PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Ungkapan Perasaan Viona


__ADS_3

Jam dinding telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Namun Viona masih tetap terjaga. Gadis itu meringkuk diatas tempat tidur sambil memeluk lututnya, tidak ada siapa pun dalam ruangan itu selain dirinya sendiri. Kevin pergi sejak sore tadi, dan belum kembali hingga detik ini.


Viona sendiri tidak tau kemana perginya pemuda itu, karena Kevin melarangnya untuk ikut. Sebenarnya Viona sendiri merasa sedikit takut mengingat jika tempat ini cukup terpencil dan jauh dari keramaian kota. Ditambah dengan suasana yang begitu hening dan menyeramkan.


Jangankan untuk keluar, ke kamar mandi pun Viona tak berani. Dalam hatinya Ia tidak henti-hentinya berdoa agar tidak terjadi pemadaman listrik secara tiba-tiba. Karena jika itu sampai terjadi tidak menutup kemungkinan ia akan langsung mati dalam keadaan berdiri.


Cklekkk!!!


Decitan pintu terbuka sedikit menyita perhatiannya. Terlihat Kevin memasuki ruangan sambil menenteng bingkisan kecil yang kemudian ia berikan pada Viona. Bukannya menerima bingkisan tersebut, Viona malah langsung memukul dada Kevin dengan keras.


"Katanya kau pergi hanya sebentar saja, tapi kenapa jam segini baru kembali? Apa kau tidak tau jika aku ketakutan setengah mati," Viona menggerutu sambil memanyunkan bibirnya.


"Maaf, aku tadi kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku. Oya, aku membelinya saat keluar tadi, sepertinya aksesoris itu cocok untukmu!" dengan ragu, Viona mengambil bingkisan itu dari tangan Kevin lalu meletakkan diatas meja samping tempat tidur.


Kevin memicingkan matanya. "Kau tidak ingin melihatnya dulu?"


Viona menggeleng. "Aku yakin kau memiliki selera yang bagus!" ujarnya.


Kemudian Viona memperhatikan Kevin dari ujung rambut sampai ujung kaki, sepertinya ada yang berbeda pada pemuda itu? Ya, karena Luhan baru mengubah warna dan model rambutnya. Yang membuatnya terlihat lebih fresh dan tampan meskipun perban masih belum mau beranjak dari wajahnya yang terluka. Dan jika boleh jujur, Viona lebih menyukai model rambut Kevin yang sekarang ini.


"Kau belum tidur?" Kevin melepas jasnya dan meletakkan begitu saja. Menyisakan kemeja putih lengan panjang dan Vest V-Neck hitam


"Aku tidak bisa tidur!!"


Kevin mengangkat wajahnya dan menatap Viona dengan dahi mengernyit. "Kenapa?"


Viona mendengus panjang. "Aku takut, tempat ini..., Sedikit menyeramkan!" Jawabnya lalu menggigit kukunya.


Kevin mendengus mendengar jawaban gadis itu. "Bukankah kau memiliki teman hantu, tapi kenapa kau malah takut pada mahluk seperti mereka?" kata Kevin meremehkan.


"Ck, itu beda lagi. Jika hantunya model suketi. 1000 hantu pun aku tidak akan takut. Tapi kalau yang muncul model lain bagaimana?" Cerca Viona sambil menatap Kevin yang juga menatapnya.


Laki-laki itu bangkit daru duduknya lalu berjalan menuju lemari pendingin yang berada disudut ruangan. Membuka pintunya, kemudian mengeluarkan sebotol wine yang hanya tinggal setengah dari dalamnya. Kevin membawa bir itu kembali ke sofa dan meletakkan botol wine itu diatas meja.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak takut pada apa pun, kecuali gelap dan darah. Aku memiliki kenangan buruk pada dua hal itu, gelap dan darah adalah kelemahaku, meskipun aku telah berhasil melawan salah satunya!" ujar Viona.


"Itulah kenapa kau tidak ketakutan lagi saat melihat darah!!" ucap Kevin menyela kalimat Viona.


Gadis itu mengangguk. "Ya!!" katanya singkat. Dan Kevin tau apa alasan Viona sangat takut pada darah. "Aku pikir kau tidak akan kembali, dan lebih memilih pulang ke rumah keluargamu. Kenapa kau kembali ke rumah ini?"


Kevin mengangkat wajahnya, matanya bersirobok dengan sepasang mutiara Amber milik Viona. Mereka saling menatap dan berpandangan lama, untuk menyelami keindahan mata masing-masing. Cukup lama bagi Viona untuk menunggu jawaban Kevin.


Melihat Kevin menatapnya seperti itu membuat Viona menjadi gugup dan salah tingkah.


"...Karena dirimu??"


Viona terpaku mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Kevin. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap wajah pemuda itu yang juga menatapnya. "Apa maksudmu?"


Kevin mengangkat bahunya dan kembali pada gelas berisi wine ditangannya. "Bukan apa-apa, lupakan saja!" kata Kevin sebelum meneguk wine-nya hingga tandas tak tersisa.


Viona menundukkan wajahnya, entah kenapa ia merasa kecewa pada jawaban pemuda itu. Dengan kesal, Viona bangkit dari duduknya lalu menyambar wine yang ada di depan Kevin lalu meneguknya langsung dari botolnya hingga hampir habis.

__ADS_1


Kevin yang terkejut segera merebut botol itu dari tangan Viona dan meletakkan diatas meja dengan kasar. "Bodoh!! Apa kau sudah tidak waras. Kau tau, yang kau lakukan itu bisa berbahaya untukmu!" bentak Kevin dengan nada meninggi.


Sedangkan Viona, gadis itu merasakan jika matanya mulai berkunang-kunang, dan kesadarannya mulai berkurang. Mungkin karena efek alkohol yang baru saja ia minum. Gadis itu menoleh dan menatap Kevin tajam,


Viona menunjuk Kevin tepat di depan wajahnya dengan kesadaran yang sudah berkurang karena kadar alkohol yang dia minum terlalu tinggi.


"Kau, hik! Mengatakan jika aku ini bodoh?! Ya, kuakui aku ini memang bodoh dan itu karena dirimu, Kevin Zhao!"


"Apa maksudmu??"


Mengabaikan pertanyaan Kevin, Viona merangkak dan naik ke atas Kevin. Kemudian menarik kemeja yang Kevin pakai dan mata Amber-nya menatap langsung pada mata milik pemuda itu. Setitik kristal bening mengalir dari mutiara Amber-nya yang kemudian jatuh diatas pipi kanan Kevin


"Viona, apa yang kau lakukan? Turun dari tub*hku!!"


"TIDAK MAU!" sahut Viona dengan cepat. "Aku tidak mau!" gadis itu menggeleng.


"Kau sedang mabuk, turunlah!" pinta Kevin sekali lagi, lagi-lagi Viona menggeleng.


Gadis itu menakup wajah Kevin, dan tanpa permisi ia mencium bibir pemuda itu membuat si empunya terbelalak saking kagetnya. Viona ******* bibir Kevin dengan ganas, atas dan bawahnya secara bergantian.


Susah payah Kevin berusaha melepaskan ciuman itu namun tidak bisa. Viona terlalu agr*sif, Kevin tidak mungkin menyerang gadis yang sedang masuk. Jika Viona dalam keadaan sadar, pasti Kevin sudah ******* habis bibirnya.


Lidah Viona menekan mulut Kevin mencoba mencari akses untuk masuk dan mengobrak-abrik isi mulut pemuda itu. Isakan terdengar disela-sela ciuman itu, Kevin membuka matanya dan mendapati air mata membasahi wajah Viona.


"Hiks!! Hiks!!, betapa bodohnya diriku karena jatuh cinta pada pemuda yang tak peka sepertimu. Hik! Seharusnya aku tidak pernah bertemu denganmu, pasti hidupku tidak akan seperti ini. Hik! Disini..." Viona menunjuk dadanya sendiri, menutup matanya dan cairan kristal bening kembali berjatuhan.


"...Sakit sekali, apalagi saat kau mengatakan padaku jika kita hanya teman. Katakan padaku, bagaimana aku membunuh perasaan ini dan melupakanmu!" Ucap Viona ditengah isakannya dan cegukan karena mabuk.


Pemuda itu mendengus, membetulkan letak kepala Viona agar gadis itu merasa nyaman, bahkan Kevin tidak merubah posisi itu dan membiarkan Viona berbaring diatas tubuhnya. Tangan Kevin melingkari pinggang gadis itu.


"Dasar gadis bodoh!" desisnya sambil menatap wajah polos Viona yang terlelap.


Kevin mengusap kepala Viona dari atas hingga ujung rambutnya yang mencapai pinggang. Meletakkan dagunya di atas kepala gadis itu. Semakin lama, Kevin merasa matanya semakin memberat. Pemuda itu memejamkan matanya dan dalam hitungan detik, ia pun terlelap di dalam tidurnya.


.


-


Kepergian Viona dari rumah membuat Minna dan Amelia merasa bebas. Mereka begitu menikmati harinya tanpa keberadaan gadis itu di mansion mewah tersebut. Hampir setiap hari mereka mengadakan party di mansion tersebut. Mereka semakin menjadi karena kepergian Vincent dan Kakek Hilman keluar negeri, dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh mereka berdua untuk bersenang-senamg.


"Kak, kenapa wajahmu kusut sekali?? Seharusnya kau tersenyum dan menikmati pesta ini!!"


"Ckkk!" Kai berdecak lidah. Mengabaikan Minna, laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kolam. Levi yang menyadari sikap sahabatnya itu, beranjak dari duduknya dan menyusul Kai.


"Memikirkan Viona," tebak Levi yang 100% benar.


"...." namun hampa , tidak ada jawaban.


Levin menghela nafas panjang. Laki-laki itu berdiri disamping Kai dan menatapnya sekilas."Merindukannya!!" tebak Levi yang lagi-lagi benar.


Kai menoleh menatap datar sahabatnya itu."Dia pergi dari rumah ini, Lev. Kakek mengusirnya, aku tidak tau apa sebabnya sampai-sampai kakek mengusir dia dari rumah ini!!" ujar Kai sambil sesekali meneguk red wine yang ada ditangannya.

__ADS_1


"Diusir? Lalu saat ini dia tinggal dimana?"


Kai menggeleng. "Aku tidak tau!"


Levi tiba-tiba teringat sesuatu. "Tunggu dulu, aku ingat. Siang tadi aku melihat Viona dan seorang pemuda memasuki salah satu mall di kota ini. Mereka terlihat dekat dan akrab!" ujar Levi memaparkan.


Sontak saja Kai menoleh dan menatap Levi penuh selidik. "Maksudmu??"


Levi mengangguk. "Sepertinya, Viona saat ini tinggal bersamanya!!"


Gyutt....!!!!


Kai mengepalkan kedua tangannya. Matanya berkobar penuh amara. Laki-laki itu terbakar mendengar penuturan Levi, jika Ia tidak salah tebak. Laki-laki yang dimaksud oleh Levi pastilah orang yang malam itu bersama Viona.


"BRENG*SEK!!" Nyaris saja Levi terkena serangan jantung dadakan karena ulah Kai, Kai meninju tiang besar yang ada disamping kanannya.


"Kai kendalikan emosimu!!" kata Levi menasehati.


Kai menyentak tangan Levi dari bahunya kasar, kemudian menoleh dan menatap Levi tajam. "Ini tidak bisa dibiarkan, aku tidak akan membiarkan pria itu mendapatkan Viona!!" Tanpa menghiraukan Levi, Kai pergi bergitu saja. Takut sahabatnya itu melalukan sesuatu yang tidak-tidak. Lay bergegas mengejarnya.


"KAI, TUNGGU!!!"


-


"Huaaaa, akhirnya!!!"


Vincent merebahkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur super empuk hotel yang menjadi tempat tinggalnya dan Kakek Hilman selama beberapa hari ini. Namun ketenangan Vincent sedikit terusik karena kemunculan sang kakek yang tidak mau berbagi tempat tidur dengannya.


"Kau tidur di sofa, kakek yang tidur disini!" Ucap Kakek Hilman.


Vincent menarik bantal dan guling yang hendak dipakai oleh kakeknya dan menggeleng. "Enak saja, aku yang mengeluarkan uang untuk menyewa kamar ini, jadi aku yang lebih berhak atas kasur ini dan kakek yang tidur disofa!" ujar Vincent yang tidak setuju dengan keinginan kakeknya.


Vincent tidur terlentang sambil merentangkan kedua tangannya, maksudnya agar sang kakek tidak ikut tidur di kasur itu. "Yakkk, cucu durhaka. Bisa-bisanya kau berlalu sangat kejam pada kakek sendiri. Bagaimana mungkin hotel berbintang 5 sampai kehabisan kamar kosong!" keluh Jung Hilman seraya menyentak tangan Vincent kemudian merebahkan tubuhnya disamping sang cucu.


"Tenang kakek, cucumu yang paling tampan ini akan membangunkan hotel berbintang 7 khusus untukmu!!"


Kakek Hilman menoleh seketika dan menatap Vincent penuh tanya. "Hotel berbintang 7?! Memangnya ada?"


Vincent mengangkat bahunya acuh. "Mana aku tau, tapi suatu saat aku akan menjadi orang pertama yang menciptakannya!" ujarnya.


Pletakkk!!!!


"Apppoooo!!!" Bukan sambutan baik malah sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Vincent. Laki-laki itu mengusap kepalanya yang baru saja dijitak oleh kakeknya "Kakek, kebiasaan deh. Kenapa kau suka sekali menjitakku eo?? Bagaimana jika aku tidak cerdas lagi??"


Kakek Hilman mendecih mendengar ucapan cucunya. "Jangan berlebihan. Ini sudah malam, sebaiknya kau segera tidur. Kakek merasa lelah!" Vincent mendengus kasar.


Menarik selimutnya lalu membungkus sekujur tubuhnya. Dan dalam hitungan detik, laki-laki itu sudah terlelap di dalam mimpinya. Wajar saja, meskipun seharian ini pekerjaannya hanya mengintai saja. Tapi hal itu cukup untuk menguras tenaganya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2