PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Langit Senja


__ADS_3

Goresan senja pada kanvas dunia. Menandakan akan berakhirnya hari ini. Langit biru telah berganti warna. Hamparan luas di atas sana perlahan menguning, menandakan jika senja telah tiba.


Di sebuah bangku taman yang berada di kawasan Sungai Han. Terlihat seorang dara jelita tengah duduk sendiri menikmati pergantian hari, sepasang biner Hazel nya menatap sepasang angsa yang sedang berenang di tepian sungai. Terlihat manis dan romantis.


Semilir angin senja yang berhembus membuat tubuhnya sedikit menggigil, dia merutuki kebodohannya karena hanya memakai dress dengan bahan yang lumayan tipis.


Ting...


Perhatian sang dara lalu teralihkan oleh suara denting pada ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dan itu dari orang yang seharian ini membuat buruk moodnya. Alih-alih membalas pesan tersebut, gadis itu malah mengabaikannya.


Ia kembali memfokuskan pandangannya pada sepasang angsa yang sedari tadi menarik seluruh atensinya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Mereka terlihat begitu romantis, membuat iri saja, batin gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Luna.


"Bagus sekali, Luna William. Berani sekali kau tidak mengangkat telfonku, dan membalas pesanku." Seru seseorang dari arah belakang.


Luna terlonjak kaget, sontak dia menoleh dan sebuah benda lunak dan basah langsung menyapu permukaan bibirnya, disusul *****@n-*****@n kecil yang menuntut. Kepalanya terdorong ke depan, sedangkan dadanya menempel sempurna pada dada pria yang menciumnya ini.


"Ken Zhao, apa kau sudah gila, kenapa kau menciumiku di tempat umum seperti ini?!"


"Itu hanya hukuman kecil untukmu, Istri kecilku. Siapa suruh kau membuatku berkeliling dan nyaris gila karena tidak berhasil menemukanmu!!"


"Bagus, kenapa kau tidak gila saja sekalian?! Dengan begitu kau tidak bisa lagi merecoki hidupku!!" Tegas Luna.


"Kenapa semakin hari bibirmu semakin berbisa saja, Sayang? Tapi aku justru menyukai caramu bicara ini!! Sudah hampir petang, sebaiknya kita pulang."


Luna menahan lengan Ken, membuat langkah pria itu harus kembali terhenti. "Aku ingin melihat Sunset, bisakah kau membawaku ke tempat dimana aku bisa melihat matahari terbenam?" Luna menatap Ken penuh harap. Ken menatap gadis didepannya lalu mengangguk.


"Tentu."


🌹


🌹


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka sampai. Ken mematikan mesin mobilnya lantas mengajak Luna untuk turun. Keduanya berjalan beriringan di atas sebuah dermaga kayu yang panjang. Dan begitu sampai di ujung dermaga, langkah keduanya terhenti.


Menatap lurus senja yang menyelimuti cakrawala. Matahari nyaris tenggelam di ufuk barat. Jingga semakin nampak jelas, membuat suasana semakin teduh. Pantulannya juga begitu indah di permukaan air danau.

__ADS_1


"Bagaimana, kau menyukai tempat ini?" Ucap Ken pada gadis yang berdiri disampingnya. Suara berat milik Ken berpadu dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Luna merasa pipinya dingin.


"Ya?" ia menoleh. Mendapati sepasang manik mata hitam tengah menatapnya. Fokus. Seolah di dunia ini hanya ada dirinya saja.


"Aku berharap kebersamaan seperti ini berlangsung selamanya."


Luna sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut setelah mendengar apa yang Ken katakan, karena ini bukan pertama kalinya pria itu mengatakan hal yang sama. Hanya bibirnya yang semula terkatup menjadi sedikit terbuka.


Luna masih menatap Ken, begitu pula sebaliknya. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka setelah ucapan pria itu. Angin pun seolah meredam suaranya. Dan kini yang didengar oleh Ken hanyalah degup jantungnya sendiri.


Setelah beberapa detik menatap mata pria di sampingnya, Luna kembali pada langit senja. Akhirnya ia menghela nafas. Karena setelah Ken melontarkan kalimat tersebut, Luna tidak sadar kalau ia menahan nafasnya selama beberapa detik.


"Kita jalani saja hubungan ini seperti air mengalir, dan untuk saat ini aku masih belum bisa memberikan kepastian apapun padamu." Ujar Luna dengan suara rendah.


"Aku mengerti." Ken menjawab singkat.


Kemudian Luna memutar badannya, hingga ia berhadapan dengan Ken. Ia maju satu langkah dan semakin dekat pada pria dengan balutan kemeja hitam itu. Disentuhnya pipi kiri Ke perlahan, menatap dalam-dalam padanya.


"Kenapa kau begitu ingin bersamaku? Dan apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?"


"Satu saja, berikan aku sebuah alasan." Bisik Luna.


Ken memejamkan matanya perlahan, lantas ia kembali membukanya. "Karena kau seperti langit senja." Jawabnya.


Luna kemudian terdiam. "Apa yang membuatmu menyamakanku dengan langit senja?" Ia menatap Ken penasaran.


"Senja membawa bumi menuju malam. Malam itu tenang dan sunyi. Malam adalah saat dimana kau melepaskan semua lelahmu karena siang. Dan pada malam hari, kau selalu hadir di dalam mimpiku. Sejak hari itu, aku selalu tidak bisa mengenyahkan mu dari benak dan mimpiku." Ujar Ken.


Jawaban Ken membuat Luna menyunggingkan senyum manisnya. Sosok dingin dan kaku ini ternyata bisa membuat kalimat romantis seperti tadi. "Aku tidak bisa memberikan kepastian apapun padamu untuk saat ini, tapi aku akan berusaha untuk mencintaimu."


"Dan aku akan membantumu untuk mencintaiku."


Selanjutnya... Bibir Luna sudah berada dalam pagutan bibir Ken. Sebelah tangan Ken menelusup ke dalam helaian panjang Luna yang terurai. Menekan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya. Refleks, Luna mengangkat kedua tangannya dan memeluk Ken.


Mereka berciuman tepat di bawah langit senja. Dengan ditemani angin musim semi yang sejuk. Ken mengakhiri ciumannya beberapa saat kemudian, kemudian dia membawa Luna ke dalam pelukannya. Dan mendekap tubuh itu dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


"Percayakan hatimu padaku, Luna William. Aku pasti akan selalu menjaganya." Bisik Ken. Luna tidak memberikan jawaban apa-apa, dia diam dan meresapi pelukan hangat Ken pada tubuhnya.


Ken melepaskan pelukannya. "Sudah hampir petang, sebaiknya kita pulang sekarang." ucapkan yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna.


Keduanya berjalan beriringan meninggalkan dermaga. Menuju tempat dimana mobil Ken diparkirkan.


🌹


🌹


Daniel sedang bermain lembar bola kasti bersama seorang pelayan ketika Ken dan Luna tiba di rumah. Tapi sepertinya bocah laki-laki itu masih belum menyadari kedatangan mereka berdua. Daniel meminta pelayan itu melemparkan bola itu padanya dan...


Buaakkk...


"DANIEL ZHAO!! APA KAU INGIN MEMBUAT MATA PAPA BUTA?!"


Kedua mata Daniel lantas membelalak. Dia terkejut setengah mati setelah mendengar teriakan keras sang ayah. Sontak ia menoleh dan mendapati Ken tengah meringis kesakitan sambil memegangi mata kanannya yang tidak sengaja menjadi tempat pendarahan bola yang ia pukul tadi.


"Papa!!" Daniel pun segera membuang tongkat pemukul bola ditangannya lalu berlari menghampiri Ken. "Papa tidak apa-apa kan?! Maaf, Daniel tidak sengaja." Ucap bocah laki-laki itu penuh sesal.


"Tidak apa-apa bagaimana? Mata Papa sakit dan rasanya nyaris saja keluar. Bukannya pelukan, kau malah menyambut Papa dengan lemparan bola!!"


"Huhuhu, Papa maaf. Daniel tidak sengaja, sungguh." Bocah laki-laki itu menangis ketakutan.


Ken mendesah berat. "Sudahlah, sebaiknya kau masuk. Ini sudah hampir petang. Luna, bantu aku mengompres memarnya." Dan Ken pun pergi begitu saja. Luna kemudian menghampiri Daniel dan meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja.


"Tidak apa-apa. Tidak perlu takut, ada Kakak cantik di sini. Kita masuk, lalu obati mata Papa Ken."


Daniel mengangguk. "Baik,"


"Anak pintar."


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2