PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Waktu Berjalan Cepat!!


__ADS_3

"KEVIN!"


Kevin menjauhkan ponselnya dan berdecak sebal memandang layar ponselnya yang menyala, bisa saja dia kehilangan pendengarannya karena ulah kakak sulungnya. Siapa lagi jika bukan Daniel, dia berteriak seperti sedang berada di hutan.


"Berhentilah berteriak seperti orang bodoh, Ge!" terdengar decakan sebal dari seseorang yang menghubungi Kevin, dan membuat bungsu Xiao itu hanya memutar matanya jengah.


"Jika kau menghubungiku hanya untuk marah-marah tidak jelas, sebaiknya tutup saja sambungan telfonnya!" Kevin memutus panggilan itu secara sepihak, dan Ia berani bersumpah jika kakaknya yang terlewat bawel itu sedang marah-marah tidak jelas di sana.


Kevin menoleh mendengar suara pintu dibuka dari luar. Terlihat Luna menghampirinya sambil membawa secangkir teh hijau yang kemudian dia berikan pada putra bungsunya itu.


"Kenapa Mama belum tidur?" Kevin menerima teh hijau itu tanpa melepas tatapannya dari sang ibu.


"Mama, menunggumu. Minumlah dulu selagi masih panas,"


"Terimakasih, Ma."


Kemudian Luna duduk disamping putranya. Melihat tatapan serius Ibunya membuat Kevin bertanya-tanya. "Ada apa, Ma? Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada hal penting yang ingin kau bahas denganku?" Kevin menatap Luna penasaran.


"Mengenai kucing liar yang dibahas kakakmu, kapan kau akan membawanya kemari dan mengenalkan pada, Mama? Mama sangat penasaran dengan kucing liar cantik itu," ucap Luna.


Kevin langsung membuang muka ketika ibunya membahas tentang Viona. Apa wanita yang sudah melahirkannya ini benar-benar sangat penasaran dengan gadis itu? Memang tidak ada salahnya sesekali mengajak Viona untuk makan malam di rumahnya.


"Hn, saat ada waktu aku akan membawanya makan malam disini," Luna mengangguk antusias.


"Ya sudah, ini sudah larut malam. Sebaiknya segera tidur setelah meminum teh hijauhmu," Luna mencium kening putranya dan pergi begitu saja.


.


.


Luna menghampiri Ken yang sedang duduk diatas tempat tidur. Wanita itu duduk disamping pria yang telah memberinya tiga anak itu lalu bersandar pada dada bidangnya. Luna memainkan jari-jari Ken yang sedikit lebih berisi dari saat masih muda dulu.


"Anak-anak sudah besar, rasanya baru kemarin aku menggendong dan menimang mereka. Tapi sekarang mereka berempat sudah dewasa, Daniel sudah menikah. Marissa dan Cello sudah bekerja, begitu pula dengan Kevin. Apa waktu berjalan begitu cepat?" Luna mengangkat wajahnya dan menatap Ken yang juga menatapnya.


Ken mencium kening Luna. "Ya, dan sudah saatnya kita berdua pergi berlibur. Sesekali kita butuh menenangkan pikiran bukan,"


"Ya, tapi setelah Kevin membawa calon menantuku kemari. Dia sudah berjanji akan membawa gadis itu kemari dan mengenalkan pada kita. Jadi mana mungkin aku pergi begitu saja sambil membawa rasa penasaran," ujar Luna memaparkan.

__ADS_1


"Kalau begitu kita bicarakan lagi soal rencana liburan itu lain kali. Sudah larut malam, ayo kita tidur. Aku sangat lelah, dan mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi," Luna mengangguk.


Bukan hanya Ken saja yang lelah, tapi dirinya juga. Keduanya kemudian berbaring dengan posisi saling berhadapan. Ken memeluk tubuh Luna dengan erat, agar istri tercintanya itu tidak sampai kedinginan karena udara malam yang begitu menusuk.


-


-


Ini adalah pertama kalinya Viona kembali menginjakkan kakinya di rumah sakit yang dulu pernah menjadi tempat persembunyiannya selama 6 bulan lebih.


Dia tiba-tiba merindukan Marissa, karena sejak satu bulan lalu mereka tidak pernah bertemu lagi. Lebih tepatnya setelah Viona memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Tentu saja Marissa tidak datang dengan tangan kosong, dia membawa kue kesukaan Marissa.


"Eonni," panggil Viona saat melihat Marissa keluar dari ruang operasi. Sepertinya dia baru saja menyelesaikan sebuah operasi besar hari ini.


Setelah mengganti pakaiannya, Marissa mengajak Viona untuk mengobrol di ruang prakteknya. Marissa sangat senang dengan kedatangan Viona. Apalagi selama satu bulan terakhir ini dia bagaikan lenyap ditelan bumi.


"Tumben kau datang, ada angin apa?" Marissa menyiapkan minum untuk Viona.


Viona menggeleng. "Aku datang karena merindukan, Eonni. Oya, aku juga membawakan cheese cake kesukaan, Eonni." Ucapnya.


"Kau seharusnya tidak perlu repot-repot. Tapi terimakasih, kau tau saja kalau Eonni kebetulan memang ingin memakan cheese cake ini." Tutur Marissa.


Darah segar memenuhi telapak tangannya yang dia gunakan untuk menekan luka diperut sisi kirinya. Luka lain tampak pada kepalanya yang juga terus mengeluarkan darah. "Apa yang terjadi padamu?" Marissa menahan tubuh Kevin yang hampir roboh.


Kemudian Marissa memapah Kevin dan membaringkannya di atas ranjang kecil, disudut ruangan. Sementara itu, Viona juga tidak tinggal diam. Dia segera membantu Marissa untuk menyiapkan infus dan segala macam peralatan yang dibutuhkan.


"Vi, bantu menghentikan pendarahan diperutnya. Tekan bagian lukanya, Eonni akan menyiapkan ruang operasi untuk mengeluarkan peluru di dalam perutnya." Ucap Marissa yang kemudian dibalas anggukan oleh Viona.


Lalu pandangan Viona bergulir pada Kevin yang masih setengah sadar. "Apa yang terjadi padamu, kenapa kau bisa sampai terluka separah ini?" Tanya Viona dengan suara lirih.


"Ada yang mengirim orang untuk menghabisi-ku, mereka menghadangku ketika aku hendak berangkat ke kantor." Jelas Kevin.


"Lalu kau tidak melawan? Jika kau tidak bisa berkelahi, seharusnya kau mengiring mereka semua menuju kantor polisi, bukannya membuat dirimu babak belur dan nyaris mati!!"


"Tentu saja aku melawan, tapi jumlah kami tidak seimbang. 1 lawan 20, meskipun terluka parah. Tapi aku juga berhasil menghabisi mereka semua," jawab Kevin membuat kedua mata Viona membelalak tak percaya.


Apa dia tidak salah dengar?! 1 banding 20, rasanya sangat sulit dipercaya jika Kevin berhasil mengalahkan mereka meskipun dia juga terluka parah.

__ADS_1


Karena bagi polisi yang menguasai tehnik bela diri mumpuni pun, pasti akan kewalahan jika yang dihadapi 10 orang. Tapi Kevin malah berhasil menghabisi mereka semua seorang diri.


"Kau tidak bercanda kan?"


"Apa aku terlihat bercanda?" Viona menggeleng. Dia tau jika Kevin memang tidak sedang berbohong. "Langsung jahit saja luka-lukanya, tidak perlu melakukan operasi apapun, peluru itu sudah aku keluarkan tadi."


"Hah, kau mengeluarkan peluru itu sendiri?! Bagaimana bisa?" Kaget Viona.


"Tentu saja bisa, sudah jangan banyak bicara lagi. Cepat lakukan saja," pinta Kevin sekali lagi.


Viona menghela napas, dia berdecak sebal dan menatap pemuda itu kesal. Lagi-lagi Kevin memerintah dirinya dengan seenaknya, tapi Viona mencoba tidak mengomel kali ini. Kevin sedang dalam keadaan terluka parah dan dia harus mengerti kondisi dan keadaannya.


"Baiklah,"


.


.


"Ruang operasinya telah siap. Kita pindahkan seka~" Marissa menggantung kalimatnya saat tiba di ruang prakteknya dan mendapati luka-luka Kevin telah tertutup oleh perban. Selain membebat luka diperutnya. Perban juga menutup luka di atas alis dan tulang pipi Kevin.


Luka diperutnya mendapatkan 7-9 jahitan, sedangkan luka robek diatas alisnya mendapatkan 11 jahitan, luka ditulang pipinya tidak perlu dijahit karena kulitnya yang sedikit terkelupas.


"Si bodoh ini sudah melakukan tindakan berbahaya, dia mengeluarkan peluru itu sendiri. Tapi untungnya pisau kecil yang dia pakai sudah disterilkan terlebih dulu. Aku juga sudah menjahit semua luka-lukanya." Jelas Viona menjawab kebingungan Marissa.


Marissa menghela napas berat. "Kenapa kau selalu terlibat hal berbahaya yang mengancam nyawamu seperti ini, Key?! Apa belum cukup dulu kau hampir mati ketika SMA karena terlibat tawuran dengan geng lain. Kau sudah dewasa sekarang, kenapa masih saja suka berbuat onar!! Bagaimana jika Mama sampai tau keadaanku sekarang?! Dia pasti akan syok berat," Marissa mengomeli adik bungsunya itu habis-habisan.


"Untuk itu jangan beri tau, Mama. Sementara aku akan tinggal di rumah pribadiku. Aku akan menghubunginya nanti dan mengatakan jika harus pergi ke luar kota selama dua Minggu, dengan begitu Mama tidak akan tau yang sebenarnya terjadi padaku!!"


"Terserah, sebaiknya kau istirahat dulu disini selama satu malam. Vio, Eonni minta tolong jaga bocah ini dan temani dia selama disini ya. Eonni masih banyak kerjaan, ya sudah aku pergi dulu."


"Tapi, Eonni~" Viona hendak melayangkan protesnya. Tapi Marissa sudah pergi, Viona menghela napas panjang. "Sebaiknya kau tidak menyusahkan kali ini!" Dia menatap Kevin dengan sinis. Karena Viona tau, pasti ia akan mengambil keuntungan darinya lagi.


Sebenarnya Viona sangat penasaran dengan orang-orang yang menghadang Kevin tadi dan membuatnya terluka sampai sepatah ini. Viona harus mencari taunya, jika memang ada hubungannya dengan Kai. Maka Viona tidak akan pernah melepaskannya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2