
Dor!
Dor!
Dor!
Luna langsung merengkuh Daniel ke dalam pelukannya sambil menutup kedua telinga bocah laki-laki itu, setelah mendengar suara desiran peluru yang di lepaskan di luar sana.
Bulu kuduk Luna langsung berdiri. Sepanjang dia hidup. Ini pertama kalinya dia berada di situasi semacam ini, dimana orang-orang saling baku tembak dan menghabisi satu sama lain.
Sesekali Luna menengok keluar dan keadaan di sana benar-benar kacau, banyak mayat-mayat bergelimpangan di tanah, darah dimana-mana, membuat halaman Ken berubah menjadi lautan darah.
Dan yang menyita perhatian atensi Luna adalah Ken. Sisi wajahnya penuh darah, lengan kiri atas bajunya juga robek dan darah segar mengotori lengan kemeja abu-abunya. Ken yang sendiri dikeroyok sedikitnya 5-6 orang, namun dia berhasil menumbangkan mereka semua.
Melihat Ken terluka dan berdarah seperti itu membuat jantung Luna hampir saja berhenti. Banyaknya darah yang keluar dari luka-lukanya apakah dia mampu bertahan? Luna tidak siap kehilangan suaminya lalu statusnya berubah menjadi janda.
"Kakak Cantik, aku sangat takut." Daniel meringkuk dalam pelukan Luna. Tubuhnya gemetar dan berkeringat.
Luna memeluknya semakin erat. Menjadikan kepala coklat bocah itu sebagai tumpuan dagunya. "Tenang, Sayang. Ada Kakak cantik di sini, Kakak Cantik pasti akan menjaga dan melindungi mu." Bisik Luna menenangkan.
Lalu Luna teringat pada kata-kata Ken sebelum dia pergi keluar untuk membereskan kekacauan itu.
"Sebaiknya kau pergi ke kamar bersama Daniel. Keadaan di luar sangat berbahaya, jangan sampai mereka melihatmu dan menyadari jika kau adalah kelemahanku!!"
Luna menutup matanya. Setetes kristal bening mengalir dari pelupuk matanya. Rasa takut tiba-tiba menggerogoti perasaan Luna, dia takut hal buruk sampai terjadi dan menimpa Ken. Dalam hatinya dia terus berdoa, semoga Ken baik-baik saja.
"Tuhan, aku mohon lindungi dia."
🌺
🌺
__ADS_1
Suara desing peluru saling menyahut menghantam keheningan malam mansion mewah kediaman Zhao. Percikan api timbul dari butiran logam yang melesat dari senjata yang saling dilepaskan.
Mayat-mayat bergelimpangan. Membuat tanah yang semula berwarna kecoklatan seketika berubah menjadi lautan darah. Bau amis bercampur dengan aroma mirip besi berkarat memenuhi udara, dan terhirup ke dalam pernapasan.
"Sial!! Dari mana datangnya mereka semua, bukankah tadi hanya beberapa orang saja!!" Umpatan keluar dari bibir salah seorang penyusup yang masuk ke kediaman Ken.
"Sepertinya kita sudah terlalu meremehkan pria bermarga Zhao itu, Ketua. Kita telah salah menerima informasi, ternyata rumah ini dijaga dengan ketat!!"
"Sial, jika begini terus kita tidak bisa bertahan. Jumlah kita semakin berkurang dan banyak dari kita yang mati di sini."
"Apa perlu kita melarikan diri saja?!"
"Tidak, sebelum kita berhasil menghabisi Ken Zhao. Bos besar bisa marah dan membantai kita semua. Setidaknya buat dia sekarat terlebih dulu!!"
"Kami mengerti!!"
"Sudah selesai diskusinya?!" Ucap Ken yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang ketiga pria itu. Dua senjata mengacung bersamaan di balik kepala mereka.
Dengan kaku ketiganya menoleh. "Aaahhh.." dua diantaranya langsung tumbang setelah terkena tebasan senjata milik Ken hingga membuat leher mereka nyaris put*s.
Tubuh pria itu gemetar hebat saat dinginnya mata pedang milik Ken mulai menggores kulit lehernya, hingga keluar cairan merah beraroma besi berkarat. Tidak hanya berkeringat dingin, tapi pria itu juga sampai terkecing di celana.
"Nyawamu ada di tanganku. Katakan sekarang atau berakhir mengenaskan?!"
Lalu pandangan pria itu bergulir ke segala penjuru arah. Seluruh anak buahnya terkapar di tanah dalam keadaan bersimbah darah. Hanya dirinya satu-satunya yang tersisa.
"Sudahlah, Bos. Langsung pengg@l saja kep@lanya. Manusia seperti dia tidak ada gunanya di biarkan tetap hidup." Ucap seorang pria yang berdiri di samping kanan Ken.
Kemudian Ken mendorong pria tersebut padanya."Max, dia aku serahkan padamu. Buat dia buka mulut dan mengaku siapa yang telah menyuruhnya!!" Pinta Ken dan pergi begitu saja.
"Baik, Bos."
__ADS_1
Ken meninggalkan halaman dan kembali ke dalam. Langkahnya sedikit terhuyung karena terlalu banyak darah yang keluar dari luka-lukanya. "Ugghh, Shittt!!!" Sebuah umpatan keluar dari sela-sela bibir Ken. Sebelah tangannya terus mencengkram perutnya.
"Ken!!" Hampir saja Ken tumbang jika saja Luna tidak datang tepat waktu dan menahan tubuhnya. "A..Ayo, aku bantu kau untuk duduk." Ucap Luna terbata-bata.
"Uhhggg.." lagi-lagi rintih kesakitan keluar dari sela-sela bibir Ken.
Luna membawanya menuju kamar lalu membaringkan pria itu di atas tempat tidurnya. Mata Luna membelalak melihat darah segar memenuhi tangan Ken yang dia pakai untuk menekan luka diperutnya.
"Ka..Kau tertembak?" Luna terbata. "Ken, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit. Sebentar, aku akan meminta Paman Wang untuk menyiapkan mobil." Luna hendak beranjak namun segera di cegah oleh Ken.
Pria itu menggeleng. "Aku benci rumah sakit, lagipula Wang Yun sedang tidak ada di rumah. Sore tadi dia berangkat ke luar kota karena cucunya sakit. Lu..Luna, bantu aku mengeluarkan peluru di perutku ini."
"A..Apa? Ta..Tapi aku bukan dokter dan juga tidak tau bagaimana cara melakukannya. Jangan aneh-aneh, sebaiknya kita ke rumah sakit saja ya." Bujuk Luna memohon.
"Kalau begitu biar aku saja yang melakukannya!!" Sahut seseorang dari arah belakang.
Luna menoleh dan mendapati seorang pria berjalan menghampiri mereka berdua."Devan," lirih Ken dengan suara rendah. Kemudian Luna bangkit dari duduknya dan posisinya digantikan oleh pria bernama Devan itu.
Luna tidak tau siapa pria ini, tapi sepertinya ia dan Ken berhubungan dekat. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang paling penting adalah mengeluarkan peluru dari perut Ken, dia semakin banyak mengeluarkan darah dan itu membuat Luna semakin cemas.
"Jangan takut, Nona. Iblis ini tidak akan mati hanya karena luka kecil seperti ini. Dia memiliki banyak nyawa, bahkan dia pernah lolos dari Kematian padahal luka yang dialami lebih parah dari ini. Oya, perkenalkan aku Devan Li. Kakak sepupu Ken dari pihak ibu."
"Kau terlalu banyak bicara, Dev. Cepat keluarkan peluru sialan ini atau kau mati!!"
"Dasar Iblis, bagus aku datang tepat waktu. Jika tidak, kau akan mati dalam satu jam." Cibir Devan menimpali.
Lalu pandangan Devan bergulir pada Luna."Nona, bisakah kau membantuku? Bantu aku ambil pisau kecil, kotak P3K, air hangat dan handuk kecil yang bersih. Dan pastikan pisau itu stenlis juga alkohol." gadis itu tampak mengangguk kaku.
Devan sendiri adalah seorang dokter dengan bakat yang luar biasa. Di usianya yang masih muda, dia berhasil memegang gelar sebagai dokter terbaik di rumah sakit tempatnya bekerja.
Luna terus memperhatikan apa yang tengah Devan lakukan. Dan dalam hatinya, Luna terus berdoa, memohon supaya Tuhan menyelamatkan nyawa Ken. Dan Luna rela menukar nyawanya agar pria itu baik-baik saja.
__ADS_1
-
Bersambung.