
Entah sebuah kebetulan atau memang takdir. Meja yang Viona pilih bersebelahan dengan meja yang di tempati oleh Kevin dan Vera. Dia sengaja, Viona ingin melihat bagaimana romantisnya pemuda mirip kulkas tiga pintu itu ketika berkencan dengan seorang gadis.
Membayangkan Kevin yang dingin seperti kutub utara tiba-tiba bersikap manis dan berubah menjadi seorang yang Bucin, membuat Viona terkekeh sendiri.
"Key apa yang sebenarnya kau lihat?" tegur Vera pada Kevin yang sedari tadi sibuk melihat kerah lain dan tidak menghiraukan dirinya yang sedang berbicara panjang lebar.
Kevin menoleh dan wajah kesal Vera lah yang tertangkap oleh matanya. Kevin menghela nafas panjang "Diamlah, kau terlalu berisik!" hanya beberapa kata saja namun cukup untuk membuat gadis itu semakin kesal.
Kemudian Vera tersenyum. Gadis itu menyodorkan sendoknya yang telah Ia isi makanan pada Kevin. "Key, cobalah makanan ini. Rasanya sangat lezat," Kevin menolaknya dan ogah mencoba makanan yang Vera sodorkan padanya.
Kevin menoleh kesisi kirinya, matanya menatap sisi wajah Viona. Mengamati ketika gadis itu menyantap makanannya dengan tenang.
Entah di sadari atau tidak, sudut bibir Kevin sedikit tertarik keatas membentuk senyuman setipis kertas. Namun senyum itu luntur begitu saja ketika melihat Kai mengulurkan tangannya dan jarinya menghapus saus yang ada di sudut bibir gadis itu.
Kevin merasa kesal melihat pemandangan itu. Seperti ada rasa tidak suka ketika tangan Kai menyentuh bibir Viona. Padahal Kevin sendiri sadar jika Ia dan gadis itu tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi Kevin sangat kesal ketika ada pria lain yang mendekatinya.
Krakkk ...!!!
Perhatian beberapa pengunjung terarah pada Kevin. Baru saja pemuda itu memecahkan gelas minumannya karena genggamannya yang terlalu erat. Akibatnya tangan Kevin terluka dan berdarah. Melihat hal itu membuat Vera menjadi sangat panik
"Key, kau berdarah!" serunya panik.
Kevin menepis tangan Vera dan bangkit dari duduknya. "Aku akan ketoilet sebentar," ucapnya dan pergi begitu saja. Selepas kepergian Kevin, Vera memanggil pelayan dan memintanya untuk membersihkan pecahan beling yang berserakan di lantai dan tergeletak di atas meja.
Pihak restoran tidak menyalahkan Kevin, justru mereka menganggap itu sebuah kelalaian pihak restoran karna mengira jika gelas minuman Kevin memang rapuh.
"Kakek, aku ke toilet dulu!" Tiba-tiba Viona bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja.
Dari jarak lima meter Viona dapat melihat punggung tegap Kevin yang tertutup kemeja hitamnya. Pemuda itu berdiri di depan wasstafel yang berada di antara pintu masuk toilet pria dan wanita.
Viona menghela napas berat. Gadis itu mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Kevin.
"Ini,"
Kevin sedikit terkejut, sontak Ia berbalik badan. Viona berdiri sambil menyodorkan sebuah sapu tangan padanya. Tak lantas Kevin menerima sapu tangan itu dan hanya diam sambil menatap gadis itu datar.
__ADS_1
Menghela nafas panjang, kemudian Viona meraih tangan Kevin lalu mengingatkan sapu tangan itu pada telapak tangan pemuda itu yang terluka. "Apa yang kau lakukan?" Kevin menarik tangannya tapi tangan Kevin kembali di tarik oleh Viona.
"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan. Sampai-sampai membuat dirimu terluka seperti ini." Viona mengangkat wajahnya dan matanya bersirobok dengan wajah dingin Kevin.
Kevin tidak memberikan respon apapun. Dia hanya diam. Pemuda itu seperti sedang berpikir, sorot matanya juga tampak ragu-ragu. Mungkin dia hendak bertanya sesuatu. Tapi suaranya tertahan di tenggorokannya.
"Sebaiknya suruh kekasihmu itu untuk mengobatinya nanti,"
"Dia bukan kekasihku!!" Kevin menjawab cepat.
Viona memicingkan matanya. "Terserahlah, mau kekasihmu atau bukan. Suruh dia mengobatinya. Aku pergi dulu," ucap Viona namun pergelangan tangannya ditahan oleh Kevin.
"Ikut ke mobil, kau saja yang mengobatiku."
"Tapi, bagaimana dengan kakek?" Viona menunjuk ke arah kakeknya. "Dia pasti mencariku jika tiba-tiba aku menghilang," ucapnya.
"Kirim pesan saja padanya, bilang kalau tiba-tiba kau ada urusan."
"Tapi~"
"Iya, iya aku pergi." Gadis itu mempoutkan bibirnya.
Mulutnya terus saja berkomat-kamit tidak jelas. Berbagai sumpah serapah keluar dari bibir tipis itu, yang semua tentu saja ditunjukkan untuk satu orang, Kevin. Viona tidak tau kenapa pemuda satu ini selalu bertindak seenak jidat dan membuatnya kesal setengah mati.
.
.
Disini mereka sekarang. Kevin dan Viona berada di mobil pemuda itu. Selain mengobati luka di telapak tangan Kevin yang terluka akibat pecahan gelas, Viona juga mengganti perban di pelipis pemuda itu yang masih belum mau beranjak hingga hari ini.
Ini sudah hari kedua. Tapi luka itu belum juga kering. Viona yakin jika Kevin tidak merawatnya dengan baik. Karena jika di rawat dengan benar, pasti dalam dua hari sudah ada perubahan.
Bukankah kakak Kevin adalah seorang dokter handal dan terbaik, tapi mereka juga jarang ada waktu luang. Kevin yang berangkat pagi dan pulang tengah malam , begitu pula dengan Marissa. Tidak ada tanggal merah di kalender dokter cantik itu. Karena bagi Marissa, para pasiennya adalah yang paling penting.
"Kenapa lukanya belum kering, apa kau membiarkannya saja?" Tanya Viona di tengah kesibukannya.
__ADS_1
"Hn,"
"Ck, berhentilah memakai bahasa yang tidak aku mengerti, Kevin Zhao!!"
"Cerewet, cepat selesaikan."
Viona mendecih sebal. Dengan kesal dia menekan luka itu sedikit keras membuat Kevin memekik keras. "Yakk!! Kau sudah bosan hidup ya!!" Bentak Kevin penuh emosi.
"Siapa suruh mengataiku cerewet." Viona tak mau kalah.
Viona mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan darah disekitar luka jahitnya, luka itu kembali mengeluarkan darah karena dirinya. Viona sengaja menekannya. Setelah memastikan darahnya benar-benar bersih, Viona mengoleskan obat lalu menutupnya dengan perban. Begitu pula dengan luka ditelapak tangannya.
"Temani aku makan ditempat lain, aku belum sempat sarapan. Sebaiknya pasang sabuk pengaman mu dengan benar," pinta Kevin dan mulai menyalahkan mesin mobilnya.
Viona menghela napas berat. Dia menuruti apa yang pemuda itu katakan. Karena jika tidak, pasti Kevin akan memberikan ancamannya yang mengerikan.
-
-
"KYYYAAA!!!"
Seorang wanita berteriak histeris saat mendapati dirinya tengah berada di ranjang yang sama dengan seorang pria yang terlihat sedikit asing.
Mendengar teriakan wanita itu membuat pria itu sedikit terusik. Ia pun membuka matanya yang masih terasa berat. "Ada apa, kenapa ribut-ribut," ucap pria itu sambil mengucap matanya.
"Dasar mesum!! Apa yang kau lakukan di kamar ini? Dan.. dan.. kenapa kita sama-sama tidak berpakaian?!" Tanya wanita itu melintas penjelasan.
Mata pria itu yang pastinya adalah Aiden sontak membelalak. Dia melihat ke dalam selimut yang membalut tubuhnya. Matanya kembali membelalak melihat tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Aiden pun menyadari sesuatu. Dengan keras dia berteriak...
"PAPA!!!"
-
-
__ADS_1
Bersambung.