PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Kau Benar-Benar Kurang Ajar


__ADS_3

"Ya Tuhan, apakah itu Tribal?! Ken Zhao, kau benar-benar kurang ajar!!!"


Luna tak bisa meloloskan pandangannya dari ukiran tinta hitam yang menghiasi lengan kanan Ken. Ukiran itu begitu indah, Luna sangat penasaran kapan Ken membuatnya, apakah saat di London? Karena ketika berangkat satu Minggu lalu tribal itu masih belum ada.


Seketika Luna teringat pada keringanan konyolnya dulu saat masih sekolah di bangku menengah pertama. Ketika dewasa dia ingin memiliki kekasih atau suami yang memiliki tribal di tubuhnya, sampai-sampai Sunny dan Chia menganggapnya aneh karena keinginannya itu.


Luna tidak pernah berpikir jika keinginannya ketika masih remaja malah menjadi sebuah kenyataan sekarang. Meskipun itu bukan tribal pertama yang menghiasi tubuh Ken, tapi tetap saja tribal itu begitu indah dan berbeda.


"Luna, sepertinya kau sangat mencintai suamimu itu ya. Buktinya saja kau terus memandangnya dan bahkan tidak berkedip sama sekali, atau kau sedang terpesona dengan ketampanan dan pesona cucu durhaka Nenek itu?" Goda Nenek Zhao sambil mengerlingkan matanya nakal, dan ucapan si nenek segera menyadarkan Luna dari lamunannya.


Mata Luna membelalak. Buru-buru ia menggeleng."Apa yang Nenek bicarakan, mana ada aku tertarik pada rusa kutub seperti dia." Jawab Luna sedikit tersipu, lalu buru-buru ia menunduk dalam. Luna tidak sanggup jika harus bertukar pandang dengan Ken terlalu lama.


Diam-diam Ken menarik sudut bibirnya dan menyeringai. Sudah jelas Luna sedang terpesona padanya, tapi istri kecilnya itu malah tidak mau mengakuinya. Kali ini Ken akan memberitakannya, tapi dia akan sedikit memberikan hukuman pada Luna ketika mereka hanya berdua saja.


"Itu benar Nenek Buyut, mana mungkin Kakak Cantik terpesona pada Papa yang menyebalkan itu. Dia adalah calon istri masa depanku, jelas-jelas hanya akan terpesona pada Daniel saja." Ujar bocah laki-laki itu sambil menepuk dadanya dan tersenyum dengan bangganya.


Ken mendengus berat. Dia menghampiri putranya itu lalu mengangkat Daniel dan membawanya ke dalam kamarnya. "Bocah, sebaiknya kau tetap di sini dan jangan membuat masalah. Tidur, atau Papa akan memotong uang jajanmu!!!" Ancam Ken dan pergi begitu saja.


Daniel melipat kedua tangannya, wajahnya di tekuk. Dia kesal pada ayahnya itu. Daniel tidak tau kenapa Ken begitu menyebalkan.


Tidak ingin jika sampai jajanya di potong oleh ayahnya, Daniel pun memutuskan untuk segera tidur. Sedangkan Ken kembali ke bawah untuk menemui Nenek Zhao dan juga Luna.


-


-


Dari tangga paling atas. Ken melihat Luna yang sedang berbincang dengan Nenek Zhao. Mereka terlihat begitu dekat dan akrab, membuat Ken tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

__ADS_1


Tidak ingin mengganggu keseriusan mereka berdua, Ken tidak jadi menghampiri mereka dan malah berjalan menuju ruang keluarga. Melihat cucunya telah kembali, Nenek Zhao langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri pria tampan itu.


"Ken, Nenek ingin membuat perhitungan denganmu!!!"


Seruan Nenek Zhao mengalihkan perhatian Ken yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi pahit yang baru saja dibuatkan oleh pelayan. Wajahnya berubah serius ketika menatap cucunya itu, sehingga muncul tanda tanya di benak Ken.


"Kenapa Nenek menatapku seperti itu? Dan memangnya perhitungan apa yang ingin Nenek buat denganku?" Tanya Ken sedikit keheranan.


"Ken, kau memiliki istri secantik ini kenapa tidak memberitahu Nenek, bahkan pernikahanmu saja juga tidak kau beritahu. Kau benar-benar cucu durhaka!!" Nenek Zhao tidak terima karena Ken menyembunyikan pernikahan dari dirinya.


Ken mengangkat bahunya acuh. "Kau tidak bertanya," jawabnya acuh tak acuh. Nenek Zhao mendesah berat, berbicara dengan Ken memang membutuhkan kesabaran ekstra.


Ponsel milik Ken tiba-tiba berdering. Pria itu bangkit dari duduknya dan memisahkan diri dari Nenek serta Istrinya. Sementara itu, Luna tidak bisa meloloskan pandangannya dari sosok pria yang akhir-akhir ini selalu membuatnya tidak tenang, sosok yang berhasil membuatnya merasakan artinya jatuh cinta, cemburu dan merindu.


Entah mantra apa yang telah Ken gunakan untuk menjeratnya, sehingga Luna bisa jatuh cinta pada pria dingin dan menyebalkan seperti Ken. Dan rasa yang dia rasakan pada Ken, sangat berbeda dengan perasaan pada mantan kekasihnya dulu.


-


-


"Sudah, Tuan. Ternyata pria bermarga William itu adalah seorang impoten, putra sulung dan keduanya adalah anak yang dia adopsi dari panti asuhan. Sedangkan putri bungsunya, adalah anak yang di bawah oleh istri keduanya."


"Aku ingin kau melakukan tes DNA untukku. Aku hanya ingin memastikan apakah Luna adalah orang yang di cari oleh Tuan Valentino atau bukan. Besok siang datanglah ke kantor,"


"Baik, Tuan."


Kemudian Ken memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Sangat masuk akal. Kenapa Tuan William memperlakukan Luna dengan tidak adil, karena kemungkinan besar gadis itu bukanlah putri kandungnya.

__ADS_1


Dan jika benar Luna adalah putri Tuan Valentino, Ken pasti akan mempertemukan mereka berdua agar Luna tau jika orang yang selama ini dia anggap sebagai ayah kandungnya, ternyata tidak memiliki ikatan darah dengannya.


-


-


Luna terus mondar-mandir di dalam kamar Ken. Jika bukan karena dia teringat pada hantu yang menggaruk jendela, pasti Luna tidak akan ada di sini lagi. Ini adalah malam jum-at, waktu yang paling tepat untuk para hantu berkeliaran.


Berkali-kali Luna melihat ke arah tempat tidur yang super besar itu. Matanya membelalak melihat lingerie miliknya masih ada di sana, tidak ingin Ken sampai menemukannya, buru-buru dia mengambilnya lalu menyembunyikannya.


"Sial, kenapa penyakitku harus kambuh lagi di saat gugup seperti ini." Gerutu Luna sambil memegangi area int!mnya. Dia paling benci dengan hal ini, saat sedang gugup atau cemas, Luna pasti akan langsung kebelet pipis.


Tidak ingin sampai terkecing di celana, dia pun langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Ken. Aroma muskulin segera memasuki rongga hidungnya ketika Luna menginjakkan kakinya di lantai kamar mandi.


Luna bisa membayangkan Ken yang selesai mandi lalu berdandan di westafel ini hanya dengan sehelai handuk yang dia lilitkan di pinggang dan rambutnya yang masih basah, sedikit acak-acakan. Dada bidang dan perut sixpack, lalu otot-otot lengannya terekspos. Terlihat seksi dan menggairahkan. Dan apa yang akan terjadi jika kau menarik selembar kain itu?


Luna menggeleng. Buru-buru dia memukul kepalanya dan menepis semua pemikiran gilanya. Luna sungguh tidak mengerti kenapa dia bisa memiliki pemikiran segila itu. "Apa?! Tidak! Hentikan pikirkan gila mu Luna William, dasar bodoh!" Beberapa kali Luna menggeleng. Menepis pikiran gila itu dari kepalanya.


Kemudian Luna melenggang keluar meninggalkan kamar mandi. "Omo!!" Dia terlonjak kaget saat mendapati Ken yang sedang berada di atas tempat tidur dengan posisi yang begitu menggoda.


Lalu pandangannya bergulir pada lengan kanannya yang terbuka, tribal itu begitu terlihat nyata dan sempurna. Kemudian pandangan Luna bergulir pada dada Ken, pria itu membuka tiga kancing teratas pada kemeja putih lengan terbukanya.


"Sial, apa bajingan ini sengaja melakukannya?! Ken Zhao, kenapa kau tidak menghilang saja dari muka bumi ini. Ya Tuhan, Imanku mulai goyah!! Luna, bumi memanggilmu!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2