PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Viona Gadis Bar-Bar 'Season 2'


__ADS_3

"VIONA, TERIMA KEMBALI CINTAKU. AKU MASIH SANGAT-SANGAT MENCINTAIMU, BUMI DAN LANGIT MENJADI SAKSINYA. KAU ADALAH DEWIKU, PENERANG JALANKU. DAN TANPA DIRIMU AKI BISA MATI!!"


Kevin dan Marissa yang baru saja tiba di halaman rumah sakit langsung disambut dengan sebuah pemandangan yang sangat menggelikan. Seorang pria berteriak di depan rumah sakit sambil membawa banner besar bertuliskan kata 'VIONA, KEMBALILAH PADAKU'


Kevin tidak tau orang ini gila atau budak cinta. Bagaimana bisa dia mempermalukan diri sendiri di depan banyak pasang mata hanya karena cinta. Dan jika caranya seperti itu, bukannya berhasil, yang ada perempuannya malah kabur karena ketakutan.


Berbeda dengan Kevin. Marissa mengenal dan tau siapa pria itu. Dia adalah Ben, mantan kekasih Viona. Orang yang telah menyelingkuhi Viona sebanyak 24 kali. Padahal Viona sudah menolaknya berkali-kali, tapi dia tetap tidak mau menyerah apalagi berhenti mengejar Viona.


"BEN, AKU TIDAK MAU KEMBALI PADAMU!!"


Dan teriakan itu langsung menyita puluhan pasang mata yang ada di sana. Termasuk Kevin dan Marissa. Pemuda itu memicingkan matanya saat melihat siapa yang keluar dari pintu rumah sakit sambil membawa gunting pemotong rumput itu.


Kevin menatap gadis yang baru saja melewatinya tersebut. Ditangan kanannya menenteng sebuah gunting rumput, sedangkan tangan kirinya menentang sebuah lalu berukuran besar. Dia menghampiri pria yang sedari tadi menjadi pusat perhatian itu.


"Vi..Viona, untuk apa gunting rumput dan palu itu? Kenapa kau membawa senjata tajam segala, itu mengerikan Sayang."


Viona menyeringai. "Heh, kau takut rupanya. Kau ingin tau kenapa kau membawa gunting dan palu ini?! Aku mau memotong sosis beruratmu lalu memajangnya di alun-alun kota. Bukan hanya itu, aku juga mau memecahkan telor mu yang busuk itu!!" Jawab Viona dan membuat mata Ben membelalak sempurna.


"Apa?! Ke..Kenapa kau ingin melakukannya, memangnya aku punya salah apa padamu. Sampai-sampai kau sangat kejam padaku?"


"Dasar kadal buntung. Sudah salah bukannya ngaku salah malah menanyakan apa saja kesalahannya. Pertama, kau membawa kabur si Molly untuk diberikan pada selingkuhan mu. Kedua, kau terus-terusan membohongiku. Bilangnya sedang sakit malah kencan dengan cewek lain. Dan ketiga, kau menyelingkuhi ku sebanyak 24 kali."


"Sebenarnya masih banyak kesalahan-kesalahanmu yang lainnya yang tidak aku sebutkan. Bahkan malaikat pun tidak bisa mencatat semua salahmu padaku, karena buku catatannya tidak muat!!"


Ben menggeleng. "Viona, itu tidak benar. Selama kita pacaran aku tidak pernah sekalipun menduakan apalagi mendua puluh empatkan cintamu. Kau salah paham padaku, Sayang. Kau salah paham, kau jangan percaya orang lain. Percaya padaku, aku hanya mencintaimu. Ini bunga untukmu." Ben berlutut sambil memberikan sebuket mawar pada Viona.


Viona mengambil bunga itu lalu memukulkan pada wajah Ben lalu memasukkan ke dalam mulutnya. "Jangan bermimpi. Lagipula aku sudah memiliki kekasih baru, dan dia lebih tampan darimu!!" Ucap Viona namun Ben tidak percaya.

__ADS_1


"Hahaha.. Itu tidak mempan, Sayang. Aku tau cuma aku yang kau cintai, jadi mana mungkin kau mencintai orang lain? Kau hanya mengada-ada."


"Heh, kalau kau tidak percaya aku bisa membuktikannya padamu. Karena orangnya ada di sini." Ucap Viona begitu percaya diri.


"Hahaha.. Jika orang itu ada disini. Maka cepat tunjukkan padaku dan buktikan jika dia memang kekasihmu." Pinta Ben menantang.


"Oke siapa takut. Dan jika kau ingin tau siapa orangnya. Dia ada di... Sana!!" Viona menunjuk sosok tampan berwajah dingin yang berdiri disamping seniornya.


Orang yang ditunjuk pun langsung membelalakkan matanya. Bahkan dia melotot pada Viona. "Dan jika kau tidak percaya, maka lihat ini." Viona menghampiri orang itu yang pastinya adalah Kevin. Viona memberi kode pada pemuda dingin itu melalui matanya agar dia mau berkerja sama.


Viona berhenti tepat di depan pemuda itu. Mata mereka saling menatap selama beberapa saat.-"Aku butuh kerjasama mu." Ucap Viona lalu mencium bibir Kevin tanpa apa-apa. Dan apa yang Viona lakukan tentu saja mengejutkan semua orang termasuk Marissa dan Kevin sendiri.


Kedua mata Kevin membelalak sempurna. Matanya yang terbuka lebar melotot tajam pada gadis yang sedang menciumnya ini. Dia berusaha melepaskan ciuman tersebut. Namun Viona malah menariknya lebih dekat. Viona tak hanya mencium bibir Kevin saja, namun juga **********.


Marissa yang tak ingin melewatkan kesempatan langkah langsung mengabadikannya melalui sebuah video. Itu luar biasa, begitu yang Marissa pikirkan.


Sonia yang melihat aksi gila sahabatnya langsung jatuh terduduk. Sedangkan Ben pingsan di tempat. Dan Viona baru melepaskan ciuman itu satu menit kemudian. Gadis itu menyeringai tipis.


"Tidak buruk juga, bibirmu sangat manis. Terimakasih atas kerja samanya. Sonia ayo kita pulang, Senior aku duluan ya. Bye." Ucap Viona dan pergi begitu saja.


Sebenarnya Viona sangat malu melakukannya. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Keadaannya sangat darurat dan mendesak, dan dalam hatinya dia berdoa supaya tidak pernah bertemu lagi dengan pemuda itu.


"Viona, kau sungguh memalukan!" Batin Viona menjerit.


Viona merutuki kebodohannya. Karena kegilaannya, dia kehilangan muka di depan banyak orang. Tapi jika dia tidak nekat, pasti Ben masih terus mengejarnya. Dan itu lebih merepotkan lagi. Lebih baik malu dari pada harus terus-terusan dikejar-kejar orang yang sudah tidak waras.


-

__ADS_1


-


"ARRKKHHH!! SIAL, DASAR GADIS KURANG AJAR. BERANI SEKALI DIA MENCURI CIUMAN PERTAMAKU DI DEPAN BANYAK ORANG!!"


Kevin berteriak sambil sesekali memukul stir mobilnya. Dia benar-benar tidak terima karena ciuman pertamanya diambil oleh gadis aneh seperti Viona. Marissa yang duduk disampingnya hanya terkekeh melihat kelakuan adik bungsunya. Memangnya harus ya, sampai semarah itu.


"Sudahlah, Kev. Ikhlaskan saja. Toh disesali juga tidak ada gunanya. Ciuman pertamamu tidak akan kembali, lagipula Viona juga cantik, dia adalah primadona di rumah sakit tempat Kakak berkerja. Seharusnya kau merasa senang karena ciumanmu diambil oleh gadis cantik."


"DIAM!! Memangnya siapa yang meminta Kakak untuk bicara!!" Geram Kevin marah.


"Oke, oke, Kakak akan diam." Marissa mengangkat tangannya. Dia tidak ingin membuat adiknya ini semakin kesal.


Mereka tiba di rumah. Kevin langsung turun tanpa mengatakan apa-apa. Bahkan dia melewati Luna begitu saja. Dan Marissa pun langsung menjelaskan apa yang terjadi pada Ibu mereka. Dia juga menunjukkan video yang diambilnya secara diam-diam.


"Ya Tuhan, hahaha... Pantas saja adikmu sangat kesal. Tapi bagus juga. Sepertinya sangat cocok jika mereka sampai bersama. Gadis bar-bar dan pemuda dingin. Jika disatukan akan menjadi satu kesatuan yang sempurna." Tutur Luna.


"Itu juga yang aku pikirkan, Ma. Aku berniat menjodohkan mereka berdua." Jawab Marissa.


"Mama setuju dan akan mendukungnya 1000%. Lain kali kau harus membawa Viona untuk makan malam di sini."


"Masalah itu serahkan saja padaku, bisa diatur. Ya sudah aku ke kamar dulu. Aku lelah dan ingin segera istirahat." Ucap Marissa yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna.


"Baiklah, Sayang."


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2