
"HACHU...."
Tuan Valentino yang sedang asik mengobrol bersama dengan putri dan menantunya tiba-tiba bersin. "Sepertinya ada yang membicarakan, Papa," ucap Tuan Valentino sambil mengusap hidungnya yang terasa agak gatal.
Saat ini Tuan Valentino berada dikediaman Ken. Ayah dua anak itu sejak semalam menginap di rumah menantunya tersebut. Setelah membuat jebakan untuk Aiden, dia langsung meninggalkan mansion mewahnya.
Tuan Valentino bekerja sama dengan manager restoran tempat Aiden makan malam bersama rekan bisnisnya. Di dalam makanan yang dia pesan, sudah dimasukkan obat tidur. Tidak hanya itu, Tuan Valentino juga menyewa seorang mantan wanita malam untuk memuluskan rencananya tersebut.
Tentu bukan wanita muda apalagi gadis belia. Wanita itu sudah berusia diatas 50 tahun namun masih memiliki bentuk tubuh yang aduhai.
Dan wanita itulah yang melepas semua pakaian Aiden, membuat mereka seolah-olah telah melakukan sesuatu hingga wanita tersebut akan meminta tanggung jawab dari Aiden. Tuan Valentino merencanakan semuanya dengan sangat matang. Dia hanya ingin Aiden menikah.
"Kalian harus membantu Papa menyiapkan sebuah pesta pernikahan yang sangat megah. Karena tak lama lagi keluarga kita akan menerima seorang menantu,"
Sontak Luna mengangkat wajahnya. "Maksud Papa?" Dia menatap sang ayah penasaran.
"Hahaha..." Alih-alih menjawab, Tuan Valentino malah tertawa keras membuat Luna dan Ken sama-sama kebingungan. "Papa baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa. Dan dalam satu Minggu ini, Papa akan segera mendapatkan seorang menantu perempuan." Ujarnya.
Luna menatap sang ayah penuh selidik. "Omo! Jangan bilang jika Papa telah menjebak Kak Ai, agar dia..." Wanita itu tak melanjutkan ucapannya. Tuan Valentino mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Bukankah sudah terlambat, Pa. Dia sudah tua, apa burung Pipit nya masih sanggup berdiri dengan normal?" Luna langsung menyodok dada Ken setelah mendengar kalimat mengerikan yang keluar dari bibir suaminya itu. Luna melotot padanya.
"Tidak sopan!!" Wanita itu bergumam. Dan Ken hanya menggaruk tengkuknya sambil tersenyum tiga jari.
"Jangan salah. Punya Papa saja masih sanggup berdiri meskipun Papa sudah tidak mudah lagi. Begini-begini Papa masih rutin mengkonsumsi suplemen ajaib. Dan diam-diam Papa juga memasukkan suplemen itu ke dalam makanan dan minuman Aiden." Tuturnya panjang lebar.
Luna meringis mendengar apa yang disampaikan oleh sang ayah. Dia ngilu sendiri membayangkan saat burung Pipit milik ayahnya yang sudah tua tiba-tiba berdiri tegak. Punya Ken saja sudah tidak sehebat dulu. Mungkin dia harus mengkonsumsi suplemen juga. Pikir Luna.
Tapp... Tap.. Tapp...
Obrolan mereka diinterupsi oleh suara derap langkah kaki seseorang yang datang. Terlihat Marissa, Marcello dan Kevin menuruni tangga secara bersamaan. Mereka telah siap untuk pergi bekerja.
Luna bangkit dari duduknya. "Semua sudah datang, ayo kita sarapan." Ia mengajak ayah dan suaminya untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Aku sarapan di kantor saja, Ma. Aku berangkat dulu," ucap Kevin dan pergi begitu saja.
Baik Luna maupun Ken tidak bisa menghentikannya. Dan selanjutnya keluarga bahagia itu duduk bersama di meja makan untuk menyantap sarapannya tanpa Kevin pastinya.
-
-
Hiruk pikuk suasana perkantoran sudah mulai terasa. Jam masih menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, tetapi sudah banyak karyawan yang datang. Padahal jam kerja baru dimulai pukul setengah delapan.
Diantara banyaknya karyawan yang sudah berdatangan. Tampak sosok jelita yang tampak begitu anggun dalam balutan terusan berwarna putih yang dibungkus blazer hitam press body. Rambut panjangnya diikat ekor kuda dengan polesan make up tipis.
Gadis itu yang pastinya adalah Viona berjalan tenang menuju ruang kerjanya. Mobil bosnya belum ada diparkiran, yang artinya pemuda menyebalkan itu pasti belum datang.
"Omo!!" Dan Viona terlonjak kaget saat tiba di dalam dan mendapati Kevin sedang memeriksa sebuah dokumen. "Dasar jelangkung, mengejutkan saja!!" Gerutu Viona lalu berjalan menuju mejanya.
Kevin dan Viona berada di satu ruangan yang sama. Viona adalah asisten pribadinya, jadi dia harus ada kapan pun Kevin membutuhkannya.
"Ck, apa kau pikir aku ini babumu?! Kalau mau makan pesan saja sendiri, aku tidak mau!!"
Kevin menyeringai. Pemuda itu bangkit dari kursinya lalu menghampiri Viona. Membuat gadis itu sedikit waspada apalagi melihat seringai dibibir Kevin. "Ma..Mau apa kau? Jangan mendekat atau ku pukul lagi kau," ancam Viona bersungguh-sungguh.
Bruggg ..
Tubuh Viona menubruk tembok sehingga dia tidak bisa bergerak sama sekali. Kedua tangan Kevin mengunci pergerakannya, dengan susah payah Viona menelan salivanya.
"Kalau begitu aku akan mengambil sarapan pembukaku terlebih dulu." Kevin mengangkat dagu Viona lalu mencium bibirnya.
Viona yang merasa terancam dengan apa yang Kevin lakukan berusaha melepaskan ciuman tersebut dengan cara mendorong keras dadanya. Tapi sayangnya Viona benar-benar tidak bisa berkutik sama sekali. Kevin mengunci pergerakan Viona.
Pemuda itu terus memagut dan mel*mat bibir Viona atas bawah bergantian. Dalam hatinya, gadis itu terus merutuki dan menghujani Kevin dengan bebagai sumpah serapahnya. Lagi-lagi dia mengambil keuntungan darinya.
"Bibirmu sangat manis, aku menyukainya." Ucap Kevin dan pergi begitu saja.
__ADS_1
"KEVIN ZHAO, KAU SANGAT MENYEBALKAN!!!"
.
.
Viona terus saja menekuk wajahnya. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir gadis itu. Insiden yang terjadi pagi ini benar-benar menghancurkan moodnya. Kevin keterlaluan, begitulah yang dia pikirkan. Bagaimana bisa pemuda itu selalu mengambil keuntungan dirinya. Bukan sekali ini Kevin menciumnya, tapi sudah berkali-kali.
"Ada apa dengan mukamu itu, kenapa kusut seperti pakaian belum disetrika?" Ucap Kevin sambil bertumpuk dagu.
Viona menatap sinis pemuda itu. "Bukan urusanmu, selesaikan saja pekerjaanmu dan jangan menggangguku!! Aku sedang marah padamu, dasar iblis!!" Bukannya tersinggung, Kevin malah terkekeh. Dimatanya Viona sangat menggemaskan. Apalagi ketika dia memanyunkan bibirnya seperti itu.
"Siang ini kita makan di luar, jadi bersiap-siaplah."
"Pergi saja sendiri, aku tidak lapar. Dari pagi sudah makan hati!!" Jawabnya ketus.
"Oh, jadi kau ingin aku cium lagi?" Pemuda itu menyeringai. Sedangkan Viona langsung membelalakkan katanya.
"Dasar mesum!! Iya, iya aku temani. Dasar pemaksa, tukang ancam. Kulkas tiga pintu menyebalkan!" Gerutu Viona.
Kevin memakai kembali jasnya. Ia dan Viona kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruangan tersebut. Bibir Viona tidak berhenti berkomat-kamit. Dia menggerutu tidak jelas. Sedangkan Kevin hanya mendengus dan menggelengkan kepala.
Mata Viona membelalak. Dia tiba-tiba mendekat pada Kevin lalu memeluk lengannya. Membuat pemuda itu sedikit terkejut dan bertanya-tanya.
"Jangan menatapku seperti itu. Jika bukan terpaksa aku juga tidak sudi melakukannya. Jadi aku ingin kerjasama mu," ujar Viona seolah mengerti arti tatapan Kevin.
Kevin menyeringai. "Asal ada imbalan yang setimpal untukku." Sontak Viona mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan mematikannya. Lagi-lagi Kevin terkekeh, mengerjai Viona ternyata menyenangkan juga.
-
-
Bersambung.
__ADS_1