
"Ganti pakaianmu dan ikut aku menjemput, Daniel,"
Luna yang semula sedang asik menikmati keindahan danau buatan yang berada di belakang Mansion mewah Ken, sontak mengangkat wajahnya dan mendapati pria itu berdiri tepat di belakangnya.
"Haruskah aku ikut?" Tanya Luna seraya menatap pria tersebut.
Ken mengangguk. "Daniel pasti akan sangat senang saat melihatmu. Selama di luar kota, dia terus saja menanyakan dirimu. Kau tidak keberatan bukan untuk ikut aku ke bandara menjemputnya?"
Luna menggeleng. "Tentu saja tidak, baiklah beri aku waktu untuk bersiap-siap, oke." Ucap Luna seraya bangkit dari duduknya. "Omo!!" Matanya membelalak saat salah satu kakinya tidak sengaja tergelincir dan membuat tubuhnya oleng ke samping. Beruntung Ken menangkapnya dengan sigap.
Sebelah tangan Luna melingkari leher Ken, wanita itu terkekeh. "Maaf, aku terpeleset." Ucapnya masih terkekeh.
"Dasar ceroboh, kau bisa terluka jika tidak berhati-hati." Ken menjitak kepala Luna saking gemasnya.
"Hehehe.. Sudah bawaan lahir, aku ganti baju dulu." Luna beranjak dari hadapan Ken dan pergi begitu saja. Ken menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Sikap Luna menang tidak pernah berubah sedikit pun. Dia tetap ceroboh dan kurang berhati-hati.
-
-
"Papa...!!"
Daniel langsung memeluk Ken saat melihat keberadaan pria itu di bandara. Dua Minggu tidak bertemu membuat Daniel sangat merindukannya. Meskipun terkadang Ken bersikap dingin dan keras, tapi hal itu tidak mengurangi sedikit pun rasa sayang Daniel padanya.
"Bagaimana perjalananmu selama di, Jeju? Apakah menyenangkan?" Tanya Ken sambil melepas pelukan Daniel.
Bocah laki-laki itu mengangguk. "Sangat, dan aku menikmatinya. Apalagi teman-temanku ikut semua." Ujarnya.
Ken tersenyum. Jari-jari besarnya mengusap kepala Daniel penuh sayang. "Baguslah. Oya, apa kau tidak ingin menyapa Bibi Jessline?" Ucap Ken sambil menunjuk wanita yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Daniel memiringkan kepalanya. Senyum di bibirnya mengembang semakin lebar. Daniel meninggalkan sang ayah lalu memeluk Luna yang terlihat merentangkan kedua tangannya.
Melihat interaksi mereka membuat Ken tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Dan pasti Daniel akan sangat bahagia bila mengetahui Luna masih hidup. Tapi sayangnya Ken tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang, apalagi membuka jati diri Luna yang sebenarnya. Karena masih belum waktunya.
"Sudah semakin siang, sebaiknya kita pulang. Kalian berdua pulang duluan saja dengan supir. Aku masih harus menyelesaikan sesuatu."
"Tapi bisakah sebelum makan malam Papa sudah pulang? Aku rindu makan malam dengan Papa,"
Ken mengangguk. "Baiklah, Papa usahakan. Kalian hati-hati. Daniel, jaga bibi Jessline, jangan sampai ada orang jahat yang mengganggunya." Pesan Ken menasehati.
"Oke, Pa. Bibi, ayo." Jessline mengangguk. Setelah memastikan Daniel dan Luna pulang dengan selamat. Ken segera masuk ke dalam mobil hitam metalic yang baru saja tiba untuk menjemput dirinya.
-
-
Mayat-mayat bergelimpangan dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Tubuh mereka tidak dalam keadaan utuh lagi. Dan seorang pria berdiri menatap mereka dengan murka. Aura membunuh dalam dirinya begitu kuat dan kilatan tajam pada mata kanannya akan membuat siapa pun ketakutan saat melihatnya.
"A-ampun, Tuan, ja-jangan membunuh saya. To-tolong ampuni nyawa saya, sa-saya masih ingin hidup. Saya sangat menyesal."
"Baru sekarang kau merasa menyesal setelah apa yang kau lakukan pada istriku. Dan manusia sepertimu tidak layak untuk dibiarkan tetap hidup. Kau ... sudah seharusnya mati!"
DORR...!!
Dan tubuh itu pun ambruk seketika setelah sebuah timah panas menembus kepalanya. Ken membunuhnya tanpa ragu sedikit pun, dan orang itu adalah korban ke 100 Ken dalam kurun waktu dua minggu terakhir. Dan kematian mereka bukanlah akhir dari kemarahannya karena masih banyak tangan-tangan kotor di luar sana yang harus dia singkirkan.
Ken menyiram mayat-mayat itu dengan bensin dan membakarnya di tempat. Tanah lapang yang awalnya adalah sebuah padang ilalang seketika menjadi tempat kremasi mayat. Kemudian Ken berbalik dan pergi begitu saja, sudah cukup untuk hari ini.
-
__ADS_1
-
Ken menghentikan langkahnya ketika iris hitamnya menangkap siluet wanita yang sedang duduk termenung di bangku taman seorang diri. Lalu ia melanjutkan langkahnya dan menghampiri wanita itu yang pastinya adalah Luna. Menyadari kedatangan seseorang, sontak dia mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Ken seraya mendaratkan pantatnya di samping Luna. Wanita itu lantas menggeleng.
"Tidak ada, hanya ingin menikmati udara di sini saja. Kau baru pulang? Mau aku buatkan kopi?" tawar Luna yang kemudian di balas gelengan oleh Ken.
Ken menatap wanita disampingnya itu lekat-lekat. Rasanya dadanya begitu sesak karena tidak bisa menjangkau Luna padahal mereka begitu dekat. Ada dinding tak kasat mata diantara mereka berdua yang ingin sekali segera Ken hancurkan, tapi dia tidak ingin melakukannya dengan terburu-buru karena takut akan melukai wanitanya ini. Dan Ken lebih rela jika dirinya yang terluka asalkan orang yang dia cintai baik-baik saja.
"Tuan Zhao, kau melamun? Apa kau baik-baik saja?" Ken mengangguk meyakinkan.
"Masuklah, di sini cuacanya terlalu terik." Ucap Ken seraya bangkit dari duduknya. Ken hendak beranjak namun cengkraman Luna pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya. "Ada apa?" tanya Ken sambil menatap sepasang mutiara hazel itu.
"Apalah sebelumnya kita sudah pernah bertemu atau mungkin di masa lalu kita saling mengenal? Kenapa semua yang ada pada dirimu begitu familiar untukku. Senyummu, sentuhan mu, pelukanmu, tatapan-mu dan kata-kata tajam-mu. Entah kenapa aku merasa semua itu terasa tidak asing atau mungkin ini hanya perasaanku saja? Dan ketika aku mencoba mengingat masa laluku, aku selalu merasakan sakit yang luar biasa pada kepalaku."
Ken terdiam untuk beberapa saat. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Iris matanya masih mengunci sepasang mutiara hazel Luna, menatapnya begitu dalam dan penuh kelembutan.
Tersirat kerinduan dan rasa bersalah yang begitu besar dari mata itu yang tak bisa Luna pahami maknanya. "Jangan hanya diam saja, Tuan Zhao, katakan sesuatu," pinta Luna memohon.
"Tidak!"
"Ya, sepertinya begitu." Luna tersenyum getir. Mendengar jawaban Ken membuat Luna begitu kecewa sedangkan dia sendiri tidak tau kenapa dirinya bisa merasa sekecewa itu. "Kalau begitu aku masuk duluan." Luna membungkuk dan meninggalkan Ken begitu saja.
Ken mencengkram dadanya yang seperti terhimpit batu besar. Hatinya seperti di rajam ribuan pedang tajam saat mengatakan 'Tidak' dan bukan maksud Ken ingin menyembunyikan sebuah kebenaran dari Luna, hanya saja dia tidak ingin istrinya tersiksa dan kesakitan lagi saat mencoba untuk mengingat masa lalunya.
"Maafkan aku, Luna, tapi semua ini aku lakukan demi kebaikanmu."
-
__ADS_1
-
Bersambung.