
Seorang perempuan cantik bermata Hazel dan berambut coklat panjang, tengah duduk manja di pangkuan suami tercintanya. Seorang pria tampan berwajah dingin, namun tatapannya penuh akan cinta terhadap gadis cantik bermata Hazel indah yang ada di pangkuannya.
Sepasang tangan putih bak porselen itu melingkar mesra di leher orang tercintanya. Sesekali dia mengecupi pipi putih dan bibir tipis suaminya. Sedangkan tangan si pria membelai rambut coklat panjang itu dengan lembut. Menambah kesan mesra di antara dua insan yang tengah kasmaran itu.
"Ken, kau tampan." Rayu si wanita pada pria di hadapannya.
"Hn, apa yang kau inginkan, Lun?" Tanya pria itu dengan nada dingin.
Luna menggeleng. "Tidak ada, hanya ingin bermanja dengan suamiku saja." Jawab Luna dan kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ken yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya.
"Bisakah nanti saja, sebaiknya sekarang kau turun dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan!!" Ken mengangkat wajahnya dan menatap Luna dengan tegas.
Wanita itu berdecak lalu menghentakkan kakinya kesal. "Dasar suami menyebalkan, istri ingin bermanja-manjaan malah diusir. Awas saja kau, Ken. Tidak ada jatah untuk malam ini!!" Luna meninggalkan Ken begitu saja.
BLAMM..
Suara pintu dibanting nyaris saja membuat Ken terkena serangan jantung dadakan. Pria itu mendengus berat. "Ngambek lagi," gumam Ken sedikit frustasi. Karena jika sudah begini pasti akan berbuntut panjang.
Ken tidak tau apa yang terjadi pada Luna akhir-akhir ini. Dia menjadi gampang tersinggung dan uring-uringan tidak jelas. Moodnya naik turun tidak menentu. Sungguh tidak seperti biasanya.
"Leon, keruanganku sekarang!!" Ken menghubungi asistennya dan meminta dia untuk datang ke ruangannya.
Tidak sampai lima menit orang yang dia tunggu pun tiba. Leon membungkuk pada sang atasan. "Tuan, Anda memanggil saya?" Dia bertanya tanpa banyak basa-basi.
"Aku ada pertemuan penting siang ini dengan klien dari luar kota. Sebaiknya gantikan aku untuk bertemu dengan mereka, ada suatu hal yang harus aku selesaikan sekarang." Ucap Ken seraya bangkit dari kursinya.
Leon pun mengangguk. "Baik,Tuan." Leon berani bersumpah hal penting yang Ken maksud berhubungan dengan istri cantiknya. Karena tanpa sengaja Leon melihat Luna keluar dari ruangan atasannya itu dengan wajah kesal.
.
.
Ken menghentikan mobilnya di halte bus. Dia turun dan menghampiri Luna yang tampak membuang muka dan menghiraukan kedatangannya. Ken mendengus geli. Bagaimana bisa Luna menunjukkan ekspresi menggemaskan ditempat umum seperti ini.
"Untuk apa kau kemari? Bukankah kau masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan?!" Ucap Luna dengan sinis.
__ADS_1
Ken mendengus geli. "Aku datang untuk menjemput seorang gadis kecil yang sedang ngambek." Jawab Ken dan membuat Luna semakin kesal.
"Aku bukan anak kecil!!"
"Tapi cuma anak kecil yang suka ngambek jika keinginannya tidak dituruti," jawab Ken menimpali. "Masuk sekarang atau aku tinggal?!"
"Ck," Luna berdecak sebal sambil menghentakkan kakinya kesal. "Iya, iya, dasar menyebalkan!!" Kemudian Luna bangkit dari duduknya lalu masuk ke dalam mobil suaminya.
Wanita itu terus memanyunkan bibirnya. Dia membuang muka ke luar jendela. Luna tidak tau kenapa akhir-akhir ini suaminya itu begitu menyebalkan. Padahal dia hanya ingin bermanja saja. Tapi Ken malah menolaknya.
Ken menatap wanita yang duduk disampingnya dan mendengus geli. Kemudian dia menepikan mobilnya, tapi Luna tidak memberikan respon apa-apa. Wanita itu tetap membuang muka ke luar jendela. Ken melepas sabuk pengaman Luna lalu menarik wanita itu untuk duduk diatas pangkuannya.
"Maaf, Sayang. Aku hanya ingin memberikan citra yang baik untuk karyawanku. Jika bosnya saja suka mengumbar kemesraan di kantor, lalu bagaimana dengan karyawannya?! Kecuali saat jam istirahat, aku baru bisa menemanimu bermain." Tutur Ken.
Luna memeluk leher suaminya dan menatap Ken dalam. "Aku sendiri tidak tau ada apa dengan diriku akhir-akhir ini. Aku menjadi lebih sensitif dan mudah marah. Aku juga sering merasa kesal tanpa sebab, terkadang aku tidak mengenali siapa diriku sendiri." Ujar Luna panjang lebar.
Ya, Luna merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya akhir-akhir ini. Dia menjadi lebih sensitif pada hal yang ada disekitarnya, lebih parahnya lagi dia tidak pernah ingin jauh dari sang suami, maunya nempel terus pada Ken. Dan hal itu berlangsung satu Minggu belakangan ini.
Ken mengecup singkat bibir Luna dan kembali menatapnya. "Mungkin kau mau datang bulan, biasanya wanita yang sedang datang bulan selalu sensitif dengan hal apapun yang ada disekelilingnya."
"Kau ingin kemana setelah ini? Bagaimana kalau kita pergi berbelanja. Kau boleh membeli apa pun yang kau inginkan,"
Luna tampak berpikir, menimbang hal apa yang paling enak dilakukan saat ini. Kemudian dia teringat sesuatu. Tapi sepertinya usulan Ken tidak buruk juga.
"Boleh juga, kebetulan banyak barang yang ingin aku beli. Apalagi isi kulkas sudah mulai menipis." Ujar Luna. Ken pun segera tancap gas dan mereka pergi ke pusat perbelanjaan.
.
.
Ken menemani Luna berkeliling. Mereka pergi dari rak yang satu ke rak yang lain. Hampir semua yang Luna ambil adalah kebutuhan dapur dan kebutuhan mandi. Dan sekarang mereka sedang memilih buah-buahan segar, karena stok buah di rumah sudah mulai menipis.
Luna menunjukkan dua jenis buah berbeda pada Ken. Dan meminta supaya suaminya itu bantu memilih. "Pepaya atau pisang?" Luna bingung untuk memilih diantara keduanya. Antara pisang dan pepaya.
"Pisang saja," jawab Ken kemudian Luna mengangguk.
__ADS_1
Untuk jenis buah lainnya dia tidak perlu bertanya lagi. Daniel suka anggur, Marissa suka jeruk dan Marcello suka apel. Tiga buah yang wajib ada disetiap ia berbelanja. Luna juga membeli stroberi, semangka dan peer. Meskipun dia membenci semangka, tapi Ken sangat menyukainya.
"Semua hanya kebutuhan dapur dan kamar mandi. Lalu kau sendiri tidak membeli apapun?" Ken berjalan disamping Luna, mereka menuju kasir.
"Ada, aku membutuhkan lingerie baru. Karena dua lingerie yang aku beli Minggu lalu sudah rusak karena ulahmu!!" Jawab Luna dan membuat pipi Ken memerah.
"Apa perlu disebutkan?! Kau pergilah sendiri, aku akan menunggumu disini," ucap Ken yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna.
Luna terkekeh melihat wajah memerah suaminya saat dia menyebut kata lingerie. Pakaian sesat yang selalu membuat ranjang mereka bergoyang setiap malamnya.
Brugg...
Karena tidak berhati-hati, tanpa sengaja Luna bertabrakan dengan dua remaja yang langsung memarahinya. Kedua remaja putri itu membentak dan memarahi Luna, mengatakan jika dia berjalan tidak pakai mata.
"Aku tidak mau tau, pokoknya Bibi harus memberi kami ganti rugi. Lihatlah karena kecerobohanmu, ponsel baruku jadi rusak!!"
Luna yang geram pun tak lantas tinggal diam. Bocah seperti ini sesekali perlu diberi pelajaran agar tidak kurang ajar lagi.
"Yang jalan tidak pakai mata itu kalian!! Kalian terlalu asik bermain ponsel dan tidak memperhatikan jalan. Lalu sekarang kalian menyalahkan orang lain demi mendapatkan keuntungan?! Berikan nomor ponsel orang tua kalian, anak-anak seperti kalian perlu diberi didikan yang keras!!"
Mendengar kata orang tua membuat mereka takut sendiri. Kedua remaja putri itu pun tak melanjutkan lagi perdebatannya dengan Luna. Mereka memilih pergi dari pada harus berurusan dengan orang tuanya.
"Anggap masalah ini tidak pernah terjadi. Bibi, kau menyebalkan!!"
"Memang, dasar anak muda tidak punya etika. Dan bagaimana bisa mereka memanggilku Bibi, memangnya kapan aku menikah dengan pamannya. Dasar aneh!!"
Luna melanjutkan langkahnya. Dia pergi ke lantai dua tempat boutique berada. Wanita itu ingin memborong lingerie supaya tidak terus-terusan membelinya jika salah satu koleksinya di rusak oleh Ken ketika bercocok tanam.
Diam-diam Luna terkekeh geli. Dia teringat kembali wajah Ken tadi yang memerah membuat Luna ingin sekali menerkamnya. Sayang mereka berada di tempat umum.
Mungkin malam ini mereka akan bermain lagi, tapi kali ini Luna tidak akan membiarkan Ken bermain kasar apalagi sampai membuat dirinya tidak bisa berjalan seperti kemarin malam.
-
-
__ADS_1
Bersambung.