PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Keuntungan Darimu


__ADS_3

Viona memeluk lengan Kevin dengan mesra. Keduanya memasuki cafe dimana mantan kekasih Viona berada. Ben yang menyadari kedatangan Viona di cafe yang sama dengannya pun langsung menghampirinya dan meninggalkan gadis yang datang bersamanya.


Seperti kesepakatan mereka berdua. Kevin akan berpura-pura menjadi kekasih Viona. Tentu saja dengan sebuah imbalan pastinya, karena Kevin tidak mau melakukannya secara cuma-cuma.


"Viona, kenapa kau datang dengan pria cantik ini? Apa hubunganmu dengannya?" Tanya Ben meminta penjelasan.


"Apapun hubunganku dengannya, itu tidak ada sangkut pautnya denganmu!! Sebaiknya kau minggir dan jangan mengganggu kami, teman kencanmu sudah menunggumu. Sayang, ayo." Viona membawa Kevin meninggalkan Ben.


Ben hendak menyusul mereka tapi dihentikan oleh perempuan yang datang bersamanya. Pemuda itu diseret kembali ke mejanya. Sedangkan Kevin dan Viona pergi ke ruang VIP yang berada di lantai dua.


Buru-buru Viona melepaskan pelukan tangannya dan segera menjaga jarak dari Kevin. Mereka sudah tidak lagi berada di jangkauan mata Bima, jadi untuk apa bersandiwara lagi.


Kevin menyeringai. Dia menghampiri Viona yang sedang melihat-lihat buku menu. "Vi, ngomong-ngomong aku menyukai panggilanmu tadi, Sayang..." Ucap Kevin.


"Jangan kepedean, jika bukan karena terpaksa, aku juga tidak akan sudi memanggil dengan sebutan mengerikan seperti itu!!" Jawab Viona sedikit ketus.


"Bantuanku tidak gratis, Nona. Aku tidak bisa membantumu secara cuma-cuma. Kau harus memberikan imbalan padaku," Kevin menyeringai.


"Tentu saja, kau boleh makan sepuasnya dan aku yang akan membayarnya." Jawab Viona.


Kevin menggeleng. "Sayangnya bukan imbalan seperti itu yang aku inginkan. Tapi seperti ini," Kevin mengangkat dagu Viona lalu mencium bibirnya. "Aku akan mengambil jatahku setiap kali kau meminta bantuan ku!!" mata Viona sontak membelalak. Dengan kesal dia melemparkan umpatannya.


"Dasar sinting!!" Dan Kevin hanya terkekeh. Dia sudah terbiasa dengan kata-kata tajam dan berbagai umpatan gadis bermarga Jung tersebut.


Selanjutnya makan siang mereka lewati dengan tenang. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Kevin maupun Viona, mereka sama-sama diam dalam keheningan. Hanya terdengar denting suara piring dan garpu yang saling bersentuhan.


-


-


Seorang pemuda terlihat meninggalkan bandara Incheon. Kedatangannya disambut seorang pria lain yang bersandar pada badan mobilnya. Pria itu melambaikan tangannya melihat kedatangan sahabatnya tersebut.


"Yo, David..." Serunya.

__ADS_1


Keduanya kemudian berpelukan. Setelah 4 tahun. Ini adalah kepulangan pertamanya ke negara asalnya. "Bagaimana perjalananmu kawan?" Tanya pria berkemeja putih itu pada sahabatnya yang bernama David.


"Melelahkan, tapi terbayar lunas setelah tiba disini." Jawabnya.


"Kau terlihat sangat bersemangat, Kawan. Apa karena dia?"


"Sudah 4 tahun. Bagaimana keadaannya sekarang? Jujur saja, aku sangat merindukannya. Dan kepulanganku kali ini adalah untuk memenuhi janjiku padanya. Aku, akan melamarnya. Toni, bagaimana menurutku. Gadis kecilku itu sangat menyukai hal yang sangat romantis. Harus dengan cara apa? Maksudku, apakah makan malam yang romantis atau mungkin dengan bunga dan coklat?" Dia menatap sahabatnya itu penuh harap.


Toni menggeleng. "Tapi sebaiknya jangan terlalu berharap, sobat. Dia, sudah terlalu membencimu,"


David mengangkat kepalanya dan menatap Tomi penuh tanya. "Maksudmu apa?"


"Apa kau tau bagaimana keadaannya setelah kau meninggalkannya? Kau meninggalkan dia tanpa perasaan, memutuskannya hanya lewat pesan lalu mengatakan akan menikah dengan pilihan orang tuamu. Dia sangat marah, hancur dan sakit. Malam itu juga dia membakar semua barang pemberian darimu."


"Dia membutuhkan semua kontak dengan orang-orang yang berhubungan denganmu, termasuk aku. Padahal dulu kami sangat dekat seperti kakak beradik. Dua tahun lalu dia menjalin hubungan dengan seorang pria yang merupakan teman kampusnya, tapi hubungan mereka kandas karena si pria menyelingkuhinya berkali-kali."


"Jadi saranku, jangan terlalu berharap dia mau menerimamu kali ini."


Penuturan Tomi membuat David terdiam. Apakah benar sudah tidak ada harapan ia dan gadis itu kembali bersama? Tapi dia tidak akan pernah tau jika tidak mencobanya.


Pria itu menghela napas berat. Sepertinya akan sangat rumit. Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Apalagi beberapa hari lalu dia melihat jika gadis itu sudah bersama orang lain. Dan dia terlihat sangat bahagia.


-


-


Keheningan begitu terasa di dalam ruangan bernuansa putih itu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir dua orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Viona melihat jam yang menggantung di dinding, lalu pandangannya bergulir pada Kevin yang sedang serius dengan file-filenya. Melihat dia yang begitu serius terlihat sedikit aneh. Orang menyebalkan, saat sedang serius ternyata terlihat keren juga. Pikir Viona.


Gadis itu menggeleng. Dia memukul kepalanya dengan kepalan tangannya beberapa kali. "Viona Jung, sebenarnya apa yang kau pikirkan," ucap Viona pada dirinya sendiri. Dan suaranya yang sedikit keras langsung menyita perhatian Kevin.


"Kau kenapa? Apa kau kehabisan obat?" Tanya Kevin, dia memicingkan matanya.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!!" Jawab gadis itu sedikit ketus.


Kevin menghela napas berat. Mengabaikan Viona. Dia kembali fokus pada pekerjaannya. Jika tidak diselesaikan dengan segara, bisa-bisa ia pulang larut lagi malam ini. Belum lagi Viona yang terus melayangkan protesnya.


Viona menjatuhkan kepalanya pada meja, menggunakan kedua tangannya yang dilipat sebagai tumpuan kepala, pandangannya tertuju pada Kevin. Beberapa kali tangannya menggoreskan tinta pada lembaran kertas putih. Sesekali dia membuka kaca matanya, lalu memijit keningnya yang terasa pening.


"Jika lelah bukankah kau masih bisa menyelesaikannya di rumah? Jangan terlalu memaksakan diri jika tidak ingin menua sebelum waktunya,"


"Ini hampir selesai. Jika kau lelah, pulanglah lebih dulu. Aku akan memesankan taksi untukmu." Ucap Kevin tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kedengarannya boleh juga, kebetulan sekali aku ingin pulang sekarang. Tapi jika aku pulang lalu bagaimana denganmu?"


Kevin mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Viona. "Aku bukan anak kecil lagi, untuk apa mencemaskan ku?!"


"Cih, siapa juga yang mencemaskan mu?! Kau terlalu percaya diri, Tuan Muda Zhao. Ya sudah, aku pulang duluan, tidak usah memesan taksi untukku. Aku bisa mencarinya sendiri." Viona bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


Bibirnya kembali berkomat-kamit tidak jelas. Ternyata bicara baik-baik dengan manusia kutub seperti Kevin tidak ada gunanya, ujung-ujungnya malah Viona sebal sendiri.


Tapp...


Viona menghentikan langkahnya. Tiba-tiba dia teringat pada Film yang ia tonton semalam. Viona mengurungkan niatnya untuk pulang lebih dulu lalu kembali ke dalam ruangan Kevin.


Pemuda itu memicingkan matanya. "Kenapa tidak jadi pulang? Jangan bilang jika kau takut pulang sendirian?" Tebak Kevin 100% benar.


"Ma..Mana ada, aku adalah gadis pemberani. Dalam kamus ku, tidak ada kata takut. Aku tidak jadi pulang karena kasihan padamu, mengemudi sendirian malam-malam begini tidak enak. Aku akan tidur sebentar, jika kau sudah selesai bangunkan aku." Ujar Viona.


Alasan Viona tidak jadi pulang karena takut. Semalam dia menonton film tentang taksi berhantu. Dalam film itu, diceritakan seorang gadis yang menjadi korban dari taksi hantu tersebut. Dia dibawah ke dunia lain dan tidak bisa kembali lagi.


Setiap mengingat adegan demi adegan dalam film horor tersebut. Viona menjadi parno sendiri. Padahal dia sangat penakut, tapi tetap saja memaksakan diri untuk menonton filmnya.


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2