
"Ya Tuhan, Paman!! Apa yang kau lakukan!!"
Marissa yang baru pulang bekerja dikejutkan dengan banyaknya lilin dan bunga mawar yang tersebar di lantai ruang keluarga. Dengan Devan yang duduk ditengah-tengah dikelilingi lilin dan bunga.
Devan lantas menoleh. "Ck, Riri. Jangan ganggu Paman dulu. Paman tadi habis dari Cenayang, dan jika ingin mendapat jodoh harus membuat ritual dulu lalu mandi tengah malam dengan air 7 sumur, 7 sungai, 7 samudra, 7 lautan, 7 air got yang telah jernih dan bunga 7 rupa. Beruntung si Cenayang punya semua bahan yang di butuhkan. Jadi pergilah dan jangan mengganggu lagi."
Marissa mendengus berat. Lagi-lagi masalah jodoh. Marissa sendiri tidak tau hal buruk apa yang dulu dilakukan pamannya ini dimasa lalu sampai-sampai Devan mengalami nasib yang begitu sial.
"Dasar orang sesat. Jika ingin mendapatkan jodoh bukan pergi ke Cenayang, tapi minta pada Tuhan. Lagipula jadi orang jangan terlalu pelit dan perhitungan, jadi mana ada wanita yang berani mendekat."
"Aish, kenapa kau malah menggurui Paman?! Paman sedang berkonsentrasi jadi jangan mengganggu lagi!!"
Kevin yang baru tiba terlihat memicingkan mata. Dia menghampiri sang kakak lalu bertanya padanya. Lalu Marissa pun memberitahu Kevin dengan cara berbisik di telinganya.
Pemuda itu memijit pelipisnya dan mendengus geli. "Dasar orang aneh!!" Lalu dia melenggang pergi. Dari pada melihat Devan dengan segala kekonyolannya, lebih baik dia pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Rumah tampak sedikit legang karena Luna dan Ken sedang pergi ke luar negeri.
Mengikuti jejak adiknya. Marissa pun meninggalkan Devan begitu saja. Dia terlalu bosan dengan apa yang dilakukan oleh pamannya satu itu. Berbeda dengan Aiden yang menolak untuk menikah, Devan justru berusaha untuk menemukan jodohnya.
.
.
Ponsel milik Kevin tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk. Dari nomor luar negeri, alih-alih menerima panggilan tersebut, Kevin malah mengabaikannya. Dia tidak ingin berurusan lagi dengan orang yang menghubunginya itu.
Tak ingin orang itu menghubunginya lagi. Kevin membuang nomor lamanya, dan berniat menggantinya dengan yang baru. Dia sudah tak ingin bersahabat dengan masa lalunya. Karena bagi Kevin, masa lalu tetaplah masa lalu, dan selamanya akan seperti itu.
-
-
"Selamat malam Tuan, Kai,"
__ADS_1
Seorang pelayan menunduk menyambut kedatangan seorang pemuda dengan balutan pakaian formalnya. Pemuda yang di panggil Kai menyerahkan tas kerjanya pada wanita berseragam pelayan tersebut "Di mana Ibu dan Minna?" tanyanya dengan suara datar.
"Nyonya ada di kamarnya, Tuan muda. Sedangkan nona Minna ada di ruang tengah!" jawab wanita itu sambil menundukkan kepalanya.
"Oh," Mengabaikan pelayan tersebut. Kai melanjutkan langkahnya dan melenggang menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti saat mata hitamnya melihat sosok gadis berparas barbie berambut coklat terang panjang bergelombang menuruni tangga dengan anggunnya.
Kai terpaku untuk beberapa saat. Matanya tak lepas sedikit pun dari sosok cantik itu sampai tepukan pada bahunya mengalihkan perhatiannya. "Kai," tegur seseorang.
Laki-laki itu menoleh dan mendapati pria bersurai putih berdiri di belakangnya "Kakek," Kai membungkuk pada laki-laki tua itu. "Kau sudah bekerja keras, nak. Ganti pakaianmu, setelah itu pergilah istirahat!" ujar laki-laki tua itu 'Jung Hilman'. Kai kembali menundukkan kepalanya dan berlalu begitu saja.
"Kakek,"
Langkah Kai kembali terhenti karena suara cempreng seorang gadis yang begitu merdu di telinganya. Kai menoleh dan sosok gadis berparas barbie yang tertangkap oleh mata hitamnya sedang bergelayut manja pada lengan Kakek Hilman.
Kai membalikkan tubuhnya, mata hitamnya mengunci wajah ayu gadis itu. Entah sadar atau tidak, sudut bibir Kai tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya "Kai, kemarilah!" Kakek Hilman melambaikan tangannya pada Kai, laki-laki itu mengangguk lalu melangkah menghampiri Kakek Hilman serta gadis itu 'Viona'.
"Kai, kenalkan. Ini Viona, dia cucu kakek yang beberapa bulan lalu minggat ke luar negeri. Pasti kau tidak mengingatnya, karena saat kalian bertemu, kalian masih kecil!" Kai mengulurkan tangannya pada Viona, yang kemudian di sambut olehnya.
Gadis itu tersenyum manis, membuat Kai ikut tersenyum "Hai, aku Viona!" kata Viona memperkenalkan diri.
"Dia putra sulung bibi Lia, dan selama ini dia tinggal bersama ayahnya di Jerman. 4 bulan lalu, kakek memanggilnya pulang dan sekarang dia bekerja di perusahaan!" tutur kakek Hilman memaparkan.
"Oke aku paham, bisakah Kakek biarkan aku pergi sekarang. Aku lelah dan ingin tidur." Kakek Hilman mengangguk. Lalu Viona pergi begitu saja dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
.
.
Ting..
Baru saja Viona hendak menutup matanya. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Dan sebuah nomor asing tertera di layar ponselnya yang menyala terang. Penasaran siapa yang mengiriminya pesan, Viona pun segera membuka pesan tersebut.
__ADS_1
"Ini nomor baruku, simpan dan buang nomor lamaku. Aku ada di taman dekat rumahmu, temui aku dalam 5 menit!!"
Viona mencoba mencerna isi pesan tersebut. Kedua matanya lantas membelalak, dengan kesal dia memaki orang yang mengiriminya pesan itu dengan berbagai sumpah serapahnya.
"Dasar kulkas 3 pintu. Apa dia sudah gila, menyuruhku keluar malam-malam begini, apa matanya sudah buta sampai-sampai tidak melihat ini jam berapa. Menyebalkan, mentang-mentang dia atasanku sekarang, jadi seenak jidat menyuruhku ini dan itu. Benar-benar pria tidak berhati!!"
Sambil berkomat-kamit tidak jelas. Viona menyambar kunci mobilnya yang dan diatas meja. Entah kenapa dia tidak bisa menolak ketika Kevin memintanya untuk datang menemuinya. Dan gilanya dia harus datang dalam waktu 5 menit.
Viona pergi dengan terburu-buru. Karena hanya 5 menit waktu yang dia butuhkan untuk tiba di taman.
.
.
"Yakk!! Kulkas 3 pintu, sebenarnya kau punya hati nurani tidak?! Ini sudah larut malam dan kau malah memintaku untuk datang kesini, sekarang katakan ada apa kau memanggilku datang?!"
Kevin mendengus, apa gadis ini tidak bisa diam?! Baru saja tiba, tapi mulutnya sudah tidak berhenti bicara. Dia menarik lengan Viona lalu menempatkan gadis itu disampingnya. Mereka duduk bersebelahan.
"Aku bosan di rumah dan tidak bisa tidur. Di kota ini aku masih sedikit asing, mungkin karena pergi terlalu lama. Dan hanya kau orang waras yang aku kenal disini, ya meskipun sedikit gila. Tapi setidaknya kau tidak seperti teman-teman lamaku yang lain."
Pletakk..
Sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Kevin. Baru saja dia hendak melayangkan protesnya. Tapi Viona lebih dulu membuka bibirnya.
"Dasar kulkas 3 pintu. Sudah menyuruhku datang di tengah malam, masih menyebutku gila lagi. Tau begitu aku tidak akan datang!!" Viona melayangkan protesnya pada Kevin. Sedangkan pemuda itu menanggapinya dengan acuh tak acuh.
"Bisakah kau diam sebentar saja, biarkan pikiranku tenang sebentar saja."
Viona mendesah berat. Lebih baik dia memang tidak bicara. Karena bicara dengan manusia seperti Kevin membutuhkan kesabaran ekstra. "Heh, terserah."
-
__ADS_1
-
Bersambung.