PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Aku Tidak Mau Pergi!!


__ADS_3

"Luna, kau pulanglah lebih dulu bersama Devan Ge dan Daniel." Ucap Ken sambil memegang bahu Luna.


"Aku tidak bisa ikut pulang bersama kalian, masih banyak hal yang harus diselesaikan di sini." Jawab Ken.


Luna menggeleng. "Tidak, Ken. Aku akan tetap disini bersamamu. Bagaimana aku bisa pulang, sementara kau tinggal." Ucap Luna sambil mengunci mata suaminya.


"Tidak, Luna!!" Ken menghilang dengan tegas. "Di sini terlalu berbahaya untukmu, dan aku tidak bisa menempatkan mu dalam bahaya!!"


"Tapi, Ken. Aku~"


"Menurut lah padaku, ini demi kebaikanmu. Di sana, keamanan mu lebih terjamin daripada di sini. Dan aku lebih tenang,"


Luna mulai berderai air mata. Wanita itu menggeleng, dia menolak untuk pulang dan meninggalkan sendirian menghadapi bahaya di sini. Ken memang memiliki banyak anak buah, tetapi bahaya tetap bisa setiap saat.


Ken membawa benar ke dalam pelukannya, dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat. "Mengertilah, Sayang. Jika semua ini aku lakukan demi kebaikanmu, aku sudah pernah kehilanganmu, Luna. Dan aku tidak ingin hal serupa terulang untuk kedua kalinya." Bisik Ken menasehati.


Lagi-lagi Luna menggeleng. "Aku tidak mau, untuk itu aku mohon biarkan aku tetap disini bersamamu." Pinta Luna memohon.


Ken melepaskan pelukannya. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di pipi Luna. "Sekarang masuklah, 15 menit lagi pesawat-mu akan take off ." Pinta Ken.


Lalu pandangan Ken bergulir pada Daniel dan Devan. Dengan mata berkaca-kaca, Daniel pun berhambur memeluk sang ayah. Seperti Luna, Daniel pun sebenarnya tidak tega kita harus membiarkan ayahnya, sendirian tanpa sanak keluarga.


"Kau harus bisa menjaga kakak cantikmu dengan baik, karena untuk sementara Papa tidak bisa menjaganya."


Daniel mengangguk. "Papa, kau tenang saja. Aku pasti akan menjaga Kakak cantik dengan baik, Papa juga harus menjaga diri dengan baik." Ken mengangguk.


"Itu pasti. Ge, aku titip mereka berdua. Jangan biarkan siapapun menyentuh apalagi menyakiti mereka."


Devan menepuk bahu Ken. "Kau tenang saja, aku pasti akan melindungi mereka berdua dengan nyawaku sendiri. Ya sudah, kami pergi dulu." Ucap Devan yang kemudian dibalas anggukan oleh Ken. "Luna, Daniel, ayo. Kita hampir ketinggalan pesawat."


Dengan berat hati. Luna melangkahkan kakinya memasuki bandara, dia sungguh tidak ingin pergi dan ingin menemani Ken disini, tapi pria itu tidak mengijinkannya. Ken bilang semua demi kebaikannya.

__ADS_1


-


-


Luna, Daniel dan Devan saat ini sudah berada di dalam pesawat, dan pesawat yang mereka tumpangi siap lepas landas. Dan entah apa yang Luna pikirkan, tiba-tiba wanita itu berdiri lalu meninggalkan kursinya.


"Luna, Kau kemana?! Kembali ke tempat dudukmu, pesawat kita sudah siap take off." Seru Devan namun di hiraukan oleh Luna.


"Paman, bagaimana ini? Sepertinya Kakak cantik tidak mau pulang bersama kita. Bagaimana kita harus menjelaskannya pada papa?"


Devan menghela nafas panjang. "Itu adalah pilihannya, yang kita tidak bisa menghentikannya. Kita harus yakin dan percaya jika Tuhan selalu ada untuk melindungi mereka berdua." Ucap Devan yang kemudian di balas anggukan oleh Daniel.


Daniel dan Devan melihat Luna sudah berada di luar pesawat. Wanita itu menghentikan langkahnya dan berteriak meskipun mereka berdua tidak bisa mendengarnya, tapi Devan tahu apa yang Luna katakan. Pria itu tersenyum lalu mengangguk.


Luna menyeka air matanya dan berlari sekencang mungkin meninggalkan bandara. Dia berharap Ken masih berada di tempat yang sama dan belum meninggalkan bandara. Langkah Luna terhenti, napasnya naik turun tak beraturan. Dia melihat suaminya yang hendak masuk ke dalam mobil mewahnya.


"KEN!!" teriak Luna, dan membuat yang dipanggil menoleh seketika. Mata kanan Ken membelalak, tubuhnya terhuyung ke belakang karena pelukan Luna yang begitu tiba-tiba. "Kakiku terlalu berat untuk melangkah, hatiku juga menolak untuk pergi, untuk itu biarkan aku tetap disini bersamamu." Bisik Luna memohon.


Ken mendesah berat. Pria itu mengangkat kedua tangannya, dan membalas pelukan Luna. "Dasar keras kepala," Ken menutup matanya dan mengeratkan pelukannya. Ken sudah menduga, jika Luna akan kembali mengingat bagaimana keras kepalanya dia.


Ken mengangguk. Sekali lagi dia memeluk Luna, dan mendekap tubuh itu dengan erat. Entah, Ken harus merasa senang atau cemas. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Luna untuk pergi jauh darinya.


"Kalau begitu ayo kita pulang,"


"Tapi bagaimana dengan pakaianku, aku meninggalkan koperku di pesawat dan disini aku tidak memiliki pakaian untuk ganti sama sekali." Luna mempoutkan bibirnya.


Ken mendengus geli. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat Luna. "Dasar kau ini, kalau begitu Sekarang aku temani kau pergi berbelanja sebelum pulang." Kata Ken, Luna mengangguk antusias.


"Ayo,"


-

__ADS_1


-


Ken dan Luna memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Selain pakaian untuk Luna, mereka juga harus membeli bahan kebutuhan untuk sehari-hari sampai satu bulan ke depan. Karena mulai hari ini, mereka berdua akan tinggal terpisah dari Tuan Valentino dan Aiden.


Setelah berkeliling mendapatkan sayur dan buah-buahan serta bahan-bahan kebutuhan lainnya, Luna dan Ken memasuki sebuah butik yang tidak hanya menyediakan pakaian khusus wanita, tapi untuk pria juga.


Ken tidak ikut berkeliling bersama Luna dan memilih menunggu, sedangkan wanita itu ditemani oleh salah satu penjaga butik. "Aku mau semua pakaian ini," Luna menunjuk deretan dress dan blus cantik dengan berbagai model dan renda serta rok.


Pelayan toko itu mengangguk. "Baik, nona."


"Aku juga membutuhkan gaun pesta dan juga beberapa helai lingerie." lagi lagi pelayan toko itu mengangguk.


Kemudian pelayan itu menunjukkan beberapa gaun pesta koleksi butik nya pada Luna. Itu adalah model terbaru dan limited edison. Dan Luna menyukai semua gaun yang ditunjukkan padanya.


"Bungkus semua kawan gaun pesta ini, aku ingin semuanya." Ucap Luna.


Tidak lupa dia juga membeli pakaian dal*m sebanyak 10 lusin. Luna tidak hanya membeli untuk dirinya sendiri, tapi untuk Ken juga. Dan parahnya, semua pakaian yang Luna beli untuk suaminya adalah lengan terbuka. Dan semua belanjaan itu Luna dengan uangnya sendiri. Dia tidak mungkin menggunakan uang Ken dalam jumlah besar. Karena Luna masih tau etika dan batasan.


"Sudah dapat semuanya?" Ken mematikan ponselnya saat melihat kedatangan Luna. Wanita itu mengangguk. "Kalau begitu, ayo kita bayar."


Luna menggeleng. "Tidak perlu, aku sudah membayar semuanya. Dan lagi pula aku tidak semiskin itu, sampai semua barang yang aku beli harus menggunakan uangmu."


Ken menghela napas berat. "Tapi aku suamimu Luna, dan sudah menjadi kewajibanku memenuhi semua kebutuhan."


Luna menangkup wajah Ken dan mengangguk. "Aku tahu, tapi untuk kali ini biarkan Aku membeli dengan uang ku sendiri. Dan Bisakah kita tidak usah berdebat masalah ini?! Aku lapar, sekarang traktir aku makan." Mohon Luna sambil ber-aegyo.


Ken mendengus geli. Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Luna. "Dasar kau ini, baiklah kebetulan aku juga sudah sangat lapar." Jawab Ken.


Dan keduanya berjalan beriringan meninggalkan boutique. Sedangkan semua belanjaan Luna akan diantar langsung ke alamat rumah mereka. Karena mobil Ken tidak akan muat membawa belanjaan sebanyak itu.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2