
"Ken, hentikan mobilnya!!"
Ken yang kebingungan pun segera menghentikan mobilnya. Tanpa mengatakan apa-apa Luna turun dan berlari menuju sebuah emper toko. Tidak ada hal menarik yang Ken lihat di sana, selain seorang anak kecil berusia 2 tahun yang sedang menangis ketakutan.
Luna menghampiri gadis kecil itu dan berlutut di depannya. Mensejajarkan tingginya dengan anak itu. "Hai, Princess. Kenapa menangis dan sendirian di sini? Dimana orang tuamu?"
"Meleka menulunkanmu di sini dan pelgi ke sana. Katanya aku anak nakal dan tidak mau melawatku lagi."
Luna menatap gadis kecil itu dengan sendu."Jadi mereka membuang mu?" Gadis kecil itu mengangguk. Luna tidak tau terbuat dari apa hati orang tua anak ini, sampai-sampai mereka tega meninggalkan anak sekecil ini sendirian di jalan.
"Siapa namamu, Nak?"
"Hanny." Jawab gadis kecil itu yang ternyata bernama Sean. Tiba-tiba gadis kecil itu menangis sambil memegangi perutnya. "Hua, aku lapar. Meleka tidak membeliku makan."
Dengan lembut, Luna menghapus air mata Hanny. Entah kenapa dia merasakan sesak yang luar biasa pada dadanya, jika saja si kembar masih hidup, pasti dia sudah seusia anak perempuan ini. "Kau lapar kan, bagaimana jika ikut Bibi. Bibi akan memberikanmu burger untukmu."
"Apa tidak melepotkan?"
Luna menggeleng. "Sama sekali tidak, kau tunggu di sini sebentar ya. Bibi ambil dompet dulu." Gadis kecil itu itu mengangguk.
"Luna, siapa gadis kecil itu?"
Luna menggeleng. "Aku juga tidak tau, dia dibuang oleh orang tuanya dan saat ini kelaparan. Ken, tidak masalah bukan jika kau menunggu sebentar. Aku mau membelikannya beberapa buah burger untuknya, setelah ini bisa antar kan aku membawa anak itu ke panti asuhan. Aku tidak bisa membiarkan dia kelayapan sendiri di luar, itu sangat berbahaya." Ujar Luna.
Ken turun dari mobilnya lalu menghampiri anak itu. Gadis kecil itu terlihat ketakutan saat Ken mendekatinya, dia terus menunduk sambil memainkan jari-jari mungilnya. Ken memperhatikan anak itu dengan seksama, mulai dari mata, hidung, bibir sampai bentuk wajahnya, semua mirip dengan Luna.
Luna yang kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh suaminya segera menghampiri mereka berdua. "Ken apa yang kau lakukan? Kau membuatnya ketakutan." Seru Luna lalu membawa gadis kecil itu ke dalam pelukannya.
"Luna, tidaklah kau merasa familiar. Lihat warna mata, hidung sampai bibirnya dan bentuk matanya. Semua begitu mirip denganmu, rasanya ini bukan seperti sebuah kebetulan." Ucap Ken sambil mengunci iris Hazel Luna.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu, Ken. Tapi kemudian aku ditampar oleh kenyataan jika anak-anakku sudah meninggal." Suara Luna berubah parau.
Ken menggeleng. "Aku rasa tidak!! Kita masih bisa menyelidikinya sekali lagi. Aku ingat, bajingan itu pernah terlihat dengan sindikat penjualan anak, bisa jadi kedua bayimu masih hidup saat dilahirkan."
"Mereka bukan meninggal tapi di kirim keluar negeri. Aku akan menyelidiki masalah ini. Dan hari ini juga kita akan melakukan tes DNA pada anak ini. Jika keyakinan ku benar, aku akan memburu orang-orang itu dan tidak akan ku lepaskan mereka semua!!"
__ADS_1
"Ken," ucap Luna sambil menatap Ken tak percaya.
"Ayo, kau bilang anak ini lapar bukan? Sebaiknya kita pergi ke cafe. Kebetulan di dekat sini ada cafe, setelah ini kita pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Jangan kirim anak ini ke panti asuhan, tapi kita bawa dia pulang."
Luna mengangguk. "Baiklah."
-
-
Tidak perlu berhari-hari untuk mengetahui Hanny adalah darah dagunya atau bukan. Hasil tes DNA membuktikan jika gadis kecil itu memang buah hatinya dan Luna. Dia adalah janin yang dulu ada di dalam rahim Luna waktu itu. Dia terlahir secara prematur karena usia kandungan Luna pada saat itu masih tujuh bulan lebih dua minggu.
Ken tidak bisa lagi membendung kebahagiaannya saat mengetahui jika salah satu dari kedua buah hatinya ternyata masih hidup. Namun Ken masih belum tau bagaimana nasib anaknya yang satu lagi. Dia masih hidup atau sudah tiada.
Dengan kembalinya Luna dan Hanny ke dalam pelukannya. Membuat hidup Ken menjadi lebih sempurna, dan dia tidak akan membiarkan mereka menghilang dan pergi lagi dari sisinya.
Dan masalah anak kembarnya yang masih belum diketahui keberadaannya, Ken akan terus mencari dan menyelidikinya.
"Kenapa Bibi dan Paman menangis? Apa Hanny nakal pada kalian beldua?"
"Kenapa? Hanny sudah memiliki olang tua, meskipun meleka tidak pelnah menyayangiku."
Luna menggeleng. "Tapi mereka bukan orang tuamu, Sayang. Kamilah Mama dan Papamu yang sebenarnya, Nak. Kau adalah putri kami yang selama ini hilang. Hanny, maafkan Mama. Karena telah membiarkanmu hidup dalam kesengsaraan, Nak." Air mata Luna pecah, dia menangis sambil memeluk putrinya itu.
Hanny pun ikut menangis juga. Dia memeluk Luna dengan sangat erat. Ken juga tidak bisa menahan air matanya. Dia menghampiri mereka berdua dan kemudian memeluk istri serta putranya itu.
"Papa janji, Nak. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang bisa menyakitimu. Papa akan selalu melindungi-mu." Ucap Ken sambil memeluk mereka dengan erat.
Baik Ken maupun Luna sama-sama tidak pernah menduga jika putri mereka ternyata masih hidup. Meskipun kembaran Hanny masih belum di ketahui keberadaannya, tapi Ken tidak akan menyerah untuk menemukan anaknya tersebut.
"Ayo kita pulang, pulang ke rumahmu yang sebenarnya." Kemudian Ken membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya. Hanny tidak merasa takut lagi seperti tadi. Pelukan Ken begitu hangat dan nyaman. Pelukan yang tak pernah dia rasakan selama ini.
-
-
__ADS_1
Ken menghentikan mobilnya di halaman luas mansion mewahnya. Pria itu segera turun begitu pun dengan Luna, dan Hanny yang ada di gendongan perempuan itu.
Mata gadis kecil itu tidak berkedip sedikit pun melihat bangunan megah bak istana dihadapannya. Rumah itu begitu besar dan mewah, halaman yang luas yang di kanan-kirinya di tumbuhi bunga berbagai jenis dan warna.
Luna menurunkan Hanny dan membiarkan buah hatinya itu berjalan di depannya. Ken merangkul bahu Luna dan mereka sama-sama melemparkan senyum tipis. Hanny tidak menduga jika ternyata ia memiliki ayah yang sangat kaya raya.
"Pa, Ma, apakah di lumah ini aku akan tinggal mulai sekalang?" tanya bocah dua tahun itu dengan tatapan polosnya.
Ken melepaskan rangkulannya pada bahu Luna lalu menghampiri sang putri. Sudut bibirnya tertarik ke atas. "Ya, Nak. Ini adalah rumahmu, dan mulai hari ini kau akan tinggal di sini. Apa kau suka?"
"Suka," jawabnya dengan semangat. Ken tersenyum, dengan lembut pria itu mengacak rambut coklat buah hatinya.
"Ya Tuhan, dia lucu dan imut sekali."
Perhatian mereka teralihkan oleh seruan keras seseorang dari arah teras rumah. Aiden berhamburan keluar untuk menyambut kedatangan keponakannya itu. Bukan hanya dia saja tapi Tuan Valentino juga.
Luna menghubungi mereka dan mengatakan jika ia dan Ken baru saja menemukan anaknya yang selama ini dikira telah meninggal.
Tuan Valentino menghampiri cucunya dan memeluknya. "Hallo, My Sweet Heart. Ini adalah Kakek,"
"Aku memiliki Kakek juga?"
"Bukan hanya memiliki Kakek saja, Sayang. Tapi kau juga memiliki Paman yang sangat tampan." Ucap Aiden tak mau kalah.
"Bukan satu tapi tiga. Hei Hyung, apa kau melupakan kami, huh." Protes Tao. Tao pun memperkenalkan dirinya dan Felix pada Hanny. Mereka semua menyambut kedatangan bocah itu dengan hangat dan penuh suka cita.
Ken dan Luna saling bertukar pandang. Mereka begitu senang karena Hanny bisa di terima dengan baik oleh semua orang. Ken mengecup kening Luna dan keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Hanny langsung menjadi tawanan Felix, Aiden dan Tao.
"Rasanya aku masih tidak percaya jika ternyata salah satu dari kedua anakku masih hidup. Terkadang aku berfikir jika ini semua ini hanya mimpi, mengingat semua yang telah terjadi dua tahun yang lalu," ujar Luna sambil menatap kedua buah hatinya.
"Tapi ini nyata, Sayang." Balas Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Luna. "Aku akan mandi dan ganti pakaian dulu. Sebaiknya kau temani mereka." Ucap Ken dan pergi begitu saja.
-
-
__ADS_1
Bersambung.