
"Bos, kami baru saja melihat seorang gadis meninggalkan rumah Kevin Zhao. Sebelumnya mereka juga datang bersama. Sepertinya gadis itu adalah kekasih atau orang terdekatnya. Apa perlu kami menculiknya?"
Seorang pria yang sedang duduk di dalam sebuah sedan hitam melaporkan pada bosnya tentang apa yang baru saja dia lihat. Ia dan temannya melihat seorang gadis keluar dari kediaman Kevin.
"Bagus sekali. Kita bisa menggunakan dia sebagai umpan. Tangkap dan bawa gadis itu ke hadapanku."
"Baik, Bos."
Setelah memutuskan sambungan telfonnya. Kedua pria itu keluar dari mobil dan mengejar Helena yang sedang berjalan menuju halte terdekat. Dia meninggalkan kediaman Kevin dengan berjalan kaki.
Suasana yang sepi tentu saja menguntungkan mereka berdua. Setelah membuat Helena tidak sadarkan diri. Mereka punya segera membawanya masuk ke dalam mobil. Dalam hatinya bersorak gembira, karena Bosnya pasti akan memberikan penghargaan serta bonus yang besar.
Sepertinya kedua pria itu sudah salah mengira jika Helena adalah orang terdekat Kevin, padahal bukan. Tapi lebih baik daripada mereka harus melibatkan Viona.
"Segera beritahu, Bos. Jika kita sudah berhasil membawa gadis itu. Bos pasti senang dan kita akan mendapatkan bonus yang besar,"
Pria berkaca mata itu mengangguk. "Kau benar. Tunggu, selain bonus, pasti kita juga akan naik gaji." Ucapnya.
"Yee, naik gaji!!"
-
-
Di siang yang terik namun hembusan angin lembut membuat cuaca saat itu terasa sejuk, Viona bersama kakek serta kakaknya mendatangi sebuah pemakaman umum sambil membawa bunga Lilly putih di dalam pelukannya.
Gadis itu mempercepat langkahnya dan matanya yang jernih itu memandang banyaknya nisan untuk mencari sebuah nama yang berharga. Sudah lama dia tidak datang mengunjungi makam orang tuanya, mungkin ini pertama kalinya sejak kepergian mereka.
Selama ini Viona masih merasa trauma. Dia menganggap jika dirinyalah penyebab kematian kedua orang tuanya. Itulah yang membuatnya tidak pernah mau menginjakkan kakinya di tempat ini karena dia belum bisa menerima kenyataan jika mereka telah tiada.
"Vi, pasti kau sedang mencari dimana rumah kedua orang tuamu kan?" Suara lembut Kakek Hilman menyadarkan Viona. Gadis itu mengangguk.
__ADS_1
"Ayo, Kakak akan menunjukkannya padamu." Vincent merangkul bahu Viona. Ketiganya berjalan beriringan menuju tempat peristirahatan terakhir kedua orang tua Vincent dan Viona.
Kedua mata Viona berkaca-kaca. Gadis itu sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Bahkan kedua kakinya terasa berat untuk dilangkahkan.
Lagi-lagi insiden mengerikan itu kembali berputar di kepalanya. Potongan demi potongan tragedi yang membuatnya trauma terus terbayang di dalam benaknya. Viona menggeleng.
"Maaf Kakek, Kak. Aku tidak bisa, aku sebaiknya menunggu di mobil saja." Ucap Viona yang kemudian di balas anggukan oleh kedua pria itu.
"Baiklah, Nak," jawab Kakek Hilman.
Setelah menyerahkan bunga yang dia pegang pada kakaknya. Viona bergegas kembali ke mobil, dia akan menunggu mereka di sana. Viona sudah mencobanya, tapi dia benar-benar tidak bisa. Hal sederhana namun terasa berat untuk dia lakukan.
-
-
Ponsel Kevin berdering, pemuda itu bangkit dari kursinya lalu menerima panggilan tersebut. "Ada, Jhon?" Suara dingin Kevin langsung berkaur di telinga orang yang menghubunginya 'Jonas'
"Tuan, salah seorang anak buah saya tidak sengaja melihat Nona Helena dimasukkan ke dalam mobil oleh pria rak dikenal. Sepertinya mereka adalah orang-orang Marco Kwon yang sedang mengawasi Anda, mereka pasti berpikir jika Nona Helena adalah orang yang dekat dengan Anda."
"Baik, Tuan."
Kevin tidak perlu turun tangan sendiri untuk Helena. Jonas dan anak buahnya adalah orang-orang yang bisa diandalkan. Cukup mengirim mereka saja untuk mengatasi masalah tersebut.
Jika saja yang diculik adalah Viona. Sudah pasti Kevin akan turun tangan sendiri. Dia akan memberikan pelajaran berharga pada mereka yang sudah berani melibatkan gadis itu. Tapi yang mereka culik bukanlah Viona, melainkan Helena.
Ting...
Perhatian Kevin kembali tersita. Kali ini oleh denting pada ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari Vincent. Dalam pesan itu Vincent memintanya untuk datang, dia dan Viona sedang berada di cafe. Dan Vincent memintanya untuk datang.
Alih-alih membalas pesan itu. Kevin malah mengabaikannya. Jangankan untuk pergi dan bergabung bersama mereka. Membalas pesan itu saja tidak. Akan sangat berbahaya jika salah satu anak buah Marco sampai melihat dia bersama Viona.
__ADS_1
"Begini memang lebih baik. Lebih baik membuatnya membenciku daripada harus melibatkannya dalam bahaya besar. Maaf, Vi. Tapi mengertilah jika semua ini aku lakukan semata-mata untuk melindungi mu."
-
-
Viona hanya menatap makanannya tanpa berniat untuk menyentuhnya sedikit pun. Nafsu makannya hilang sejak satu Minggu yang lalu. Lebih tepatnya setelah Kevin membuat sebuah keputusan yang tidak bisa dia mengerti sama sekali.
Vincent dan Kakek Hilman pun semakin dibuat bingung oleh sikap dan tingkah Viona akhir-akhir ini. Mereka selalu bertanya kenapa dan ada apa, tapi tidak juga mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Kak, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Dan ini mengenai dua orang yang tidak memiliki hubungan spesial, tapi sangat dekat. Tiba-tiba si pemuda memutuskan untuk menjauhi gadis itu tanpa alasan yang jelas. Menurutmu kenapa si pemuda melakukan hal itu?" Viona menatap Vincent dengan serius.
"Masalahnya?"
"Hanya karena dia merasa jika ia bukan orang yang baik dan berasal dari kehidupan yang berbeda dengan si gadis. Si pemuda terlibat masalah serius dengan kelompok mafia atau gangster, entah apalah itu. Yang jelas dia dalam masalah saat ini. Menurut Kakak bagaimana? Apa alasan sebenarnya pemuda itu menghindari dan menjauhi si gadis?"
"Ada dua kemungkinan. Pertama, karena si pria tidak ingin gadis itu terlibat dan berada dalam bahaya. Dan yang kedua, karena dia ingin melindunginya dari kemungkinan buruk yang terjadi."
Viona berdecak sebal. "Intinya sama saja. Tapi bukan itu yang aku maksud, apa karena si pemuda mencintai si gadis dan ingin melindunginya. Atau hanya karena tidak ingin gadis itu terlibat?!" Viona gemas sendiri.
"Oh, jadi itu maksudnya. Kemungkinan si pemuda mencintai gadis itu makanya dia tidak ingin jika orang yang dia cintai berada dalam bahaya Karana dirinya. Tapi, Vi. Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal semacam itu. Memangnya itu kisah siapa?" Vincent menatap Viona penasaran.
"Karakter dalam Novel," jawab Viona dan membuat Vincent melongo seketika.
"Jadi yang dari tadi kau bahas itu adalah karakter dalam novel?!" Viona mengangguk. Vincent mengusap wajahnya. "Ya Tuhan, Viona. Padahal Kakak sudah serius mendengarnya. Dan itu hanya sebuah karakter dalam novel. Kau ini benar-benar ya." Geram Vincent gemas.
Viona mengangkat tangannya dan jarinya membentuk huruf V. Gadis itu tersenyum tiga jari, ekspresi wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun meskipun sudah membuat kakaknya frustasi.
Sebenarnya itu bukan kisah dalam novel. Tapi kisah yang dia alami. Viona hanya ingin tau apa alasan Kevin yang sebenarnya. Karena dia mencintainya atau karena hal lainnya. Sepertinya Viona hanya bisa menyerahkan semuanya pada waktu.
-
__ADS_1
-
Bersambung.