PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda

PAPA BUCIN - Gairah Cinta Hot Duda
Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Tiga Tahun Kemudian"


Seorang pria lengkap dengan jas hitamnya terlihat memasuki sebuah pemakaman umum sambil menggenggam sebuket bunga mawar di tangan kirinya. Dengan tenang, pria itu berjalan menuju sebuah makam yang berdekatan dengan bertuliskan nama 'Luna Zhao pada batu nisannya


Tiga tahun setelah kepergian Luna, tapi jauh di dalam lubuk hatinya Ken masih belum bisa merelakan kepergiannya. Dan setiap ada waktu, Ken selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makan istri tercintanya itu. Dan di sana Ken sering menghabiskan waktunya.


Seperti sore ini contohnya. Setelah bertemu dengan rekan bisnisnya. Ken memutuskan untuk mengunjungi makam Luna. Ken bersimpuh di depan makam Luna lalu meletakkan bunga yang dia bawa di sana. Mawar adalah bunga favorit Luna semasa dia hidup.


"Sayang, bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kau baik-baik saja, maaf karena aku baru sempat mengunjungi kalian lagi. Luna... aku ... sangat-sangat merindukanmu." Gumam Ken parau. Pria itu mengangkat kepalanya mencoba menghalau cairan bening yang menggenang di pelupuknya.


Whusss!!!


Tiba-tiba saja angin bertiup kencang membuat daun-daun yang berserakan di atas makan berterbangan. Ken tau bila Luna akan datang dan hal semacam ini sudah sering terjadi ketika dia datang mengunjungi makamnya.


Dan senyum yang Luna berikan padanya hari itu siapa yang tau bila itu akan menjadi senyum terakhir Luna yang bisa Ken lihat karena pada malam itu juga wanita itu meninggalkan dirinya.


-


Ken menghentikan langkahnya saat ponsel dalam saku jasnya tiba-tiba berdering. Dan nama Mir menghiasi layar ponselnya yang menyala. "Hm, ada apa, Mir?" suara dingin Ken yang terlewat datar langsung berkaur di telinga Mir.


Mata Ken memicing mendengar apa yang baru saja Mir sampaikan padanya. "Hn, aku mengerti. Suruh saja Alex yang menanganinya." Kemudian Ken memutuskan sambungan telfonnya dan menyimpan kembali ponsel itu di dalam saku celananya.


Sejenak kepala Ken mendongak menatap langit. Beberapa bintang sudah mulai menampakkan diri di langit yang beranjak gelap, menandakan jika senja yang tenang akan berlalu dan tergantikan oleh gelapnya malam yang segera menyelimuti bumi.


Bulan mulai membiaskan sinar keemasannya. Cahayanya yang lembut seolah menemani Ken di setiap langkah kakinya. Dering pada ponselnya segera menghentikan langkahnya, dan kali ini nama Ren yang menghiasi layar ponselnya. "Bicaralah," pintanya dingin.


"Bos, bajing*n itu kabur dan menolak untuk melunasi semua hutang-hutangnya padamu. Apa perlu kami melakukan tindakan kekerasan padanya?"


"Apa kau melupakan tugasmu, Ren? Sampai-sampai hal sepele semacam ini saja harus kau laporkan padaku?" Ken memutuskan sambungan telfonnya begitu saja dan lekas masuk ke dalam mobil miliknya.


Mobil hitam milik Ken melaju kencang pada jalanan yang lengang. Seoul memang terlihat berbeda saat malam tiba. Lampu-lampu kota telah dinyalakan pertanda jika malam telah datang. Kemudian Ken menghentikan mobilnya di sebuah taman yang berada di pusat kota.


Iris matanya menatap datar pada setiap objek yang dilaluinya. Angin malam yang berhembus mulai terasa dingin tapi hal itu tak membuat Ken mengurungkan niatnya untuk singgah sejenak di sana.


Baru saja Ken mendaratkan pantatnya pada salah satu kursi panjang di taman itu. Tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia melihat seorang gadis dengan dua pria yang mengejar dibelakangnya. Tapi sayangnya Ken tidak bisa melihat seperti apa rupa perempuan itu karena keadaan di sana yang terlalu gelap.

__ADS_1


Ken masih terus memperhatikannya. Perempuan itu berlari kearahnya sambil sesekali menoleh kebelakang.


Dan Ken segera berdiri dari duduknya ketika iris matanya menangkap sesuatu yang langsung menarik semua atensinya meskipun otaknya menyuruhnya untuk mengabaikannya. Karena dia takut jika apa yang tengah dilihatnya itu hanyalah sebuah ilusi.


Dan jika itu hanya sebuah ilusi, tapi kenapa yang terlihat oleh matanya begitu nyata. Ken tidak ingin mempercayai dengan apa yang tengah disaksikan oleh netranya.


Jantungnya berdegup kencang dan sorot matanya menunjukkan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Ken seperti tanpa jiwa selama beberapa menit. Dalam hatinya dia terus berharap jika apa yang dilihatnya itu nyata meskipun sangat tidak mungkin, dan apakah dia sedang berhalusinasi?


"Luna," gumam Ken sambil terus menatap lekat pada sosok perempuan yang berlari kearahnya tersebut.


Dan semua buyar seketika saat Ken merasakan sentuhan lembut yang begitu familiar pada salah satu lengannya. Seorang perempuan berdiri dihadapan Ken dengan tatapan memohon. Ken diam terpaku menatap paras perempuan yang saat ini berdiri nyata dihadapannya.


"Hahaha! Mau lari kemana lagi kau, cantik? Apa kau pikir kau bisa terus-terusan kabur dari kami?"


Kedua mata perempuan itu membelalak. Sontak menoleh dan betapa terkejutnya dia saat mendapati dua pria yang sejak tadi mengejarnya tiba-tiba sudah ada dibelakangnya. Lalu pandangannya bergulir pada Ken, menatapnya dengan tatapan memohon.


"Tolong aku, Tuan." Ken membaca gerakkan bibir gadis itu dan dia segera tersadar. Ken menarik gadis itu untuk berdiri di balik punggungnya.


"Tidak usah ikut campur dan mencoba untuk menjadi seorang pahlawan kesiangan. Serahkan gadis itu pada kami jika kau tidak ingin aku membuat mata kananmu bernasib seperti mata kiri mu."


Kemudian Ken melirik gadis itu melalui ekor matanya. "Kenapa kalian sampai mengejarnya?" tanya Ken datar.


"Mulut besar."


DORR... DORR...


"Aaahh...!" Gadis itu menjerit tertahan dan segera mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.


Dia benar-benar terkejut ketika Ken melepaskan sebuah tembakkan beruntun pada dua pria yang tadi mengejarnya. Tubuh kedua pria itu pun ambruk seketika dengan lubang pada kening dan dadanya.


"Sial," gadis itu mengumpat dalam hati.


Sebelah tangannya memegangi lehernya yang terasa sakit. Dia terlalu memaksakan diri untuk mengeluarkan suaranya padahal dokter sudah melarangnya untuk berbicara sampai kondisi pita suaranya yang bermasalah sembuh total. Di tambah lagi cidera pada bahu kirinya yang membuatnya semakin tersiksa.


Jika saja keadaannya tidak seperti saat ini. Pasti akan sangat mudah bagi gadis itu untuk menumbangkan mereka berdua.

__ADS_1


Perempuan itu tampak ketakutan dan menggeleng saat melihat Ken berjalan menghampirinya. Perempuan itu berjalan mundur tapi punggungnya malah menabrak pohon dibelakangnya.


"Jangan takut. Aku tidak akan berbuat buruk padamu. Siapa namamu dan di mana kau tinggal? Aku akan mengantarkanmu,"


Kemudian perempuan itu terlihat mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya yang ternyata adalah sebuah buku dan pulpen. Dan Ken mengernyit bingung saat gadis itu menulis sesuatu pada buku tersebut lalu menunjukkan pada Ken.


"Namaku adalah, Jessline Jung, dan aku tinggal tak jauh dari sini." Ken membaca tulisan itu kemudian mengangguk.


"Maaf, tapi apakah kau bisu?" tanya Ken memastikan. Perempuan bernama Jessline Jung itu menggeleng. Dia kembali menulis pada buku kecilnya lalu menunjukkan pada Ken.


"Tidak, hanya saja pita suaraku sedikit bermasalah dan saat ini dalam proses pemulihan."


"Kalau begitu tunjukkan jalannya, aku akan mengantarkanmu pulang."


Tiba-tiba gadis bernama Jessline itu menghentikan langkahnya di depan Ken dan menatapnya dengan serius membuat pria itu mengernyit bingung. Tau kebodohannya, Jessline menepuk jidatnya dan segera menulis kembali pada buku kecilnya lalu menunjukkan pada Ken.


"Maaf, Tuan, harus merepotkanmu. Jika saya boleh tau siapa nama Anda?"


Ken mendesah berat. "Ken Zhao Dan kau bisa memanggilku, Ken."


Jessline memiringkan kepalanya dan menatap Ken begitu dalam. 'Ken?' rasanya tidak asing. Jessline seperti pernah mendengarnya tapi kapan dan di mana? Dia tidak mengingatnya. Di tatap seperti itu oleh Jessline membuat Ken merasa tidak nyaman. Jessline pun segera tersadar dan buru-buru meminta maaf pada pria dihadapannya.


Sekarang mereka sudah ada di dalam mobil Ken. Mobil itu mulai melaju dengan kecepatan sedang pada jalanan kota yang lengang.


Sesekali Ken menoleh dan menatap perempuan disampingnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Dia tidak tau apakah yang sedang dia alami saat ini adalah sebuah delusi, khayalan atau mungkin mimpi? Dan untuk saat ini Ken tidak ingin memikirkannya.


Wajah Jessline dan Luna yang bak pinang di belah dua, setidaknya bisa sedikit mengobati rasa rindunya pada mendiang istrinya yang sudah lama pergi.


Tidak ada cela pada wajah mereka berdua, wajah Jessline dan Luna benar-benar mirip dan serupa. Hingga Ken berpikir bila Luna-nya telah kembali. Tapi logikanya mengatakan tidak mungkin mengingat bila Luna sudah pergi sejak lama.


"Ya Tuhan, apa artinya semua ini?" batin Ken berkecambuk.


"Kau lapar?" tanya Ken memecah keheningan yang menyelimuti. Iris kanannya langsung bersirobok dengan iris hazel milik Jessline."Kebetulan aku belum makan malam, bisakah kau menemaniku sebentar." Jessline tersenyum kemudian mengangguk.


-

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2