
Untuk kesekian kalinya, Kevin melirik kaca spion dan mendapati sebuah sedan biru tua terus melaju tepat dibelakang mobilnya. Sejak tadi firasatnya tak enak dan sejak tadi pula mobilnya diikuti beberapa mobil tak dikenal. ia yakin sekali mereka sedang diikuti, dan masalahnya tak hanya satu mobil, tapi beberapa.
Ada yang menjaga jarak dari mobilnya, ada juga yang tidak. Ia ingin menanyakan pada bisa saja Kevin meminta bantuan orang lain untuk mencari tahunya, namun ia tak ingin memancing kecemasan gadis yang sedang duduk disampingnya. Jadi ia hanya memutar-mutar jalan untuk mengulur waktu sampai mobil yang mengikutinya kehilangan arah.
"Sebenarnya kita mau kemana? Perasaan dari tadi kita hanya berputar-putar saja," ucap Viona sambil menatap Kevin penuh keheranan.
Kevin menoleh dan mendapati Viona sedang melihat bingung kearah luar jendela mobil. Sudah ia duga gadis ini curiga. Tapi Viona bukanlah tipe gadis yang mudah peka akan sesuatu.
Kevin menggeleng. "Hanya aku ingin berjalan-jalan sebentar saja,"
"Begitu? Ada apa? Tumben sekali kau berinisiatif membawaku jalan-jalan?" Komentar Viona lagi.
Kevin sekali lagi melihat kearah spion dan sedan biru tadi masih mengikutinya, ia menggeleng menjawab pertanyaan Viona.
"Tidak ada apa-apa. Kenapa, apa kau takut akan dimarahi jika pulang kemalaman?"
Viona berdecak sebal. "Kau pikir aku anak kecil?" Gadis itu sewot.
Sedangkan Kevin hanya tersenyum kecil sambil berusaha menutupi rasa cemasnya. Pokoknya gadis ini tak boleh sampai tahu jika sebenarnya mereka sedang diikuti.
Mobil Kevin melaju kencang menuruni fly over dan berakhir disebuah perempatan jalan. Mata Kevin melebar saat mendapati kendaraan yang memadati perempatan itu.
"Ada apa ini?" Sebuah arak-arakan membuat laju mobilnya terhenti.
"Oh ini, sepertinya ada festival tahunan yang selalu diadakan setiap musim semi. Kenapa, apa kau ingin melihatnya sebentar!" ucap Viona sambil menatap Kevin penuh tanya.
Kevin menggeleng, dia mengumpat sambil menginjak rem. Mobilnya tak bisa bergerak sama sekali. Mengapa disaat seperti ini harus ada kampanye sialan ini, sih? Batin Kevin kesal.
Kevin tidak tau siapa orang-orang itu, dan kenapa mereka sampai mengikutinya. Bisa saja Kevin berhenti dan menghadapi mereka secara jantan, tapi bagaimana dengan Viona. Dan Kevin tidak ingin jika Viona sampai melihat ada iblis yang bersemayam di dalam dirinya.
"Sepertinya, kita akan terjebak macet selama beberapa kilometer ke depan. Bagaimana ini?" Viona menggigit bibirnya khawatir. Sementara Kevin sedang menimbang-nimbang bagaimana harus mengambil keputusan.
__ADS_1
Tiba-tiba Viona teringat sesuatu. "Oh! Aku tahu jalan pintas yang sepi!" Viona berseru disampingnya.
Kevin menoleh sekilas kearah Viona. Matanya memicing, "Jalan pintas apa?" Dia mengulang kalimat Viona.
Gadis itu mengangguk. "Sekitar lima ratus meter kedepan ada belokan ke kanan, lalui jalan itu dan kita akan sampai ke jalanan besar dekat rumahku. Aku yakin jalanan itu pasti sepi." Viona berceloteh dengan semangat, tak tahu jika Kevin tengah stress.
Ia tahu persis jalan pintas itu. Jalanan gelap itu panjang dan sepi. Bagaimana jika orang-orang yang membuntutinya sejak tadi menghadang mereka di jalanan sepi itu?
"Key?"
Kevin mengerjap dan baru sadar Viona tengah memandanginya. "Apa kau yakin kita akan lewat sana?"
"Jika kita tetap dijalan ini, kupastikan jam dua belas malam nanti kita baru sampai rumahku. Ini macet total, Kevin!" Ucap Viona setengah merengek. Oh, astaga. Bagaimana ini?
"Baiklah." Ujar Kevin akhirnya. Padahal batinnya masih berdebat.
Akhirnya mereka memilih lewat jalan pintas yang Viona maksud. Tapi sialnya mobil-mobil itu sudah mengejar dibelakang mereka. Merasa ada yang tidak beres, Viona menoleh kebelakang, itu adalah mobil-mobil yang dia lihat dari spion tadi. Apakah mobil-mobil itu yang sedari tadi membuat Kevin terlihat cemas.
"Heee... Sepertinya ada yang ingin bermain-main dengan kita," ucap Viona membuat perhatian Kevin langsung teralih padanya.
Viona mengangguk. "Sebenarnya sejak kita meninggalkan taman, tapi aku tadi tidak mengira jika mobil-mobil itu benar-benar mengikuti kita. Dan apakah ini yang sedari tadi kau cemaskan?" Viona menatap Kevin.
"Ya, bisa saja aku berhenti dan menghadapi mereka. Tapi aku memikirkan dirimu. Aku takut sebagian dari mereka akan menggunakan dirimu sebagai umpan ketika diriku berkelahi dengan yang lain," ujar Kevin.
"Mata Viona menyipit. "Kau sudah meremehkan orang yang salah, Tuan Muda Zhao. Sepertinya kau belum mengenalku dengan baik. Cepat hentikan mobilnya dan kita bertukar posisi, aku tau bagaimana cara memberi pelajaran pada orang-orang bodoh itu!!" Viona menyeringai tajam.
Penasaran dengan apa yang direncanakan oleh Viona. Kevin pun menurut saja, kemudian dia bertukar posisi dengan gadis itu. Dan sepertinya Kevin benar-benar sudah mencemaskan gadis yang salah.
.
.
__ADS_1
Mobil sport mewah milik Kevin meninggalkan jalanan kota yang ramai dan padat kendaraan. Mobil super mewah keluaran terbaru itu melaju disebuah jalanan yang mendekatkan pengendaranya dengan Surga ataupun Neraka.
Mobil itu melaju di sebuah bukit kecil yang sepi, jalanan yang ada hanya berupa jalan kecil yang hanya cukup untuk dua mobil dan itupun sangat sempit, jalan ini tidak diaspal dengan baik. Ada beberapa sisi jalan yang ditambal dengan kerikil halus. Disisi kanannya adalah sebuah jurang yang sangat curam dan mematikan.
Sungguh sebuah jalanan yang menantang maut. Dan hanya orang-orang yang bernyali tinggi yang mau melewati jalanan di sini?
Kevin melihat sekilas ke arah Viona yang tampak tenang mengemudikan mobilnya. Lalu dia melihat dari spion dan menemukan mobil yang mengejar mereka tampak ragu untuk menyusul. Sepertinya mereka tidak memiliki nyali untuk melewati jalanan berbahaya ini.
"Huuu, dasar pengecut. Bahkan mereka tidak berani mengejar kita sampai sini." Ucap Viona saat melihat mobil-mobil itu memilih berputar arah.
"Kau benar, aku benar-benar sudah mencemaskan gadis yang salah. Dan kau mungkin saja gadis pertama dan satu-satunya yang berani mengemudikan mobil dijalanan ini dengan kecepatan tinggi,"
Viona terkekeh mendengar apa yang Kevin katakan. "Makanya, jangan pernah menilai sesuatu dari sampul depannya. Jika kau berpikir aku adalah gadis lemah dan penakut, maka kau salah besar. Aku adalah gadis yang sangat menyukai tantangan," ujar Viona panjang lebar.
Tiba-tiba Viona menghentikan mobil yang dikemudikannya. Dia turun dari balik kemudi lalu duduk di kap depan mobil yang kemudian diikuti oleh Kevin. Pemuda itu tidak duduk dan hanya bersandar.
"Dulu aku adalah gadis yang sangat penakut dan cengeng. Setiap hari aku selalu menangis dan terkadang sikapku yang seperti itu membuat kakakku menjadi jengkel. Setiap hari aku selalu mengadukan mereka pada Mama, kemudian Mama menghukum mereka."
"Dulu hidupku sangat bahagia. Kami sekeluarga selalu hidup dengan damai, sampai peristiwa mengerikan itu terjadi. Tragedi mengerikan merenggut kedua orang tuaku dan juga kebahagiaanku. Jika saja Mama tidak menyelamatkanku, mungkin saja saat itu aku ikut terpanggang bersama mereka."
"Mama yang dalam keadaan terluka parah dan berdarah kemudian melemparku keluar mobil agar aku bisa selamat. Tak lama setelah tubuhku terlempar, mobil itu meledak. Mama, Papa dan Pamanku terpanggang di dalam mobil itu."
",Dan pada saat itu usiaku baru 15 tahun, aku masih mengingat jelas ketika Mama berteriak dan mengatakan jika aku harus tetap hidup. Aku sangat hancur. Setelah itu aku tidak ingat apapun lagi, saat aku membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit."
"Selama berminggu-minggu kakek menyembunyikan tentang kemat!an mereka dariku. Karena Kakek berpikir aku tidak tau apa-apa, padahal aku adalah satu-satunya orang yang melihat tubuh mereka yang terb*kar dalam keadaan hidup-hidup," Viona menutup matanya. Air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.
Kevin yang mendengar cerita Viona hanya mampu terdiam. Dia sungguh tidak menduga jika Viona pernah mengalami insiden yang begitu tragis ketika masih remaja. Kevin mendekati Viona lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Pemuda itu tak berkata sama sekali. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya, dia diam 1000 bahasa. Hanya terdengar suara isakan pilu gadis dalam pelukannya ini yang berpadu dengan desau angin malam yang sedang berhembus.
-
__ADS_1
-
Bersambung.