
Baru saja Ken hendak menutup matanya. Namun suara dering pada ponselnya menyita perhatiannya. Pria itu bangkit dari berbaringnya lalu berjalan ke arah balkon untuk menerima panggilan tersebut.
Pandangannya bergulir pada balkon yang letaknya bersebelahan dengan balkon kamarnya. Sepi dan kosong, mungkin orang yang menempati sudah tidur mengingat jika ini sudah tengah malam.
Ken tak mau ambil pusing dan menghubungi kembali orang yang menghubunginya tersebut. Karena mungkin saja hal penting yang ingin orang itu sampaikan padanya.
-
-
Malam merayap pelan. Membisikkan simfoni-simfoni yang melenakan pendengaran melalui buaian mimpi. Dan mengabaikan semua itu. Seorang dara jelita berparas barbie tak juga terlelap meskipun jam yang menggantung di dinding sudah menunjuk pukul 00.00 tengah malam, tidak bisa lebih tepatnya.
Menyibak selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya. Sepasang kaki jenjang itu bergerak turun kemudian melangkah tenang menuju balkon. Jari-jari lentiknya mendorong pelan pintu kaca yang menjadi pembatas antara balkon dan kamar.
Bulan sabit melengkung cantik di langit yang sedikit berawan dengan di temani gemerlip bintang yang bertaburan. Ranting-ranting pohon meliuk seirama dengan angin dan melepaskan beberapa helai daun yang sudah tua yang kemudian menjadi kumpulan sampah tidak berguna.
Angin dingin namun menyejukkan langsung menyambutnya di sana. Menyapa melalui sentuhannya.
Jessline menutup matanya dan membiarkan hembusan angin membelai kulitnya yang seputih dan sehalus porselen. Sayup-sayup terdengar angin malam membisikkan nyanyian pilu di telinga, desirannya menusuk dingin sampai ke dalam sumsum tulangnya.
Jessline mendongakkan wajahnya dan menatap langit gelap yang di hiasi manik-manik langit yang terus memainkan sinarnya. Sinar lembut keemasan sang penguasa malam menerpa tubuhnya yang hanya terbalut kain tipis gaun tidurnya. Udara semakin menusuk tapi Jessline tetap enggan untuk beranjak dari sana.
"Aku ingin barang itu ada di mejaku besok pagi!"
Seluruh perhatiannya teralihkan dari sang malam saat indera pendengarannya menangkap suara dingin seseorang yang cukup familiar dari sisi kanannya. Kedua matanya memicing, menatap sosok yang berdiri memunggunginya itu dengan lekat-lekat.
"Mungkinkah itu adalah, Tuan Zhao?" bisiknya pelan, mengambang dan nyaris tenggelam di tengah kesunyian malam.
__ADS_1
Sepasang manik hazel nya kemudian mengamati sosok itu lekat-lekat. Tubuh tegap dan kulit tubuh yang seputih porselen. Ada sebuah tribal di punggungnya yang menyembul dari balik singlet hitam yang membalut tubuh kekarnya.
Tribal itu menjorok ke kanan menuju lengannya sampai sebatas siku. Dan untuk sesaat Jessline melupakan bagaimana caranya bernafas saat dirinya membayangkan betapa bidangnya dada Ken yang tersembunyi di balik singlet hitamnya.
Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Buru-buru Jessline menggeleng. Tidak seharusnya dia membayangkan hal yang tidak-tidak seperti ini.
Dan seakan tau jika dirinya sedang diperhatikan. Sosok itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ken segera menoleh membuat iris hitamnya langsung bersirobok dengan sepasang manik hazel milik Jessline.
Jessline menelan ludah. Ken terdiam selama beberapa saat, kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas dan membentuk senyum setipis kertas. Entah karena efek cuaca atau apa, tiba-tiba Jessline merasakan panas pada sekujur tubuhnya. Dan Jessline segera menyapa Ken dengan membungkukkan tubuhnya.
"Kau belum tidur?" tegur Ken seraya melangkahkan kaki mendekati Jessline. Dan wanita itu tidak memberikan jawaban apapun, sebagai gantinya dia menggelengkan kepala."Udara di sini sangat dingin, sebaiknya kau segera masuk." Pinta Ken dan di tolak oleh gadis itu.
"Nanti saja, aku masih belum mengantuk. Cuaca malam ini cukup bersahabat dan aku ingin melihat bintang."
Ken sedikit tersentak setelah membaca tulisan tangan Jessline yang sama persis dengan tulisan tangan Luna. Sama seperti Jessline, Luna juga sangat suka melihat bintang. Dan wanitanya itu selalu mengatakan kalimat yang sama setiap kali dia memintanya untuk segera tidur.
"Baiklah terserah kau saja, dan aku akan menemanimu sebentar di sini." Dan Jessline hanya tersenyum tipis.
Jessline memberanikan diri untuk menatap wajah Ken secara keseluruhan. Dia tidak melihat benda hitam bertali yang biasa dia pakai pada kirinya. Mata itu terlihat baik-baik saja, hanya saja ada bekas luka yang cukup besar di sekitar matanya.
Mungkin karena hal itu Ken menutupnya karena tidak ingin orang lain sampai melihat bekas luka mengerikan di sekitar matanya, dan hanya ketika di rumah dia melepas benda bertali itu dan tidak memakainya.
Ken melirik Jessline yang berdiri disampingnya dari sudut matanya. Mengamati sosok jelita itu dengan seksama mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan dalam hatinya Ken terus bertanya-tanya bagaimana mungkin ada dua orang yang begitu mirip padahal mereka bukan saudara kembar.
Seandainya kembar pun pasti ada perbedaannya meskipun hanya sedikit saja. Tapi Jessline dan Luna tidak ada bedanya sama sekali mulai dari warna rambut, warna mata, bentuk hidung dan bibir sampai cara berpakaian dan sikap mereka sama persis.
Sempat terbesit dalam pikiran Ken bila Jessline adalah Luna yang sedang hilang ingatan, tapi perasaan itu segera di tepis cepat olehnya karena dengan mata kepalanya sendiri Ken melihat tubuh Luna yang sudah tak bernyawa dan tidak lagi bisa dikenali karena terbakar hidup-hidup dalam tragedi itu.
__ADS_1
Meskipun pada saat kejadian Ken tidak memastikannya sendiri karena dirinya yang dalam keadaan terluka parah. Tapi gelang dan kalung milik Luna yang ditemukan di samping jasad itu di tambah dengan ciri-ciri fisiknya yang semakin memperkuat dugaan bila jasad itu memang Luna.
"Ada apa, Tuan Zhao? Kenapa Anda menatap saya seperti itu?" Ken tersentak kaget setelah membaca tulisan yang Jessline tunjukkan padanya.
Ken menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya saja wajahmu mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku rindukan." Ucapnya datar.
Jessline terdiam selama beberapa saat setelah mendengar ucapan Ken. Wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap sisi wajah pria itu yang hanya menatap datar ke depan.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk memanfaatkanmu karena kemiripan wajah kalian berdua. Tapi wajah kalian benar-benar mirip, dan dengan melihatmu setidaknya bisa sedikit mengobati rasa rinduku padanya." Ujar Ken lalu menatap Jessline dengan senyum simpul. Jessline menangkap kesedihan dari mata Ken yang tajam.
Jessline segera menulis sesuatu pada buku kecilnya dan menunjukkan kembali pada Ken. Karena hanya dengan cara seperti itu dia bisa berkomunikasi dengan pria bermarga Zhao tersebut.
"Tidak perlu meminta maaf, Tuan Zhao, aku sangat memahami betul perasaanmu karena aku juga pernah berada di posisimu. Dua tahun yang lalu aku kehilangan anak kembar ku, mereka meninggal ketika aku lahirkan. Paman bilang jika anakku tidak bisa di selamatkan karena pendarahan yang aku alami."
"Dan aku kehilangan anak-anakku bahkan sebelum mereka bisa melihat bagaimana megahnya dunia. Padahal mereka sudah pernah bertahan bersamaku diantara hidup dan mati ketika aku mengalami kecelakaan 3 tahun lalu,"
Ken terpaku melihat curahan hati Jessline. Semua seperti sebuah kebetulan yang telah digariskan. Dan entah sebuah dorongan dari mana tiba-tiba Ken meraih bahu wanita itu dan membawa dia ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh yang tampak rapuh itu dengan erat.
Hangat, nyaman, dan familiar ....
Jessline menutup matanya meresapi hangatnya pelukan Ken pada tubuhnya. Pelukan Ken rasanya begitu familiar, dia seperti pernah merasakan pelukan dan kehangatan seperti ini, tapi kapan dan di mana Jessline tidak bisa mengingatnya.
Kelopak mata itu tertutup perlahan, dengan perasaan ragu dan tak yakin. Kemudian Jessline mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Ken.
-
Bersambung.
__ADS_1