
Pelayan itu hanya bisa pasrah saat sebuah c*mbuk menghantam kulit punggungnya dengan keras. Mulutnya tidak bisa bersuara, hanya air matanya yang berbicara akan apa yang dia rasakan saat ini.
Punggung putihnya di penuhi luka yang terus mengeluarkan darah, belum kering darah dari luka c*mbukan lama, sudah tertimpa lagi dengan c*mbukan yang baru. Perbuatannya di ketahui dan kini dia harus menerima hukumannya.
"Masih tetap tidak mau bicara?!" Pria itu menarik kain yang menyimpan mulutnya.
"Ba..Baiklah, saya akan bicara. Ta...tapi tolong jangan pukul saya lagi," ucap pelayan itu pada akhirnya.
Tapp...
Tapp..
Tapp...
Derap langkah kaki seseorang yang datang menggema di setiap inci penjuru ruangan. Seorang pria dalam balutan pakaian hitamnya keluar dari kegelapan, dan sosoknya baru terlihat sepenuhnya setelah dia berdiri dibawah cahaya.
Pria itu yang pastinya adalah Ken mendekati pelayan tersebut. Jari-jari besarnya mencengkram rahangnya dengan keras. Manik matanya berkilat tajam penuh amarah, membuat pelayan itu semakin ketakutan oleh karenanya.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu mencelakai istriku?!" Pinta Ken dengan nada bicara yang rendah, tapi begitu berbahaya.
"Se..Seorang wanita bernama Metta. Di..Dia bilang akan memberikan uang yang sangat banyak pada saya, jika berhasil mengugurkan kandungan nyonya."
"Jadi kau rela mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya demi uang yang jumlahnya tak seberapa?! Bodoh!! Kau benar-benar sudah menggali kubur-mu sendiri. Dan tidak akan ada ampun untuk manusia sepertimu!! Cambuk 100 kali lagi!!! Temukan keberadaan biang keladinya dan berikan dia 1000 cambukan!!"
"Baik, Boss!!"
Ken meninggalkan ruangan gelap itu begitu saja. Bahkan teriakan memohon dan tangis pelayan itu pun tak dia hiraukan. Iblis dalam dirinya telah mengambil alih kewarasannya saat melihat hidup Luna berada diambang hidup dan mati.
-
-
Luna membuka matanya dan mendapati dirinya terbaring di sebuah ranjang rumah sakit. Wanita itu lantas menyapukan pandangannya, mencoba mencari keberadaan Ken, namun tidak ada. Luna tidak ingat apa yang sudah terjadi padanya, yang dia ingat tiba-tiba semua menjadi gelap dan setelah itu dia tidak tau apapun lagi.
"Uhhh..." Wanita itu merintih sambil mencengkram kepalanya yang terasa ingin pecah. "Ken..." Luna memanggil suaminya itu, tapi yang dipanggil tidak ada.
__ADS_1
Sampai suara decitan pada pintu menyita seluruh atensinya. Luna menoleh dan mendapati Ken berjalan menghampirinya dengan langkah sedikit terburu-buru. "Sayang, kau sudah sadar?! Apa masih ada yang tidak nyaman?" Tanya Ken memastikan.
Luna menggeleng, meyakinkan pada suaminya jika dia sudah tidak apa-apa. "Aku sudah baik-baik saja, kau tidak perlu cemas. Hanya kepalaku saja agak sedikit pusing. Tapi Ken, kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Luna sambil mengunci manik mata suaminya.
"Hanya kelelahan, mungkin karena kau terlalu aktif selama beberapa hari ini. Apa kau ingin makan sesuatu?" Tawar Ken. Luna menggeleng. "Lalu?" Pria itu memicingkan matanya.
"Tribal!!" Rengek Luna.
Ken mendengus geli. Dengan gemas dia menepuk kepala coklat Luna. Kemudian Ken melepas Vest dan kemejanya, kini dia bert*lanjang dada sebelum memakai kembali Vest hitam yang menjadi luaran kemejanya tadi.
"Kau puas?!"
Luna langsung tersenyum lebar. Kemudian wanita itu naik ke pangkuan Ken. Dan apa yang Luna lakukan membuat Ken terkejut bukan main. Pasalnya dia masih dalam keadaan yang lemah. "Luna, apa yang kau lakukan?! Jangan sembarangan bergerak!!" Ken memekik kencang melihat kelakuan istrinya ini.
"Diamlah, dan biarkan aku melihat wajahmu lebih dekat lagi." Jawab Luna sambil menangkup wajah Ken dan mengunci manik matanya. "Padahal usiamu sudah 39 tahun. Tapi kenapa kau malah masih terlihat seperti orang yang baru berumur 30 tahunan?! Aku juga tidak melihat ada kerutan sedikit pun di wajah tampan mu ini." Tutur Luna.
Ken mendengus. Dengan gemas dia menyentil kening Luna. "Dasar kau ini!! Sudah puas kan melihat wajah tampan suamimu ini? Sebaiknya sekarang kau turun!! Kau ini seorang pasien, jadi berhentilah bersikap bar-bar!!" Pinta Ken menuntut.
Luna mempoutkan bibirnya. Dengan terpaksa dia turun dari pangkuan suaminya dan kembali berbaring di ranjangnya. Kemudian Ken ikut berbaring di samping Luna. "Jangan kesal begitu, aku bersikap keras karena peduli padamu." Ucapnya sambil mengusap helaian panjang Luna.
Dan selanjutnya hanya keheningan. Baik Luna maupun Ken tak ada yang bicara, mereka sama-sama diam dan menikmati kehangatan tubuh masing-masing.
Ken sengaja tidak memberi tahu apa yang menimpa Luna pada Tuan Valentino dan anak-anaknya. Dia tidak ingin membuat mereka cemas apalagi kondisi kesehatan Tuan Valentino yang sering menurun karena faktor usia. Dan Ken ingin supaya si kembar bisa menikmati liburannya dengan tenang.
-
-
Brakkk....
Dobrakan pada pintu mengejutkan seorang wanita yang sedang berhubungan badan dengan teman prianya. Wanita itu menjerit histeris pasalnya beberapa pria menerobos masuk ketika dia sedang di tunggangi oleh partner ranjangnya.
Si pria di seret keluar dari kamar tersebut dan di minta untuk pergi. Menyusahkan wanita itu yang tampak sangat ketakutan. "Si..Siapa kalian, dan mau apa kalian datang ke rumahku?!" Wanita itu menatap mereka penasaran.
Tidak ada jawaban. Salah seorang dari kelima pria asing itu memberi kode, dua diantaranya menyeret si wanita turun dari atas tempat tidurnya. "Pakai kembali pakaianmu dan ikut dengan kami." Pria itu melemparkan pakaian pada si wanita yang pastinya adalah Metta.
__ADS_1
"Aku tidak mau!! Siapa kalian dan kenapa kalian ingin membawaku?!"
"Banyak omong!! Seret dia!!"
"Aaahhh..." Metta menjerit kesakitan saat salah satu dari mereka menyeretnya secara paksa.
Dia memberontak dan menolak untuk ikut. Tapi mereka tetap memaksanya. Akhirnya Metta dibuat tak sadarkan diri agar lebih mudah membawanya pergi. Bisa saja mereka menghabisinya di tempat, tapi Ken memerintahkan untuk memberikan 1000 hukuman cambuk pada wanita ini.
Bukan salah Ken yang kejam. Tapi salah Metta yang berani membangunkan seekor singa jantan yang sedang kelaparan.
-
-
Hamparan bunga berbagai warna langsung menyejukkan mata Luna yang saat ini sedang menikmatinya. Perempuan itu sedang berada di taman rumah sakit. Tidak sendirian, karena ada Ken yang menemaninya. Luna terlalu bosan berada di dalam ruangan tanpa melakukan apapun.
Sebuah bola tiba-tiba saja menggelinding dan jatuh di bawah kaki Luna. Seorang bocah laki-laki menghampiri Luna dan meminta bola tersebut. Dan dengan senang hati Luna mengembalikannya.
"Kenapa?" Tanya Ken melihat mimik wajah Luna yang berubah sendu saat menatap beberapa anak kecil yang sedang asik bermain bola. Mereka terlihat begitu ceria dan bahagia meskipun sebenarnya tidak bahagia. Ya, mereka adalah anak-anak pejuang kanker.
"Lihatlah mereka, Ken. Mereka masih bisa tersenyum lebar dan bermain tanpa beban. Padahal sebenarnya mereka tidak baik-baik saja. Aku sangat sedih, melihat anak-anak seusia mereka harus berjuang melawan penyakit mematikan." Tutur Luna.
"Karena mereka adalah anak-anak pilihan. Tuhan lebih menyayangi mereka dengan memberikan cobaan sebesar itu. Karena Tuhan memiliki tempat yang lebih indah untuk anak-anak seperti mereka." Ujar Ken yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna.
"Ya, kau benar juga. Di sini sangat dingin, ayo masuk." Rengek Luna sambil merentangkan tangannya meminta supaya Ken menggendongnya.
Ken mendengus. Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklatnya. "Dasar bandel, siapa yang tadi merengek ingin kemari." Dan Luna hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lagi-lagi Ken mengomelinya.
"Iya, iya aku yang salah. Sekarang cepat bawa aku kembali ke dalam."
"Dasar kau ini, kenapa semakin hari kau semakin menyebalkan saja!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.