PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Keluarga Menyebalkan


__ADS_3

Di sore yang tenang, dengan warna lembayung senja memercik langit, Ken mendapati sang belahan jiwanya tengah duduk tenang di balkon kamarnya menikmati langit yang berubah kemerahan.


Dengan langkah tenang, Ken menghampiri sosok jelita itu lalu memeluknya dari belakang. Memberikan kecupan ringan pada keningnya yang sedikit jenong. "Kau sudah pulang?" Ucap Luna sambil menggenggam lengan suaminya yang memeluk lehernya.


"Aku baru saja tiba. Aku juga membawakan mu ice cream kacang merah kesukaanmu. Mau aku siapkan sekarang?!" Tawar Ken namun di tolak oleh Luna.


"Nanti saja. Tetaplah disini dan temani aku melihat senja." Pinta Luna lalu menarik lengan suaminya dan memaksanya untuk duduk disampingnya.


Luna menyandarkan kepalanya pada bahu lebar suaminya dengan pandangan lurus pada langit senja. Dan untuk sesaat, kebersamaan mereka hanya diwarnai keheningan. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir Luna maupun Ken.


Sesekali jari-jari besar Ken mengusap kepala Luna dengan gerakan naik turun. Ditatapnya sekilas wajah ayu wanita yang telah membawa kesempurnaan dalam hidupnya ini. Dan Ken tidak tau apa yang sedang Luna pikirkan saat ini.


"Lihatlah langit di sana, bukankah sangat cantik? Senja memang berbeda."


"Apa yang membuatmu menyukai senja?" Tanya Ken penasaran.


"Karena Senja mengajarkan pada kita, bahwa kehidupan tak selalu berjalan dengan cemerlang dan bersinar. Senja juga mengajarkan akan perjuangan, awan gelap yang mengadang, senja tak pernah rapuh berdiri, meski sendirian. Dan senja selalu menerima langit apa adanya."


"Seperti kita, yang saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan senja telah mengajariku banyak hal. Tentang arti hidup dan kesetiaan." Jawab Luna panjang lebar.


Devan yang baru saja tiba dan tidak sengaja melihat kemesraan pasangan suami istri itu hanya bisa gigit jari. Melihat orang bermesraan seperti itu membuat Devan merasa iri dan ingin merasakannya juga, tapi Tuhan tidak pernah memberinya kesempatan.


Usianya sudah 42 tahun. Jangankan istri, kekasih saja dia tidak punya. Bahkan dia juga tidak sedang dekat dengan wanita manapun, hubungan dia dan pelayan di rumah ayah Luna hanya partner di atas ranjang ketika di sana tidak lebih!!


"Paman, makanya cepat cari pasangan jika ingin seperti mereka berdua. Kau sudah tua, sampai kapan akan hidup sendirian seperti angka satu?! Masa kalah sama anak-anak SMP yang kecil-kecil sudah punya gandengan, hahaha!!" Daniel menepuk bahu Devan dan pergi begitu saja.


"YAKK!! BOCAH SIALAN, BERHENTI MENCIBIRKU!!" teriak Devan sambil menghentakkan kakinya. Dia benar-benar kesal setengah mati. "Tidak bapaknya, tidak ibunya, tidak anaknya. Semua sama saja, benar-benar keluarga menyebalkan!!"


Kesabaran Devan selalu di uji ketika berhadapan dengan Ken maupun keluarga kecilnya. Mereka selalu berhasil membuatnya naik darah. Bisa dibilang jika mereka adalah keluarga paling menyebalkan yang pernah Devan temui dalam hidupnya.

__ADS_1


-


-


"CELLO, JANGAN!!!"


Sebuah suara mencegah langkahnya bersamaan dengan sebuah tangan yang memegang lengannya. Bocah berusia 10 tahun itu tersenyum jahil, mengabaikan ekspresi cemas pria dihadapannya ini.


"Kau tidak boleh masuk ke dalam sana apalagi mengacaukannya. Kakek mu bisa marah besar jika barang-barang kesayangannya di sentuh oleh orang lain, meskipun itu adalah anggota keluarganya sendiri!!"


"Hehehe.. Rupanya Paman Ai sangat penakut ya," ejek Marcello, salah satu dari anak kembar Ken dan Luna yang terkenal bandel dan jahil minta ampun.


"Sembarangan!! Siapa yang penakut?! Aku hanya tidak mau terkena masalah dari Papa karena kenakalan mu ini!! Sebaiknya kita keluar dan jangan coba-coba untuk masuk ke dalam!!" Aiden menyeret Marcell meninggalkan ruangan pribadi ayahnya itu.


Aiden tidak ingin terkena masalah apalagi Omelan sang ayah yang selalu membuat telinganya sakit. Karena jika sudah mengomel, bisa sampai berjam-jam lamanya.


Marcell dan Marissa adalah dua orang yang terlahir dari rahim yang sama, tapi mereka memiliki sifat yang sangat bertentangan. Meskipun menyebalkan seperti Luna dan bermulut tajam seperti Ken, tapi Marissa tidaklah senakal dan sejahil Marcello.


"Aiden, kenapa kau menyeret Cello seperti itu?! Kau pikir cucu Papa itu adalah karung goni?!"


Melihat ada kesempatan bagus tak lantas disia-siakan begitu saja oleh Marcello. Bocah laki-laki itu tiba-tiba menangis histeris dan menghampiri sang kakek. "HUAA...!! KAKEK!!" Teriak Marcello dan langsung memeluk kakaknya.


"Hiks, Kakek. Paman Aiden ingin menindas-ku. Dia menarik ku dan membuat pergelangan tanganku sakit. Kakek lihat sendiri, pergelangan tanganku memar karena ulah Paman Aiden. Huaaa.. Kakek harus menghukumnya untukku!!"


Mata Aiden sontak membelalak. Pria itu menggeleng. "Bohong, Pa!! Bukan begitu kejadiannya. Tadi Cello ingi~"


"Huaaa..!!! Bahkan Paman Aiden ingin memfitnaku juga!!" Teriak Marcello menyela ucapan Aiden. Membuat Aiden semakin terpojok.


"Kau orang dewasa beraninya menindas anak kecil, apalagi dia cucu Papa. Aiden, kau perlu di beri pelajaran. Pergi ke WC umum yang ada di kota ini, dan bersihkan keraknya sampai bersih!! Lobo akan ikut dan mengawasi mu!!"

__ADS_1


"Papa!!! Ini tidak adil!!"


Sementara itu. Marissa hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat kelakuan kembarannya itu yang nakalnya terlewat batas. Tak ingin ikut campur, Marissa pun kembali ke kamarnya. Lebih baik tidur dari pada membuat keributan seperti kembarannya itu.


-


-


Menghadapi Luna yang sedang ham muda terkadang membutuhkan kesabaran ekstra, dan kesabaran Ken benar-benar di uji kali ini. Bagaimana tidak, mood Luna yang berubah-ubah terkadang membuatnya bingung dan frustasi.


Kali ini contohnya. Tiba-tiba Luna menangis histeris tanpa sebab yang jelas. Dan ketika Ken bertanya kenapa, Luna hanya menjawab jika dia merindukan tribal di lengan suaminya itu.


Dan Ken yang masih harus menghadiri sebuah pertemuan penting pun terpaksa mengganti kemejanya dengan kemeja lengan terbuka seperti yang istrinya inginkan. "Apa lagi sekarang?" Ken menatap Luna penasaran. Pasalnya dia mencegahnya untuk pergi.


"Ikut," rengek Luna memohon.


"Tapi aku pergi bukan untuk jalan-jalan, Luna!! Nanti saja setelah selesai meeting aku langsung menjemputmu dan kita pergi kemana pun yang kau inginkan, bagaimana?!"


Luna menggeleng. "Ikut," dia mengatakan kata yang sama dengan mata berkaca-kaca. Ken pun hanya bisa mendesah frustasi. Jika Luna sampai ikut, itu artinya dia tidak bisa mengganti kemejanya sebelum bertemu dengan koleganya yang dari luar negeri.


Ken bisa kehilangan harga dirinya jika datang ke pertemuan dengan memakai pakaian lengan terbuka seperti ini. Karena Luna pasti menolak dan melarang dia mengganti pakaiannya. Tapi jika tidak di ajak, bisa-bisa dia nangis seharian dan mohon makan.


"Dengan satu syarat. Kau tidak boleh melarang ku ganti baju ketika bertemu dengan rekan bisnis ku nanti!!"


Luna tampak berpikir. Wanita itu mendesah berat dan mengangguk pasrah. "Baiklah."


-


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2