PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Cucu Durhaka!!


__ADS_3

"KAKEK, AKU PULANG!!"


Suara nyaring itu menggema di seluruh penjuru ruangan sebuah mansion mewah bergaya Eropa tersebut. Beberapa pembantu langsung berhamburan keluar menyambut kedatangan Nona Besarnya yang sekitar 6 bulan lalu minggat dari rumah karena tidak dibelikan mobil baru oleh kakeknya.


Semua orang berpikir jika gadis itu pergi ke luar negeri. Padahal sebenarnya dia tidak pergi kemana pun dan hanya bersembunyi di sebuah rumah sakit sebagai dokter magang di sana.


Gadis itu menyembunyikan identitasnya sebagai Nona besar agar keberadaannya tidak terendus oleh keluarganya. Tidak ada yang tau siapa dia sebenarnya kecuali satu orang, seniornya. Juga orang yang membantunya bekerja di rumah sakit tersebut.


Dan dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya setelah di bujuk oleh sang kakek yang bernama Jung Hilman, sekaligus tuan besar di mansion mewah tersebut.


"Selamat datang kembali, Nona Viona."


Semua pembantu menunduk penuh hormat, yang kemudian di balas senyum tipis dan anggukan juga oleh gadis itu.


Beberapa pelayan pria masuk sambil menenteng beberapa koper berukuran besar milik sang Nona Besar dan membawanya menuju lantai dua, di mana kamar gadis itu berada. Banyaknya koper yang di bawa pulang seolah membuktikan jika dia memang baru kembali dari luar negeri.


"Akhirnya kau pulang juga, keponakan."


Seorang wanita yang usianya sudah memasuki kepala 4 menghampiri gadis itu lalu memeluknya. Wanita itu melirik Viona menggunakan ekor matanya dengan tajam, namun buru-buru mengulum senyum ramah ketika Viona melepaskan pelukannya.


Wanita itu membelai wajah dan rambut Viona tanpa menghilangkan senyum palsu itu dari bibir merahnya. Viona hanya mendengus geli melihat sikap yang di tunjukkan wanita di depannya ini. Dia tau jika wanita itu sedang berakting.


'Cihh, dasar rubah bermuka dua!' ucap Viona membatin.


"Sayang, pasti kau lelah. Sebaiknya pergilah ke kamarmu dan segeralah beristirahat!"


"Ya, memang itu yang akan ku lakukan. Bahkan tanpa bibi memintanya sekali pun!" gadis itu menyeringai tipis.


Dengan langkah tenang, Viona meninggalkan wanita yang Ia panggil bibi itu dan berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Melirik menggunakan ekor matanya, dapat Viona lihat dengan jelas wanita itu sedang mengepalkan tangannya sambil menatapnya tajam.


Viona tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan tatapan wanita itu yang serasa menusuk punggungnya.


.

__ADS_1


.


Viona menjatuhkan tubuhnya pada kasur super empuk miliknya. Rasanya sudah lama sekali Ia meninggalkan kamar ini dan Viona sangat merindukan kamar kesayangannya ini.


Tidak ada yang berubah pada kamar itu, semua masih sama seperti 6 bulan yang lalu kecuali warna cat pada dindingnya.


Bangkit dari berbaringnya, Viona berjalan ke arah balkon lalu membuka pintunya lebar-lebar.


Angin sejuk musim semi langsung menyambutnya ketika Viona menginjakkan kedua kakinya di lantai balkon yang dingin.


Matanya dimanjakan oleh hamparan bunga mawar dan tulip dengan berbagai warna yang tumbuh dengan subur di taman belakang mansion mewah milik keluarganya.


Ada banyak kupu-kupu yang terbang kesana-kemari hinggap dari bunga satu ke bunga yang lain. Gadis itu tersenyum tipis, sungguh pemandangan sore yang menakjubkan selain langit jingga berhiaskan cahaya matahari senja.


"Dasar cucu durhaka, tiba bukannya langsung menemui kakek tercintanya malah kelayapan tidak jelas!" tegur seseorang dari arah belakang.


Sontak saja Viona menoleh dan mendapati sosok pria renta namun masih terlihat bugar berdiri di belakangnya dengan senyum lebarnya "Kakeekkkkk,"


Bruggg...!


"Gadis nakal, berhenti membuat kakek mu ini cemas! Kau tiba di bandara jam 3 sore, tapi kenapa tiba di rumah malah jam 12 malam? Pergi kemana saja kau selama 9 jam ini?" Kakek Hilman melepaskan pelukannya lalu menjitak pelan kepala Viona dan membuat gadis itu sedikit meringis.


Viona tersenyum tiga jari, memamerkan deretan gigi putihnya. "Maaf kakek, aku terlalu merindukan Seoul jadi aku jalan-jalan sebentar!" ujarnya menjelaskan. Padahal Viona baru saja pulang dari rumah sakit. Sungguh kau pembohong yang hebat Viona Jung.


"Ya sudah, sebaiknya kau istirahat. Besok Kakek akan membelikan mobil baru untukmu. Kau bisa memilihnya sendiri mobil manapun yang kau mau."


"Oke, Kakek. Kau memang Kakekku yang paling baik. Aku sayang kakek."


"Kakek juga menyayangimu."


Di dalam kamarnya Viona langsung bersorak sambil jingkrak-jingkrak tidak jelas. Ternyata rencananya berjalan dengan lancar. Tidak sia-sia dia bersembunyi selama 6 bulan dan pura-pura kabur ke luar negeri. Tak lama lagi dia akan mendapatkan mobil mewah yang menjadi impiannya selama ini.


-

__ADS_1


-


Ini adalah hari kedua Kevin berada di negara kelahirannya. Pemuda berusia 25 tahun itu masih enggan untuk mulai bekerja karena ingin menikmati waktu luang yang dia miliki, rencananya Kevin baru mulai bekerja Minggu depan.


Pemuda itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil sport merah itu melaju kencang pada jalanan kota yang lumayan legang. Hari ini Kevin berencana untuk bertemu teman lamanya di cafe tempat mereka dulu biasa berkumpul.


Whusss...


Sebuah mobil sport silver tiba-tiba menyalip mobil Kevin. Pria itu tiba-tiba menyeringai, Kevin menambah kecepatan pada mobilnya lalu mengejar mobil itu. Dua mobil sport mewah itu saling kejar mengejar dengan kecepatan tinggi.


Orang yang berada di balik kemudi mobil sport silver itu tampak santai mengendarai super car yang sangat elegan itu, padahal mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.


Kevin semakin penasaran dan juga tertantang. Dia menambah kecepatan pada mobilnya untuk melihat siapa sebenarnya orang yang duduk dibalik kemudi itu.


Dari balik kaca mata hitam mereka tampak binar adrenalin, dan sejujurnya mereka sangat menikmati acara kebut-kebutan dijalan seperti saat ini. Ya, mereka sama-sama pecinta tantangan yang menguji adrenalin. Sehingga dengan santainya mereka memacu super car keluaran terbaru itu dengan kecepatan hampir 200 km/jam.


25 menit perjalanan mereka lalui dengan adrenalin dibalik wajah datar masing-masing. Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama 30 menit jika melalui rute tercepat yang cukup ramai dengan kecepatan rata-rata. Tapi mereka berdua memilih rute terjauh yang sangat sepi dan kecepatan yang diluar nalar.


Padahal niat awal Kevin bukan untuk ini. Tapi melihat ada seseorang yang mengendarai mobilnya dengan segila itu membuat dia jadi tertantang untuk mencoba menguji kehebatannya.


Dua orang itu keluar dari mobil masing-masing. Mata Kevin sedikit membelalak melihat siapa gerangan yang ada di balik kemudi tersebut. Jauh dari apa yang dia pikirkan. Ternyata bukan seorang pria, melainkan seorang gadis muda berparas jelita.


Sebenarnya Kevin cukup terkejut pada kenyataan bahwa yang menjadi lawannya adalah seorang perempuan. Apalagi gadis itu tampak biasa saja dan tak memiliki keahlian apa-apa. Tapi siapa yang menyangka, jika dia memiliki sisi liar ketika berada di jalan raya.


Gadis itu menghampiri Kevin dengan seringai lebarnya. "Sepertinya kau sangat terkejut, Tuan Muda Zhao. Kau... Ternyata tidak lebih hebat dariku!!" Ucap gadis itu meremehkan.


Kevin menyeringai. "Benarkah? Sepertinya kau harus menyimpan rasa percaya dirimu yang setinggi langit itu, Dokter Magang. Viona.. aku ingin menantangmu malam ini!!"


"Baiklah, aku terima dengan senang hati!!"


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2