
Rasa bosan mulai merayapi perasaan Luna. Sudah hampir satu jam dia di ruangan kerja suaminya tanpa melakukan apa-apa. Hanya sendiri dan tidak ada teman untuk mengobrol.
Saat ini Ken sedang rapat dengan beberapa koleganya yang berasal dari luar negeri. Dan jika saja dia tadi tau akan begini jadinya, Luna tidak akan merengek untuk ikut.
Luna bangkit dari duduknya lalu melenggang keluar. Tiba-tiba dia merasa haus, Luna tidak ingin merepotkan orang lain apalagi sekretaris Ken karena sudah pasti dia sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Beruntung sekali wanita itu bisa dinikahi oleh Presdir, berawal dari teman ranjang dan sekarang malah jadi nyonya besar!!"
"Hati-hati mulutmu kalau bicara, Metta!! Bagaimana jika tiba-tiba dia keluar dan mendengar semua yang kau katakan?! Kau sudah tidak betah bekerja di sini lagi?!"
"Tika!! Sebaiknya kau diam saja dan tidak usah ikut campur, memangnya kenapa kalau dia sampai mendengarnya?! Kau pikir aku takut?! Dia hanya beruntung karena dinikahi oleh Presdir Zhao, jika tidak pasti saat ini hidupnya mengenaskan bersama jodoh pilihan orang tua angkatnya!!"
Luna melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap wanita bernama Metta itu dengan tatapan mencemooh. Sepertinya perempuan itu sudah bosan hidup dan tanpa sadar dia sudah menggali kuburnya sendiri.
Keberadaan Luna segera disadari oleh Tika. Perempuan itu menunduk takut sementara Metta masih terus saja mengoceh tidak jelas. Dia tidak menyadari keberadaan Luna.
Dan para karyawan yang sedari tadi hanya sebagai penonton berani bertaruh jika sebentar lagi akan ada sebuah pertunjukan yang sangat menarik. Metta, si tukang hasut sebentar lagi akan mendapat karmanya, begitulah yang mereka pikirkan.
Sejauh ini Luna masih belum mengambil tindakan apa-apa, dia masih ingin melihat apalagi yang wanita itu katakan tentang dirinya.
"Ada apa denganmu?! Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat? Dasar penakut, baru juga diajak bergosip tentang istri Presdir Zhao sudah ketakutan," cibir Metta mencemooh.
Prokk.. Prokk.. Prokk...
Suara tepuk tangan dari belakang membuat Metta terkejut. Sontak ia pun menoleh, matanya membelalak melihat siapa yang berdiri dibelakangnya. "Ny..Nyonya Zhao?!" Seru Metta terbata-bata.
"Bagus sekali ya, nyalimu besar juga rupanya, sampai-sampai di belakangku kau berani membicarakan diriku!! Apa kau sudah bosan hidup?! Katakan, kau ingin mati dengan cara seperti apa, aku akan mengabulkannya dengan senang hati."
Metta menggeleng. "Nyonya Zhao, A..Anda sudah salah paham, bukan Anda yang saya bicarakan tapi istri dari pemimpin perusahaan tempat saya bekerja dulu. Ke..Kebetulan nama marganya hampir sama, percayalah pada saya." Mohon Metta.
__ADS_1
"Oh, jadi istri atasanmu yang dulu?!" Metta mengangguk. "AKU TIDAK BODOH DAN TULI!! Kau pikir aku tidak tau siapa yang kau bicarakan itu?! Kau... Persiapkan dirimu, karena hari ini juga aku pastikan kau angkat kaki dari perusahaan ini!!"
Metta baru saja membangunkan singa betina yang sedang kelaparan. Perempuan itu sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Dia adalah Luna Zhao, wanita yang tidak mudah ditindas apalagi dipengaruhi pikirannya.
Orang-orang saling berbisik-bisik membicarakan Metta. Mereka yang memang tidak suka padanya merasa terbantu dengan sikap tegas dan keberanian Luna. Selama ini tidak ada yang berani padanya, karena Metta dekat dengan asisten pribadi Ken.
Dan hari ini bisa jadi hari terakhir Metta berada di Zhao Empire seperti yang Luna katakan. Karena Luna akan meminta Ken untuk segera memecatnya.
Tokk.. Tokk.. Tokk ..
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian Luna. Wanita itu tersenyum pada sosok perempuan yang menghampirinya sambil membawa orange jus yang kemudian diberikan pada Luna.
Dia adalah Mia, sekretaris Ken dan satu-satunya orang di kantor ini yang dekat dengannya. "Nyonya, Anda tidak apa-apa kan? Saya membawakan minuman untuk Anda." Ucap Mia lalu meletakkan gelas jus itu di atas meja.
Luna menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit gerah saja, wanita itu membuatku naik darah. Dia benar-benar sangat berani dan keterlaluan!!"
"Ya, begitulah dia. Di kantor ini tidak ada yang berani padanya karena dia dekat dengan tuan Leo, asisten pribadi Presdir. Dia selalu mengancam akan membuat siapa pun di pecat jika berani membantah ucapannya apalagi mencari gara-gara dengannya."
Mia menggeleng. "Saya malas ribut apalagi berurusan dengan ular betina seperti dia. Jadi saya biarkan saja. Nyonya, maaf tidak bisa menemani Anda mengobrol lama. Saya harus kembali bekerja." Dengan penuh sesal Mia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
Mia bisa mendapatkan masalah dari Ken jika dia sampai ketahuan bermalas-malasan, pemimpinya itu adalah orang yang sangat disiplin dan keras. Dan siapa pun bisa kehilangan pekerjaannya jika tidak konsisten dalam bekerja.
-
-
"Senang bekerja sama dengan Anda, Tuan Zhao!!"
Pria itu menjabat tangan Ken. Kerjasama antara dua perusahaan besar itu baru saja terjalin. Proposal kerja sama yang mereka ajukan sangat menarik dan tidak berat sebelah. Itulah yang membuat Ken setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Semoga kita bisa menjadi mitra kerja yang saling menguntungkan, Tuan Vernando.
"Tentu saja, Tuan Zhao."
Satu persatu meninggalkan ruangan rapat. Begitu pula dengan Ken. Ayah dua anak itu kembali ke ruangannya dan mendapati Luna yang sedang duduk santai sambil menikmati segelas orange jus.
Suara decitan pada pintu mengalihkan perhatian Luna. Wanita itu segera bangkit dari duduknya ketika melihat kedatangan suaminya. "Ken!!" Seru Luna setengah merengek. Dan Ken hanya bisa menghela napas.
"Kumat lagi!!" Bisiknya membatin.
Ken membelai helaian panjang Luna yang terurai dan menatapnya dengan lembut. "Ada apa, hm? Kenapa kau terlihat kesal?" Tanya pria itu penasaran.
"Salah satu karyawan-mu membicarakanku dengan mengatakan ini dan itu di belakangku. Dia juga mengatakan jika aku tidak layak dan tidak pantas bersanding denganmu!!"
"Dia mengatakan itu?" Luna mengangguk.
"Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada para karyawan-mu yang lain. Mia juga ada, dia bisa menjadi saksinya. Kau harus memecatnya karena keberadaannya di perusaahan ini membuat karyawan-mu yang lain merasa tidak nyaman." Jelas Luna.
"Apa kau tau siapa nama karyawan itu?"
Sekali lagi Luna mengangguk. "Aku tahu, dia bernama Metta. Karyawan yang selama ini dekat dengan asisten pribadimu!!" jawab Luna.
Ken menghembuskan nafas berat."Sebenarnya sudah lama aku mempertimbangkan untuk memecatnya. Tapi aku belum memiliki cukup bukti untuk mengambil tindakan tegas, tetapi apa yang kau katakan ini, bisa menjadi pertimbangan untuk aku mengambil tindakan." Tutur Ken.
"Benar, benar, kau tidak boleh menundanya lagi. Jangan sampai karyawan-mu kabur satu persatu karena sikap semena-mena perempuan itu!!"
"Aku akan mengurus masalah ini dengan segera. Sebaiknya sekarang kita pulang. Aku tidak ingin jika kau sampai kelelahan karena terlalu lama di luar." Ken bangkit dari duduknya. Dan Luna hanya mengangguk patuh ketika Ken mengajaknya untuk pulang.
-
__ADS_1
-
Bersambung.