
Malam itu, adalah interaksi terakhir mereka berdua. Sejak malam itu, 6 bulan yang lalu. Kevin dan Viona benar-benar memutuskan untuk saling menjauh. Ketika tidak sengaja saling bertemu, mereka berdua bersikap seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
Kevin meninggalkan kantornya setelah mendapatkan telfon dari tangan kanannya. Anak buah Kevin berhasil meringkus beberapa anak buah Marco yang mencoba membuat masalah di Manson utama.
Marco mencoba menjadikan keluarganya sebagai sasaran untuk melumpuhkan Kevin. Tapi sayangnya hal itu bukanlah perkara yang mudah, mengingat bagaimana cara Kevin melindungi mereka dari bahaya.
Tanpa sepengetahuan Ken dan seluruh keluarga Zhao, Kevin memiliki banyak anak buah yang selalu bekerja untuknya di balik bayangan. Mereka memang tidak pernah menunjukkan diri secara terbuka, tapi selalu siap ketika Kevin membutuhkan mereka.
Mereka sangat setia dan sudah mengikuti Kevin lebih dari 5 tahun. Jumlah mereka pun tidak bisa diperkirakan, dan selalu bertambah setiap tahunnya. Dan bukan puluhan lagi, melainkan ratusan. Tidak hanya berpusat di satu negara saja, tapi jaringannya tersebar di lima benua.
Dan jumlah kekuatan yang Kevin miliki dibelakangnya, tentu saja lebih besar dari yang dulu Ken miliki.
Berbeda dengan Ken yang secara terang-terangan, Kevin membentuk organisasi itu secara tertutup sehingga tidak ada yang menyadari siapa pemuda itu yang sebenarnya, termasuk keluarga besarnya.
"Dimana mereka?"
"Mereka ada di ruang bawah tanah, dan saat ini sedang diinterogasi."
"Tidak perlu diinterogasi, langsung habisi saja. Tidak ada gunanya juga, toh mereka juga tidak akan memberikan informasi apapun tentang bajingan itu pada kita!!"
"Baik, Tuan."
Kemudian Kevin meninggalkan Jonas begitu saja dan pergi ke ruang pribadinya yang berada di lantai dua. Pemuda itu melepas jasnya lalu mengambil sebatang rokok dari kotaknya lalu menyulutnya.
Pemuda itu berdiri di depan dinding kaca disamping tempat tidurnya dengan sebelah tangannya yang ia sembunyikan di dalam saku celananya, pandangannya tertuju pada hamparan mawar dan tulip yang tumbuh subur taman belakang bangunan yang memiliki dua tersebut.
Tidak bisa Kevin pungkiri, dia kehilangan semangat hidupnya setelah Viona pergi jauh dari sisinya. Gadis itu memang bukan kekasihnya, tapi dia begitu spesial di hati Kevin.
Kevin ingin sekali bersikap egois dengan tetap menahan gadis itu disisinya, tapi hal itu justru akan membuat hidup Viona dalam bahaya. Dan Kevin tidak ingin jika gadis itu sampai celaka karena dirinya.
"Viona akan bertunangan akhir bulan ini, apa kau akan datang untuk memberinya selamat?"
__ADS_1
Kevin menutup matanya. Kata-kata Marissa kembali berputar di otaknya. Viona telah dijodohkan dengan pemuda pilihan kakeknya, dan akhir bulan ini mereka akan bertunangan. Viona tidak menolak karena dia tidak ingin membuat kakeknya kecewa.
Kemudian Kevin mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Susan, segera pergi ke toko perhiasan dan belikan sebuah kalung berlian untukku. Lalu kirim bersama buket bunga mawar ke kediaman keluarga Jung. Kirim perhiasan dan bunga itu sebagai hadiah pertunangan Viona," pinta Kevin pada sekretarisnya.
"Baik, Presdir."
Kemudian Kevin memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Dia membuang puntung rokoknya yang hanya tinggal setengah lalu melenggang keluar. Ini sudah hampir jam makan siang, dan Kevin berencana makan siang di luar bersama kakaknya.
-
-
"Cukup, Nico. Aku sudah lelah, kita ambil saja gaun yang pertama tadi."
Pria itu 'Nicolas' menggeleng. Menurutnya gaun pertama yang Viona coba tadi terlalu sederhana dan tidak sesuai dengan acara pertunangan tersebut. Apalagi tamu undangan yang datang tidak hanya puluhan ataupun ratusan, tapi mungkin ribuan.
"Tidak, Hanny. Itu terlalu sederhana dan tidak sesuai denganmu. Kita cari yang lebih mewah dan elegan ya. Kau harus terlihat cantik dihari pertunangan kita nanti. Aku tidak ingin kau terlihat tidak sempurna karena semua rekan Bisnisku hadir di sana."
"Tidak boleh!! Kau itu perempuan dan harus menjaga bentuk tubuhmu. Ingat apa kata mamaku, kau itu harus diet agar terlihat menawan saat di pesta pertunangan kita nanti."
"Aku tidak peduli. Dan masa bodoh dengan kata mamamu!!" Viona menyentak tangan Nicholas dan pergi begitu saja. Nicholas pun tak tinggal diam, dia segera menyusul dan menghentikan Viona.
"Viona, tunggu!!"
.
.
Nicholas menatap semua makanan yang ada di atas meja dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Padahal dia sudah meminta Viona untuk berdiet, tapi kenapa semua makanan yang dia pesan malah yang mengandung lemak dan membuat tubuh gemuk.
"Hanny, apa-apaan ini?! Apa kau sengaja melakukannya, bukankah aku sudah memintamu untuk berdiet. Kau itu harus terlihat sempurna dan menawan dihari pertunangan kita nanti. Apa kau ingin mempermalukan keluargaku dengan penampilanmu yang buruk?!"
__ADS_1
"CUKUP YA, NICHOLAS!!" Viona bangkit dari kursinya sambil berteriak keras.
Dan suaranya yang lantang menyita perhatian semua orang yang ada di cafe, termasuk sosok pemuda yang duduk di meja paling ujung. Nicholas menyapukan pandangannya, dia menatap sekeliling dan mereka menjadi pusat perhatian.
"Viona, apa-apaan aku ini?! Kenapa kau berteriak dan menyita perhatian semua orang? Duduklah, kau mempermalukan ku,"
"Aku sudah muak dengan semua aturan keluargamu!! Yang katanya tidak boleh ini, tidak boleh itu. Harus begini, harus begitu. Belum juga menikah, tapi kau sudah banyak mengaturku."
"Ingat ya, sejak awal aku tidak pernah menyetujui perjodohan bodoh ini. Jika kau tidak bisa menerimaku apa adanya. Lebih baik kita batalkan saja pertunangan itu, aku tidak ingin memiliki suami sepertimu yang banyak mengatur."
"Dan lagipula pria sepertimu bukanlah tipeku. Dan ambil kembali cincin keluargamu ini!!" Viona melepaskan cincin yang melingkari jari manisnya lalu melemparkan pada Nicholas.
Viona menyambar tasnya dan pergi begitu saja. Bahkan dia tidak peduli dengan semua makanan yang telah dipesannya. Dia juga tidak peduli dengan rasa laparnya. Dia benar-benar sudah kehilangan selera makannya.
"Viona, kau mau kemana? Lalu bagaimana dengan semua makanan-makanan ini?! Siapa yang akan menghabiskannya, dan siapa yang harus membayarnya? Kembalilah, kita harus patungan untuk membayar semua makanan-makanan yang kau pesan ini!!" Teriak Nicholas namun dihiraukan oleh Viona.
"Masa bodoh!!" Jawab gadis itu menimpali.
Sementara itu...
Pemuda yang sedari tadi duduk di meja paling ujung bangkit dari duduknya dan segera mengejar Viona. Dia mengatakan pada sang kakak jika ada urusan mendadak. Dan tentu saja Celo tau urusan apa yang dimaksud oleh adik bungsunya tersebut.
Kevin mengikuti Viona dari belakang secara diam-diam. Gadis itu terus saja menggerutu tidak jelas. Dia menghujani Nicholas berbagai sumpah serapah. Viona tidak hanya kesal setengah mati, tapi dia benar-benar muak padanya. Belum juga apa-apa, tapi dia sudah banyak mengaturnya.
"Sial, aku lapar. Mau makan besar tidak jadi. Anak Mama itu benar-benar KETERLALUAN, lihat saja bagaimana aku akan mempermalukan dia dan keluarganya yang sok bangsawan itu di depan semua tamu undangan. Benar-benar merepotkan!!"
-
-
Bersambung.
__ADS_1