemburu, Nyonya Zhao, itulah hukumanmu!!" Ujar Ken membatin.


Ken membiarkan dinginnya air shower mengguyur sekujur tubuhnya. Mulai dari kepala sampai ujung kaki. Mereka bertarung hingga menjelang pagi, lebih dari 5 jam, jadi tidak mengherankan bila Luna sampai kesulitan untuk bergerak apalagi berjalan pagi ini.


Lima belas menit kemudian Ken keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk yang melingkari pinggulnya. Ayah tiga anak itu menyeringai melihat wajah muram istrinya. Ken mendekati Luna dengan seringai yang sama.


"Masih ingin melanjutkan yang semalam?" Tawar Ken sambil memegang dagu Luna, namun tangannya segera ditepis oleh wanita itu.


"Mati saja kau, Ken Zhao!!"


Ken terkekeh. Dia gemas sendiri melihat wajah kesal Luna. Bukan salah Ken, tapi salah Luna yang sudah berani membangunkan seekor singa jantan dengan sengaja. Jika saja Luna tidak sengaja memprovokasi Ken, pasti dia tidak akan berakhir mengenaskan seperti ini.


Mengabaikan Ken yang sedang memakai pakaiannya. Dengan tertatih dan kaki sedikit gemetaran, Luna berjalan ke kamar mandi. Wajahnya menunjukkan betapa tersiksanya dia saat ini. Ken benar-benar membuatnya tidak bisa berjalan.


"Uhh, sialan kau Ken Zhao. Kau benar-benar iblis, tidak berhati, suami tidak berperasaan. Tunggu saja pembalasanku. Aku pasti akan memberikan pembalasan yang setimpal padamu!!" Luna terus saja menggerutu, menghujani Ken dengan berbagai sumpah serapahnya.


Ken yang mendengar semua umpatan yang keluar dari mulut Luna hanya bisa mendengus geli. Lagi-lagi berbagai sumpah serapah keluar dari bibir Luna. Dia tau seberapa kesalnya Luna saat ini, tapi Ken tidak merasa menyesal sama sekali. Lagipula salah Luna juga yang sudah memprovokasi Ken terlebih dulu.


"Aaahhh!! Ken, apa yang kau lakukan?!" Kaget Luna saat tiba-tiba Ken mengangkat tubuhnya bridal style dan membawanya ke kamar mandi.


"Tidak ada, hanya membantu istriku yang kesulitan berjalan!!" Ken menyeringai. Alhasil sebuah pukulan mendarat mulus pada dada bidangnya. "Luna, sakit!! Kau ini perempuan, tapi kenapa tenagamu kuat sekali seperti laki-laki, sebenarnya apa yang kau makan?!"


"Dinosaurus!!" Jawab Luna sinis.


Ken malah tertawa mendengar jawaban Luna. Istrinya ini benar-benar imut dan menggemaskan ketika sedang kesal dan marah.


.


.


"Uhh. Sial, sial, sial!! Iblis itu benar-benar membuatku kesulitan berjalan. Ken, kau pasti akan menerima pembalasannya dariku!!" Luna mengepalkan tangannya dan matanya berkilat penuh amarah. "Huhuhu!! Dasar suami durhaka, bagaimana bisa dia menindas istrinya sampai sulit berjalan seperti ini?!"

__ADS_1


Ken sedang memeriksa dokumen saat Luna kembali dari kamar mandi. Pria itu terkekeh geli melihat bagaimana cara Luna berjalan. Merasa tidak tega, Ken bangkit dari sofa lalu menghampiri sang istri.


"Apa yang kau tertawakan?! Kau pikir ini hal yang lucu?! Jika bukan karena dirimu, aku juga tidak akan kesulitan seperti ini!!" Omel Luna menyampaikan kekesalannya.


Ken mengangguk. "Hao, Hao, aku yang bersalah. Aku minta maaf, oke. Tapi jangan ngambek lagi. Aku sudah membawa sarapanmu kemari, setelah ini kita sarapan sama-sama." Ucap Ken seraya menurunkan Luna di depan meja riasnya.


"Heh, kau mencoba membujukku eh?! Jangan harap, sekarang aku sedang kesal dan ngambek padamu. Jadi jangan harap aku mau ikut sarapan apalagi menemanimu!!" Tegas Luna lalu membuang muka sambil bersidekap dada.


Ken lagi-lagi terkekeh. Istrinya yang cantik ini sepertinya masih kesal setengah mati karena apa yang dia lakukan semalam. Tapi Ken tidak akan menyesalinya, karena Luna yang lebih dulu memulainya.


"Kau terlalu banyak bicara, Nyonya. Jika kau tidak makan, lalu bagaimana kau bisa memiliki tenaga untuk memuaskanku kembali nanti malam?! Apa kau tidak ingin ranjang kita kembali bergoyang?!" Goda Ken yang langsung membulat Luna murka.


"Ken Zhao!!" Luna berteriak lalu melemparkan benda apapun yang ada di dekatnya pada Ken.


Bagaimana bisa pria itu membahas soal ranjang lagi setelah apa yang dia lakukan semalam?! Apa Ken berencana membuat dirinya lumpuh?! Begitulah yang Luna pikirkan.


.


.


"Eo, Ken!! Apa yang terjadi pada pelipismu?! Kenapa bisa sampai berdarah seperti itu?!"


Ken melewati Devan begitu saja. Setelah membersihkan darahnya, lalu Ken menutup luka itu dengan perban. Ken sengaja meninggalkan kamarnya sebelum luka itu disadari oleh Luna, dia bisa histeris jika melihat darah.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil saja. Tumben kau datang sepagi ini, ada apa?" Ken menyulut rokoknya, pandangannya tertuju pada Devan.


"Ada beberapa perusahaan luar negeri yang menawarkan kerjasama dengan perusahaanku. Sedangkan perusahaanku saat ini sedang menangani 3 proyek besar."


"Dan jika aku mengambilnya, mungkin akan membuatku keteteran. Proyek itu bernilai puluhan milyar dolar. Ken, jika kau mau, aku ingin kau yang mengambil alih proyek itu." Ujar Devan panjang lebar.


Ken menghisap kembali rokoknya yang tinggal setengah. "Akan aku pertimbangkan, tapi aku tidak bisa asal menerimanya. Aku akan meminta Leon untuk menyelidikinya terlebih dulu, jika memang menguntungkan bagi perusahaanku. Aku tidak keberatan mengambil proyek itu." Tutur Ken.


"Tidak masalah, jika kau memang setuju. Aku akan segera membicarakan masalah ini dengan Tuan Rochester. Ya sudah, aku pergi dulu. Ada meeting penting 1 jam lagi." Devan bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


Pelipis Ken yang terluka sedikit berdenyut. Dia tidak tau bagaimana reaksi Luna nanti jika dia sampai tau dirinya terluka karena dirinya. Mungkin Luna akan terkejut dan kemudian menyalahkan dirinya sendiri.


Ken kembali ke kamarnya dan mendapati Luna tengah menyantap sarapannya. Sepertinya aroma makanannya yang begitu lezat, ditambah semua adalah makanan kesukaannya. Pasti Luna merasa tidak tahan untuk tidak mencobanya.

__ADS_1


"Eh," Luna terkejut melihat benda putih merekat kuat dipelipis Ken dengan bercak merah tepat di bagian tengah perbannya."Ken, ini?!"


"Hn,"


"Ya Tuhan, sungguh karena diriku tadi?! Jadi kau buru-buru keluar karena terluka?!" Kaget Luna. Matanya membelalak, wanita itu membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Apakah parah? Kenapa kau tidak memberitahuku?!"


"Dan membuatmu histeris karena darahnya yang lumayan banyak?!" Ken menyela cepat.


Luna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Betul juga apa yang Ken katakan. "Iya, iya, aku minta maaf. Aku salah," ucap Luna penuh sesal.


Ken menghela napas panjang. "Ya sudah, cepat habiskan sarapanmu sebelum dingin. Aku akan keluar sebentar untuk mengurus sesuatu!!" Ken memakai jasnya yang ada di atas tempat tidur.


"Apa tidak bisa menyuruh Leon saja?! Kau itu harus bertanggung jawab padaku!! Bagaimana pun juga aku mengalami kesulitan karena dirimu, dan sekarang dengan seenak jidat kau mau meninggalkanku?! Tidak bisa, kau tidak boleh pergi!!"


Ken mengusap kasar wajahnya. Dia pikir setelah Luna meminta maaf, semua kembali normal. Tapi rupanya wanitanya ini masih menyimpan dendam padanya. Dan Ken tidak memiliki pilihan lain selain harus menuruti Luna.


"Baiklah aku tidak pergi!!"


Luna tersenyum lebar. "Nah, ini baru suamiku yang penuh tanggung jawab!" Ucap Luna lalu pindah ke atas pangkuan Ken. "Apa lukanya parah?" Luna memegang perban itu sambil mengunci manik kelam suaminya.


Ken menggeleng. "Tidak, dalam 3-4 hari juga sudah membaik." Jawabnya.


Luna melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya lalu menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ken yang tersembunyi di balik kemeja putih lengan terbukanya. "Maaf, karena diriku kau terluka. Tapi salahmu juga, siapa suruh kau membuatku kesal setengah mati." Gerutu Luna sambil memeluk Ken manja.


Ken mengusap punggung Luna naik turun. Dagunya bersandar pada bahu kanan wanitanya itu.


"Tidak apa-apa, karena kita sama-sama bersalah. Aku yang terlalu kesal dan emosi karena interaksi mu dengan pria itu. Kemudian kau memprovokasiku. Dan dalam hal ini jelas kita sama-sama bersalah." Jelas Ken.


Luna mengangkat wajahnya dari pelukan suaminya. Menatap wajah tampan Ken yang tak pernah lekang oleh waktu. Meskipun usia Ken sekarang sudah 38 tahun, tapi dia masih terlihat mudah seperti baru berusia 28 tahun.


"Rumah terasa agak sepi tanpa anak-anak. Aku merindukan mereka."


"Jangan terlalu memikirkan mereka, mereka sedang bersenang-senang dengan nenek buyutnya. Dan di rumah, kita juga harus sering bersenang-senang. Sayang sekali bukan jika ranjang kita sampai tidak bergoyang setiap malam!!"


Mata Luna lantas membelalak mendengar kata-kata vulgar suaminya. "Ken Zhao, mati saja kau!!!" Dan Ken hanya tertawa mendengar umpatan istrinya. Menggoda Luna memang sangat menyenangkan.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2