
Mereka tiba di sebuah cafe yang tak jauh dari Sungai Han. Ken dan Jessline berjalan beriringan memasuki sebuah cafe.
Kedatangan mereka di sana cukup menyita perhatian, banyak pasang mata yang menatap keduanya dengan berbagai tatapan yang sulit dijelaskan, dan di tatap seperti itu oleh banyak pasang mata tentu membuat Jessline merasa tidak nyaman. Berbeda dengan Ken yang tampak biasa saja.
Diam-diam Ken mengambil foto Jessline saat dia menghadap padanya. Tatapan matanya, senyum lembut di bibirnya membuat Ken semakin merindukan Luna. Dan salahkan bila Ken berharap jika yang ada dihadapannya bukanlah Jessline Jung melainkan Luna Zhao, istrinya.
"Tuan Zhao, kenapa Anda terus menatap saya seperti itu? Apakah ada yang salah di wajah saya?" Jessline menunjukkan sebuah tulisan pada Ken. Lantas pria itu menggeleng.
"Tidak. Hanya saja wajahmu mengingatkanku pada seseorang yang aku kenal di masa lalu." Jawabnya datar. "Sebelum menjadi dingin sebaiknya segera habiskan makan mu dan setelah ini aku antar kau pulang." Ucap Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Jessline.
-
-
"KEN ZHAO!! LEPASKAN AKU DARI TEMPAT TERKUTUK INI, BAKINGAN!!"
Hanya berteriak dan memaki Ken adalah hal yang bisa Aldo lakukan sejak hari itu. Dari rekaman CCTV, Ken menemukan fakta bahwa Aldo lah yang menyebabkan kecelakaan itu. Dia yang merusak rem pada mobilnya dan berharap dirinyalah celaka. Namun siapa yang menduga jika kecelakaan itu malah membuat Luna tiada.
Setiap hari, sejak tiga tahun yang lalu. Hanya kegelapan yang Aldo lihat dalam hidupnya. Ken membutakan kedua matanya dan membuatnya pria cacat seumur hidup. Tidak hanya buta, tapi juga lumpuh karena kedua kakinya patah.
"Diamlah, sebaiknya kau jangan berisik. Habiskan saja makan siangmu, atau kami tidak akan memberimu makan lagi!!" Geram salah seorang anak buah Ken yang menjaga Aldo.
"Suruh bosmu kemari, biar aku habisi dia!!"
"Sebaiknya kalau bermimpi jangan terlalu tinggi. Bahkan untuk jalan saja kau tidak mampu. Sepertinya tidak ada gunanya bos bersikap baik padamu, jika aku jadi dia sudah aku kirim kau ke neraka!!"
"Aaarrrkkhhh!! Ken Zhao, tunggu dan lihat saja. Aku pasti akan membunuhmu!!!"
-
-
Hampir tengah malam Ken tiba dikediamannya. Kedatangannya langsung disambut oleh Devan yang sepertinya memang sedang menunggu kepulangannya. Ken mendengus geli.
__ADS_1
"Jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu, aku baik-baik saja."
"Dasar pria ini, kenapa kau masih tidak peka sama sekali. Eo? Seharusnya kau tau jika aku ini sangat mencemaskan dirimu, Ken Zhao!!". Bahkan tidak ada satu pun panggilan dariku yang kau angkat jadi apakah salah bila aku sebagai Kakakmu mencemaskan keadaanmu secara berlebihan?" ujar Devan panjang lebar.
Ken memutar mata jengah matanya. "Berhenti menunjukkan sikap yang berlebihan padaku, Ge. Dan dibandingkan dirimu, tentu saja aku jauh lebih bisa menjaga diri, jadi jangan berlebihan lagi."
"Berlebihan kau bilang? Dasar patung es berjalan. Harusnya kau sadar jika sikapku ini adalah bentuk dari kepedulianku padamu. Apalagi kau menjadi banyak berubah setelah kepergian istrimu. Kau selalu bermain-main dengan nyawamu hampir setiap harinya, jadi bagaimana mungkin aku sebagai kakakmu tidak merasa cemas." ujar Devan panjang lebar.
Kata-kata Devan membuat Ken terdiam. Ia memahami betul kenapa Devan begitu berlebihan padanya itu karena dia sangat peduli pada dirinya. Tapi di satu sisi Ken juga tidak ingin diperlakukan secara berlebihan.
"Aku akan pergi istirahat, sebaiknya kau juga segera istirahat." Ken menepuk bahu Devan dan meninggalkannya begitu saja.
Ken melepaskan jas hitamnya dan meletakkan dengan asal. Kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur king size miliknya.
Pertemuan singkatnya dengan Jessline membuat Ken tidak bisa mengenyahkan gadis itu dari hati dan ingatannya. Bukan karena Ken tertarik padanya, tapi karena wajah mereka berdua yang bak sebuah pinang di belah dua.
Hanya nama dan marga mereka saja yang berbeda. Dan Ken akan segera mencari tau tentang siapa Jessline sebenarnya, sebelum rasa penasaran semakin membunuhnya.
Langkah Ke terhenti di tangga pertama karena teguran Daniel. Bocah laki-laki itu menghampiri sang ayah dan menatapnya sendu. "Aku memahami Betul apa yang Papa rasakan, tapi tolong jangan membuatku terus mencemaskanmu setiap saat." pinta Daniel memohon.
Ken mendekati putranya itu lalu memeluknya."Terima kasih karena telah mencemaskan Papa, Nak. Tapi sungguh bapak baik-baik saja," ucap Ken meyakinkan.
Daniel tau jika ayahnya itu sedang berbohong padanya. Dia tahu jika ayahnya tidak baik-baik saja, lagipula suami mana yang akan baik-baik saja ditinggal pergi istrinya untuk selama-lamanya. Apalagi Daniel tau jika Ken dan Luna saling mencintai.
"Papa akan pergi tidur sekarang, sebaiknya kau juga segera tidur." pinta Ken sambil mengusap kepala putranya.
"Baiklah, Pa. Selamat malam," daniel tersenyum lalu beranjak dan meninggalkan Ken begitu saja. Ken melanjutkan langkahnya, dan pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
-
-
"JESSLINE JUNG//NUNNA, KAMI DATANG!!"
__ADS_1
Jessline terlonjak kaget karena teriakkan keras dari arah teras rumah. Tanpa melihat pun tentu dia tau siapa yang datang bertamu dan membuat keributan di pagi hari begini. Mematikan kompornya yang masih menyala. Wanita berparas barbie itu lekas meninggalkan dapurnya dan menghampiri tamunya.
Di ruang tamu Jessline tidak sengaja berpapasan dengan Sammy yang hendak membukakan pintu untuk tamunya itu. "Nunna, biar aku saja." Ucap Sammy yang kemudian di balas anggukan oleh Jessline.
Selang beberapa saat sosok Via dan Key memasuki rumah sederhana itu sambil menenteng dua kantong besar berisi makanan dan minuman yang kemudian mereka letakkan di meja dapur. "Tidak perlu memasak apapun pagi ini, aku dan Key membeli banyak makanan dan minuman." Ucap Via pada wanita dihadapannya.
"Kenapa harus repot-repot segala? Lagi pula aku, Sammy dan, Paman Choi, tidak kehabisan stok makanan sampai dua minggu ke depan!" Jessline menunjukkan tulisannya pada Via.
Dan sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat wanita cantik itu. Jessline mendelik tajam pada Via sambil mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh sahabatnya tersebut. Tidak ada kata maaf yang keluar dari bibir ranum Via justru malah omelan yang menghujani Jessline.
"Kenapa kau semakin bawel saja, Via Hwang, apa kau sadar kalau kau itu sudah mirip nenek-nenek." Cibir Jessline melalui sebuah tulisan.
"Astaga, kenapa semakin hari kata-katamu semakin mengerikan saja, Jessline Jung? Jika saja kau bukan sahabatku, pasti aku sudah melemparmu ke kutub utara." Tutur Via yang kemudian di balas kekehan oleh Jessline.
Jessline dan Via bersahabat sejak dua setengah tahun yang lalu. Pertemuan mereka yang tanpa sengaja membuat mereka menjadi dekat dan akhirnya bersahabat baik.
Via, Key dan Sammy adalah orang yang selalu ada ketika wanita itu berada dalam kesulitan ataupun ketika hatinya diliputi duka. Via memang sangat peduli pada wanita itu, dan hal itu dia buktikan ketika ayah Via hendak menjual Jessline kepada seorang Mucikari.
Dengan beraninya Via menawarkan dirinya sendiri supaya dia saja yang di jual bukan Jessline dan hal itu tentu saja mengejutkan semua orang, Jessline terutama.
Via adalah seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal sejak dia masih remaja. Sejak lama dia terjun ke dalam dunia malam dan bekerja sebagai seorang wanita penghibur di salah satu club malam guna memenuhi semua kebutuhan hidupnya.
Meskipun demikian, tapi Via tidak pernah mengijinkan sahabatnya itu mengikuti jejaknya. Meskipun Jessline tanpa ingatan masa lalunya, tapi Via tau bila dia adalah wanita baik-baik.
"Apa yang kau tunggu, Jessline Jung? Cepat bantu aku menyiapkan makanan-manakan ini dan menatanya."
Jessline mendengus berat. "Iya-iya, dasar bawel." gerutu Jessline tanpa suara. Dan kedua wanita itu pun sibuk menyiapkan makanan di dapur sedangkan Key dan Sammy asik main game di kamar milik pemuda bermarga Choi tersebut.
-
-
Bersambung.
__ADS_1