
Luna meremas kuat rambut Ken yang saat ini sedang menciumnya dengan kuat. Tubuhnya memberikan respon yang luar biasa ketika tangan Ken mulai bergelayar menyusuri setiap inci bagian tubuhnya. Sedangkan tangan kiri Ken mencari tombol untuk menutup bagian atas mobilnya yang terbuka.
Ken tidak bodoh apalagi gila, dia sadar betul dengan keberadaan mereka saat ini. Dan akan sangat berbahaya jika sampai ada orang yang melihat apa yang mereka lakukan ini.
Meskipun masih dalam keadaan kesal. Namun Luna juga tidak bisa menolak servis luar biasa seperti ini, apalagi Ken yang berinisiatif untuk membujuknya agar tidak marah lagi.
Tangan Ken semakin aktif bergerak ditubuh Luna. Meremas salah satu gundukan kembarnya dan memainkan biji anggurnya. Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari bibir Luna ketika suaminya mencumbunya semakin dalam.
Kemudian Ken menurunkan ciumannya menuju leher jenjang Luna, lalu turun menuju dadanya setelah meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Sedangkan tangannya sudah berada di bagian sensitif Luna yang telah basah.
"Disini sangat basah, Sayang. Hn, sepertinya kau sudah siap untuk adegan selanjutnya," pria itu menyeringai.
Luna mempoutkan bibirnya. "Jangan harap aku sudah memaafkan mu, bagaimana pun juga aku masih kesal dan marah padamu!!" Luna membuang muka ke arah lain. Dan Ken malah terkekeh, karena tingkah istrinya ini yang sangat mengenakan.
"Aku tidak peduli!!" Jawab Ken dan kembali membenamkan bibirnya pada bibir Luna, dan mel*matnya seperti tadi.
Kedua lengan Luna memeluk leher Ken ketika ciuman prianya ini semakin dalam dan menuntut. ******* kembali menyapu gendang telinga Ken ketika jari pria itu kembali pada titik sensitifnya yang telah basah.
Tak bisa menundanya lagi. Ken menurunkan celana Luna lalu memposisikan juniornya di depan bibir M*ss V-nya. Dengan perlahan tapi pasti. Ken mulai mendorong masuk senjata tempurnya yang sudah berdiri tegak itu ke dalam diri Luna.
"Aaaahhh..." D*sah kenikmatan lolos dari bibir Luna ketika seluruh bagian sosis berurat itu telah masuk sepenuhnya. Dan ******* Luna semakin hebat seiring dalamnya tusukan Ken yang semakin dalam hingga menyentuh bibir rahimnya.
Fenomena mobil bergoyang pun tak bisa terhindarkan. Beruntung lokasi Ken menepikan mobilnya adalah area sepi yang jarang di lewati kendaraan umum karena itu adalah jalur menuju perbukitan.
Meskipun ada satu dua mobil yang lewat. Tapi mereka tidak ada yang peduli meskipun melihat mobil itu bergoyang hebat. Tanpa dilihat pun, tentu saja mereka sudah tau apa yang membuat mobil itu sampai bergoyang.
"Si..Sialan kau, Ken. Aaahhh, padahal aku ingin sekali marah padamu. Tapi kau malah membuatku terlentang seperti ini," protes Luna di tengah rasa nikmat yang Ken berikan ini.
Ken menyeringai lebar. "Dan aku ingin melihat seberapa lama kau mampu kesal padaku, Nyonya Zhao!!!"
"Aaahhh... Aaahhh... Jangan banyak bicara. Ce..cepat selesaikan, apa kau sudah gila. Ki..kita ada di tempat umum!!" Protes Luna sekali lagi.
"Siapa yang peduli. Sebaiknya kau diam dan nikmati saja servis spesial ini!!"
"Dasar gila!!"
.
.
Luna dan Ken tiba di rumah pada pukul 18.00 petang. Rumah tampak sepi dan legang karena anak-anak dibawa keluar oleh Nenek Zhao untuk jalan-jalan. Dan mereka mengatakan tidak pulang malam ini. Luna maupun Ken tidak melarangnya karena seluruh sekolah diliburkan selama satu Minggu, namun alasannya tidak jelas.
Dengan langkah tertatih-tatih. Luna berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Rasanya tangga itu begitu panjang dan tidak habis-habis. Padahal kakinya sudah gemetaran.
Luna mengepalkan tangannya. Ekspresi wajahnya seperti ingin menerkam dan memakan orang. Bibirnya terus berkomat-kamit tidak jelas, dia mengutuk Ken karena sudah membuatnya kesulitan berjalan seperti ini.
__ADS_1
"Aaaahhh..." Luna tersentak kaget saat seseorang tiba-tiba saja mengangkatnya bridal style dan membawanya menaiki tangga dengan cepat.
"Seharusnya kau menungguku, Sayang. Jelas-jelas kau sedang bermasalah saat berjalan,"
Sebuah pukulan mendarat mulus di bahu kanan Ken. "Ini semua karena dirimu, Tuan Zhao!!! Jika bukan karena kau yang keterlaluan, aku tidak mungkin sampai kesulitan berjalan seperti ini!!" Teriak Luna penuh emosi.
Ken terkekeh geli. Bukannya marah, dia malah geli sendiri melihat ekspresi dan mimik wajah Luna yang tampak sangat menggemaskan itu. Sepanjang mereka menikah, memang sangat jarang Ken membuat Luna sampai sekesal ini, tapi rasanya juga sangat menyenangkan.
"Tapi kau menikmatinya bukan?!"
Luna membuang muka sambil memanyunkan bibirnya. "Sama sekali tidak. Lagipula permainanmu tadi kurang mengairahkan, dan itu terlalu membosankan!!" Jawab Luna masih tidak mau menatap suaminya.
"Oh, jadi rupanya ada yang masih belum puas, hm?! Baiklah, mari kita lanjutkan lagi setelah ini," ucap Ken yang sontak membuat kedua mata Luna membelalak saking kagetnya.
"A..Apa kau bilang?! Melanjutkan yang tadi?! KEN ZHAO, KAU SUDAH TIDAK WARAS YA?!"
"Hahahaha!!!"
.
.
Glukk...
Luna menelan salivanya sedikit bersusah payah saat sepasang biner Hazel-nya yang semula fokus pada ponselnya menatap sebuah pemandangan yang sangat-sangat luar biasa.
Ken berdiri di sebuah lemari pakaian yang keseluruhannya terbuat dari kaca. Dia mengeluarkan sebuah kemeja hitam lengan terbuka dan celana panjang berwarna hitam pula.
Setelah memakai pakaiannya. Ken berjalan ke-arah cermin untuk merapikan penampilannya. Tiga kancing teratasnya dia biarkan terbuka. Dan sepertinya Ken sengaja.
Sesekali matanya menatap Luna dari pantulan cermin, wanita itu menatap padanya secara diam-diam membuat seringai Ken semakin lebar.
"Kau tidak malam, Lun?"
Luna sampai harus menahan ludah berkali-kali menahan libidonya yang langsung naik saat melihat sangat suami berjalan menghampirinya.
"Jangan tergoda-jangan tergoda, tahan Luna. Dia sedang menggodamu." Batinnya.
Luna mengambil napas berkali-kali menahan gairahnya yang memuncak melihat suaminya yang memakai pakaian serba hitam yang memamerkan lengan berototnya yang terjadi tribal tatto. Ken memang paling tau apa yang membuatnya lemah.
Dia kembali mengatur napas saat Ken berdiri di sampingnya, semakin lama semakin dekat. Bibir Ken mendekati telinga Luna membuat wanita itu kembali mengambil napas dalam-dalam. "Fokus Pain, Fokus!" jerit Luna membatin.
Dia sedang kesal dan marah pada suaminya tapi Ken malah berusaha menggodanya dengan lengan berototnya yang terhiasi dengan sebuah tribal.
Ken semakin mendekat. Membuat Luna kembali menahan napas, wajahnya sudah sangat merah seperti kepiting rebus. "Fokus. Fokus. Fokus." wanita itu tidak berhenti menjeritkan kata-kata Fokus dalam hatinya. Dia ingin memberi pelajaran pada suaminya ini, Luna masih kesal karena insiden di kantor tadi.
__ADS_1
"Ka..Kau mau apa?!" Suara Luna lebih terdengar seperti bisikan yang serak. Oh sial!
Bukannya menjawab pertanyaan istri tercintanya. Ken malah mengangkat dagu Luna lalu membenamkan bibirnya pada bibir tipis ranum itu. Luna tidak bisa menahan desahannya saat Ken mel*mat bibirnya lebih dalam dari sebelumnya.
Sebelah tangan Ken menekan tengkuk Luna, agar ciuman mereka tidak mudah terlepas. Sebelah tangannya lagi memeluk punggung Luna. Dan Ken yang begitu berinisiatif akhirnya membuat Luna menyerah.
Memang sangat sulit untuk marah terlalu lama pada Ken. Padahal niat Luna ingin marah pada suaminya itu selama 7 hari 7 malam. Tapi belum genap satu hari Ken sudah berhasil membuatnya luluh dan menyerah.
"Kau menyebalkan, Ken!!" Luna memukul dada Ken dengan keras.
Pria itu terkekeh. "Kau tidak mungkin bisa marah padaku terlalu lama, Sayang. Karena aku selalu memiliki cara untuk meluluhkanmu!!" Jawab Ken dan kembali membenamkan bibirnya pada bibir Luna.
Luna merasa was-was ketika melihat seringai yang tercetak di bibir suaminya. "Ke..Kenapa kau menyeringai seperti itu?" Luna mulai panik.
Seringai Ken semakin lebar. "Mau melanjutkan yang tadi, sepertinya tadi ada yang belum merasa puas!!" Sontak kedua mata Luna membelalak. Dia melemparkan sebuah bantal ke arah suaminya.
"Jangan macam-macam jika kau tidak ingin aku menggantungmu hidup-hidup!!" Ancam Luna bersungguh-sungguh. Sedangkan Ken malah tertawa keras, dia sangat suka mengganggu dan menggoda istrinya ini. Karena menurutnya itu sangatlah menyenangkan.
Ken menepuk kepala coklat Luna sambil tersenyum lebar. "Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali. Kau ingin makan malam dimana? Disini atau dimeja makan?" Tanya Ken memastikan.
"Kita turun saja. Tapi rasanya makan malam kali ini sangat berbeda. Anak-anak dan nenek tidak ada di rumah. Rasanya rumah sangat sepi," ucap Luna. Mimik wajahnya berubah sedih.
"Kenapa harus sedih? Mereka pergi untuk bersenang-senang. Jarang-jarang kan nenek buyutnya ada di rumah. Dan palingan sebentar lagi dia sudah pergi lagi."
Luna mengangguk. "Kau benar, ya sudah ayo kita turun sekarang. Tapi gendong," rengek Luna sambil merentangkan tangannya. Ken mendengus geli. Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat itu.
"Setelah ngambek kenapa kau malah menjadi semakin manja?!" Cibir Ken lalu mengangkat tubuh Luna bridal style.
Luna memeluk leher suaminya dan menatap sepasang manik matanya. "Jika bukan padamu, lalu aku harus manja pada siapa?! Pria lain?" Ucap Luna yang langsung dihadiahi sebuah delikan tajam oleh Ken.
"Berani manja pada pria lain, aku akan menggantungmu hidup-hidup!!" Ekspresinya berubah suram dan sedikit mengerikan. Bukannya takut, Luna malah tertawa.
"Dasar bodoh. Aku hanya bercanda dan kenapa kau malah menanggapinya dengan serius." Ucap Luna sambil memegang sisi wajah Ken.
Para pelayan hanya bisa gigit jari melihat kemesraan yang ditunjukan oleh majikan mereka. Sebagian mereka adalah seorang jones, itulah kenapa mereka selalu iri ketika melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh majikannya tersebut.
"Ya Tuhan, tolong berikan satu pria yang seperti Tuan pada hambamu ini. Hamba juga ingin memiliki suami yang kaya dan sangat penyayang seperti beliau."
"Tuhan, aku juga ingin suami yang penyayang dan tidak mata keranjang. Kabulkanlah Tuhan,".
Mereka pun saling berpelukan dan menangis berjamaah. Mereka selalu di beri ujian setiap harinya, ujian yang sangat berat. Yakni melihat kemesraan majikannya yang tidak pernah tau tempat dan waktu.
-
-
__ADS_1
Bersambung.