PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Apa?! Ken adalah Suamimu?!


__ADS_3

Hembusan sang bayu menembus sepinya malam, bercengkrama dengan hijaunya daun, menyapa pohon dan rerumputan, mengajaknya menari bersama dalam alunan musik yang hanya mereka yang tahu.


Dengan dinaungi dengan ribuan permata yang terhampar pada lembaran hitam nan luas, yang mengatapi keheningan kota yang sudah berubah menjadi kota mati. Ya, ini sudah lewat tengah malam dan hampir semua


warga sudah menghentikan aktifitasnya.


Keindahan langit malam ini membuat iri siapa saja yang melihatnya dan ingin merengkuh indahnya malam itu. Kedatangan sang bayu yang tiba-tiba menentramkan hati setiap insan, selalu membuatnya terlarut lebih jauh ke dalam khayalnya.


"Wush!"


Dalam hitungan detik rambut coklat panjang yang awalnya tergerai itu kini menari-nari bersama sang bayu. Ikatan pada rambutnya sengaja ia lepas agar helaian panjangnya bisa bernafas, ikut menikmati malam ini.


Pemiliknya seakan sangat menikmatinya, ia pun kemudian berdiri, menutup matanya, dan merentangkan kedua tangannya, merasakan hembusan sang bayu yang seolah bisa menusuk sampai ke sumsum tulang. "Inilah keindahan alam. Damai sekali," seru bermata Hazel itu sambil membuka mata perlahan dan menghadap ke lautan bintang diatasnya.


Ia pun kembali menutup matanya. Mencoba merasakan dan mendengarkan apa yang sedang alam bisikkan padanya.


Tubuh rampingnya hanya dalam balutan gaun tidur tipis yang terlihat sederhana, namun tidak mengurangi apapun, bahkan gadis itu seakan semakin menyatu dengan alam disekitarnya. Bagai satu kesatuan dalam lukian Yang Maha Kuasa. So beautiful, so match, and so peacefull.


"Kenapa tidak tidur dan malah berdiri di sana?"


Suara dingin yang masuk ke dalam indera pendengarnya langsung menyita perhatiannya. Gadis itu sontak menoleh, kemudian dia beranjak dan meninggalkan balkon. Kembali ke dalam dan menghampiri sosok tampan yang sedang berbaring dengan jarum infus yang menempel di tangan kirinya.


"Aku tadi terbangun, kemudian tidak bisa tidur lagi. Lalu kenapa kau sendiri malah bangun? Tidurlah lagi, ini masih tengah malam."


"Bagaimana aku bisa tidur jika tiba-tiba kau menghilang." Ucap pria itu seraya merubah posisinya menjadi duduk.


"Ken. Apa yang kau lakukan?! Seharusnya kau jangan banyak bergerak dulu. Luka di perutmu bisa kembali terbuka." Omel Luna melihat apa yang pria itu lakukan.


"Aku lelah jika harus berbaring sepanjang waktu." Jawabnya sambil mengurai senyum tipis.


Ken mengulurkan tangannya lalu menuntun Luna untuk duduk disampingnya. Sebelah tangan Ken yang bebas dari infus bermain-main dengan helaian panjang Luna yang terurai. "Boleh aku bertanya sesuatu?" Luna mengunci sepasang mutiara Hitam milik Ken.


"Tentang apa? Tanyakan saja."

__ADS_1


"Tapi kau jangan marah ataupun tersinggung ya. Aku hanya ingin tau." Ken mengangguk. Luna menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa dia merasa ragu untuk bertanya. "Ken, sebenarnya...."


Ken memicingkan matanya. "Sebenarnya apa?"


"Sebenarnya kau ini siapa? Apa kau seorang mafia? Melihatmu cara menghabisi mereka sungguh mengerikan. Bahkan kau masih bisa berdiri tegap meskipun dalam keadaan terluka parah. Kau ini manusia atau reinkarnasi Iblis?"


Ken menatap Luna yang juga menatap padanya. Gadis itu begitu serius, dan bagaimana Luna bisa memiliki pemikiran sekonyol itu?


"Pertanyaanmu sungguh aneh, Nona Muda. Aku bukan mafia apalagi reinkarnasi Iblis. Aku hanya seorang CEO yang memiliki banyak saingan bisnis dan juga musuh yang tersebar dimana-mana. Hal semacam itu sudah terbiasa terjadi dalam dunia bisnis, jadi kau tidak perlu terkejut."


"Dan soal bagaimana aku menghabisi mereka, itu sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan. Lalu kenapa aku masih bisa berdiri tegak meskipun terluka parah, karena aku memang sudah terbiasa terluka. Bagaimana, apa sekarang kau merasa puas dengan penjelasanku?" Ken menarik gemas ujung hidung mancung Luna.


Gadis itu mengangguk. "Jadi dunia bisnis sama gelapnya dengan dunia Mafia dan Gangster? Apakah setiap orang yang memiliki bisnis dan perusahaan besar hidupnya selalu dibayang-bayangi oleh bahaya?"


"Sepenuhnya benar, sepenuhnya tidak. Tapi hal semacam ini memang lumrah terjadi. Aku tidak peduli bahaya apapun yang akan datang di kemudian hari. Aku pasti akan selalu melindungi mu dan Daniel, tidak peduli apa yang akan terjadi. Bahkan aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk kalian berdua."


"Jangan mengatakan omong kosong. Ini masih malam, sebaiknya kita tidur lagi. Aku tiba-tiba mengantuk."


Kemudian Luna berbaring di samping Ken dalam posisi memunggungi. Jari-jarinya mencengkram sprei yang ada di bawahnya, gadis itu menggigit gigi bawahnya. Ia merasa takut, bukan bahaya yang akan mungkin akan membayangi setiap langkahnya. Tapi... Dia takut kehilangan Ken.


Dan Luna menyerahkan semuanya pada waktu, karena hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.


🌺


🌺


Pagi-pagi sekali Luna sudah meninggalkan kediaman Ken. Pria itu tidak tau kemana istri kontraknya itu akan pergi, karena Luna tidak mengatakan apa-apa dan hanya bilang akan keluar sebentar.


Taksi yang Luna naiki berhenti di sebuah perusahaan besar yang memiliki puluhan lantai. Para karyawan yang melihat kedatangannya langsung membungkuk memberi hormat, tanpa Luna memperkenalkan diri sekalipun, tentu saja mereka sudah tau siapa gadis ini.


"Nona Besar, apakah Anda datang untuk bertemu dengan Presdir?" Tegur seorang perempuan berpakaian sekretaris.


Luna mengangguk. "Apakah Kakakku sudah datang?"

__ADS_1


"Sudah, beliau ada di ruangannya."


"Terimakasih, Kak Karin. Aku pergi dulu." Luna melambaikan tangannya pada sekretaris sang kakak yang bernama Karina itu.


Luna sebenarnya memiliki 3 kakak laki-laki. Kakak sulungnya dari ibu yang sama tapi ayah berbeda.


Sang ayah dan kedua kakak laki-lakinya tidak mau menerimanya apalagi mengganggap nya keluarga. Karena tidak ada darah tuan William yang mengalir dalam darahnya, hanya Luna satu-satunya yang mau menerimanya.


"Kakak!!"


Pria itu mengangkat kepalanya setelah mendengar suara cempreng seorang gadis masuk ke dalam telinganya. Sudut pria itu tertarik ke atas menyambut kedatangan sang adik tercintanya.


Luna langsung berhambur ke dalam pelukan kakaknya tersebut. "Aku sangat merindukan, Kakak." Ucapnya setengah berbisik.


"Kakak juga sangat merindukanmu. Gadis nakal, pergi kemana saja kau selama beberapa Minggu ini, kenapa kau sulit sekali dihubungi? Bahkan kau juga tidak masuk kuliah. Apakah mereka mempersulit mu lagi setelah kau menolak perjodohan itu?"


Luna menatap sang kakak tak percaya. "Kau mengetahui tentang perjodohan itu? Bagaimana bisa, bukankah aku tidak pernah memberitahumu sebelumnya?! Ya, aku tidak heran juga sih, kau kan banyak mata-mata. Dan selama ini kau pasti memata-mataiku." Ujar Luna panjang lebar.


"Ralat, bukan memata-mataimu tapi hanya mengantisipasi bahaya yang mungkin terjadi." Pria itu menjitak gemas kepala coklat sang adik.


"Ya, baiklah. Aku mengerti."


"Sekarang sebaiknya katakan apa tujuanmu menemuiku? Karena aku yakin kau datang kemari bukan tanpa alasan," ucap pria itu seolah tau apa yang ada di kepala Luna.


"Sebenarnya aku..." Luna menggantung kalimatnya saat sepasang iris Hazel nya tanpa sengaja melihat sebuah bingkai foto yang ada di atas meja kerja sang kakak."OMO!! Foto ini?!"


Kemudian dia bangkit dari duduknya lalu mengambil bingkai foto ditangan Luna. "Foto ini diambil sekitar 9 tahun yang lalu. Saat usiaku masih 22 tahun. Yang pakai baju merah putih ini namanya Zitao, dan yang pakai topi ini Ken. Saat itu usia mereka masih sangat muda. Tao 19 tahun dan Ken 20 tahun. Mereka adalah juniorku ketika kuliah dulu."


"Tapi sayangnya kami tidak pernah bertemu lagi sampai sekarang. Aku dengar Ken meneruskan bisnis milik mendiang ayahnya, sedangkan Tao ada di China. Dia juga ada di negara ini, sayangnya aku belum sempat mencari dan menemuinya." Tutur pria itu dengan mimik muka sedih.


"Dan pria bernama Ken ini adalah suamiku, lebih tepatnya adalah suami Kontrakku!!" Ucap Luna yang kemudian dibalas anggukan oleh sang kakak.


"Hm, jadi dia adalah suamimu. Omo!! Tunggu, kau bilang apa tadi? KEN ADALAH SUAMIMU?!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2