
Hujan mengguyur kota tanpa ampun. Angin kencang yang berhembus pun terlihat mengayunkan ratusan ranting pohon yang berdiri kokoh di halaman belakang sebuah perusahaan besar milik keluarga Zhao.
Seorang gadis terlihat memandang hujan dari sebuah ruangan yang setengah dindingnya terbuat dari kaca. Dia terjebak karena hujan yang mengguyur kota dengan tiba-tiba.
Di belakangnya berdiri sosok tampan yang sedari tadi hanya menatap datar pada hujan yang mengguyur tanpa ampun diluar sana. Kedua tangannya tersembunyi apik di dalam saku celananya, tubuhnya bersandar pada tembok. Sesekali pandangannya bergulir pada sosok jelita yang akhir-akhir ini selalu menghiasi hari-harinya.
"Key, apa kau pernah merasakan yang namanya patah hati?" Sosok itu tiba-tiba berbalik, sebuah pertanyaan terlontar dari bibir tipisnya.
"Kenapa kau tiba-tiba kau tertarik pada kehidupan pribadiku?" Pemuda itu 'Kevin' memicingkan matanya dan menatap Viona penuh tanya.
Gadis itu menggeleng. "Jangan salah paham apalagi terlalu kepedean, aku hanya sekedar bertanya. Tidak mau jawab juga tidak apa-apa." Ia kembali memandang keluar. Viona menoleh kebelakang mendengar derap langkah kaki seseorang mendekat. Kevin berdiri disampingnya.
"Tentu saja pernah, lalu bagaimana denganmu sendiri? Em, seharusnya aku sudah mendapatkan jawabannya,"
Viona menggeleng. "Memang pernah, tapi bukan pria itu. Jauh sebelum aku mengenal Ben dan menjalin hubungan dengannya, sebenarnya aku sudah pernah menjalin hubungan dengan orang lain. Kami berpacaran selama satu tahun, kurang lebih."
"Dia adalah pemuda yang baik, hangat dan penuh kasih sayang. Dia tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu yang tidak aku sukai, ciuman misalnya. Padahal aku tidak pernah melarangnya, tapi dia tetap tidak melakukannya antara bibir dan bibir. Hanya mengecup pipi dan keningku."
"Dia selalu mengatakan jika aku adalah satu-satunya gadis yang paling dicintainya. Hanya denganku dia ingin menghabiskan masa tuanya. Saat itu kami sangat bahagia, sampai hari itu tiba, dia mengatakan kami harus berpisah karena dia harus menikah dengan orang pilihan orang tuanya."
"Dan akhirnya kami pun berpisah. Sejak saat itu aku memutuskan untuk menutup hatiku rapat-rapat. Aku tidak pernah percaya lagi pada yang namanya cinta sejati dan ketulusan."
"Lalu bagaimana dengan mantan kekasihmu itu?" Kevin mulai tertarik dengan kisah cinta Viona. Dia ingin tau lebih banyak lagi.
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap pemuda yang berdiri disampingnya. "Aku dan Ben tidak saling mencintai, hubungan kami sedikit rumit. Aku menerima pernyataan cintanya bukan karena memang mencintainya, dia hanya pelampiasan ku saja."
"Ben juga bukan pria baik-baik. Di belakangku dia memiliki banyak wanita, kekasihnya ada dimana-mana. Hubungan hambar membuatku sedikit bosan, kemudian aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, tapi dia tidak mau." Jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
"Apa kau masih mencintai pria itu? Mantan kekasihmu?" Kevin menatap Viona penuh tanya.
Gadis itu menggeleng. "Bagaimana mungkin aku masih mencintai seseorang yang telah menyakitiku begitu dalam. Dia mengkhianati cinta kami, melanggar janjinya sendiri. Lalu apa yang bisa aku harapkan dari orang seperti itu." Ujarnya.
"Bagaimana jika suatu saat tiba-tiba dia kembali dan mengusik hidupmu lagi, bukankah tidak mungkin hubungan kalian akan terjalin kembali?!" Kevin mengepalkan tangannya. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat mengatakan kalimat itu.
Viona menggeleng. "Aku tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Dia hanya masa laluku, dan selamanya akan begitu. Kau mengerti bukan apa yang aku maksud?" Kevin mengangguk.
"Hujan sudah mulai reda, sebaiknya aku antar kau pulang." Kevin beranjak dari samping Viona dan pergi begitu saja.
Gadis itu menoleh keluar sekali lagi. Dia memikirkan kata-kata Kevin. Jika suatu saat dia kembali, mungkinkah hubungan itu akan terjadi lagi? Viona menggeleng, tentu saja tidak. Karena hidup ini bukan tentang masa lalu. Dia dan orang itu hanya akan menjadi masa lalu, dan selamanya akan begitu.
.
.
Keheningan menyelimuti kebersamaan Kevin dan Viona. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya. Mereka dalam pikiran masing-masing. Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan sedikit licin akibat hujan yang baru saja mengguyur kota.
"Maaf," satu kata keluar dari bibir Kevin yang sontak membuat perhatian Viona teralihkan.
Gadis itu memicingkan matanya. "Maaf, untuk apa?" Dia bertanya sambil menatap langsung ke dalam mata Kevin.
"Karena telah mengungkit masa lalu mu dan membuatmu teringat kembali pada hal yang paling menyakitkan dalam hidupmu." Jawabnya.
Viona menggeleng sambil menutup matanya."Tidak, itu bukan salahmu. Aku yang lebih dulu membahasnya." Ucap Viona.
"Kau tadi bertanya apakah aku pernah patah hati? Maka aku jawab sekarang, aku pernah patah hati. Gadis yang aku cintai, memutuskan hubungan kami demi pria lain yang lebih baik dariku. Aku sadar diri jika aku memang bukan kekasih yang baik. Aku tidak pernah bisa memberikan apa yang dia inginkan."
__ADS_1
"Mungkin saja dia muak menjalin hubungan denganku. Aku tidak bisa seperti pria lain yang selalu memberikan kejutan, mengatakan cinta setiap detik dan menitnya. Dimatanya aku bukan pria romantis, itulah yang membuatnya tidak tahan menjalin hubungan denganku. Dia memilih pergi dan mengakhiri hubungan kami," ujar Kevin panjang lebar.
Ternyata tak jauh berbeda dengan dirinya. Sama-sama pernah merasakan yang namanya patah hati. Viona jadi membayangkan seperti apa menjalin hubungan dengan pemuda dingin seperti Kevin. Pasti sangat kaku dan membosankan.
Dan karena asik mengobrol. Tidak terasa mereka telah tiba di kediaman Viona. "Mau turun dulu?" Tawar Viona. Kevin menggeleng. Dan Viona tidak bisa memaksanya. Setelah memastikan mobil Kevin melaju pergi, Viona melenggang ke dalam. Sampai tiba-tiba...
Gubrakk ...
"Aduh, pinggang Suketi sakiti!"
Sesuatu terjatuh di depan mata Viona. Viona memperhatikan sekelilingnya, lalu dia mendekati orang berbaju putih yang kesakitan di tanah itu. Dengan ragu-ragu dia mendekati sosok misterius itu, dalam hatinya Viona terus bertanya-tanya dari mana munculnya sosok tersebut.
"Ka..Kau siapa, dan bagaimana bisa muncul disini?" Tanya Viona.
Sosok berbaju putih itu mengangkat wajahnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang kuning dan runcing. Membuat mata Viona terbelalak saking kagetnya. Dengan keras dia menjerit...
"KKYYYAA!!! SETAN!!"
Sedangkan sosok putih itu mempoutkan bibirnya. "Menyebalkan, dimana-mana kenapa Suketi selalu disebut setan sih?! Apa suketi seburuk itu? Tidak di Hot Daddy, tidak disini, masih saja kemunculan Suketi mengejutkan orang." Dia mempoutkan bibirnya.
"Se..Sebenarnya kau ini apa? Manusia atau hantu?"
"Hihihi... Sepertinya Suketi harus memperkenalkan diri dengan resminya. Aku adalah Miss K, hantu cantik asal Indo bernama Suketi... Cantik salam kenal, hihihi..."
"Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam, bagaimana bisa ada hantu muncul di depan mataku?!"
-
__ADS_1
-
Bersambung.