PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Mantan Kekasihku!!


__ADS_3

BRAK...


Kedua mata Ken langsung terbuka lebar setelah mendengar suara keras mirip sesuatu yang jatuh. Pria itu bangkit dari berbaringnya dan mendapati ponselnya tergeletak di lantai. Lalu pandangan Ken bergulir pada Luna yang diam terpaku sambil mencengkram di bagian dadanya.


Pria yang hanya memakai singlet putih dan celana panjang hitam itu kemudian berdiri dan menghampiri Luna. "Luna, ada apa?" Tanya Ken penasaran.


Dengan kaku Luna menoleh dan menatap pria yang juga menatap padanya. "Ken, aku ingin bertanya sesuatu padamu dan kau harus menjawabnya dengan jujur." Ucap Luna tanpa mengakhiri kontak di antara mereka.


"Tanyakan," pinta Ken.


Luna menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya terkepal kuat. "Ken, apa kau memiliki seorang keponakan bernama Aldo Zhao?" Tanya Luna memastikan. Dia berharap mendapatkan sebuah jawaban memuaskan dari Ken.


"Bagaimana kau bisa tau?!" Kini giliran Ken yang bertanya. "Apa kau dan Aldo saling mengenal?" Tanya pria itu lagi.


Lagi-lagi Luna menggigit bibirnya. "Aku sudah curiga sejak awal, kenapa marga kalian bisa sama. Aku pikir hanya sebuah kebetulan saja marga kalian sama. Tapi ternyata kau dan dia benar-benar bersaudara."


"Ken, sebenarnya Aldo adalah mantan kekasihku. Orang yang meninggalkanku saat aku sedang terpuruk." Ucap Luna, dan kini giliran Ken yang terkejut.


"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku dari awal jika mantan kekasihmu bernama, Aldo Zhao?!" Ken menuntut sebuah penjelasan dari Luna.


"Karena ku pikir itu tidak perlu. Dan lagipula aku tidak suka membahas masa lalu, apalagi masa lalu yang membuatku semakin terluka dan terpuruk." Jawab Luna.


"Lalu, jika kau bertemu kembali dengannya, apakah perasaanmu akan goyah dan berusaha untuk bersamanya lagi kemudian meninggalkanku?" Ken mulai serius, sorot matanya berubah dingin dan tajam, nada bicaranya menjadi begitu datar.


"Kenapa kau berpikir begitu? Dia memang pernah menjadi orang terpenting dalam hidupku, tapi itu dulu. Sebelum dia pergi meninggalkanku dan membuatku trauma pada cinta. Ken, apa kau mulai meragukan apa yang aku rasakan padamu?" Luna menatap Ken dengan mata berkaca-kaca.


Tanpa mengatakan apa-apa. Ken menarik tengkuk Luna lalu mencium bibirnya dan mel*matnya kasar.


Meskipun sedikit terancam dengan apa yang Ken lakukan, tapi Luna tidak berusaha menolak apalagi melepaskan ciuman itu. Luna membiarkan Ken terus menciumnya, dia tau jika prianya ini sedang kesal dan cemburu, mungkin saja.

__ADS_1


Ken baru mengakhiri ciumannya ketika Luna mulai kehabisan napas. "Aku tidak akan membiarkanmu kembali padanya, jika kau berani mendekatinya lagi. Aku tidak akan ragu untuk menghabisimu!! Karena lebih baik kau mati dari pada harus dimiliki oleh orang lain!!" Ujar Ken dengan mata berkilat tajam.


Mendengar kalimat Ken dan sorot matanya membuat Luna ngeri sendiri. Selama mengenal dan hidup bersama Ken. Ini pertama kalinya Ken berkata tajam dan memberinya ancaman.


Luna tersenyum. Dia mendekati Ken lalu memeluk leher pria itu. Bukan Luna namanya jika tidak tau bagaimana caranya meluluhkan Ken yang sedang marah. "Itu sangat mengerikan, Ken. Bagaimana bisa kau mengancam istrimu sendiri, jika kau membunuhku, itu artinya kau siap menjadi duda?" Luna mencoba membujuk pria ini.


"Lebih baik aku menjadi duda, dari pada harus melihatmu bahagia bersama pria lain!!"


Luna menyandarkan wajahnya pada dada bidang Ken yang tersembunyi di balik singlet putihnya. "Tidak perlu cemas dan khawatir. Karena aku hanya milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu. Jika aku tidak mencintaimu, bagaimana mungkin aku menyerahkan segalanya padamu." Ujar Luna.


Ken membalas pelukan Luna. "Aku tidak bermaksud untuk meragukanmu, hanya saja aku benar-benar takut kehilanganmu. Dan apakah kau sudah siap bertemu dengannya sebagai Bibinya?" Ken melonggarkan pelukannya dan menatap Luna.


"Tentu saja, aku akan membuktikan padamu jika perasaanku tidak akan pernah goyah setelah bertemu kembali dengannya."


"Aku harap begitu."


"Baiklah, kau mandilah dulu. Aku membantu Bibi Ahn menyiapkan sarapan dulu. Hari ini kau libur kan, pastikan tribal itu tidak kau sembunyikan dariku!!" Luna mengerlingkan matanya dan meninggalkan Ken begitu saja.


-


-


"Daniel, hentikan!! Kau pikir aku ini tempura, berhenti melemparkan telur dan tepung padaku!!"


"Siapa suruh Bibi Antagonis datang lagi kemari, sudah jelas kedatangan Bibi tidak diharapkan sama sekali. Dan lagi pula, Papa Daniel juga tidak mau sama Bibi Antagonis. Tapi kenapa Bibi masih bersikeras, dasar pelakor!!"


"Yaak!! Bocah!!"


Kedatangan Luna di dapur di suguhi sebuah pemandangan yang begitu menggelikan. Dimana Ilona yang sekujur tubuhnya di tepung dan telur. Dia tidak tau apa yang sudah Daniel lakukan pada wanita itu.

__ADS_1


Luna menghampiri mereka berdua tanpa suara. Wanita itu menahan tawanya saat melihat bagaimana menggelikannya Ilona saat ini. Rasanya Luna ingin sekali memasukkannya ke dalam minyak panas, Ilona benar-benar mirip tempura raksasa.


"Daniel, Sayang."


"Mama!!" Daniel menubruk Ilona dan berlari menghampiri Luna. Mata wanita itu memicing mendengar Daniel memanggilnya Mama."Kakak cantik tidak keberatan bukan, jika aku memanggilmu dengan sebutan, Mama?!" Tanya Daniel seolah tau apa yang Luna pikirkan.


Luna tersenyum lalu menggeleng. "Tentu saja tidak, Sayang. Kakak cantik malah senang jika kau memanggilku, Mama. Itu artinya Daniel cuma ingin kakak cantik yang menjadi Mamamu." Jawab Luna sambil menarik gemas ujung hidung mancung Daniel.


"Betul Betul Betul... Hehehe."


"Dasar kau ini."


"Bahkan anak kecil saja tau, siapa yang lebih pantas menjadi Nyonya Muda di rumah ini. Daniel, Nenek Buyut sangat menyukai pilihanmu. Kau memang yang terbaik!!" Seru Nenek Zhao yang sekarang sudah ada diantara Luna dan Daniel.


Ilona berteriak marah dan menghancurkan apa saja yang ada di sekelilingnya. "Arrrkkhh, sialan kalian bertiga. Aku adalah Nyonya Muda di rumah ini, kenapa begitu cepat posisi itu diberikan pada orang lain. Aku tidak terima!! Luna William, kau.. harus mati!!!" Teriak Ilona seperti orang kesurupan.


Ilona menyambar pisau yang ada di atas meja lalu membawanya pada Luna. Daniel yang melihat hal itu menjadi sangat ketakutan. Bagaimana tidak, karena Ilona membawa senjata tajam.


"Ilona, apa yang kau lakukan?! Buang belati itu, kau bisa membahayakan orang lain!!" Teriak Nenek Zhao panik.


"Aku tidak peduli. Aku hanya ini Jal*ng itu mati!! Jika aku tidak bisa menjadi Nyonya Muda di rumah ini, maka dia juga tidak boleh. Kali ini, aku tidak akan membiarkanku bernapas lagi di di rumah ini. Kau.. harus MATI!!!" Ilona mengangkat tinggi-tinggi belati di tangannya dan...


Jresss...


"KEN!!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2