
Luna terus mondar-mandi di depan kamar Ken. Gadis itu memutuskan untuk keluar karena tidak tahan melihat Ken yang begitu kesakitan ketika Devan mengeluarkan peluru dari perut kirinya.
Sudah lebih dari setengah jam, tapi belum ada kepastian dari dalam sana. Apakah Ken akan baik-baik saja atau malah sebaliknya. Gadis itu benar-benar cemas dan ketakutan setengah mati. Luna benar-benar tidak siap jika harus menjanda di usianya yang masih sangat muda.
Daniel menghampiri Luna dan menanyakan bagaimana keadaan Papanya. Daniel phobia dengan darah, itulah kenapa dia tadi tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Kakak Cantik, bagaimana dengan Papa Daniel? Apa Papa akan baik-baik saja?" Daniel menatap Luna dengan mata berkaca-kaca.
Kemudian Luna berlutut dan mensejajarkan tingginya dengan bocah laki-laki itu. "Daniel banyak-banyak berdoa ya, supaya Papa Ken baik-baik saja. Setelah Paman Devan keluar dari kamar Papa, kita masuk sama-sama." Daniel menggeleng. "Kenapa?"
"Daniel, takut darah. Besok saja Daniel menemui Papa. Kakak Cantik, bisakah sekarang menemani Daniel bobok? Daniel mengantuk." Ucap bocah laki-laki itu sambil menutup matanya.
Luna tersenyum lalu mengangguk. "Tentu, Sayang." Jawabnya lalu membawa Daniel kembali ke kamarnya.
🌺
🌺
Ken menutup matanya dan mengeram saat Devan berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang di perut sebelah kirinya. Keringat mengucur dari pelipisnya, jari-jarinya mencengkram sprei yang ada di bawahnya.
"Tahan, Ken. Ini hampir berhasil."
"Sial, dari tadi kau mengatakan kalimat yang sama. Selesaikan dengan segera, Devan Li." Geram Ken sambil menahan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya.
"Dasar Iblis, bisa diam tidak. Aku juga sedang berusaha. Kau pikir ini adalah hal yang mudah, jika tidak hati-hati bisa membuat lukanya semakin melebar. Apalagi pelurunya hampir mencapai titik vitalmu." Jelas Devan panjang lebar.
Dan setelah hampir satu jam, akhirnya Devan berhasil mengeluarkan peluru itu dan dia juga sudah menjahit lukanya. Luka-lukanya yang lain juga sudah di obati dan dibalut perban.
Perban putih tampak membebat kening Ken dengan bercak merah tepat di atas alis kanannya. Perban lain juga membebat lengan kiri atasnya yang terkena sabetan benda tajam. Tak lupa Devan juga memberikan infus dan darah, insiden itu membuat Devan kehilangan banyak darah.
"Ambilkan kemejaku, jangan yang berlengan." Pinta Ken yang kemudian di balas anggukan mengerti oleh Devan.
__ADS_1
Devan kembali dengan sebuah kemeja hitam tanpa lengan yang kemudian dia berikan pada Ken. "Perlu aku bantu?" Tawar Devan. Ken menggeleng. Dia menolak ketika Devan hendak membantunya.
"Kapan kau kembali, kenapa tidak memberitahuku?" Ken menatap Devan penasaran.
"Siang tadi, aku rasa bukan aku yang tidak memberitahumu. Tapi kaulah yang sulit aku hubungi, aku sudah mencoba menghubungimu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Oya, Ken. Ngomong-ngomong siapa gadis cantik itu tadi? Apa dia kekasihmu?"
Ken memicingkan matanya. "Maksudmu, Luna?" Devan mengangguk. "Dia bukan kekasihku, tapi istriku. Aku menikahinya sekitar dua Minggu yang lalu." Jelas Ken.
Devan mengangguk mengerti. "Oh, jadi dia istrimu." Lalu matanya membelalak. "Tunggu!! Apa kau bilang?! Istrimu?! Dia istrimu? Kau sudah menikah? Tapi kapan, dimana? Kenapa kau tidak memberitahuku?! Astaga, kenapa nasibmu lebih beruntung dariku. Kau saja sudah menikah dua kali, sedangkan aku sekalipun belum pernah. Jangankan menikah, kekasih saja aku tidak punya." Devan mendesah berat.
"Jones!!!"
"Yakk!!" Devan memekik kencang. Berbicara dengan Ken terkadang memang membutuhkan kesabaran. "Baiklah, sebaiknya kau istirahat saja. Aku akan meminta istrimu yang cantik itu untuk menemanimu di sini."
"Itu lebih baik, dari pada harus kau temani."
"Dasar Iblis tak berhati!!"
-
-
Ken menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis."Aku baik-baik saja. Tidak perlu mencemaskan ku." Ucapnya lirih.
"Cih, siapa juga yang mencemaskan mu. Yang aku cemaskan jika kau mati maka aku akan menjanda." Jawab Luna dengan suara parau nya.
Alih-alih tersinggung. Ken malah tersenyum. Karen itu artinya Luna takut kehilangan dirinya. Ken mengulurkan sebelah tangannya lalu meminta Luna untuk mendekat. "Sayang, kemarilah." Pinta Ken lalu menyandarkan Luna di atas dada bidangnya.
Ken mencium kepala coklat Luna lalu menggunakan kepala gadis itu sebagai tumpuan dagunya. Ken merasakan kemeja bagian depannya basah, mungkinkah Luna menangis?
"Kau bodoh, Ken. Bagaimana bisa kau membiarkan dirimu berada dalam bahaya seperti itu. Bagaimana jika kau sampai terbunuh, apa kau ingin membuat Daniel menjadi yatim piatu untuk kedua kalinya?! Kau.. Hiks, membuatku ketakutan."
__ADS_1
"Maafkan aku, Luna. Lain kali aku akan lebih menjaga diri." Bisik Ken.
Kemudian Ken melepaskan pelukannya. Jari-jari besarnya menghapus sisa air mata di pipi Luna. "Kepalaku sangat pusing, bisakah kau tetap di sini dan tidur bersamaku malam ini?" Ken menatap Luna penuh harap.
Luna menatap Ken yang juga menatap padanya. Melihat tatapan memohon Ken, ditambah dengan kondisinya saat ini membuat Luna tidak tega untuk meninggalkannya. Akhirnya dia mengangguk, menyetujui permintaan pria itu.
"Baiklah, aku akan tetap di sini bersamamu." Ucapnya. Ken tersenyum lebar. Dia tau jika Luna tidak mungkin bisa menolak permintaannya.
🌺
🌺
"Aaarrrkkhhh....!!! Brengsek, kenapa iblis itu selalu saja bisa lolos dari maut!!"
Seorang pria mengamuk di dalam ruangannya dan menghancurkan apa saja yang ada di sana. Usahanya untuk menyingkirkan Ken gagal lagi, dan ini bukan pertama kalinya dia mengalami kegagalan seperti ini.
Mereka adalah musuh bebuyutannya dalam dunia bisnis. Ken selalu menjadi sandungan terbesar untuk dia bisa menempati posisi tertinggi sebagai pengusaha muda terbaik.
Ken selalu berhasil mendapatkan kolega yang mau menanam saham dalam jumlah besar di perusahaannya, dan beberapa kali dia berhasil memenangkan tender besar, itulah yang membuat dia menjadi marah dan ingin Ken menghilang dari dunia ini.
"Bos, bagaimana jika kau meminta bantuan pada Yakuza? Kami rasa mereka mau membantumu, apalagi jika kau menawarkan uang dalam jumlah besar." Usul salah seorang anak buah pria itu.
"Kau bodoh atau apa? Sejak kapan aku menjadi budak para iblis itu?! Mafia di negeri ini masih banyak dan bisa diandalkan. Segera hubungi Rocky, minta bantuan padanya dan suruh dia bergerak secepatnya. Selidiki tentang Ken Zhao dan temukan apa kelemahannya."
"Baik, Bos."
Gyutt...
Pria itu mengepalkan tangannya. Dia tidak akan kalah lagi apalagi melepaskan Ken begitu saja. Dia bersumpah akan menghancurkan Ken bagaimana pun caranya. Dan dia juga akan menghalalkan segala cara untuk bisa mencapai tujuannya.
-
__ADS_1
-
Bersambung.