
Brugg..
Karena tidak terlalu memperhatikan jalan. Tanpa sengaja Viona menabrak punggung seorang pria yang berhenti di depannya. Tubuh itu nyaris saja terjatuh ke belakang jika pria itu tidak langsung berbalik dan menahan punggungnya.
Kontak mata diantara mereka pun tak bisa terhindarkan. Pandangan mereka bertemu, mata mereka saling bersirobok dan menatap dalam diam. Pria itu menatap Viona dengan lembut, tersirat kerinduan yang begitu dalam dari sepasang mata hitamnya ketika menatap sepasang manik berwana Amber itu.
"Viona," lirihnya bergumam.
Tubuh Viona tertarik ke depan saat pria itu 'David' memeluknya dengan tiba-tiba, membuat tubuh Viona membatu. Luka lama yang perlahan tertutup kembali terbuka karena kemunculan pria ini. Viona mendorong David dan memaksa pria itu melepaskan pelukannya.
"Maaf, apa kita saling mengenal sebelumnya? Sepertinya kau salah orang, aku bukan gadis yang kau maksud." Viona hendak pergi, tapi ditahan oleh David.
David menggenggam pergelangan tangan Viona membuat langkah gadis itu terhenti. Tak ada respon sedikit pun, Viona tetap berdiri dalam posisi memunggungi. "Tolong lepaskan, aku harus pergi. Calon suamiku sudah menunggu," Viona berkata dingin. Dia meminta supaya David melepaskan genggaman tangannya tanpa menatap pria itu.
"Calon suami?" David mengulang ucapan Viona. Viona lantas menoleh, dia menatap David dengan tatapan dingin.
"Benar, calon suami. Jadi lepaskan dan biarkan aku pergi, aku tidak ingin calon suamiku sampai salah paham jika melihat kita." Viona melepas genggaman David pada pergelangan tangannya lalu meninggalkannya begitu saja.
Dia menghampiri Kevin yang berdiri sejauh 5 meter di depan sana. Kevin melihat kedua mata Viona yang berkaca-kaca, dia membuka kedua tangannya lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Kevin memeluk gadis itu sambil menatap David yang juga menatap padanya. Kedua laki-laki itu saling melemparkan tatapan tak bersahabat.
"Ayo, sebaiknya aku antar kau pulang." Viona mengangguk dalam pelukan Kevin.
Tanpa Viona mengatakan apa-apa. Kevin bisa menebak siapa laki-laki itu. Dia adalah mantan kekasih Viona yang pergi meninggalkannya beberapa tahun lalu demi wanita lain. Dan yang menjadi pertanyaannya, kenapa orang itu kembali dan ingin mengusik hidup Viona lagi?!
.
.
Suasana jalan raya siang hari ini tampak ramai. Kendaraan pribadi baik beroda empat maupun dua hilir mudik di jalan.
Empat roda Sport silver meluncur mulus di aspal. Sang pengemudi tampan begitu lihai mengendalikan besi berjalan itu untuk menyalip kendaraan yang menghalangi. Sementara di dalam mobil, suasana begitu hening. Baik pengemudi maupun penumpang disampingnya tidak ada yang membuka suara.
Sesekali Kevin mengulurkan pandangannya pada Viona yang sedari tadi hanya diam mematung. Kevin benar-benar tidak tau apa yang Viona pikirkan saat ini.
__ADS_1
Tiba-tiba Kevin menepikan mobilnya membuat Viona menoleh dan menatapnya dengan bingung. "Kenapa tiba-tiba berhenti?" Gadis itu menatap Kevin yang juga menatap padanya.
Tanpa mengatakan apapun, Kevin menarik bahu Viona ke dalam pelukannya. "Jika ingin menangis, menangis lah. Kau tidak perlu menahannya," ucap Kevin setengah berbisik.
Kalimat yang terlontar dari bibir Kevin membuat air mata Viona berjatuhan tanpa mampu dia cegah. Pertahannya akhirnya runtuh juga, dia menangis dalam pelukan pemuda itu. Mungkin terlihat konyol, tapi luka lama di hatinya kembali terbuka lebar karena kedatangan sang mantan kekasih.
Bertemu dengannya membuat Viona kembali teringat pada rasa sakitnya. Rasa sakit yang masih membekas hingga detik ini. Mungkin dia memang terlihat baik-baik saja, tapi tanpa orang lain sadari, ada luka dalam yang menganga dihatinya.
"Kau boleh menangis sepuasnya hari ini. Tapi setelah hari ini, aku harap kau bisa melepaskan rasa sakit itu dan melupakan semua kesakitanmu karena masa lalu yang mengkhianatimu. Kau harus bangkit, karena kebahagiaan yang sebenarnya menunggumu untuk menggapainya."
Kemudian Viona mengangkat wajahnya dan menatap Kevin dengan tatapannya yang sendu. Pemuda itu tersenyum tipis, jari-jarinya menghapus jejak air mata di pipi Viona.
"Lihatlah betapa jeleknya dirimu saat ini. Sampai-sampai aku ingin kencing dicelana melihat wajah jelekmu ini!!" Cibir Kevin, dan sebuah pukulan mendarat mulus pada dadanya. Viona mempoutkan bibirnya.
"Dasar menyebalkan!!"
"Ini baru Viona yang aku kenal. Pakai kembali sabuk pengaman mu, aku akan mengantarmu pulang." Kevin menepuk kepala coklat Viona. Dan gadis itu mengangguk menanggapinya.
-
-
BRAKKK ...!!!
"KAKEK AKU PULANG!!"
Nyaris saja Amelia dan Minna terkena serangan jantung dadakan karena ulah Viona yang membuka dan menutup pintu dengan keras. "Yakkk, apa-apaan kau ini eo? Apa kau fikir ini hutan, jadi kau bisa bertindak sesuka hatimu!" amuk Minna karena kesal dengan ulah Viona.
Viona menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap Minna datar. "Kau berbicara padaku?" tanya Viona memastikan.
"MEMANGNYAN KALAU BUKAN KAU SIAPA LAGI, EO?! JANGAN KAU PIKIR KARNA KAU CUCU KAKEK TUA ITU, MAKA AKU AKAN TAKUT DAN TUNDUK PADAMU!" teriak Minna.
Viona membalikkan tubuhnya dan menghampiri Minna. Gadis itu memandang Minna dingin dan datar.
__ADS_1
"Ingat Kim Minna, kau bukan siapa-siapa di rumah ini. Kau, Ibu dan kakakmu tidak memiliki hak apa pun di rumah ini. Jadi jangan berulah dan mencoba mencari masalah, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan. Ingat dan camkan itu baik-baik!" ujar Viona.
Gadis itu menahan lengan Amelia yang hendak menampar wajahnya. Dari Minna, pandangan Viona lalu bergulir pada Amelia
"Aku bukanlah gadis bodoh dan lemah, Bibi!" menghempaskan tangan Amelia. Viona pergi begitu saja.
Seringai licik terpatri di wajah cantik itu. Melirik menggunakan ekor matanya, Viona dapat melihat Ibu dan anak Itu tengah marah-marah tidak jelas. Mengabaikan mereka, Viona pergi ke kamarnya.
"AWAS KAU JUNG VIONA, TUNGGU PEMBALASANKU!" teriak Minna marah.
Sooyeon merebahkan tubuhnya pada kasur super empuk miliknya. Gadis itu tersenyum puas mendengar teriakan marah Minna. Mereka telah mencari masalah dengan orang yang salah. Mereka pikir Viona adalah gadis lemah yang mudah ditindas.
-
-
"Apa ini, Pa?"
Ken menatap bingung sebuah botol kecil seukuran jari orang dewasa yang Tuan Valentino berikan padanya. Tuan Valentino memukul kepala Ken lalu meminta menantunya itu untuk menyembunyikan obat ajaib tersebut.
"Dasar bodoh. Jangan keras-keras. Ini adalah obat ajaib. Kau bisa mengoleskan pada burung pipit mu ketika hendak berhubungan dengan Luna."
"Apa ini mujarab?" Ken menatap ragu ayah mertuanya.
"Kau bisa mencobanya sekarang. Dan Papa jamin, pasti Burung Pipit mu langsung segar kembali tidak seperti terong di rebus,"
"Oke, Pa. Aku akan segera mencobanya."
-
-
Bersambung.
__ADS_1