
Mohon selalu tinggalkan like komen setelah membaca πππ Karena satu like dan komen kakak-kakak sekalian sangat berarti buat Author π€§π€§π€§Perasaan ini novel sepi amat pembacanya πππ
πΊ
πΊ
Ken menatap pantulan dirinya di cermin dan mendesah berat. Mata kanannya bengkak dan sedikit membiru akibat terkena bola yang dipukul oleh Daniel beberapa saat lalu. Bola itu menghantam mata kanannya dengan keras, dan saat ini mata kanan Ken terus berdenyut sakit.
Luna masuk sambil membawa kotak P3K. Meskipun terlihat sederhana dan memar biasa, tapi bisa fatal jika tidak ditangani dengan baik. Terlebih itu adalah diarea vital yang penting.
"Bocah itu, sepertinya ingin balas dendam padaku!! Dan karena ulahnya, nyaris saja mataku jadi buta!!"
"Berhentilah menyalahkan, Daniel. Lagipula dia juga tidak sengaja, bahkan dia sampai menangis karena takut kau memarahinya." Ujar Luna ditengah kesibukannya mengompres mata kanan Ken yang memar.
"Uhh, pelan-pelan, Luna!!"
"Ma...Maaf, aku akan lebih pelan-pelan lagi."
Setelah mengompres selama beberapa saat. Kemudian Luna mengoleskan salep luka pada memarnya. Lalu menutupnya dengan perban, bukan kemauan Luna, tapi Ken sendiri yang memintanya.
Ken tidak ingin menjadi gunjingan orang jika ada yang melihat kondisi matanya saat ini. Harga dirinya bisa ternodai, lebih baik menutupnya. Dan jika ada yang bertanya, dia hanya perlu mengatakan jika matanya mengalami iritasi, dan beres.
Luna menatap Ken cemas. "Apa kau akan baik-baik saja seperti ini?! Maksudku, pasti tidak nyaman menjalani aktifitas dengan sebelah mata saja yang berfungsi."
"Begini lebih baik, daripada ada yang melihat kondisi mataku saat ini. Itu lebih memalukan, apalagi jika mereka mengetahui alasan dibalik kenapa mataku sampai bengkak dan membiru." Ujar Ken menjawab kecemasan Luna. Ken memicingkan matanya. "Sepertinya, Nyonya Muda sedang mencemaskan diriku?"
"A..Apa maksudmu?! Memangnya siapa juga yang mencemaskan pria menyebalkan sepertimu. Sudahlah, aku mau menemui Daniel dulu." Luna beranjak dari duduknya dan...
Bruggg...
Tubuh Luna terbanting dan jatuh di atas tempat tidur dengan Ken yang berada di atasnya. Kedua mata Luna mengerjap beberapa kali karena jaraknya dan Ken yang terlalu dekat.
Sebuah seringai tercetak di bibir Kiss ablenya. Membuat Luna gugup sendiri. "Ke..Kenapa kau menyeringai seperti itu? Minggir dari tubuhku, dan kau kau apa? Jangan bilang jika kau...Emmpphhh." Ken memotong kalimat Luna dengan mencium bibirnya.
Ken terus memagut dan *****@* bibir Luna dengan keras. Jari-jari besar Ken menggenggam jari lentik Luna dengan lembut. Mata kiri Ken terbuka dan menatap Luna yang sedang menutup mata, sepertinya wanita itu menikmati ciuman Ken.
Setelah lebih dari satu menit. Ken melepaskan ciumannya. "Kau semakin mahir saja, Sayang." Ucap Ken seraya menjauh dari atas tubuh Luna.
"Kenapa kau selalu mengambil keuntungan dariku, Ken Zhao?! Kau... Sangat menyebalkan!!" Luna mempoutkan bibirnya.
__ADS_1
Ken terkekeh. "Dasar kau ini. Bukankah kau mau menemui Daniel, pergilah.. Sekarang aku mengijinkanmu. Aku akan tidur sebentar, mata kananku terus berdenyut. Bangunkan aku saat makan malam." Ujar Ken yang kemudian dibalas anggukan oleh Luna.
Selepas kepergian Luna. Di kamar hanya menyisakan Ken sendirian, lantas pria itu membaringkan tubuhnya dan mulai menutup matanya. Dia ingin tidur sebentar saja.
πΊ
πΊ
"Kakak cantik!!"
Daniel langsung berlari ke pelukan Luna saat melihat kedatangan gadis itu di kamarnya. Isakan terdengar keluar dari sela-sela bibirnya, punggungnya bergerak naik turun.
Luna yang tau alasan kenapa Daniel menangis pun langsung memeluknya. "Daniel, tidak perlu menangis apalagi ketakutan. Papa Daniel, baik-baik saja. Dia hanya mengalami luka ringan, dalam beberapa hari juga pasti membaik." Ujar Luna sambil mengusap punggung bocah itu naik-turun.
"Hiks, Pasti sekarang Papa membenci Daniel. Daniel sudah membuat mata Papa nyaris buta. Padahal Daniel tidak sengaja. Hiks.. Kakak cantik, Daniel harus bagaimana?" Daniel mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan menatap Luna.
Jari-jari lentik Luna menghapus sisa air mata di pipi Daniel. Bibirnya kemudian menyungging senyum tipis. "Papa tidak marah kok. Dia tadi membentak Daniel karena terlalu terkejut, sekarang Papa sedang istirahat. Saat dia bangun nanti, Daniel mau kan menemuinya dan meminta maaf pada Papa Ken?" Bocah itu menghapus air matanya lalu mengangguk.
"Daniel mau."
Luna tersenyum. "Anak pintar, bagaimana kalau sekarang Daniel ikut kakak cantik ke dapur. Kita membuat sesuatu untuk Papa Ken, Daniel mau kan?" Lagi-lagi bocah laki-laki itu mengangguk.
Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya. Lalu dia menurunkan pandangannya dan menatap Daniel yang juga tengah menatap padanya. "Tapi, Daniel. Kakak cantik tidak tau makanan apa yang disukai dan tidak disukai oleh, Papamu. Bisakah kau memberitahu Kakak cantik apa makanan kesukaannya?" Tanya Luna.
"Kakak cantik tau harus membuat apa. Sebaiknya kita bergegas sebelum waktu makan malam tiba,"
"Oke."
πΊ
πΊ
Ken membuka mata kirinya dan mendapati langit telah berganti warna sepenuhnya. Lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding, dan waktu telah menunjuk angka 18.45 petang. Artinya masih ada 15 menit menuju makan malam.
Pria itu menyibak selimutnya kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Ken berjalan kearah kamar mandi. Ia hendak membersihkan tubuhnya yang basah oleh keringat.
Ken membuka perban pada mata kanannya dan mendengus berat. Dia terlihat seperti monster karena mata yang bengkak dan membiru, mungkin Daniel bisa ketakutan jika dia keluar tanpa menutupnya. Dia akan menutupnya kembali dengan perban setelah selesai mandi.
Dan sementara itu...
__ADS_1
Luna dan Daniel baru saja selesai menyiapkan makanan untuk Ken. Sedikitnya ada tiga menu berbeda yang telah Luna susun di atas nampan dan siap ia bawa ke kamar Ken."Siap?" Bocah laki-laki itu mengangguk.
"Ayo, Kakak cantik. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Papa Ken." Luna tersenyum lalu mengangguk.
"Baiklah, Sayang. Ayo kita temui, Papamu."
.
.
Cklekk...
Luna membuka pintu kamar Ken dan mendapati sang empunya tengah berdiri di depan cermin besar. Pria itu terlihat lebih segar dari sebelumnya. Luna memperhatikan penampilan Ken dari atas sampai bawah, ada yang berbeda malam ini.
Ken mengenakan sebuah Vest V-Neck berwarna hitam sebagai luaran singlet putihnya, dan celana jeans panjang yang menggantung pas dipanggilnya. Posisinya masih memunggungi.
Entah kenapa tiba-tiba Luna merasa panas melihat penampilan Ken malam ini, penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Dan jika boleh jujur, Ken terlihat sangat tampan dan cool.
"A..Aku membawakan mu makan malam. I..Ini permintaan Daniel, dia ingin meminta maaf padamu atas insiden sore tadi." Ucap Luna sambil menundukkan wajahnya. Dia tidak sanggup jika harus berhadapan dengan Ken yang sepanas ini.
Ken menatap Luna selama beberapa detik. Seringai tampak dibibir Kiss Ablenya. Lalu pandangannya bergulir pada Daniel yang tampak ragu-ragu menghampirinya. Bocah laki-laki itu terlihat ketakutan.
"Kemari lah, Nak." Ken mensejajarkan posisinya dengan Daniel lalu meminta bocah itu untuk mendekat. "Kenapa kau terlihat ketakutan? Maafkan sikap Papa tadi, Daniel. Papa sungguh tidak ingin membentak mu, itu hanya refleks karena insiden itu begitu cepat dan tiba-tiba." Tutur Ken.
"Jadi Papa tidak marah?" Ken menggeleng.
"Bagaimana Papa bisa marah pada anak seimut dirimu, hm."
"Huaaa... Papa.." Daniel pun berhambur ke pelukan Ken.
Daniel berkali-kali meminta maaf pada sang ayah, dan mengatakan ia sangat menyesali perbuatannya tadi. Bagaimana pun juga Daniel tidak sengaja dan Ken juga tidak bisa menyalahkannya.
Ken mengangkat kepalanya dan menatap Luna yang berdiri di depannya. Seringai tampak pada sudut bibirnya, dan entah kenapa Luna memiliki firasat buruk saat melihat seringai itu.
"Semoga kali ini dia tidak macam-macam." Ucap Luna membatin.
"Luna William, aku tau kau sedang terpesona padaku. Sepertinya aku sudah menemukan cara untuk membuatmu terus memerah!!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.