
Mobil mewah itu berhenti di halaman luas sebuah bangunan bertingkat yang lebih layak di sebut Istana.
Kedua mata Jessline tak berkedip sedikit pun melihat bagaimana megah dan mewahnya bangunan tersebut. Tiba-tiba Jessline menghentikan langkahnya saat sekelebat bayangan melintas dan menari-nari di dalam pikirannya.
"Lihat saja nanti, setelah aku dewasa. Daniel akan menikahi kakak cantik!!!"
"Aku sangat mencintaimu, Luna. Dan aku ingin menua bersamaku."
"Bolehkah mulai sekarang aku memanggilmu Mama?"
"Aaahhh... kepalaku!!"
Jessline sedikit terhuyung dan sebelah tangannya mencengkram kepalanya serasa ingin pecah. Bayangan-bayangan itu tiba-tiba muncul dan memenuhi kepalanya ketika dia mulai melangkahkan kakinya di teras mansion tersebut.
Mansion itu terasa sangat familiar dan sangat tidak asing baginya, tapi Jessline tidak pernah merasa jika dirinya pernah datang ke tempat ini sebelumnya.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" seorang pria segera menahan tubuh Jessline yang hampir saja kehilangan keseimbangan. Wanita itu menggeleng, meyakinkan pada pria itu jika dirinya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja."
"Nona, silahkan. Tuan, sudah menunggu Anda di dalam." Ucap salah seorang dari kedua pria asing tersebut.
Dengan perasaan ragu dan tak yakin. Jessline mengikuti kedua pria itu masuk ke dalam lalu mereka mempersilahkannya untuk duduk di sofa ruang tamu sembari menunggu kedatangan tuan mereka. Jessline memperhatikan apa yang ada di sekelilingnya, semua benar-benar terlihat familiar.
Samar-samar telinganya menangkap suara derap langkah kaki seseorang yang datang. Kedua matanya membelalak saking kagetnya dan refleks dia bangkit dari duduknya lalu melangkah kebelakang.
"Tidak perlu takut. Duduklah dan dengarkan dulu penjelasanku." Ujar pria itu yang pastinya adalah Ken.
Untuk sejenak, Ken menatap wanita dihadapannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
__ADS_1
Kemiripan Jessline dan Luna membuat otak Ken seketika berhenti bekerja. Dadanya terasa sesak seperti ada bongkahan batu besar yang menghantamnya. Sedangkan Jessline terus menundukkan wajahnya dan jari-jari lentiknya meremas kuat dress yang membalut tubuh rampingnya.
"Kita langsung saja pada intinya." Sontak Jessline mengangkat wajahnya setelah mendengar suara dingin terlewat datar itu kembali berkaur di dalam telinganya. "Kau berada di sini karena pamanmu memiliki banyak hutang padaku!" lanjut Ken sambil menatap sepasang iris hazel itu dengan penuh keseriusan.
Jessline tersenyum miris. "Jadi benar dia menjualku padamu?" Ken membaca tulisan itu dan menggeleng.
"Tidak! Karena aku tidak pernah membelimu darinya. Aku justru ingin melindungi dan menyelamatkanmu dari orang seperti dia. Aku memang bukan pria baik-baik dan hampir setiap hari aku berkecimping di dunia yang penuh dengan hal-hal kotor."
"Kedua tanganku ini selalu berlumur darah, dan aku tidak bisa menghitung berapa banyak orang yang mati di tanganku selama tiga tahun terakhir ini, tapi aku tidak akan melibatkan orang yang tidak bersalah dalam sebuah masalah."
"Kau ada di sini bukan karena aku benar-benar menyetujui kemauan, pamanmu. Tapi aku menyetujui penawarannya karena aku ingin melindungimu dari manusia seperti dia. Dia pasti akan terus menggunakanmu sebagai jaminan hutang-hutangnya, dan aku harap kau tidak salah paham padaku."
"Sebaiknya kau tinggal di sini untuk sementara waktu dan anggap saja sebagai rumah sendiri. Kau tidak perlu merasa sungkan."
"Terimakasi, Tuan Zhao, aku tidak tau bagaimana harus berterimakasih padamu. Aku berjanji akan membalas kebaikanmu suatu saat nanti."
"Tidak perlu dipikirkan yang terpenting kau aman dulu. Kamarmu ada di lantai dua. Pelayan akan mengantarkanmu dan sebaiknya kau istirahat. Kau terlihat lelah. Aku harus pergi untuk mengurus sesuatu."
Dan kelompok mafia yang didirikan oleh Ken adalah kelompok mafia yang paling ditakuti dan disegani.
Mengungkap jaringannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ken sangat cerdik dan licik. Tidak ada barang bukti apapun yang bisa ditemukan di lokasi ketika dia beraksi. Ken melakukannya dengan sangat bersih.
Ken menghentikan sejenak langkahnya kemudian menoleh dan iris kanannya langsung bersirobok dengan sepasang mutiara hazel Jessline. Dalam hati kecilnya, Ken sangat berharap bila Jessline adalah Luna yang sedang hilang ingatan dan suatu saat bisa kembali ke dalam pelukannya.
Dan entah kenapa melihat tatapan sendu Ken membuat dada Jessline terasa seperti di iris-iris. Ken terasa begitu familiar untuknya, tapi dia tidak merasa pernah bertemu dengan dia sebelumnya.
Dan kontak mata di antara mereka berakhir saat Ken berbalik dan melanjutkan langkahnya. Selanjutnya yang tertangkap oleh sepasang iris mata Jessline hanya punggung tegap Ken yang semakin menjauh.
"Ya Tuhan, perasaan familiar apa ini? Kenapa hatiku berdegup kencang saat melihat tatapannya yang teduh? Ken Zhao, siapa kau sebenarnya?"
__ADS_1
"YA TUHAN!!!"
Jantung Paman Wang nyaris berhenti berdetak saat dia melihat keberadaan Jessline di ruang tamu. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang tengah disaksikan oleh kedua matanya saat ini. Dengan sedikit menahan rasa horor, Paman Wang mendekati perempuan itu.
"Nyo..Nyonya?!" Ucap Paman Wang sedikit terbata-bata.
Kemudian Jessline menoleh. Wanita itu tersenyum ramah seraya membungkuk pada Paman Wang. Paman Wang menatap Jessline dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia memegangi kepalanya dengan tubuh sedikit oleng. "Aku... rasanya mau semaput!!!" Ucap Paman Wang lalu jatuh tak sadarkan diri.
Melihat hal tersebut Jessline pun menjadi sangat panik. Dia bingung harus bagaimana, berteriak memanggil nama pria itu, rasanya tidak mungkin. Tenggorokannya bisa bermasalah lagi jika dia memaksakan diri untuk bicara. Dia mesti meminta pertolongan, tapi kelihatannya semua orang sedang sibuk.
Tidak memiliki pilihan lain. Kemudian Jessline membantu pria tua itu untuk berdiri lalu memapahnya menuju sofa. Jessline menggunakan segala cara untuk membuat Paman Wang sadar, mulai dari mengguncang lengannya, meniup telinganya, sampai menggelitik perutnya. Tapi tidak berhasil juga.
Jessline benar-benar frustasi, kemudian dia melihat sepatu yang di pakai oleh pria itu. Sebuah ide pun muncul. Jessline membuka salah satu sepatu yang di pakai Paman Wang lalu mengarahkan pada hidungnya.
"Hachuuu..."
Paman Wang langsung sadar setelah mencium aroma sepatunya sendiri yang sangat tidak sedap. "Ha...Hantu!!" Matanya membelalak setelah melihat Jessline lalu pingsan lagi.
"Astaga, kenapa sih pria ini? Kenapa selalu terkejut dan pingsan setelah melihatku? Apa dia pikir aku ini hantu?!" Batin Jessline kesal.
"Eo, siapa kau? Kenapa kau ada di rumah ini? Dan Paman Wang, kenapa dia bisa pingsan?" Seru seorang bocah laki-laki dari arah pintu.
Sontak Jessline menoleh. Kedua mata bocah laki-laki berusia 9 tahun itu yang pastinya salah Daniel langsung membelalak melihat siapa wanita yang ada di rumahnya itu.
"Ka..Kakak cantik?!" Ucapnya terbata dengan kedua matanya yang tampak berkaca-kaca.
Jessline memiringkan kepalanya dan menatap Daniel penuh tanya. Belum sempat dia bereaksi, sebuah pelukan tiba-tiba membuat Jessline membeku seketika. "Kakak cantik, aku merindukanmu..."
-
__ADS_1
-
Bersambung.