
Luna menghentikan langkahnya saat merasa jika seseorang tengah mengikuti dirinya. Wanita itu menengok kebelakang namun tidak mendapati siapa pun.
Wanita itu mengangkat bahunya acuh dan melanjutkan langkahnya. Baru beberapa langkah saja dia berjalan, sebuah van hitam yang di tumpangi tiga orang tiba-tiba berhenti dan menghalangi jalannya.
"OMO?"
Luna memekik kaget saat dua dari tiga orang itu turun dari van hitam tersebut lalu menyeretnya masuk ke dalam dengan paksa hingga tak ada kesempatan untuk Luna melawan mereka. Kaki dan tangannya langsung diikat kuat hingga membuatnya sulit untuk bergerak.
"Yakk!!! Apa-apaan kalian ini? Lepaskan aku bodoh." Amuk Luna pada kedua orang tersebut."Ahhh!!" Gadis itu meringis ngilu karena nyeri pada bahu kirinya yang tidak sengaja terpentok badan mobil. "Yakk!! Apa kalian semua sudah bosan hidup ya?" Teriaknya marah. Iris matanya menatap kedua orang di hadapannya dengan tajam.
"Nona, jangan berteriak seperti itu. Kau membuat kami ketakutan, jika bukan karena terpaksa kami bertiga juga tidak mungkin menculik-mu. Jika kami gagal membawamu pada bos, bukan hanya kami yang terkena masalah, tapi bisa-bisa nyawa kami bertiga melayang di tangan bos." Jelas salah satu dari ke tiga orang tersebut.
Luna memicingkan matanya dan menatap ketiganya secara bergantian. Mereka terlihat seperti pria-pria bodoh yang mudah sekali di peralat oleh orang lain dan tampang mereka sama sekali tidak meyakinkan jika mereka adalah seorang penjahat, mereka terlalu polos untuk di sebut penjahat.
"Justru kalianlah yang sedang dalam masalah besar karena sudah berani menculik-ku." Luna menatap mereka satu persatu seraya menganggukkan kepala.
"Ma-maksudmu apa, Nona?"
Luna menarik nafas panjang dan menghelanya dengan kasar. "Rupanya kalian masih belum tau siapa diriku. Aku memiliki seorang suami yang mirip Iblis, jika dia sedang marah ... bukan hanya barang saja yang bisa melayang tapi nyawa juga."
"Selain kejam dan tidak berhati, dia juga sangat menyeramkan. Dia tidak akan segan-segan menembak kepala kalian dan merajam tubuh kalian hingga menjadi potongan-potongan kecil agar lebih mudah di berikan pada singa-singa peliharaannya, jika dia sampai tau kalian telah menculik-ku."
"No-nona, jangan menakut-nakuti kami." Ucap pria tambun berkepala plontos.
"Memangnya siapa yang menakut-nakuti kalian? Aku mengatakan yang sebenarnya dan aku memiliki buktinya. Ambil ponselku di dalam tasku." Perintah Luna.
Pria itu mengangguk kemudian mengambil ponsel milik Luna lalu memutar sebuah video mengenai pembantaian yang Ken lakukan pada orang-orang yang telah membuat kerusuhan dikediamannya pada malam itu. Luna menyeringai tipis.
"Namanya, Ken Zhao, aku yakin kalian pasti sangat familiar dengan nama itu? Lihat saja aksinya saat menghabisi orang-orang itu, bisa saja nasib kalian akan sama seperti mereka dan bahkan lebih parah karena berani menculik Istrinya."
"Aaahhh." Salah satu dari kedua pria di hadapannya menjerit sambil memegangi kepalanya masing-masing membayangkan jika peluru itu sampai menembus dan menghancurkan kepala mereka. "Kkkyyyaa!!! Nona, suamimu sungguh mengerikan." Orang itu mengembalikan ponsel Luna karena tidak kuat melihat lebih lama lagi mengenai kesadisan Ken.
"A-apa yang harus kami lakukan supaya kami bisa tetap hidup? Nona, posisi kami saat ini benar-benar sulit. Kami tidak ingin mati konyol di tangan bos ataupun di tangan suamimu itu."
"Huaaa, aku masih perjaka dan belum menikah. Lalu jika aku mati sekarang bagaimana aku bisa merasakan lubang wanita. Aku juga ingin menikah dan hidup bahagia, huaaa." Baru kali ini Luna melihat seorang penjahat menangis karena ketakutan. Wanita itu terkekeh dalam hati.
"Nona, jangan diam saja, katakan kami harus bagaimana." Seru sang sopir setelah cukup lama bungkam.
Luna menyeringai misterius "Ikuti permainanku, maka kalian bertiga akan aman."
\=\=\=\=oOo\=\=\=\=
Drett... Drettt... Drett...
Perhatian semua orang tertuju pada Aiden, bukan karena dia melakukan sebuah kesalahan melainkan karena ponselnya yang terus berdering di tengah sebuah pertemuan penting. Aiden membungkuk meminta maaf pada mereka karena hal tersebut.
"Angkat saja." Ken selaku pimpinan dalam pertemuan itu meminta Aiden untuk menerima panggilan tersebut. Tak ingin mengganggu jalannya rapat, Aiden berjalan ke luar ruangan dan menerima panggilan itu di sana
"Luba, apa-apaan kau ini? Kenapa kau menelfon ku di saat-"
"Kakak, selamatkan aku. Seseorang menculik dan menyekap-ku."
Sontak kedua mata Aiden membelalak "Apa di culik?" Dan memekik saking kagetnya."Kau serius? Di mana kau sekarang? Dan bagaimana kau bisa sampai di culik?" Nada bicaranya terdengar jelas jika dia sedang panik
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, pecat selamatkan aku sebelum ...."
'DOOORRRR...!'
__ADS_1
"...Aaahh ..l Nyawaku melayang"
"Tenang dan jangan panik. Aku dan Ken akan segera menyelamatkanmu. Di mana mereka menyekap-mu? Kami akan segera datang ke sana."
"Bangunan tua belakang taman kota,"
"Oke, bertahan dan jangan panik."
Kemudian Aiden memutuskan sambungan telfonnya. Ia kembali ke dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa, Aiden menghampiri Ken dan memberi tau apa yang saat ini tengah menimpa Luna. "Apa?" Mata kanan Ken membelalak. "Kau serius?" Aiden mengangguk.
"Baiklah, cukup untuk hari ini. Kita akan membahas kembali mengenai Proyek itu lain waktu." Ken bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
"Bos, apa yang terjadi?" Felix menghampiri Ken dan Aiden. Aiden pun segera menceritakan detailnya pada Ken dan Felix mengenai apa yang menimpa Luna.
"Jangan buang-buang waktu lagi, sebaiknya kita segera bergegas. Kita gunakan mobilku saja." Ken dan Felix mengangguk setuju.
Mobil hitam milik Aiden melaju kencang di tengah jalanan kota yang lumayan legang. Kemudian di ambil alih oleh Ken karena dia tau bila Aiden dan Felix yang mengemudikan mobil ini makan akan banyak memakan waktu.
Ken tidak ingin hal buruk sampai menimpa Luna dan dia tidak akan mengampuni siapa pun yang berani membahayakan nyawa istrinya. Ia pun tidak menghiraukan berbagai sumpah serapah yang di tunjukkan padanya. Tujuannya hanyalah tiba di lokasi dengan segera agar ia bisa lebih cepat menyelamatkan wanita itu.
Ckitttt!!!
Ken membanting setirnya ke kanan hingga terdengar gesekan ban dengan aspal yang cukup keras. Tubuh Aiden dan Felix semakin menegang karena kegilaan Ken.
Membiarkan Ken mengemudikan mobilnya sepertinya bukanlah pilihan yang tepat. "Dasar, Ken Zhao gila, tidak waras, jika kau ingin mati jangan ajak-ajak kami untuk mati berjamaah bersamamu. Huaaaa... Mama.."
Aiden benar-benar histeris, ia ketakutan setengah mati karena cara Ken mengemudikan mobil yang sangat ugal-ugalan. "Ck, diamlah. Kita tidak memiliki banyak waktu. Apa kau mau bertanggungjawab jika hal buruk sampai menimpa Istriku." Ken melirik tajam pada Aiden yang terlihat menelan ludah.
Sementara Felix tak henti-hentinya berkomat-kamit berdoa pada Tuhan supaya membiarkannya tetap hidup. "Ya Tuhan, aku adalah pria manis yang baik hati. Jika kau ingin mengambil nyawa kami sebaiknya jangan nyawaku tapi nyawa mereka Aiden Hyung saja. Tubuhku rasanya pahit dan nyawanya juga pasti tidak enak. Lindungi aku ya Tuhan." Ken mendengus geli, ia tidak tau kenapa mereka bisa sekonyol itu.
Sementara itu....
Di dalam sebuah ruangan yang tidak bisa di katakan layak. Tubuh Luna terikat pada sebuah kursi tua dengan beberapa pria yang menjaganya, tiga di antaranya adalah tiga pria yang tadi menculiknya. Salah satu dari ketiga pria itu menghampiri Luna dan berbisik padanya.
"Nona, di mana suamimu itu? Kenapa dia belum datang juga?" Bisiknya.
"Ck, tenanglah. Mereka pasti dalam perjalanan, jadi diamlah dan ikuti saja permainanku," bisik Luna, laki-laki itu mengangguk "Oke nonna."
"DOORRR..!!"
Suara tembakkan dan kegaduhan yang terjadi di luar ruangan membuat senyum di bibir Luna terkembang lebar. Dengan lantang dan senyum terkembang lebar, wanita itu berseru.
"HAHAHHAHA!! LIHATLAH, DIA SUDAH DATANG, SEBENTAR LAGI KALIAN SEMUA AKAN MAMPUS." Luna memberi kode pada pria botak di sampingnya agar menampar dirinya.
Pria itu menggeleng. "Lakukan sekarang." Geramnya dengan nada rendah.
"Ta-tapi nona?"
"Apa kau ingin yang lain sampai mencurigai-mu?" Laki-laki itu menggeleng. Laki-laki itu menutup matanya dan menghela nafas panjang
"DI-DIAMLAH, KAU TERLALU BERISIK." serunya dan menampar pipi Luna serta pahanya sendiri supaya suara kerasnya meyakinkan yang lainnya. Laki-laki itu tentu tidak bersungguh-sungguh ketika menampar perempuan ini.
BRAKKK!!!
Dobrakan keras pada pintu mengalihkan perhatian semua orang di dalam ruangan itu, semua siaga melihat kedatangan seseorang. Ken berdiri di ambang pintu dengan dua pistol di tangannya. "KEN." Seru Luna dengan lantang.
Pandangan pria itu bergulir dan mendapati tubuh Luna terikat pada sebuah kursi tua. Terlihat tiga pria berusaha melepaskan ikatan pada tubuh Luna dan segera membawanya pergi dari sana. "Noona, ini kesempatan untuk kita melarikan diri."
__ADS_1
"Jangan takut, kami pasti akan melindungi mu."
Ken segera menghalangi mereka dan menarik Luna untuk bersembunyi di belakang punggungnya. Salah satu senjatanya ia acungkan pada ketiga pria di hadapannya secara bergantian.
"Ken. Turunkan senjata mu, kau membuat mereka ketakutan. Aku bisa menghubungi, Kak Ai berkat bantuan dari mereka." Ken memicingkan matanya
"Kau yakin?" Luna mengangguk.
"Be-benar, Tuan. Jangan bunuh kami, kami memang yang sudah menculik istrimu tapi itu bukan keinginan kami. Kami di ancam oleh bos, jika tidak mau melakukannya maka benda kami akan di potong. Huaaa, jangan membunuh kami, kami mohon." Mohon mereka histeris.
"Bawa dia keluar dari sini. Aku akan membereskan mereka." Ketiganya langsung mengangkat wajahnya dan tersenyum lebar
"Baik Tuan."
"Sial, jadi mereka bertiga berkhianat? Kejar mereka dan jangan sampai lolos."
"Tidak semudah itu." Sahut seseorang dari arah pintu.
Tao datang bersama anak buahnya. Sementara Aiden tetap bertahan di dalam mobil. Dia yang dasarnya memang tidak pandai berkelahi memilih untuk tidak keluar dan memantau keadaan dari dalam mobil.
Ken melihat sebuah van hitam baru saja meninggalkan area gedung. Pria itu menyipitkan matanya dan membidikkan pistolnya pada ban mobil belakang van itu. Mobil itu pun langsung hilang kendali dan menabrak pohon.
Dua orang keluar dari van itu dan salah satunya adalah pria yang dia yakini sebagai otak dibalik penculikan Luna. Melihat keberadaan Ken membuat mata pria itu membelalak.
Tak ingin mati konyol di tangan pria itu. Ia segera melarikan diri dengan taksi, sementara langsung di hadang oleh anak buahnya"Menyingkir lah dari jalanku." Geram Ken pada dua pria di hadapannya
"Kami tidak akan membiarkanmu mengejar tuan."
Ken menyeringai tajam. "Jadi kalian benar-benar sudah bosan hidup, ehh? Baiklah aku kabulkan keinginan kalian." Ken menatap sinis dua pria di hadapannya.
Tanpa ampun Ken menembaki mereka hingga kedua orang itu meregang nyawa di tempat. Kedua tangannya terkepal kuat "Jadi kau benar-benar menantang ku, kali ini kau beruntung karena bisa lolos dariku. Tapi lihat saja, selanjutnya tidak akan ku biarkan kau lolos lagi."
"Di mana bajingan itu? Sini, biar aku yang menghajarnya."
Ken mendecih dan menatap Aiden sinis. Tidak pernah berubah, selalu datang setiap kali musuh telah pergi. "Kau terlambat, bajingan itu berhasil melarikan diri." Jawab Ken dan pergi begitu saja.
"APA? MELARIKAN DIRI? DASAR PENGECUT, AWAS SAJA DIA NANTI. KALAU KETEMU AKU UBAH JADI DAGING GILING." teriak Aiden berapi-api.
Mengabaikan Aiden, Ken menghampiri Luna yang ia tinggalkan di mobil dengan tiga pria yang telah membantunya.
"Luna, kau tidak apa-apa? Apa mereka melukaimu?" Luna menggeleng dan menyakinkan pada Ken jika dirinya baik-baik saja.
Lalu pandangan Ken bergulir pada tiga pria yang terlihat menundukkan wajahnya. Mereka tidak berani membalas tatapan mematikan Ken."Mulai hari ini bekerjalah untukku. Kalian tidak perlu cemas, mereka tidak akan mengejar kalian. Felix, Tao, mulai hari ini mereka bertiga sebagai anak buah mu."
"Dengan senang hati, Bos!" Jawab keduanya dengan kompak.
"Ayo pulang." Luna mengangguk.
Keduanya segera masuk ke dalam mobil Aiden. Kali ini Aiden tidak mengijinkan Ken untuk mengemudi lagi. Ia tidak ingin mati konyol karena ulah pria bermarga Zhao tersebut.
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1