PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Biarkan Seperti Ini


__ADS_3

Ken mengerutkan dahinya melihat Luna tak menyentuh makan malamnya sedikit pun dan hanya terus memandanginya saja. Wanita itu terlihat gelisah seperti memikirkan sesuatu.


Ken meletakkan sendok dan garpu-nya, lalu memandang Luna dengan pandangan bertanya. "Ada apa? Kenapa kau tidak menyentuh makan malam mu sama sekali? Apa kau tidak menyukai makanan yang aku pesankan untukmu?" Luna menggeleng."Lantas?"


"Aku memikirkan, Via, siapa yang akan menjaga dan merawatnya selama di rumah sakit? Jika hanya Sammy dan Key saja, aku tidak bisa menjamin jika mereka bisa merawatnya dengan baik."


"Jadi sejak tadi kau gelisah karena hal itu?" Luna mengangguk. "Kau tidak perlu mencemaskan apapun, aku sudah menyewa suster untuk merawatnya sampai dia sembuh dan ada beberapa orang yang menjaganya di sana." Ujar Ken.


Saat ini mereka berdua sedang berada di sebuah restoran. Awalnya Luna menolak dan ingin makan malam di rumah karena merasa lelah. Tapi karena tidak ingin ditinggalkan sendiri di rumah yang jauh dari keramaian kota, akhirnya Luna pun memilih untuk ikut.


Setelah makan malam. Ken membawa Luna berkeliling kota untuk menikmati suasana Busan saat malam hari. Ken menepikan mobilnya di sebuah taman yang tidak terlalu ramai pengunjung. Luna keluar lebih dulu di ikuti Ken setelahnya.


Brugg...!!


Tanpa sengaja Luna bertabrakan dengan seseorang dan membuat kopi orang itu menumpahi pakaiannya. "Yakk! Di mana matamu saat berjalan. Hah! Apa kau tidak melihat ada orang yang berjalan di depanmu?" Luna pun terkesiap dan segera meminta maaf pada pria berwajah sangat tersebut.


"Apa kau pikir kata maaf-mu saja cukup untuk mengganti pakaianku yang mahal ini? Cepat berlutut dan cium kakiku maka aku akan memaafkan mu."


"Memangnya berapa harga pakaianmu itu? Jangankan untuk mengganti rugi pakaianmu itu. Untuk membeli kepalamu saja aku mampu, lagi pula aku tidak sengaja dan aku sudah meminta maaf."


"Sialan kau, berani sekali kau padaku? Apa kau sudah bosan hidup. Hah." Bentak pria itu emosi.


"Jangan berteriak, Paman, nafasmu bau." Cibir Luna dan membuat amarah pria itu semakin memuncak.


"Kau!!" Pria itu mengangkat tangannya dan bersiap untuk menampar Luna namun segera di tahan oleh Ken.


Laki-laki itu berdiri di depan Luna dengan tatapan dingin penuh intimidasi, membuat pria berwajah lebar itu menciut seketika.


"Aaahhh...!! Ta-tanganku. Hei, anak muda, apa kau ingin mematahkan tanganku. Aarrkkhh, lepaskan apa kau tidak tau dengan siapa kau sedang berhadapan. Aarrkkhh, sakit bodoh. Cepat lepaskan."

__ADS_1


"Hei kau. Apa yang sudah kau lakukan pada, Bos, kami?" seru seseorang dari arah belakang.


Sontak Ken menoleh dan mendapati empat pria berjalan menghampirinya. Pria itu mendengus berat. "Ck. Dasar cacing-cacing tanah." Cibirnya sinis.


Ken melirik Luna yang ada dibelakangnya."Mundurlah, aku akan membereskan mereka dengan cepat." Ucap Ken yang segera dibalas anggukan oleh Luna. Ken tidak mungkin bisa menghabisi orang-orang itu dengan leluasa bila Luna ada didekatnya.


Tubuh pria itu terhuyung dan jatuh ke atas tumpukkan kayu setelah mendapatkan tendangan telak pada ulah hatinya. Ken menghajar mereka tanpa ampun dan tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk melayangkan serangan balik.


"Hei anak muda. Apa kau masih ingin melawan? Lihatlah apa yang aku lakukan pada wanita mu!"


Sontak Ken menoleh dan mendapati Luna berada dalam bahaya. Sebuah pisau menempel pada lehernya. Meskipun wanita itu tidak memberikan respon apapun tapi Ken tau bila Luna sangat ketakutan. Dia hanya mencoba untuk tetap tenang.


Ken mendengus berat. Menatap laki-laki itu datar. Dia tidak terlihat cemas dan panik sedikit pun. Dan bukan Ken namanya jika masih bisa panik di tengah situasi semacam ini.


"Masih ingin melawan. Hah?" diam-diam Ken mengeluarkan belati kecilnya lalu melemparkan ke arah pria itu. Belati itu menancap tepat di mata kirinya membuat pria itu mengeram kesakitan, cengkramannya pada Luna pun refleks terlepas.


Tembakkan yang Ken lepaskan membuat tubuh itu pun ambruk seketika dan pria itu meregang nyawa. Dua yang tersisa menjadi ragu untuk melawan lagi. Keduanya pun saling bertukar pandang dan lari tunggang langgang. Luna menghampiri Ken sambil memegangi lehernya yang sedikit tergores pisau milik pria yang menawannya tadi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Ken memastikan.


"Tidak apa-apa, Tuan Zhao, hanya luka kecil pada leherku." jawab Luna meyakinkan.


Kemudian Luna beranjak dan berjalan menuju bangku taman di ikuti Ken yang berjalan mengekor dibelakangnya. Samar-samar Luna mendengar ******* dari arah semak-semak. Penasaran suara apa itu, Luna berjalan dan mendekati semak-semak. Kedua matanya membelalak.


"KYYYAAA...!!"


Dan jeritannya yang keras mengejutkan Ken juga sosok yang ada di balik semak-semak. Ken menghampiri Luna dengan wajah panik. Wanita itu pun langsung berhambur memeluk Ken membuat pria itu semakin kebingungan.


"Hm, ada apa?" tanya pria itu penasaran.

__ADS_1


Luna menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Ken yang tersembunyi di balik kemejanya. "Di-disana aku melihat seorang wanita sedang bermain solo. Parahnya lagi dia menggunakan mentimun seukuran lengan dan memasukkan ke dalam itunya. A-Aku sangat geli." Ken mendengus berat.


Dia pikir Luna histeris harna apa. "Kita pulang," rengek Luna memohon. Wajahnya mendongak menatap Ken yang juga menatap padanya.


Ken tak memberikan respon apapun. Apa yang sekarang Luna lakukan dulu juga sering dia lakukan sebelum kecelakaan itu terjadi. Wanita itu selalu merengek dan bersikap manja padanya, sayangnya sifatnya sedikit berubah, dia tidak sebar-bar dulu, mungkin karena Luna masih belum sadar siapa dirinua.


Ken menatap Luna dengan penuh kerinduan. Dia sangat merindukan wanita yang ada dalam pelukannya ini. Istrinya begitu dekat tapi rasanya sangat jauh.


Dan Ken yang sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi langsung menarik tengkuk Luna dan mencium bibirnya. Membuat kedua mata wanita itu membelalak. Ponsel dalam genggamannya jatuh begitu saja.


Perlahan tapi pasti. Luna mulai menutup matanya dan menerima ciuman itu. Meskipun awalnya dia sangat terkejut, tapi Luna tidak bisa menolak ciuman Ken.


Ken terus mel*mat bibir kemerahan Luna tanpa berniat untuk segera mengakhirinya. Dan melalui ciuman itu Ken ingin menyampaikan betapa dia sangat merindukan wanita ini.


Luna sedikit tersentak saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipi kirinya. Ia pun membuka matanya dan mendapati sebuah liquid bening jauh dari pelupuk mata kanan Ken yang tertutup. Laki-laki itu menangis. Dan kedua mata Luna kembali tertutup saat merasakan ciuman Ken yang semakin dalam.


Ken segera tersadar langsung mengakhiri ciumannya. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk bersikap lancang," Ken berbalik dan menghapus air matanya. Ken tidak ingin bila Luna sampai melihatnya menangis meskipun pada kenyataannya wanita itu sudah menyadarinya sedari tadi.


"Tuan Zhao, kau tidak apa?"


"Ini sudah larut malam sebaiknya kita pulang sekarang," baru saja Ken hendak melangkahkan kakinya. Sebuah pelukan langsung menghentikan langkahnya. Tubuh Ken membeku. Raut wajahnya tetap datar. "Luna, apa yang kau lakukan?" Ken hendak melepaskan pelukan itu tapi Luna malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Sebentar saja. Biarkan seperti ini,"


-


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2